Asamoah Gyan merupakan salah satu pemain asal Afrika yang memiliki perjalanan karir luar biasa. Namanya mungkin tak setenar Sadio Mane atau Mohamed Salah. Akan tetapi, jika menilik tentang satu demi satu langkahnya diatas lapangan, ia pernah menjadi sorotan dengan gelimang pertunjukkan mengagumkan.
Sebelum berstatus sebagai pemain tanpa klub sejak awal 2020, Asamoah Gyan telah meninggalkan jejak istimewa di klub yang pernah dibelanya.
Memiliki kecepatan dan tendangan luar biasa, ia tak jarang menjadi andalan. Asamoah Gyan yang berasal dari Ghana memulai segalanya dari klub lokal bernama Liberty Professionals FC. Pada tahun 2003, ia lalu terbang ke Italia untuk bergabung dengan Udinese.
Setahun berada disana, Gyan lalu dipinjamkan ke klub Modena yang berkompetisi di Serie B. Ia melakukan pekerjaan luar biasa dan langsung menjadi incaran. Bahkan, selama tiga tahun membela Modena, tak hanya penawaran saja yang didapat, namun juga panggilan ke tim nasional yang akan berlaga di ajang Piala Dunia 2006. Di timnas Ghana, Gyan tampil bersama nama-nama seperti Michael Essien dan juga Sulley Muntari.
Saat itu, Gyan membantu Ghana lolos dari fase grup, meski pada akhirnya, mereka ditumbangkan oleh Brasil di babak 16 besar dengan skor 3-0.
Setelah kembali ke Italia, pada Februari 2017, muncul kabar bahwa Gyan akan segera berlabuh ke salah satu tim Rusia, Lokomotiv Moscow. Disebutkan bahwa Gyan telah dibayar senilai 10 juta pounds. Namun semua berita itu ditepis, dengan sang pemain tetap bertahan di Italia. Dirinya mengatakan bahwa Udinese akan menggunakan jasanya. Oleh karena itu, segala tawaran segala ditolak untuk bisa fokus main di kompetisi Serie A.
Gyan memang menjadi andalan disana. Sudah banyak aksi gemilang yang ia tunjukkan. Untuk gelontoran gol yang diciptakan, sebanyak 8 masuk dalam catatan. Saat itu, atau pada musim 2006/07, ia juga berhasil membawa Udinese bercokol di posisi ke 10 klasemen akhir.
Pada 10 Agustus 2007, bersama dengan Fabio Quagliarella, Gyan menandatangani kontrak jangka panjang, atau sampai 30 Juni 2012, sebagai hadiah dari penampilan apiknya.
Menyambut musim baru, Gyan masih masuk kedalam daftar pemain Udinese. Ia melakoni salah satu partai pra musim paling mengesankan pada 29 Juli 2007. Dirinya berhasil mencetak hattrick dan juga melanjutkan tren positif pada laga melawan tim Serie B, Spezia.
Gyan yang masih tergolong muda memang banyak memberi kejutan. Tubuhnya yang kuat serta akselerasinya yang tak terhentikan pernah memunculkannya dalam sebuah gol paling indah. Di laga melawan Palermo, Gyan mencetak gol dengan terlebih dahulu mengecoh pemain belakang, sebelum akhirnya melepaskan tembakan yang begitu kencang.
Jika masih belum cukup, maka gol melawan Siena mungkin akan menjadi bukti lainnya. Memanfaatkan umpan gemilang dari sisi kanan lapangan, Gyan yang sudah bersiap menyambut bola langsung menanduknya dengan kencang.
Namun sayang, musimnya yang begitu luar biasa bersama Udinese harus kandas, karena masalah cedera. Sepanjang musim 2007/08, Gyan jarang sekali tampil bersama tim zebra. Dia tak pernah lagi terlihat beraksi dengan hanya memainkan sebanyak 13 laga. Torehan gol nya juga tak bisa dianggap hebat. Pasalnya, ia hanya mampu mencetak sebanyak 3 gol saja, ditengah cedera yang terus menggerogoti.
Karena Udinese tak mau ambil resiko, mereka lalu melepas sang pemain, yang kebetulan diminati oleh klub asal Prancis, Rennes. Tepat pada 11 Juli 2008, Gyan menandatangani kontrak selama empat tahun dengan Rennes. Dengan biaya senilai 8 juta euro, Gyan tampil sebanyak 48 kali dan berhasil menciptakan 14 gol.
Pada musim 2009/10, penampilannya terus berkembang dan tergolong konsisten. Ia masih terus menjadi andalan di lini depan dengan jumlah 13 gol yang diciptakan. Gyan dianggap sebagai salah satu penyerang paling mematikan di Ligue One. Beberapa gol yang diciptakan juga tak sembarangan. Beberapa diantaranya terkadang tercipta lewat proses yang amat mengagumkan.
Setelah menjadi bintang di Prancis, praktis, satu tempat di tim utama Ghana tak akan terlewatkan. Ia masih menjadi salah satu ancaman bagi tim lawan, dan disiapkan untuk mengisi satu slot kosong yang berada di lini depan.
Saat itu, ajang Piala Dunia 2010 menjadi salah satu yang paling berkesan. Mungkin bagi siapapun yang mulai menikmati permainan si kulit bundar, ajang ini menjadi yang banyak ukir cerita. Banyak sekali selipan sejarah yang bisa diubah menjadi sebuah karya indah.
Salah satu diantaranya adalah timnas Ghana yang berhasil melaju lebih jauh dari para tetangganya. Tergabung di grup D, Ghana menjadi satu-satunya wakil Afrika yang berhasil lolos ke babak selanjutnya. Mereka menemani Jerman yang berada setingkat diatas.
Hebatnya, di laga melawan Amerika Serikat, Ghana berhasil memenangkan pertandingan secara dramatis, dengan skor 2-1. Saat itu, Gyan menjadi bintang menyusul gol yang diciptakannya pada menit ke 93.
Sejak saat itu, ia benar-benar menjadi bintang. Sorak sorai penggemar tak hanya hadir dari mulut orang di negaranya saja, namun juga seluruh penduduk Afrika. Mereka secara kompak mendukung Afrika dalam wujud bendera Ghana. Maka dari itu, saat Ghana berhasil lolos ke babak perempat final, semua orang tertawa bahagia.
Namun nahas, di babak tersebut, Ghana gagal bersinar, dimana nama Asamoah Gyan terus menjadi sorotan. Semua pasti sudah mengira mengapa nama Asamoah Gyan pantas disebut sebagai penyebab duka satu benua. Ya, dia merupakan penyebab kegagalan Ghana di ajang Piala Dunia setelah gagal mengeksekusi tendangan penalti di waktu dramatis.
Dalam perempat final Piala Dunia 2010 itu, Ghana nyaris melangkah ke semifinal, seandainya penalti yang diambil Asamoah Gyan masuk. Penalti itu didapat pada perpanjangan waktu. Luis Suarez melakukan handsball yang kontroversial, dengan menahan bola memakai tangan layaknya di mulut gawang. Kontan Luis Suarez dikartu merah dan Uruguay dihukum penalti.
Asamoah Gyan, pemain terbaik Afrika, lalu mengambil penalti. Sayangnya penalti itu gagal. Sampailah skor 1-1 menjadi akhir skor perpanjangan waktu. Lanjut adu penalti.
Sialnya, dalam babak adu pinalti, Ghana menyerah dengan skor 4-2. Meski Gyan menjadi salah satu pencetak gol, dua penendang lainnya yang gagal memupus harapan Ghana, setelah Uruguay hanya menyisakan satu penendang gagal.
Semua jelas kecewa. Pasalnya, jika saja Gyan berhasil tuntaskan misi di detik-detik akhir, Ghana pasti lolos ke babak semifinal.
Dia mengaku sedih dan bahkan memori tersebut masih terus menghantuinya. Perasaan bersalah masih terus menyelimuti hingga sekarang.
“Sampai hari ini, kapan saja sendirian, itu masih menghantuiku. Kadang-kadang aku merasa seperti dunia harus kembali lagi, sehingga bisa menebus kesalahan.”
“Tapi aku tahu ini adalah sesuatu yang akan menghantuiku selama sisa hidup. Aku menerimanya karena tidak ada yang bisa aku lakukan untuk itu.”
“Aku pergi mengambil penalti untuk menyelamatkan negara. Tapi akhirnya aku menjadi penjahat. Ya, aku terima itu karena tahu bagaimana perasaan orang-orang.”
“Itu adalah bencana!” (via dailymail)
Namun begitu, ia tetap dianggap bintang dan membuat banyak tim ingin mendapatkan jasanya. Akhirnya, tepat pada September 2010, Sunderland memecahkan rekor transfer mereka setelah berhasil mendatangkan Asamoah Gyan dari Rennes, dengan nilai 13 juta pounds atau sekitar 182 miliar rupiah.
Kedatangan Gyan saat itu setidaknya diplot untuk mengatasi krisis penyerang klub asuhan Steve Bruce. Seperti diketahui, striker utama klub, Fraizer Campbell, harus absen selama enam bulan akibat cedera otot ligamen. Sementara itu, penyerang lainnya, Martyn Waghorn, sudah meninggalkan Stadium of Light untuk bergabung dengan Leicester.
Namun, harapan yang telah dibebankan kepadanya lenyap seketika. Gyan gagal bersinar di Premier League hingga memilih hengkang ke klub Al Ain. Lebih dulu berstatus sebagai pemain pinjaman, Gyan resmi dipermanenkan hingga tahun 2015.
Setelah itu, perjalanannya terus berlanjut. Sempat mampir ke China bersama Shanghai, ia lalu hengkang ke Dubai dan bermain untuk klub Turki, Kayserispor.
Satu cerita ketika Gyan berlabuh di China, ia pernah disebut sebagai salah satu pesepakbola dengan gaji tertinggi di dunia. Namun muncul kabar mengejutkan yang menyebut bahwa dirinya sempat mengalami kesulitan finansial.
Sebelumnya, media kenamaan asal Inggris menyebut bahwa penyerang asal Ghana itu hanya memiliki tabungan sebesar 600 pounds atau sekitar 11 juta rupiah. Saat berada di Turki, banyak yang mengklaim kalau upah Gyan tidak dibayar. Menanggapi kabar tersebut, Gyan akhirnya turut buka suara lewat akun Twitter miliknya pribadi.
Respon mantan bintang Sunderland itu justru berbanding terbalik dengan rumor yang beredar.
Gyan menuliskan cuitan yang menunjukkan seolah dirinya tidak setuju dengan pemberitaan dua media asal Inggris tersebut.
“Terima kasih kepada @MirrorFootball dan @TheSunFootball untuk sebuah fenomena,”
Gyan tertawa dengan rumor miring tentang dirinya. Malah, ia merupakan pesepakbola yang juga sukses berbisnis di luar lapangan. Tercatat, ia merupakan pemain bola pertama yang menitik karier di luar lapangan sebagai pebisnis dalam sektor maskapai atau pesawat terbang. Maskapai penerbangan milik Gyan tersebut diketahui bernama Baby Jet Airlines (BBJ). Baby Jet Airlines dikabarkan sudah menerima lisensi dari lembaga penerbangan Ghana.
BBJ sendiri dioperasikan sebagai maskapai pengangkut barang. Namun kabarnya, BBJ juga dikembangkan menjadi maskapai transportasi penumpang.
Dengan segala cerita dari dunia sepak bola maupun dari sisi yang berbeda, Asamoah Gyan yang sudah berusia 34 tahun, masih belum punya klub untuk dibela.


