Bukan untuk mengglorifikasi aksi anarkisme berkedok sepak bola. Tapi, untuk melihat bagaimana budaya dan sejarah sepak bola di Inggris lewat derby-derby mereka. Di tempat dimana sepak bola sudah jadi bagian tak terpisahkan dari sejarah, Inggris punya banyak derby panas di dalamnya. Berikut 6 derby panas di Inggris yang mungkin tidak kamu ketahui.
Daftar Isi
Dockers Derby
Mari kita awali daftar 6 derby panas ini dengan yang sudah tertanam lama dalam cerita rakyat hooliganisme Inggris. Derby panas pertama yang mungkin tidak kamu ketahui adalah Dockers Derby antara Millwall vs West Ham. Derby ini juga biasa dikenal dengan nama South London vs East London Derby. Dimana Millwall mewakili South London atau London bagian selatan, dan West Ham mewakili East London atau London timur.
Meskipun derby klub London ini tidak sepopuler derby London lainnya, untuk masalah sejarah boleh bersaing. Kedua tim ini sudah saling membenci sejak abad ke-19. Dimana West Ham masih dikenal sebagai Themes Ironworks sedangkan Millwall FC masih bernama Millwall Athletic.
Thames Ironworks FC officially became West Ham United #OnThisDay in 1900!#COYI pic.twitter.com/235axk5iVQ
— West Ham United (@WestHam) July 5, 2017
Kebencian kedua klub itu semakin menjadi di tahun 1926. Ketika ekonomi di Inggris makin sulit, pekerja dari West Ham memutuskan untuk melakukan mogok kerja. Tapi, tetangga mereka, para pekerja Millwall tidak mau melakukan hal yang sama. Pekerja dari West Ham menganggap Millwall telah menolak aksi solidaritas sesama pekerja.
Di era modern, kedua tim ini jarang bertemu. Sebab, mereka sering kali berada di divisi yang berbeda. Namun sekalinya bertemu, kebencian yang diturunkan dari generasi ke generasi seolah tumpah ruah selama 90 menit di atas lapangan.
Seperti contohnya di tahun 2009. West Ham menjamu Millwall di stadion lama mereka, Upton Park dalam ajang Carling Cup. Selama jalannya pertandingan, pendukung kedua tim saling lempar ejekan. Pertandingan tersebut berakhir dengan skor 3-1 untuk kemenangan West Ham. Kerusuhan pun pecah, para suporter bentrok di dalam dan sekitar stadion. Tercatat ada 13 orang yang ditangkap dalam kerusuhan tersebut.
ON THIS DAY 2009: West Ham at home to Millwall #WHUFC #COYI pic.twitter.com/Y7fkym5l0V
— FootballAwaydays (@Awaydays23) August 25, 2017
Gianfranco Zola, yang saat itu menjadi pelatih West Ham bahkan berkata “Kerusuhan ini bukan soal sepak bola. Selama saya berada di Chelsea dan West Ham, saya tidak pernah melihat yang seperti ini.” FA pun memberikan denda sebesar 115 ribu pounds kepada West Ham yang dianggap tidak becus dalam menertibkan suporter mereka.
Second City Derby
Second City Derby adalah derby yang mempertemukan dua tim dari satu kota, Birmingham dan Aston Villa. Kenapa dinamakan Second City Derby, karena kedua klub tersebut berada di Birmingham yang merupakan kota terbesar dan terpenting kedua di Inggris.
Kedua klub ini juga memiliki pendukung garis keras mereka masing-masing yang ditakuti di Inggris. Aston Villa punya kelompok bernama Aston Villa Hardcore. Mereka sering terlibat dalam aksi kriminalitas dan bentrok dengan polisi. Sementara dari Birmingham FC, ada Zulu Warrior yang sering membuat kerusuhan di setiap pertandingan yang mereka hadiri.
Salah satu kerusuhan yang terjadi dalam insiden tersebut adalah di awal musim 2010/11. Kekerasan dan kerusuhan meletus. Flare dan benda-benda lain dilemparkan di sekitar stadion. Reporter BBC menyebutkan bahwa itu terlihat seperti zona perang. Dilaporkan 27 orang terluka dan lima orang ditangkap.
Birmingham City v Aston Villa 2010 #avfc #bcfc pic.twitter.com/w03mFWfm0P
— Football Away Days (@footyawayday) May 11, 2016
Itu bukan satu-satunya bentrokan yang terjadi. Bahkan di era modern, hampir selalu terjadi kerusuhan ketika dua tim itu bertemu. Seperti di tahun 2007, dimana terdapat 20 polisi yang terluka dalam kerusuhan. Sebelumnya, di tahun 2002 dimana pertemuan pertama mereka setelah 15 tahun. Di pertandingan tersebut, bentrokan antara dua kelompok garis keras masing-masing klub terjadi. Insiden itu kemudian dikenal sebagai “Battle of Rocky Lane”
The Tyne and Wear Derby
The Tyne and Wear Derby mempertemukan dua klub asal London bagian timur laut, Newcastle dan Sunderland. Kedua klub itu berada di satu daerah bernama Tyne and Wear. Disitulah derby ini dinamakan. Dan sama seperti derby lain di Inggris, Tyne and Wear Derby punya sejarah yang sangat panjang.
Ini sangat panjang, sampai bisa ditarik kembali di masa perang saudara Inggris pada tahun 1600-an. Orang-orang dari Newcastle adalah royalis istana yang mendukung kerajaan, sedangkan orang-orang dari Sunderland merupakan kelompok pemberontak kerajaan.
Itu adalah dasar bagaimana dua kubu saling membenci satu sama lain, meskipun berada di satu daerah yang sama. Karena dasar sejarah yang panjang itu, kebencian mereka tidak hanya ketika derby day datang. Biasanya hooligan dari Sunderland dan Newcastle janjian bertemu untuk bertarung. Itu sering terjadi bahkan bukan ketika matchday.
Bisa dibayangkan bagaimana gilanya ketika dua tim itu berlaga. Contohnya pada bulan Januari 2011, seorang pendukung Sunderland masuk kelapangan untuk menyerang penjaga gawang Newcastle, Steven Harper. 24 orang pun ditangkap akibat kerusuhan di laga tersebut.
Di tahun 2013, beberapa hooligan Newcastle melakukan kerusuhan di sekitar stadion menyusul kekalahan 3-0 atas Sunderland. Tercatat ada lima orang petugas yang terluka dan 29 orang ditangkap atas insiden tersebut.
M23 Derby
Derby selanjutnya sedikit berbeda dengan derby yang sudah dibahas sebelumnya dalam daftar ini. M23 Derby adalah derby yang mempertemukan Brighton & Hove Albion melawan Crystal Palace. M23 sendiri adalah nama jalan yang menghubungkan dua kota itu.
Kenapa Darby ini sedikit berbeda? Karena kedua klub ini tidak berdekatan satu sama lain. Deby ini tidak pernah didasarkan pada lokasi, tapi serangkaian pertandingan kontroversial yang terjadi di masa lalu.
Derby ini bermula di era 1970-an oleh konflik pelatih masing-masing tim. Brighton dilatih oleh Alan Mullery, sedangkan bos dari Palace adalah Terry Venables. Mereka berdua sebelumnya adalah rekan setim semasa bermain di Tottenham. Dan selama aktif bermain, keduanya dikabarkan memiliki persaingan untuk jadi kapten di bawah Bill Nicholson.
Y llega el momento cumbre de esta historia, la temporada 76/77, en la cual el duelo ⚔️ se disputó en 5 ocasiones (2 por liga y 3 por FA Cup).
Y lo más importante, la contratación de nuevos técnicos.
➡️ #CPFC: Terry Venables.
➡️ #BAHB: Allan Mullery. pic.twitter.com/L2PzGG3fM3— Crystal Palace Colombia 🏰🦅 (@CPalaceCo) September 22, 2022
Rivalitas kedua tim bermula ketika mereka bertemu di FA Cup musim 1976/77. Brighton punya beberapa peluang mencetak gol tapi itu tidak dianggap sah oleh wasit. Pelatih Brighton yang marah pun memprovokasi suporter tim lawan. Bentrok pun pecah antar penggemar Brighton dan Palace. Setelah itu, rivalitas mereka makin panas.
The fierce M23 Derby – but how did the rivalry come about?
📺 Watch Crystal Palace v Brighton live on #MNF from 7pm pic.twitter.com/yhvfvPLB74
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) December 16, 2019
Di tahun 1980-an, persaingan semakin sengit. Pada tahun 1985, bek Crystal Palace Henry Hughton melakukan tackle horor ke pemain Brighton, Gerry Ryan yang membuatnya harus mengakhiri karir. Insiden tersebut disusul oleh bentrok antar dua suporter. Sementara pertemuan mereka di tahun 1987 juga kembali menimbulkan bentrok.
Di era modern, terjadi sebuah insiden konyol dari derby ini. Di tahun 2013, dilaporkan terdapat kotoran manusia di dalam ruang ganti Crystal Palace. Selama tahun-tahun berikutnya, Brighton telah dituduh telah melakukan sabotase persiapan Crystal Palace.
The Roses derby
Siapa sangka Manchester United punya rivalitas panas dengan Leeds United. Mungkin derby ini tidak lebih populer dan sepanas MU vs Liverpool. Tapi The Roses Derby juga punya sejarah yang tidak kalah panjangnya.
Akar rivalitas ini bisa ditelusuri sejauh abad ke-15 ketika perang the war of roses, kemudian persaingan kota Manchester dan Leeds pada revolusi industri di abad ke-18 dan 19. Kemudian menjalar sampai ke rivalitas antar klub Manchester United dengan Leeds United.
Rivalitas mereka menjadi semakin panas di tahun 90-an awal. Yaitu ketika Eric Cantona tiba di Ellend Road pada pertengahan musim 19991/92. Ia menjadi pemain kunci Leeds dalam meraih gelar juara liga mereka di musim itu. Cantona pun jadi idola baru publik Ellend Road dan dianggap sebagai pahlawan. Itu sebelum ia akhirnya berkonflik dengan manajer Howard Wilkinson.
Leeds United FC
Eric Cantona Lifts The 1992 First Division Champions Trophy.The Last English Team To Win It pic.twitter.com/OPlpGAmZ0K— Superb Footy Pics (@SuperbFootyPics) June 2, 2016
Kita semua tahu pada akhirnya Cantona bergabung ke Manchester United. Cantona membawa MU mendominasi Liga Inggris sejak saat itu. Manchester United jadi klub tersukses di Inggris dan itu menambah kebencian pendukung Leeds terhadap setan merah.
Rupanya Cantona bukan pemain penting Leeds terakhir yang dibajak MU. Di tahun 2002 Rio Ferdinand memecahkan rekor transfer saat itu ketika pindah ke MU. Kemudian di tahun 2004, MU kembali membajak pemain yang pernah bersumpah tidak akan gabung Old Trafford, Alan Smith.
Inggris vs Skotlandia
Yang terakhir adalah bukan derby antar klub, tapi antar negara. Ini adalah derby tertua yang tercatat dalam sejarah sepak bola internasional. Permusuhan sejarah, yang berasal dari konflik sosial-politik adalah alasan utama mengapa orang Skotlandia menyebut Inggris sebagai “Musuh Tua” setiap bertanding.
Football’s oldest international rivalry: This #dataviz shows every game between #ENG and #SCO since 1872. England have racked up 48 wins to Scotland’s 41. #Euro2020 https://t.co/bjiL7QFWp5 pic.twitter.com/G4RxFPgasK
— FT Data (@ftdata) June 18, 2021
Kedua belah pihak sudah saling berhadapan lebih dari 100 kali dan secara keseluruhan, Inggris lebih sering dapat hasil positif. Tapi Skotlandia selalu mampu membuat Inggris kerepotan. Ketika mereka bertemu di kompetisi bergengsi Euro 2020, Kenny Dalglish yang merupakan legenda Liverpool sekaligus Skotlandia mengatakan betapa pentingnya rivalitas kedua negara ini.
“Mencetak gol ke gawang Inggris adalah mimpi setiap anak di Skotlandia. Jika anda orang Skotlandia dan mencetak gol ke gawang Inggris, semua orang akan bahagia dan tentu itu membuat anda bahagia. Jadi, ketika kami bertemu Inggris kami selalu ingin mengalahkan mereka.”
Sumber referensi: False9, West Ham Fans, Guardian, Guardian 2, 90min, Sportsman, BBC, Mirror, 442, Manutd, 365, Goal


