Bagi para pecinta sepakbola Jerman, atau Bundesliga, tentu sering sekali melihat bakat-bakat muda asal Amerika yang bermain di sana. Yang masih hangat diperbincangkan dan baru saja hijrah ke London, Christian Pulisic, pernah menjadi nama Amerika yang begitu sukses di kompetisi Bundesliga.
Meski masih berusia muda, Pulisic mampu menjawab tantangan serta keinginan para penggemar untuk bisa tampil maksimal dalam setiap pertandingan.
Pulisic menorehkan prestasi gemilang bersama Borussia Dortmund. Promosi ke tim utama pada tahun 2015, Pulisic sukses menjadi andalan Dortmund, hingga Chelsea berani membayar besar talenta sang pemain.
Sukses yang diraih oleh Pulisic ini rupanya menjadi inspirasi bagi banyak pemain lain. Salah satunya adalah bintang muda RB Leipzig yakni Tyler Adams. Adams bergabung dengan RB Leipzig pada Januari 2019 yang lalu. Sebelumnya, dia bermain untuk klub Major League Soccer, New York RB. Leipzig adalah klub Eropa pertama yang dibela oleh pemain kelahiran Wappingers Falls tersebut.
Dalam hal ini, Adams tidak menampik jika keputusannya dipengaruhi oleh sukses yang diraih oleh Pulisic.
Para pemain muda berbakat Amerika memang tampak begitu nyaman ketika tampil di kompetisi Bundesliga. Kebanyakan dari mereka kerap berhasil menjadi bintang hingga sukses meneruskan petualangan ke klub yang lebih besar. Namun sekali lagi, Jerman adalah negara pertama yang jadi tujuan mereka ketika pertama kali injakkan kaki di Eropa.
Yang jadi pertanyaan adalah, mengapa Jerman? Mengapa bukan Liga Inggris, Serie A, atau bahkan La Liga, yang disitu juga terdapat beberapa klub terkenal seantero dunia.
Perlu diketahui bahwa kompetisi sepak bola kasta tertinggi Jerman tersebut untuk saat ini memiliki jumlah pemain Negara Paman Sam yang lebih banyak dari sejumlah liga lainnya.
Dalam hal ini ada sejumlah alasan yang mendasari mengapa banyak sekali pemain Amerika yang lebih memilih untuk merumput di Jerman ketika mendatangi Eropa. Pertama, bermain di Eropa tentu menjadi impian setiap pemain sepakbola.
Tak bisa dipungkiri jika benua biru memiliki kompetisi yang jauh populer dari yang lainnya. Oleh karena itu, banyak sekali pemain yang bercita-cita tampil di Eropa. Soal Jerman sendiri, Bundesliga Jerman memiliki daya tarik dan selalu memberi kesempatan bagi talenta-talenta muda untuk bersinar.
Sekali lagi, nama Christian Pulisic bisa dijadikan sebagai patokan.
Setelah berpartisipasi sebagai pemain di level U-17 dan U-19, pemain kelahiran 18 September 1998 ini meraih momen breakthrough-nya pada 2016. Namanya semakin dikenal luas dan predikat pemain termuda Amerika di Bundesliga Jerman pun diraihnya, meskipun kini rekor tersebut sudah dipatahkan oleh pemain Borussia Dortmund lainnya yakni Gio Reyna.
Selain itu, alasan paling umum mengapa banyak pemain Amerika yang memilih berkarir di Jerman adalah karena budaya bermain kedua negara tersebut sangat cocok, dengan Jerman maupun Amerika kerap menekankan pada skill berlari dan sepak bola menyerang cepat.
Pemain sepak bola muda Amerika biasanya dianggap kuat dan atletis, serta memiliki mentalitas juara yang tajam. Dalam hal ini, Jerman bertindak sebagai semacam sekolah sepak bola, yang membekali mereka dengan cara disiplin di luar lapangan dan pengetahuan taktis yang diperlukan untuk sukses di level tertinggi.
“Kami senang memiliki para pemain muda Amerika di Bundesliga, karena mereka adalah pemain yang luar biasa dan mereka memiliki semua yang kami ingin lihat di Jerman,”
“Mereka bagus dalam bertahan, mereka memiliki kecepatan dalam menyerang, dan mereka bisa mencetak gol dengan baik.” kata mantan kapten Jerman Lothar Matthaus (via Bleacher Report)
Matthaus, yang merupakan salah satu pesepakbola terhebat Jerman, percaya bahwa kemiripan antara cara bermain sepak bola di Amerika dan Jerman membuat Bundesliga menjadi kompetisi yang lebih mudah bagi pemain muda Amerika, untuk beradaptasi dengan beberapa liga top Eropa lainnya.
Selain memiliki gaya main yang mirip, satu alasan penting lainnya adalah Bundesliga mampu menjadi tempat yang begitu nyaman sekaligus memberi kesempatan bagi para pemain muda Amerika untuk berkembang.
Alasan lainnya adalah tentang masalah administratif. Pemain Amerika mengaku lebih mudah mendapatkan izin kerja di Jerman daripada di Inggris. Sebagaimana diketahui, di Inggris, pemain non-UE diharuskan untuk tampil dalam persentase tertentu dari pertandingan kompetitif senior negara mereka. Di Jerman, pemain tidak harus melewati banyak hal hanya untuk bisa mendapatkan izin kerja.
Selain itu, dibandingkan dengan Bundesliga, Liga Primer juga merupakan kompetisi dimana para pemain muda tidak terlalu diperhatikan. Hal tersebut juga lah yang lantas menjadi alasan mengapa sejumlah prospek berbakat Inggris justru mengikuti jejak pemain-pemain muda Amerika untuk menuju ke Jerman. Satu contoh nyata dalam kasus ini adalah Jadon Sancho.
Lantas bagaimana ketika sudah menyoal kompetisi lainnya seperti Serie A, La Liga, dan juga Ligue one?
Hambatan bahasa merupakan salah satu pertimbangan penting. Pemain Amerika jauh lebih mungkin untuk dapat berkomunikasi secara teratur dalam bahasa Inggris di Jerman, yang berada di peringkat 10 pada Indeks Kecakapan Bahasa Inggris, jauh di atas Spanyol (ke-32), Italia (ke-34) dan Prancis (ke-35).
Seperti diketahui, komunikasi yang tepat adalah bagian penting dalam proses adaptasi pemain, terutama bagi remaja yang telah terbang ke belahan dunia lain untuk mengejar impian sepak bola mereka.
Seperti yang sudah disinggung di awal, setelah mendapat sejumlah penjabaran mengapa Jerman menjadi negara favorit yang didatangi pemain muda Amerika, Bundesliga menjadi kompetisi yang banyak menelurkan bakat-bakat hebat asal Negeri Paman Sam.
Sejauh ini, sudah ada banyak nama yang layak diperhitungkan untuk beberapa tahun ke depan.
Misalnya saja Gio Reyna. Reyna yang saat ini membela Dortmund merupakan putra dari Claudio Reyna mantan pemain andalan di Timnas Amerika. Reyna yang masih berusia 17 tahun ini dianggap sebagai calon bintang Amerika.
Kemudian ada nama Josh Sargent. Penyerang berusia 20 tahun ini sudah memiliki tempat di Timnas Amerika dan menjadi andalan Werder Bremen.
Beberapa tahun ke depan, bukan tak mungkin bila akan ada lebih banyak lagi pemain muda Amerika yang memilih untuk memulai karir di Eropa bersama kompetisi Bundesliga Jerman.


