Deportivo Palestino, Ketika Imigran Palestina Membentuk Klub Sepakbola Di Chile

spot_img

Mendengar nama Deportivo Palestino tentu masih terasa asing di telinga para penggemar sepakbola. Maklum saja, klub tersebut tidak terletak di kompetisi top Eropa, sekaligus tidak punya prestasi yang benar-benar mentereng untuk dikenang, meski sejatinya kekuatan yang dimiliki juga sama sekali tidak boleh diremehkan.

Beberapa waktu lalu, jagad sepakbola dikejutkan dengan sebuah aksi “berani” para pemain Deportivo Palestino dalam memberikan dukungan kepada rakyat Palestina yang mendapat serangan secara membabi buta dari Israel. Para pemain Deportivo Palestino terlihat memakai keffiyeh atau sorban yang dilingkarkan di leher pemain dan juga ofisial tim, jelang pertandingan melawan Colo-Colo di Liga Utama Chile.

Melalui aksi pada pertandingan yang berakhir dengan kemenangan 2-1 untuk Deportivo Palestino tersebut, klub yang memiliki corak serupa dengan bendera Palestina itu seolah membuka mata dunia, bahwa sedang terjadi aksi tidak manusiawi yang dilakukan oleh para tentara Israel di tanah Palestina.

Ya, bila mendengar nama Deportivo Palestino, semua pasti setuju bila klub tersebut merupakan representasi dari negara Palestina. Lantas bagaimana bisa ada “Palestina” di tanah Amerika Selatan?

Itu semua bermula dari tahun 1885, ketika para imigran Palestina tiba di Chile untuk menghindari perang Krimea. Berikutnya, para imigran kembali datang saat terjadi Perang Dunia I, untuk kemudian diikuti pada gelombang selanjutnya ketika Israel mulai mengukir peta di tanah Palestina pada tahun 1948.

Besarnya rakyat Palestina yang datang ke Chile membuat negara yang terletak di kawasan Amerika Selatan itu menjadi rumah kedua bagi mereka. Dilaporkan terdapat sekitar setengah juta warga Palestina yang berada di Chile, atau dengan kata lain sebanyak 2,6% penduduk Chile merupakan orang-orang Palestina.

Pada periode 1900 sampai 1930 an, banyak warga Palestina datang ke Chile, dimana sebagian besar berasal dari empat desa, yakni Belen, Beit Jala, Beit Sahour dan Beit Safafa, yang memiliki pekerjaan sebagai seorang petani dan pengrajin.

Sayangnya, para imigran Palestina mendapat perlakuan berbeda dari penduduk asli Chile. Beruntung, karena kebanyakan dari mereka berstatus sebagai seorang pengrajin, warga Palestina bisa hidup dengan makmur karena terlibat dalam industri tekstil dan kain negara.

Namun itu semua belum cukup untuk membuat mereka diterima. Akhirnya, sepakbola yang disebut sebagai olahraga pemersatu bangsa diambil sebagai langkah membaur dengan warga asli Chile. Mereka memilih untuk melestarikan sepakbola sebagai warisan. Akan tetapi, lagi-lagi bukan hal mudah bagi imigran Palestina untuk langsung mendapat pengakuan. Mereka sempat tidak mendapat tempat hingga mulai diperbolehkan untuk mengikuti kompetisi sepakbola di wilayah Osorno. Klub itu sendiri diberi nama Deportivo Palestino, sebagai tanda bahwa itu merupakan bentukan para imigran Palestina.

Bila diperhatikan, jersey dari klub yang dijuluki sebagai timnas Palestina kedua ini juga menggunakan warna kebesaran bendera Palestina, yaitu merah, hitam, putih dan hijau. Lebih lanjut, klub yang dibentuk pada tahun 1920 itu berbasis di wilayah Osorno, wilayah Chile bagian Selatan, atau hampir 1000 km dari ibukota Santiago.

Akhirnya, setelah selama lebih dari tiga dekade didirikan, klub Deportivo Palestino baru mendapat pengakuan dari Federasi Sepakbola Chile. Tepat pada tahun 1952, klub tersebut resmi menjadi profesional dengan mulai tampil di divisi kedua kompetisi Chile. Tak butuh waktu lama, mereka lalu berhasil promosi ke kompetisi teratas setelah berhasil menjadi juara.

Saat mulai tampil secara profesional di divisi utama Liga Chile, klub mulai terbuka dalam menerima pemain. Artinya, tidak hanya pemain Palestina saja yang bisa tampil di klub tersebut, namun juga seluruh warga Chile yang memang layak untuk diberikan kontrak.

Setelah mendapatkan pemain dari berbagai penjuru sekaligus gelontoran dana yang dikeluarkan direksi klub, Deportivo Palestino berhasil menempati peringkat kedua Liga Primera pada tahun 1952 dan keluar sebagai juara pada tahun 1955. Setelah gelar juara yang diraih tersebut, Deportivo Palestino malah mengalami paceklik gelar yang cukup lama. Malah pada tahun 1970, klub harus terdegradasi ke divisi kedua. Beruntung, hanya dua tahun terjerembab, mereka mampu kembali ke kasta tertinggi kompetisi Chile.

Menunjuk Caupolican Pena sebagai sang juru taktik, Deportivo Palestino akhirnya sukses mengalami masa kejayaan. Tepat pada tahun 1975 dan 1977, mereka berhasil meraih trofi Piala Chile untuk kemudian diikuti dengan trofi Liga pada tahun 1978.

Kegemilangan Deportivo Palestino kian terasa spesial setelah pada periode Juli 1977 hingga September 1978, mereka mencatatkan rekor 44 pertandingan tanpa terkalahkan. Setelah menjadi jawara liga, para pemain yang tampil bersama Deportivo Palestino ketika itu kemudian sukses melaju hingga fase semifinal Copa Libertadores, dan banyak juga dari mereka yang bermain untuk timnas Chile yang berhasil duduk di tangga kedua pada turnamen Copa America pada tahun 1979.

Sempat kembali alami kemerosotan saat pindah ke stadion baru Municipal de La Cisterna pada tahun 1988, Deportivo mampu kembali ke performa terbaik di era milenium baru.

Selain prestasi di dalam lapangan, karena menjadi tim yang terus memegang erat warisan para pendahulunya, Deportivo Palestino melakukan gebrakan pada tahun 2013, ketika mereka meluncurkan jersey yang akan dipakai untuk musim 2014.

Dalam desain tersebut, Deportivo Palestino mengganti setiap angka satu dengan gambar peta asli negara Palestina sebelum diambil paksa oleh Israel. Seperti diketahui, disaat yang sama, Israel kembali berulah dengan terus membombardir jalur Gaza.

Maka dari itu, langkah tersebut dilakukan Palestino sebagai bentuk solidaritas terhadap negara yang menjadi asal muasal klub tersebut.

Namun, aksi itu langsung diprotes oleh kelompok Yahudi di Chile dan melaporkannya ke badan tertinggi sepakbola Chile dengan alasan apa yang dilakukan klub Palestino merupakan bentuk diskriminasi politik, agama, seksual, etnis, sosial, atau ras. Akhirnya, Palestino pun diberi denda sebesar 15 ribu dollar.

Akan tetapi, peringatan yang diberikan kepada Deportivo Palestino sama sekali tak mengendurkan semangat mereka untuk terus menyerukan simbol ‘Free Palestine”. Hal itu terbukti ketika pada tahun 2020 lalu, atau tepat pada ulang tahun klub ke 100, mereka merilis jersey yang terdapat label khusus di atas nomor punggung pemain, yaitu sebuah pesan penuh makna sekaligus spirit bagi klub dan seluruh penggemar yang bermakna “Deportivo Palestino bukanlah sekedar tim sepakbola biasa, Deportivo Palestino adalah representasi kemanusiaan.”

Eksistensi Deportivo Palestino di tanah Amerika Selatan pun diakui oleh koresponden Middle East Monitor bernama Eman Abusidu, dimana dia mengatakan,

“Seratus tahun identitas Palestina di sebuah negara Amerika Selatan menunjukkan kegagalan Israel untuk menghapus identitas Palestina,”

 

Sumber referensi: kompasiana, replubika, cnn, re-tawon, sanadmedia

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru