Punya akademi yang dikenal sebagai salah satu pabrik talenta terbaik di Eropa, tapi pemain-pemainnya bersinar justru di tempat lain. Itulah Chelsea. Banyak dari jebolan akademi The Blues mengemasi barangnya, pergi, entah dalam bentuk pinjaman atau dijual, lalu memetik kesuksesan demi kesuksesan di tempat lain.
Seperti yang terjadi pada Rio Ngumoha. Wonderkid ini ditempa oleh Chelsea, kini mulai tampil apik bersama Liverpool. Menariknya, Chelsea justru mempersoalkan biaya kompensasi, alih-alih berpikir untuk memulangkannya.
Chelsea memang sering begitu. Namun, yang jadi pertanyaan, kenapa ini terus terjadi? Mengapa Chelsea seolah mencetak bintang hanya untuk bersinar di klub lain?
Daftar Isi
Banyak Pemain Akademi Chelsea Sukses di Tempat Lain
Pertanyaan itu tidak hadir dari ruang hampa. Chelsea dengan salah satu akademinya yang terkenal di dunia, Cobham, tak pernah libur menelurkan bakat-bakat hebat. Tapi sebagian besar dari mereka justru kesulitan untuk masuk tim utama, dan pada akhirnya mengunduh kesuksesan di tempat lain.
Rio Ngumoha hanya satu dari sekian banyak contoh. Masih ada nama lain seperti Michael Olise yang disulap menjadi senjata mematikan oleh Crystal Palace, lalu dibeli Bayern Munchen dan mengangkat trofi Bundesliga di sana. Di Bayern Munchen juga masih ada Jamal Musiala. Banyak yang mengira Mas Jamal produk akademi Bayern Munchen, padahal dia produk Chelsea.
One that Chelsea could regret letting go. Watching Jamal Musiala score on his CL debut for Bayern Munich last night was so surreal. Made in Cobham! pic.twitter.com/uSsFtpytei
— Fentuo Tahiru Fentuo (@Fentuo_) February 24, 2021
Kita juga bisa menambahkan nama Declan Rice. Gelandang energik yang moncer di West Ham lalu menjadi mesin lini tengah Arsenal. Tentu selain nama-nama tadi masih banyak lagi. Marc Guehi, Nathan Ake, Fikayo Tomori, Connor Gallagher, Armando Broja, hingga Tino Livramento di antaranya.
Kalau kita mau ambil contoh yang lebih lawas lagi ada , jebolan akademi Chelsea yang menjuarai Liga Inggris justru bersama Blackburn Rovers. Satu tim dengan Saux ada juga Ian Pearce. Saat Leicester City menjuarai Liga Inggris 2016 lalu, ada alumni akademi Chelsea, Robert Huth dan Andy King.
Nama-nama tadi memperlihatkan bahwa ini adalah fase. Fase yang terus berulang seperti kita, rakyat Indonesia yang selalu salah memilih pemimpin. Kenapa bisa begitu?
Klub Ingin Sukses Segera
Jawaban pertama cukup sederhana. Ingin instan. Chelsea dan tak menutup kemungkinan juga klub-klub lain, sama seperti kita, rakyat Indonesia yang mudah tertipu, terhasut, dan terpesona pada jalan-jalan cepat untuk memperoleh sesuatu.
Klub seperti Chelsea, dengan basis penggemar yang luar biasa, dituntut untuk secepatnya meraih kesuksesan. Demi mencapai tujuan itu, mengandalkan pemain akademi bukan solusi. Malah boleh dibilang akan buang-buang waktu dan biaya saja. Mengambil pemain dari akademi artinya juga mengambil resiko besar.
Bayangkan, ada banyak pemain di level kelompok umur, dan dari sekian banyak itu harus diseleksi. Betul bahwa ada data. Pelatih tim utama bisa melihat data dan memilih pemain yang cocok untuk dimasukkan ke skuadnya.
Namun, itu membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Dan itu artinya, pelatih tim utama mesti menyisakan waktu untuk mengamati pemain tim muda di tengah agenda padat tim utama, seperti latihan dan persiapan laga berikutnya.
Sering kali hal seperti ini tidak bisa dilakukan dalam seminggu atau dua minggu. Bisa berbulan-bulan. Bahkan bisa sampai hitungan tahun. Mantan pelatih akademi Chelsea, Adi Viveash bahkan bilang butuh lima tahun pemain dari akademi siap diunduh.
Pelatih perlu melihat apakah pemain dari akademi cocok untuk skemanya atau tidak. Kalaupun cocok juga belum tentu bisa diangkut langsung. Kenapa?
Iklim Liga Inggris
Iklim Liga Inggris itu berat. Itulah kenapa manajer yang menukangi Chelsea acap kali ragu untuk memasukkan pemain akademi ke tim utama. Liga Inggris itu kompetisi yang bukan hanya tidak ringan, tapi seperti pembunuh berdarah dingin. Sorotannya besar. Karena sorotannya besar, tekanan juga tinggi.
Manajer tak mau ambil resiko. Entah itu pada reputasinya atau juga terhadap nasib pemain akademi yang dipanggil ke tim utama.
Sebab mau bagaimanapun jika sudah dipanggil ke tim utama, beban besar sudah dipikul oleh pemain yang usianya mungkin baru belasan tahun. Ya kalau main bagus, kalau tidak?
OFFICIAL: Frank Lampard returns to Chelsea as caretaker head coach until the end of the season 🏠🔵 pic.twitter.com/zZwNOhpnHn
— B/R Football (@brfootball) April 6, 2023
Segelintir manajer Chelsea saja yang berani ngasih kepercayaan ke pemain akademi. Frank Lampard itu salah satu yang berani. Berkat keberanian itu nama seperti Reece James dan Mason Mount muncul. Uniknya, nama kedua justru sejauh ini hanya bisa bersinar di Chelsea.
Enzo Maresca punya keberanian yang sama dengan Lampard. Barangkali karena basic-nya adalah melatih tim muda, Maresca juga memperhatikan pemain akademi. Musim ini ia beri salah satu pemain akademi, Josh Acheampong tempat di tim utama. Sang pemain sudah turun di laga pertama melawan Crystal Palace.
Lantaran Liga Inggris begitu sulit untuk ditembus, beberapa pemain dari akademi Chelsea justru memilih hengkang ke liga lain. Fikayo Tomori dan Tammy Abraham contohnya. Dua pemain akademi itu tidak begitu bagus di Liga Inggris, tapi setelah pindah ke Serie A, performanya mengalami peningkatan yang lumayan.
Josh Acheampong is a special talent 😮💨#UECL pic.twitter.com/jTGGxtPNTL
— UEFA Conference League (@Conf_League) August 20, 2025
Bisnis
Bagi Chelsea, pemain akademi adalah komoditas. Itu tidak salah. Klub sepak bola tak ubahnya pabrik, tapi produknya bukan tempe atau rempeyek, melainkan pemain sepak bola. Tuntutan main bagus selalu ada, dan di titik itu, Chelsea butuh membeli pemain baru. Tapi aturan financial fair play mengawasi mereka. Maka, di situlah Chelsea menjadikan pemain akademi barang jualan.
Mereka menjual pemain akademi, uangnya untuk membeli pemain lain yang menjadi incaran. Ini telah terbukti efektif untuk menghindari aturan financial fair play dan PSR yang berlaku di Inggris. Kenapa efektif? Karena ternyata The Blues meraup keuntungan besar dari penjualan pemain akademi mereka.
Menurut laporan BBC, dalam tiga musim terakhir saja, Chelsea meraup tak kurang dari 250 juta poundsterling atau sekitar Rp5,5 triliun dari penjualan pemain akademi mereka. Menariknya, menurut Aturan Profit and Sustainability Premier League atau PSR, keuntungan tersebut dianggap keuntungan murni.
🚨🟣 Chelsea receive fee around £45m from Lesley Ugochukwu and Armando Broja permanent sales to Burnley.
Broja sold at £20m, Lesley Ugochukwu sold at ~£25m. pic.twitter.com/PP0DycorjV
— Fabrizio Romano (@FabrizioRomano) August 7, 2025
Hal itu memberi Chelsea fleksibilitas finansial yang dibutuhkan untuk membeli pemain anyar. Musim ini saja Chelsea sudah menjual Armando Broja ke Burnley seharga 20 juta poundsterling, Bashir Humphreys ke Burnley seharga 14,7 juta poundsterling, hingga Ishe Samuels-Smith ke Strasbourg seharga 6,5 juta poundsterling.
Nama-nama tersebut adalah produk akademi Chelsea. Ini sekali lagi menunjukkan bahwa produk akademi Chelsea memang sangat laku di pasaran. Josh Acheampong yang tadi disebutkan itu baru main beberapa laga saja bersama tim utama, namun sudah diincar oleh Bournemouth.
Jaringan Peminjaman
Chelsea, sejak era Roman Abramovich, juga telah membangun jaringan pengembangan elit usia dini. Tak salah jika menyebut Cobham adalah salah satu yang diperhitungkan. Bukan cuma karena fasilitas dan prestasi tim mudanya, tapi jaringan yang juga luas. Jadi, pemain yang ditempa di Cobham tidak perlu khawatir tidak mendapatkan kesempatan main di klub.
Mereka akan disebarkan ke jaringan-jaringan Chelsea. Entah itu dijual ke tim akademi lain atau dipinjamkan. Ya, bertahun-tahun Chelsea telah menerapkan ide untuk meminjamkan pemain akademi ke sesama tim Inggris maupun ke luar negeri. Ini dilakukan agar mereka mendapatkan pengalaman dan menit bermain di tim utama.
Jaringan itu juga kini semakin luas karena Todd Boehly tidak hanya memiliki Chelsea. Ia bahkan sudah menjadikan Strasbourg, timnya yang lain sebagai wadah untuk para pemain dari akademi Chelsea yang tidak mendapat kesempatan di tim utama.
Nah itulah tadi alasan kenapa banyak pemain akademi Chelsea dijual dan bahkan bersinar di tim lain. Sebetulnya, menurut Adi Viveash, ada juga faktor dari pelatih utama. Menurut Viveash, minimnya pemain akademi di tim utama adalah murni karena keputusan pelatih.
Jika pelatih itu menyukai si pemain, ia akan memanggilnya. Seperti apa yang pernah dilakukan Frank Lampard. Namun kalau konteks Lampard ini ada tambahan situasi. Saat itu, pada musim 2019/20, Chelsea terkena larangan transfer sehingga Lampard banyak memanggil pemain dari akademi. Kalau menurut kamu gimana football lovers?
Sumber: ChelseaFC, Transfermarkt, LinkedIn, SkySports, BBC, ThePrideOfLondon


