Beberapa tahun lalu, sempat ramai bahwa UEFA akan menelurkan kompetisi kelas tiga bagi klub-klub Eropa dengan koefisien UEFA rendah. Hingga tepat pada 2019, kabar tersebut akhirnya diresmikan dengan badan sepakbola tertinggi Eropa bakal meluncurkan kompetisi bernama Europa Conference League, yang akan mulai digelar pada musim 2021/22 mendatang.
Kompetisi ini sejatinya sudah dirancang sejak 2015 lalu, namun baru resmi diberitakan kembali belum lama ini. Kabarnya, Europa Conference League akan dimainkan pada kamis malam, persis seperti kompetisi Liga Europa.
UEFA mengklaim kalau turnamen ini dapat bertindak sebagai sarana untuk memberi deretan klub dari negara dengan kompetisi berkoefisien rendah kesempatan untuk maju ke tahap berikutnya. Setelah semua serba serbi kompetisi tersebut sudah disiapkan, pada tahun 2018, pembahasan akan kompetisi ini semakin intens hingga memunculkan sejumlah keputusan.
Dilaporkan, kompetisi ini bakal melibatkan 184 tim dari 55 negara, dan 46 tim yang gugur dari kompetisi Liga Champions Eropa plus Liga Europa. Pada fase grup, nantinya hanya akan melibatkan sebanyak 32 tim saja. 32 tim tersebut lolos dari tiga jalur, yakni, 17 tim dari negara dengan kompetisi berkoefisien UEFA kecil, 5 tim dari champions path atau tim yang tersingkir dari kualifikasi Liga Champions maupun Liga Europa. Kemudian 10 slot lainnya bakal diisi oleh tim yang tersingkir dari play-off Liga Europa.
Dalam hal tim, tim yang memenangkan kompetisi Europa Conference League berhak atas satu tempat di fase grup Liga Europa, dengan catatan bila tim tersebut tidak lolos ke kompetisi Liga Champions Eropa di kompetisi domestik.
Seperti yang sudah dijelaskan, Europa Conference League bakal mengakomodasi kepentingan liga-liga berkoefisien rendah di UEFA, dengan rincian 26 juara piala domestik dari asosiasi peringkat 30 hingga 55 UEFA, 24 runner-up piala domestik dari asosiasi peringkat 30 hingga 54 kecuali Liechtenstein, dan 22 tim peringkat ketiga liga domestik asosiasi peringkat 29 hingga 51 kecuali Liechtenstein.
Mirip dengan Liga Champions Eropa, format kompetisi Europa Conference League akan menempatkan delapan grup dari empat tim, diikuti oleh babak 16 besar, perempat final, semifinal hingga final, dimana laga puncak bakal dimainkan di Stadion Nasional Albania.
Stadion tersebut dilaporkan berkapasitas 21.690 penonton. Final akan diselenggarakan pada 25 Mei 2022, dimana hal tersebut disampaikan langsung oleh pihak UEFA pada 3 Desember lalu.
Dengan digelarnya Europa Conference League ini, perubahan juga dialami oleh Liga Europa. Jika saat ini fase grup Liga Europa diikuti oleh 48 klub, nantinya kompetisi level kedua itu hanya akan diikuti oleh 32 tim di fase grup. Total, ada 96 tim yang berlaga di kompetisi antarklub Eropa mulai 2021 nanti.
Ada sejumlah tanggapan menarik mengenai diluncurkannya kompetisi ini. Kebanyakan dari penikmat sepakbola menganggap bahwa kompetisi ini hanya akal-akalan UEFA untuk mengeruk banyak keuntungan.
Kompetisi ini memang tak ubahnya mirip dengan kompetisi UEFA Nations League yang bahkan mendapat kritikan langsung dari bintang asal Jerman, Toni Kroos.
Bintang Real Madrid, Toni Kroos, merasa bahwa pesepakbola masa kini hanya menjadi boneka yang digunakan oleh FIFA dan UEFA. Menurutnya, pemain tidak berdaya dalam diskusi tentang kompetisi seperti Nations League dan kemungkinan kompetisi baru lainnya.
“Pada akhirnya, sebagai pemain, kami hanyalah boneka untuk semua hal baru yang diciptakan oleh FIFA dan UEFA. Tidak ada yang meminta kami,” kata Kroos
Kroos, yang membuat penampilan ke-100 untuk tim nasional Jerman pada Oktober lalu, berada dalam skuad untuk pertandingan persahabatan melawan Republik Ceko. Ia juga masuk dalam skuad untuk pertandingan Nations League melawan Ukraina dan Spanyol.
Ia menyoroti banyaknya perubahan kompetisi yang digelar oleh federasi sepakbola dalam satu musim antara lain Nations League, atau Piala Super Spanyol di Arab Saudi, atau Piala Dunia Antarklub dengan 20 tim atau lebih. Ia merasa bahwa turnamen hanya dirancang untuk menyedot segalanya secara finansial klub dan secara fisik pemain.
Ambisi UEFA dalam menelurkan kompetisi Europa Conference League memang tidak bisa dipungkiri dari alasan finansial. Meski mereka mengatakan bahwa ini akan memberi kesempatan bagi negara dengan koefisien UEFA rendah kesempatan, tetap saja, hal ini tidak luput dari masalah keuntungan besar, sama seperti apa yang dikatakan Toni Kroos, dimana UEFA memiliki ambisi yang dianggap serupa ketika menciptakan kompetisi UEFA Nations League.
Semakin banyaknya kompetisi yang digelar juga tidak menjamin sebuah klub akan mencapai level tertinggi. Mereka yang berhadapan dengan tim-tim yang sama lemahnya, tentu tidak serta merta menaikkan level mereka untuk bersaing dengan tim yang sudah terbiasa dengan kompetisi kelas atas.


