Dalam sejarah kualifikasi Piala Dunia, ada sebuah momen menarik yang terjadi. Peristiwa itu terjadi pada bulan Oktober 1996, di mana saat itu ada sebuah tim nasional yang harus bermain tanpa lawan.
Peristiwa bersejarah yang membuat geger publik sepak bola pada masanya itu, terjadi dalam ajang kualifikasi Piala Dunia 1998, saat pertandingan timnas Skotlandia melawan Estonia. Dan percaya atau tidak, skandal konyol itu terjadi hanya karena masalah lampu stadion.
Cerita ini dimulai pada 8 Oktober 1996, tepat sehari sebelum laga. Malam itu, Skotlandia tengah menjalani sesi latihan resmi di Kadrioru Stadium, Tallinn, markas Estonia.
Selama menjalani sesi latihan, Skotlandia merasa ada hal yang aneh. Mereka merasa jika sorot lampu stadion terlalu redup. Selain itu, mereka juga merasa jika lapangan stadion tidak cukup baik untuk menggelar sebuah pertandingan. Namun, dari dua masalah tersebut, yang paling dipermasalahkan oleh Skotlandia adalah lampu stadion.
Karena tidak ingin bertanding di tempat yang remang-remang, Timnas Skotlandia, melalui asosiasi sepak bolanya, mengajukan surat keberatan pada FIFA.
Dalam surat itu, Skotlandia meminta agar pertandingan saat melawan Estonia, yang seharusnya digelar pada pukul 7 malam, dimajukan ke pukul 3 sore.
Sebelum mengabulkan keinginan dari Skotlandia, FIFA mengirimkan salah satu perwakilannya ke lokasi untuk mengecek kondisi stadion. FIFA mengajak kedua federasi untuk berdiskusi memecahkan masalah tersebut. Hasilnya, setelah menggelar rapat yang alot hingga larut malam, FIFA memutuskan bahwa pertandingan bisa dimainkan pada jam 3 sore, tidak lagi seperti jadwal semula jam 7 malam.
Keputusan itu dibuat karena pihak Federasi Sepak Bola Estonia (EJL) tidak mampu meyakinkan FIFA soal perbaikan kapasitas sinar lampu sorot stadion.
Namun tetap saja, keputusan FIFA tidak bisa diterima oleh kubu tuan rumah. Estonia merasa diperlakukan tidak adil. Estonia menolak keputusan tersebut karena beberapa alasan, yang sebenarnya juga masuk akal.
Alasan Kenapa Estonia Menolak Pertandingan Melawan Skotlandia
Alasan pertama adalah soal hari, yang mana itu adalah hari rabu dimana penggemar mereka banyak yang bekerja. Sehingga takut tak mendapat dukungan suporter.
Alasan kedua, markas pelatihan mereka di Kethna berjarak lebih dari 60 km dari Tallinn.
Alasan terakhir, dan yang paling penting, faktor ekonomi. Estonia saat itu sudah melakukan kesepakatan dengan BBC Sport Skotlandia, untuk menyiarkan pertandingan malam hari. Atas kesepakatan itu, Estonia akan dibayar sebesar 50 ribu pounds.
Dan jika pergeseran jadwal itu tetap dilanjutkan, maka siaran akan dilakukan siang hari di Skotlandia, karena ada perbedaan waktu 2 jam antara Glasgow dengan Tallinn. Bisa dipastikan, siaran pertandingan itu akan sepi peminat karena di jam-jam tersebut kebanyakan orang sedang bekerja.
Namun, meski begitu, FIFA tetap dengan keputusannya.
Ketika Hari Pertandingan Tiba
Estonia yang saat itu sangat kecewa dengan keputusan perubahan jadwal dari FIFA yang dinilai sangat mendadak, menunjukkan kekecewaannya dengan tidak hadir pada hari H pertandingan. Saat itu, hanya ada tim Skotlandia yang berada di stadion.
Suasana stadion tampak sepi. Selain timnas Estonia, petugas keamanan, kru televisi dan suporter tuan rumah juga tak menunjukkan keberadaannya. Yang ada hanya wartawan, ofisial FIFA, wasit, penjaga stadion, dan satpam serta fans Skotlandia yang dikabarkan berjumlah 1000 orang.
Kubu Skotlandia awalnya sempat berpikir tim lawan sengaja datang terlambat sebagai bentuk protes. Tapi setelah ditunggu beberapa menit, tidak ada tanda-tanda tim Estonia bakal muncul.
Wasit akhirnya memutuskan kemenangan Walk Out (WO) untuk Skotlandia. Wasit meminta para pemain Skotlandia masuk lapangan, untuk melakukan kick-off, kemudian menembak bola ke gawang yang kosong.
Menurut sejumlah kabar, tim Skotlandia yang bertanding tanpa lawan itu berada di atas lapangan selama kurang dari 5 detik. Sebelum wasit meniup peluit panjang, para suporter pun berteriak “Satu tim di Tallinn, cuma ada satu tim di Tallinn”. Usai laga bubaran, para suporter pun main bola di lapangan.
Kubu Estonia sendiri baru datang ke stadion pukul 18.00 dan sudah tidak ada orang satupun. Merasa sangat konyol, mereka pun akhirnya memilih untuk latihan sebagai antisipasi jika tim Skotlandia kembali lagi ke stadion.
“Kami pikir mungkin Skotlandia akan kembali, karena itu sangat aneh. Tapi, kami telah melihat di berita bahwa Skotlandia datang ke stadion yang kosong dan penggemar Skotlandia telah menyerbu lapangan. Jelas, kami ingin bermain. Jika saya tidak salah, ada beberapa pemain Skotlandia yang cedera hari itu. Kami merasa seperti memiliki kesempatan menang,” ujar kiper Estonia kala itu, Mart Poom.
Setelah kejadian tersebut, federasi dari kedua negara terlibat perdebatan sengit di FIFA. Skotlandia mengharapkan kemenangan WO 3-0, sementara Estonia tetap bersikukuh bahwa perubahan jadwal yang mendadak, membuat masalah teknis tidak akan bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
Masalah itu akhirnya dapat diatasi ketika Lennart Johansson, presiden UEFA saat itu, mengambil keputusan final. Pria asal Swedia itu menyarankan untuk melakukan pertandingan ulang di tempat netral, 4 bulan berselang, di Stade Louis II, Monaco.
Hasilnya, kedua tim bermain sama kuat sampai selesai dan skor kacamata menutup skandal “One Team in Tallinn”. Skotlandia akhirnya meraih satu tiket ke Piala Dunia 1998 dari grup tersebut bersama Austria berkat koleksi 23 poin dalam 10 partai.
[embedyt] https://www.youtube.com/watch?v=J04sPaBAIs0[/embedyt]


