Semua orang menyukai kejutan. Apalagi jika berbau keajaiban. Dalam sepak bola pun begitu, kita terkadang bosan jika sebuah kompetisi hanya dihuni oleh klub-klub bergelimang trofi. Lain halnya jika ada suatu masa dimana satu berlian yang terselip di dalam semak-semak mampu tampakkan sinarnya.
Itulah yang terjadi pada kompetisi Inggris beberapa tahun silam. Sebuah kekuatan semenjana mampu merangsak naik ke panggung juara. Saat itu, sama sekali tak ada yang menyangka. Mungkin para peramal pun akan terkejut dibuatnya.
Leicester City, tak ubahnya menjadi cerita menyenangkan bagi para penggemar sepak bola. Datang dengan skuad tak dipertimbangkan, mereka tiba-tiba menduduki tahta juara dan memberitahu dunia, bahwa kala itu, suatu masa ingin sesekali keluar dari singgasananya. Menikmati udara berbeda, demi mendapat tawa yang sebelumnya tiada.
Leicester City menjadi sebuah dongeng tak terlupakan dari tanah Britania. Masih segar dalam ingatan ketika mereka mengangkat trofi kebanggaan. Senyum merekah dari wajah para penggawa terlihat jelas, dengan diiringi sorak sorai penggemar yang tak kalah bahagia.
Semua perjalanan indah klub berjuluk The Foxes dimulai pada April 2014, ketika mereka resmi menasbihkan diri sebagai tim yang berhasil promosi ke kompetisi Liga Primer Inggris.
Saat itu, Leicester City dipastikan meraih tiket promosi ke Liga Primer Inggris setelah rival-rival mereka tumbang di akhir pekan. Dengan demikian, Leicester bakal bertarung di kasta tertinggi sepakbola Inggris untuk pertama kalinya sejak satu dekade sebelumnya.
Di pertandingan penentuan, Leicester berhasil membekap Sheffield United dengan skor 2-1. Sementara itu, Queens Park Rangers dan Derby County yang bermain satu hari berikutnya, secara mengejutkan keduanya gagal memetik poin, sehingga Leicester dipastikan menempati satu dari dua posisi yang mendapatkan tiket promosi secara otomatis.
Mereka pun pada akhirnya mengakhiri musim dengan raihan 102 poin, mengungguli nama-nama seperti Burnley, Derby County, hingga QPR dan Wigan yang masuk ke dalam daftar lima besar.
Untuk bisa meraih gelar juara, butuh perjuangan ekstra dari para penggawa The Foxes. Di musim 2014/15, atau kali pertama tampil di liga Inggris sejak promosi, Leicester hanya menjadi tim dengan kekuatan biasa-biasa saja. Mereka menjadi tim promosi yang bahkan harus berjuang untuk bisa keluar dari jurang degradasi.
Dari total 38 pertandingan yang dimainkan, hanya 11 kemenangan yang bisa diraih, delapan hasil imbang, dan 19 sisanya berujung kekalahan. Dengan raihan tersebut, Leicester hanya bisa kumpulkan sebanyak 41 poin dan bertengger di posisi ke 14 klasemen akhir. Mereka unggul 11 poin dari Wigan yang menduduki tangga terbawah.
Dengan begitu, evaluasi tim pun praktis diberlakukan. Meski tak berfikir untuk menargetkan gelar juara di musim selanjutnya, mereka hanya tetap ingin eksis di kompetisi tertinggi, kalau-kalau bisa mendapat keberuntungan yang tidak dapat diulangi.
Langkah awal Leicester City tentu memecat sang pelatih Nigel Pearson dan menggantinya dengan juru taktik terkenal asal Italia, Claudio Ranieri. Lagi-lagi, bukan hal mudah untuk meyakinkan semua pihak tentang penunjukkan Ranieri. Banyak sekali yang mencerca dan bahkan menganggap Ranieri sebagai pelatih yang kurang pandai memilih klub. Pasalnya, ia sangatlah hebat, namun Leicester bukanlah klub yang cocok untuk dilatihnya.
Dengan segala keraguan yang terus menyelimuti, manajemen klub tetap optimis. Mereka dengan berani menyelinap dalam derasnya persaingan kekuatan uang melimpah. Fakta tersebut memang sudah banyak diketahui publik, setidaknya ada nama Chelsea dan Manchester City yang sukses meraih gelar juara dengan gelontoran dana yang tak main-main.
Kala itu, Leicester City menjadi klub yang hanya memiliki nilai kecil. Berdasarkan statistik yang dirilis CIES Football Observatory, Leicester merupakan tim dengan skuad termurah keempat musim tersebut. Ranieri hanya memiliki skuat dengan harga senilai 72 juta euro.
Leicester hanya unggul dari Norwich City dengan nilai 55 juta euro, Watford 49 juta euro, dan Bournemouth dengan 36 juta euro. Mereka jelas kalah jauh dari Manchester City, Manchester United, Liverpool, Arsenal, hingga Chelsea, yang memiliki nilai ratusan juta euro.
Kendati begitu, sekali lagi, Ranieri yang tak memiliki beban selain suara miring dari sejumlah pihak, mulai menjalankan tugas dengan caranya sendiri. Dia percaya pada skuad yang dimiliki, dengan nama Riyad Mahrez dan Jamie Vardy sebagai pemain paling mumpuni.
Musim 2015/16, yang tidak disangka-sangka, bakal menjadi panggung Leicester City dalam tunjukkan taji. Secara dramatis, mereka sudah berhasil membuktikan diri di awal-awal kompetisi.
Duet Jamie Vardy dan Riyad Mahrez berhasil mengalahkan Sunderland 4-2 dalam pertandingan debut manajer Claudio Ranieri. Dilanjutkan dengan kemenangan 2-1 atas West Ham United dan hasil imbang melawan Tottenham Hotspur. Leicester pun bertengger di empat besar klasemen sementara Liga Inggris.
Lalu, laju mereka semakin tak terhenti meski rekor Ranieri pecah pasca kekalahan 5-2 melawan Arsenal.
Namun, kekalahan melawan Arsenal hanya menjadi batu sandungan, karena setelahnya, mereka kembali ke jalur juara dengan menempati posisi tiga besar. Dalam perjalanannya, The Foxes berhasil tumbangkan Norwich City, Crystal Palace, dan West Bromwich Albion.
Semua masih belum khawatir, toh banyak juga tim-tim semacam itu, yang pada akhirnya terjungkal di pertengahan dan akhir kompetisi.
Para manajer klub-klub besar juga belum ambil pusing dengan geliat Leicester City yang berhasil merangsak naik dan menjadi ancaman bagi tim besar, sebelum akhirnya mereka dikejutkan dengan fakta bahwa penyerang andalan The Foxes, Jamie Vardy menorehkan namanya dalam sejarah Liga Primer Inggris setelah mencetak gol di 11 pertandingan berturut-turut, dalam laga imbang melawan Manchester United.
Klub-klub besar pun mulai beranjak dari tempat duduknya. Mereka mencoba membetulkan dasi sebagai penanda bahwa Leicester City sudah mulai harus diwaspadai. Karena selain Jamie Vardy, nama Riyad Mahrez kemudian menjadi momok bayangan ketika berhasil mencetak hattrick di laga melawan Swansea.
Setelah itu, The Foxes juga belum bisa dihentikan Chelsea dan Manchester City, meski menelan kekalahan melawan Liverpool.
Pada Januari 2016, mereka berhasil menduduki tangga tertinggi, pasca melibas Stoke City dengan skor 3-0. Sebelumnya, mereka juga berhasil menumpaskan perlawanan Tottenham Hotspurs.
Pada tahap berikutnya, Liverpool dan Manchester City dibuat bertekuk lutut, meski Arsenal masih terlalu perkasa untuk mereka. Tiga kemenangan tipis melawan Watford, Newcastle United, dan Crystal Palace lalu semakin melebarkan jarak dengan Tottenham yang berdiri di tangga kedua.
Masa akhir pertempuran nyaris temui waktunya. Mereka yang sempat meragukan semakin percaya bahwa Leicester City akan melakukan hal gila. Mereka tak terhentikan, dengan kekompakan skuad di berbagai area.
Tepat pada 1 Mei 2016, Leicester City harus menunda pesta setelah hanya meraih hasil imbang melawan Manchester United. Namun pada akhirnya, gelar juara dipastikan setelah Chelsea menahan imbang Tottenham 2-2 dalam pertandingan sehari kemudian.
Sebuah momen tak terlupakan lalu baru terluapkan ketika trofi diserahkan FA kepada Leicester City, usai pertandingan melawan Everton, di Stadion King Power, pada 7 Mei 2016!
Selain Riyad Mahrez dan Jamie Vardy, Wes Morgan juga berhasil mengatur para rekan-rekan nya untuk terus bermain konsisten. Jangan lupakan pula pemain seperti Drinkwater, Kante, dan Christian Fuchs yang menjadi kawanan tangguh serdadu Ranieri dalam menjaga daerah kekuasaan dari serbuan para lawan.
Leicester City berhasil meraih trofi tertinggi sejak dibentuknya tim 132 tahun sebelumnya.
Untuk Ranieri, namanya kembali terangkat. Maklum saja, mantan pelatih Chelsea itu kerap dicap sebagai pelatih gagal di liga domestik. Sosok asal Italia tersebut mampu mengusung permainan kolektif dan konsisten, tak pelak mental juara tertanam dalam diri masing-masing anak asuhnya.
Mereka memakai pola 4-4-2 yang mengedepankan pragmatisme. Mereka juga termasuk tim yang memiliki statistik penguasaan bola yang rendah. Keunggulan nya adalah dalam hal serangan balik serta pertahanan yang solid.
Kerja sama, membangun momentum, serta tak boleh lengah dalam satu pertandingan pun juga menjadi kunci, dari kesuksesan Ranieri dalam mengamankan titel juara untuk Leicester City.
Pasca musim ajaib tersebut, hingga kini, masih ada pemain yang bertahan seperti Kasper Schmeichel, Wes Morgan, Christian Fuchs, hingga Jamie Vardy. Namun pilar penting lainnya, termasuk N’Golo Kante, Riyad Mahrez, hingga Shinji Okazaki, memilih untuk melanjutkan karir dengan jalan masing-masing.


