Sinar Bayern Munchen memancar cerah di stadion Da Luz, Lisbon, Portugal. Di stadion tersebut, Bayern sukses merebut titel Liga Champions keenam mereka sepanjang sejarah. Bayern berhasil menjinakkan wakil asal Prancis, PSG dengan skor tipis 1-0. Gol tunggal Kingsley Coman di menit 59 sudah cukup untuk mengantarkan Bayern mengangkat trofi si kuping besar.
Gelar liga Champions ini melengkapi kesuksesan Bayern di musim 2019/20. Mereka sebelumnya berhasil merengkuh trofi Bundesliga dan juga DFB Pokal. Dalam perjalanannya, tak mudah bagi Bayern untuk merebut trofi si kuping besar tersebut. Sebab, mereka sempat alami pergantian pelatih di awal musim, dari Niko Kovac ke tangan sang asisten pelatih Hansi Flick.
Ini adalah kali pertama bagi Flick melatih tim senior. Namun, walau demikian, Flick sukses buktikan diri mampu membimbing pasukan Die Roten. Juru taktik berusia 55 tahun ini sukses mengantarkan Bayern meraih treble winners untuk kedua kalinya di musim debutnya sebagai pelatih kepala. Selain faktor Hansi Flick, banyak hal yang bikin Bayern sanggup merengkuh trofi Liga Champions musim 2019/20.
Pertama, para pemain senior yang kembali ke dalam bentuk performa terbaiknya. Kiper Manuel Neuer berada dalam performa gemilang di kompetisi ini dengan melakukan beberapa penyelamatan krusial, sementara Thomas Muller menyumbangkan beberapa gol penting dan Robert Lewandowski tampil tajam dengan mengoleksi 15 gol dari 10 laga sepanjang kompetisi. Ketiganya adalah andalan Bayern yang sudah berusia lebih dari 30 tahun.
Kedua, kualitas mumpuni pemain pelapis, kualitas pemain yang diturunkan Flick dari bangku cadangan berperan besar dalam kesuksesan timnya. Kingsley Coman adalah contohnya. Coman sebenarnya pelapis bagi Ivan Perisic di sayap kanan Bayern. Sejak fase perempat final, Coman hanya menghuni bangku cadangan, tapi ia dipilih untuk tampil di final dan berhasil cetak gol kemenangan. Selain Coman, pemain pelapis lain yang tampil apik adalah Niklas Sule yang menggantikan Jerome Boateng di laga final karena cedera.
Ketiga, kecepatan para pemain sayap. Tak bisa dimungkiri bahwa kualitas winger Bayern merupakan kekuatan mereka musim ini. Terlebih para pemain sayap Bayern berusia masih muda. Sebut saja Alphonso Davies yang berusia 19 tahun yang tampil menawan, terlebih saat bentrok dengan Barcelona, di mana ia sukses menyumbang satu assist. Lalu ada Serge Gnabry, pemain 25 tahun yang kecepatannya dari sayap kanan sukses mengobrak-abrik pertahanan lawan.
Keempat, tingkat kebugaran skuad Bayern. Tingkat kebugaran pemain Bayern begitu luar biasa. Terbukti, di sepuluh menit terakhir laga final, mereka mampu menekan PSG dengan intensitas yang sama saat awal pertandingan. Permainan Bayern dengan intensitas yang tinggi juga berhasil membuat Barcelona terkapar di perempat final serta Lyon di babak semifinal.
Kelima, faktor sejarah. Bayern Munchen menyandang gelar juara Liga Champions sebanyak 5 kali sebelum menjamu PSG. Tak pelak, sejarah kesuksesan mereka di panggung eropa juga menjadi penentu keberhasilan mereka musim ini. Bandingkan dengan PSG, yang baru merasakan pertama kali tampil di partai puncak. Sejarah memang terkadang berpihak kepada tim yang sarat pengalaman.


