Real Madrid akan selalu menjadi tim istimewa yang penuh cerita. Estadio Santiago Bernabeu tak pernah lelah memberi tontonan megah. Pun dengan para penggilanya yang selalu setia berada di sekeliling lapangan.
Real Madrid, tak ubahnya menjadi rumah bagi sejarah persepakbolaan dunia. Disana, ada banyak Piala mewah yang terpampang di setiap sudut stadion. Jangan lupakan pula para pemain-pemain bintang yang terus menghibur kita, para penggemar sepak bola di seluruh dunia.
Disitu pernah ada nama yang tak boleh dilupa seperti Raul dan Ferenc Puskas. Ada juga talenta yang tak boleh dilewatkan macam Gheorghe Hagi dan Jonathan Woodgate. Yang tak ketinggalan pula, beberapa pemecah rekor transfer seperti Kaka, Cristiano Ronaldo hingga Luis Figo.
Lalu, ikon klub dalam rupa Fernando Hierro.
Nama terakhir menjadi salah satu sosok paling diingat oleh para Madridista. Fernando Hierro, lahir di Malaga. Memiliki posisi utama sebagai bek tengah, Hierro sukses menjadi legenda.
Pria yang kini berusia 51 tahun itu memulai karier di klub asal kampung halamannya. Namun bukan hal mudah bagi Hierro untuk memulai segalanya. Ia dianggap lemah dan tidak memiliki kapasitas sebagai pemain sepak bola handal. Seolah terlahir sebagai sosok yang tangguh, Hierro dengan gagah menghadapi semua rintangan. Semangat juang dan juga tekadnya semakin kuat seiring dengan berbagai penolakan yang diterima.
Tepat di tahun 1987, sampailah Hierro pada klub Real Valladolid. Dua musim bermain di stadion Jose Zorrilla, Hierro mulai membentuk karakter kuatnya sebagai sosok bek tangguh. Lebih dari itu, ia disebut sebagai pemain yang punya jiwa kepemimpinan tinggi.
Hierro yang berposisi natural sebagai pemain bertahan pun sukses tampil baik. Alhasil, sejumlah klub papan atas Spanyol seperti Atletico Madrid dan Real Madrid, menaruh atensi tinggi terhadapnya.
Saat itu, Atletico disebut sebagai tim yang nyaris mendapatkan Hierro. Akan tetapi, Real Madrid yang datang dengan sejuta pesona berhasil alihkan pandangan Hierro. Sorot matanya beralih ke sudut lain ibukota. Ia takluk dengan rayuan Los Blancos hingga putuskan berlabuh di Santiago Bernabeu pada 1989.
Pilihannya pun tidak salah. Hari-hari di Madrid dijalaninya dengan sangat baik. Bersama el Real, Hierro mencetak tujuh gol dalam 37 pertandingan di musim pertamanya. Di lini belakang el Real, ia membangun duet yang sangat apik bersama Manuel Sanchis.
Perannya yang begitu sempurna pun sukses antarkan Real Madrid menjuarai Liga sebanyak lima kali, dan menjadi penguasa Eropa sebanyak tiga kali.
Selain duetnya bersama Manuel Sanchis, Hierro juga miliki sejumlah partner spektakuler seperti Emiliano Butragueno, Luis Milla, dan Hugo Sanchez.
Seiring berjalannya waktu, Hierro yang berposisi sebagai bek tengah juga mulai difungsikan sebagai gelandang bertahan karena jago dalam mendistribusikan bola, dan tidak lupa membantu lini pertahanan. Selain memiliki kecerdasan berfikir dalam segala situasi, Hierro juga memiliki kaki-kaki yang terampil dalam mengolah bola mati. Ia begitu hebat dalam memanfaatkan situasi tersebut untuk dijadikan sebuah gol.
Di musim 1991/92, saat Madrid finis sebagai runner-up La Liga, Hierro bahkan keluar sebagai top skor klub pada musim tersebut lewat koleksi 21 gol. Untuk gelar El Pichichi alias pencetak gol terbanyak La Liga, ia cuma kalah dari penyerang milik Atletico, Manolo, yang menorehkan 27 gol.
Hierro bukan sembarang pemain belakang. Untuk ukuran pemain yang sejatinya lebih banyak menghabiskan waktu di lini pertahanan, Hierro, mampu menjadi seorang bek penghasil banyak gol. Selama membela el Real, ketajamannya tak hanya menyoal tentang tekel sempurna. Kaki-kakinya juga mampu membuahkan sebanyak 109 gol selama berseragam Los Galacticos.
Pencapaian apik Hierro pun menjadi sebuah pertanda mudah bagi para penggemar untuk tentukan siapa sosok idolanya saat itu. Selain tentang prestasi yang mendasarinya layak disebut sebagai legenda, lebih dari itu, Hierro juga disebut sebagai sosok pemimpin sejati.
Perawakannya yang tinggi besar akan membuat siapapun hormat. Ia juga memiliki wajah yang cukup beringas dan ekspresi tak kenal ampun. Namun siapa sangka, diluar penghormatan yang ditujukan kepadanya, Hierro merupakan sosok pemimpin yang santun, bijak, dan mengayomi.
Hierro merupakan simbol dari klub Real Madrid, setidaknya untuk periode 1990an. Posisinya sulit untuk digeser, kharismanya tak mampu dikalahkan, dan yang terpenting, berbagai macam talenta yang ada pada dirinya sangat sulit untuk dicarikan penggantinya.
Hierro tak pernah mau disebut yang paling sempurna. Ia selalu menundukkan kepala kala pujian disasarkan padanya.
Selama 14 musim membela panji Los Blancos, Hierro telah bukukan 601 pertandingan di semua kompetisi. Dalam periode hampir satu setengah dekade itu pula, Hierro sukses menghadiahkan 16 gelar juara dengan rincian lima titel La Liga, satu Piala Raja Spanyol, empat Piala Super Spanyol, tiga Liga Champions, sebiji Piala Super Eropa, dan dua Piala Interkontinental.
Di level tim nasional, kiprah Hierro tidak kalah mengagumkan. Sepanjang kurun 1989 hingga 2002, ia telah mengemas 89 caps bersama Timnas Spanyol, dengan mengoleksi 29 gol. Hierro pernah terpilih sebagai Bek Terbaik versi UEFA pada 1997/98, dan masuk dalam All Stars Tim Piala Dunia FIFA pada 2002.
Setelah kontraknya habis di Real Madrid, ia melanjutkan perjalanan ke Qatar, untuk bergabung dengan Al Rayyan di musim 2003/04. Setelah hanya semusim memperkuat tim tersebut, Hierro kemudian melanjutkan kariernya di Bolton Wanderers.
Di Bolton, Hierro bergabung dengan rekan senegara yang juga teman lamanya di Madrid, yaitu Ivan Campo. Sebelum ia datang saat itu, Bolton juga telah menggaet Gary Speed, Radhi Jaidi, Les Ferdinand dan Michael Bridges.
Hanya 12 bulan membela Bolton, Hierro akhirnya putuskan pensiun dari dunia sepak bola.
Pada tahun 2014, Hierro kembali. Namun kali ini ia mencoba peruntungan dalam dunia kepelatihan. Saat itu, ia sempat menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti untuk kemudian resmi membesut Real Oviedo pada musim 2016/17.
Namun sayang, kinerja yang kurang memuaskan harus membuatnya pergi. Lalu, ia ditunjuk sebagai Direktur Olahraga Timnas Spanyol, jabatan yang dulu pernah diembannya pada 2007-2011. Hingga tepat pada gelaran Piala Dunia 2018 di Russia, Hierro resmi ditunjuk sebagai pelatih timnas Spanyol. Federasi Sepak Bola Spanyol (RFEF) langsung menunjuk Hierro sebagai pengganti Julen Lopetegui, menyusul pelatih yang kini membesut Sevilla itu menerima tawaran untuk tangani Real Madrid.
Saat itu, Presiden RFEF, Luis Rubiales dikabarkan geram dengan keputusan Lopetegui menjadi pelatih Real Madrid karena tidak ada kabar apapun hingga lima menit sebelum pengumuman dilakukan.
Di bawah arahan Hierro, La Roja berhasil lolos dari babak penyisihan grup B dengan status juara grup. Torehan satu kemenangan dan dua hasil imbang membuat La Roja menduduki puncak klasemen dengan meraih lima poin. Sama halnya Portugal yang berakhir sebagai runner up di posisi kedua dengan perbedaan selisih satu gol.
Sayangnya, langkah La Roja hanya sampai babak 16 besar. Sergio Ramos dan kolega dipaksa mengakui keunggulan tuan rumah Russia yang memenangi pertandingan melalui drama adu penalti dengan skor 4-3 setelah di waktu normal menelan hasil imbang 1-1.
Pencapaian La Roja di Russia inipun disebut sebagai faktor utama berakhirnya hubungan antara RFEF dan Hierro.


