Alexander Zwiers: Pencetak Sejarah Piala Dunia, Dirtek Baru Timnas Indonesia

spot_img

Setelah sekian purnama. Setelah banyaknya pemain diaspora yang dipanggil pulang. Dan setelah para abang-abangan sepakbola Belanda diminta terjun langsung mengurusi sepakbola Indonesia. Akhirnya, sosok yang benar-benar tepat untuk mengawal arah pembangunan sepakbola Indonesia pun tiba. Dia adalah Alexander Zwiers. Ia ditunjuk sebagai direktur teknis yang baru, menggantikan Indra Sjafri yang teramat versatile itu.

Sudah pasti, kabar ini disambut dengan antusias yang amat besar dari para pecinta sepakbola tanah air. Karena hadirnya Alexander Zwiers bukan hanya sekadar pergantian jabatan, melainkan sebuah harapan baru. Zwiers datang membawa optimisme dan ilmu sepakbola yang tak terbantah. Ia akan membangun pondasi sepakbola Indonesia agar lebih kokoh, terarah, dan berkesinambungan.

Namun, di tengah hingar bingar kegembiraan, ada sedikit keraguan. Dari nama-nama yang dipanggil Erick Thohir, Zwiers jadi yang paling asing. Ia bahkan tak punya riwayat sebagai pesepakbola profesional. Beda banget sama Simon Tahamata, Patrick Kluivert, atau mungkin Jordi Cruyff yang namanya harum di panggung sepakbola Eropa. Lantas, bisa apa Alexander Zwiers di sepakbola Indonesia?  

Siapa Alexander Zwiers?

Sebelum mengorek lebih dalam tentang prestasi dan sepak terjang Alexander Zwiers, mari kita berkenalan lebih dulu. Siapa bapak-bapak yang satu ini? Sama halnya dengan nama-nama di manajemen tim nasional Indonesia, Zwiers merupakan orang Belanda tulen. Ketimbang sebagai seniman lapangan hijau, Zwiers lebih dikenal sebagai akademisi dan praktisi sepakbola di bidang kepelatihan, pendidikan pelatih, serta pengembangan pemain.

Dengan kata lain, pria bernama lengkap Alexander Thijs Jetse Zwiers ini adalah tipe figur sepakbola yang karirnya berkembang dari luar lapangan dengan hasil kerja yang bisa dilihat di lapangan. Bukan sebaliknya. Ada fakta menarik tentang direktur teknis Timnas Indonesia ini. Meski tak memiliki darah Indonesia, Zwiers punya kaitan erat dengan Indonesia.

Pria berzodiak Gemini ini menikahi wanita asli Indonesia. Mereka telah menikah selama kurang lebih 25 tahun. Menariknya lagi, Zwiers ternyata pernah tinggal di Indonesia, tepatnya di Karawaci, Tangerang. Setidaknya, Zwiers pernah menetap di sana selama empat tahun. Bahkan, istri dan anaknya sudah berada di Indonesia sejak pertengahan tahun. Hal ini membuatnya memiliki kedekatan dengan Indonesia. 

Sepak Terjang Di Dunia Sepakbola

Sudah cukup dengan kehidupan pribadi Alexander Zwiers, kini kita akan membahas tentang perjalanan karir dan sepak terjangnya di dunia sepakbola. Tidak berangkat dari lapangan hijau, Zwiers pertama kali berkecimpung di dunia sepakbola melalui bantuan SC Cambuur. Ia ditunjuk sebagai pelatih akademi di Cambuur pada tahun 1998.

Selama kurang lebih dua tahun, Zwiers juga merangkap sebagai asisten pelatih di Cambuur U-19. Lalu berlanjut ke Crewe United tahun 2001, pindah ke Groningen U-17 dan U-19 sebagai asisten pelatih, dan langsung hijrah ke Asia bersama ASPIRE Academy di Qatar. Zwiers kala itu menjabat sebagai asisten pelatih di sana.

ASPIRE Academy sendiri merupakan kiblat pengembangan usia muda di sepakbola Asia. Ia bukan sekadar akademi, tetapi katalisator dari strategi ambisius yang menempatkan Qatar sebagai kekuatan olahraga di Asia. Akademi ini memiliki fasilitas kelas dunia, termasuk Aspire Dome yang menjadi arena olahraga dalam ruangan terbesar di dunia, laboratorium sains olahraga modern, serta lapangan sepak bola yang memenuhi standar FIFA.

Bahkan, kalau kalian ngeh, hampir seluruh pemain yang membawa Qatar juara Piala Asia 2019 adalah lulusan ASPIRE. Jadi, secara tidak langsung, ada sedikit sentuhan Zwiers di kesuksesan Qatar dalam mencetak pemain-pemain top di era sekarang. ASPIRE jadi pembuka jalan bagi Zwiers untuk mengenal lebih dalam sepakbola Asia.

Setelah dari ASPIRE, pria asal Belanda itu berkelana ke beberapa negara Timur Tengah. Selain Qatar, Zwiers pernah bekerja di Al-Ahli di Arab Saudi, sebagai pelatih tim junior. Ia juga pernah menjadi Direktur Akademi di Al-Wahda dan Al-Nasr SC, tim asal Uni Emirates Arab. Bukan cuma itu, Zwiers juga sempat jadi Direktur Akademi di klub Kazakhstan, Kairat Almaty.

Kerja Bareng Johan Cruyff

Di tengah-tengah petualangannya di Asia, Alexander Zwiers pernah hijrah ke Meksiko pada Mei tahun 2012. Kala itu, ia menjadi Direktur Akademi di Chivas atau yang kini dikenal sebagai Deportivo Guadalajara. Klub ini sekarang dibela oleh legenda Manchester United, Javier Hernandez, alias Chicharito. 

Nama Zwiers muncul setelah mendapat rekomendasi dari legenda hidup Belanda, Johan Cruyff. Saat itu Cruyff menjabat sebagai konsultan di klub Meksiko tersebut. Zwiers bekerja langsung di bawah arahan sang legenda. Meski cuma enam bulan, ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi Zwiers.

Kontribusi Luar Biasa di Yordania

Bermodalkan Ilmu yang tinggi, pengalaman, dan kerja keras, Alexander Zwiers akhirnya kembali ke Asia untuk menjadi Direktur Teknis Timnas Yordania. Ini jadi kali pertama Zwiers menjabat di tim nasional. Namun, di sinilah Zwiers mencapai puncak karir. Kontribusinya terpampang nyata bagi perkembangan sepakbola Yordania.

Menjabat sejak 2019, sepakbola Yordania mengalami lompatan kualitas yang signifikan. Kinerjanya mulai diapresiasi saat membantu Yordania menembus final Piala Asia 2023 di Qatar. Itu jadi pencapaian terbaik Yordania selama berkiprah di turnamen tersebut. Sayangnya, mereka kalah dari Qatar di partai puncak. Tidak berhenti di situ, Zwiers juga menjadi arsitek di balik keberhasilan Yordania memastikan tiket ke Piala Dunia 2026.

Lolos ke Piala Dunia 2026 juga jadi kali pertama bagi persepakbolaan Yordania. Zwiers jadi bagian penting dalam membangun pondasi tim untuk mencatatkan sejarah ini. Dengan arahannya, perkembangan sepakbola Yordania lebih terarah dan punya tujuan yang jelas. Di luar itu, kesuksesan kinerja Zwiers di Yordania juga ditandai dengan lonjakan ranking FIFA Yordania dari posisi 97 hingga mendekati 64 besar dunia

Bagaimana Ia Melakukannya?

Tapi bagaimana Zwiers melakukannya? Bagaimana seorang direktur teknis berperan besar dalam kemajuan sepakbola sebuah negara? Sebagai seorang direktur teknis, Alexander Zwiers menjadi otak dan pengendali arah sepakbola Yordania. Dari hal fundamental hingga output di lapangan, Zwiers punya andil.

Dilansir CNN Indonesia, Zwiers punya banyak lisensi ahli. Ia memegang lisensi UEFA A, AFC Pro, AFC Pro Instructor, dan Technical Leadership Diploma (TD Diploma) FIFA. Menurut hasil kerjanya di Yordania, program-program yang terstruktur dari U-10 sampai U-23 serta football for schools menjadi unggulan Zweirs.

Program ini bukan sekadar mengajarkan teknik dasar bermain bola, melainkan dirancang untuk menjangkau puluhan ribu anak usia sekolah di seluruh penjuru Yordania melalui kerja sama erat antara federasi sepak bola, Kementerian Pendidikan, serta FIFA. Sederhananya, Zwiers ingin memperkenalkan sepakbola sejak dini melalui sekolah.

Zwiers melihat bahwa fondasi pembinaan tidak bisa hanya mengandalkan akademi elite, tetapi harus ditanamkan sejak dini di sekolah sebagai lingkungan paling dekat dengan anak-anak. Karena itu, F4S menyediakan kurikulum sepak bola sederhana, inklusif, dan menyenangkan, sehingga bisa diikuti oleh anak-anak dengan berbagai latar belakang, baik laki-laki maupun perempuan.

Selain kurikulum sepakbola di sekolah, Zwiers juga meminta Federasi Sepakbola Yordania untuk bergabung dengan AFC Pro Convention. Tujuannya, untuk menyusun kurikulum lisensi kepelatihan yang lebih spesifik serta sistem pengembangan personal untuk pelatih. Upaya yang membantu meningkatkan kualitas pelatih di seluruh tingkatan sepakbola Yordania. 

Daya Tawar Zwiers Untuk Indonesia?

Apakah proyek yang sama bisa diaplikasikan saat Alexander Zwiers menangani Timnas Indonesia? Belum tentu. Tapi tetap bisa diupayakan. Yang bisa dilakukan Zwiers dalam waktu dekat adalah perencanaan atau blueprint bagi sepakbola Indonesia.

Zwiers nantinya bisa mengatur manajemen tujuan untuk jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang. Jangka pendek, mungkin lebih ke memilih SDM yang tepat untuk mengisi seluruh elemen tim nasional. Dari staf hingga pemain. Agar performa tim lebih stabil. Baru masuk ke jangka menengah.

Alexander Zwiers bisa mengaplikasikan programnya untuk meningkatkan kualitas pelatih-pelatih lokal. Sebab, sejauh ini klub-klub lokal lebih percaya pada pelatih asing. Soal ini, harus bersabar. Tidak bisa instan. Hasilnya bertahap. Nah, kalau jangka panjang Zwiers akan bekerjasama dengan Simon Tahamata untuk mengembangkan pemain muda. 

Mengutip Bolasport, Simon ingin Indonesia tak usah naturalisasi pemain lagi. Sudah seharusnya, Indonesia bisa mengembangkan talenta-talenta lokal yang ada untuk membela tim nasional. Nah, dengan adanya Alexander Zwiers, ide ini bisa diwujudkan. 

Gagasannya sederhana tapi fundamental. Membangun sistem pengembangan usia muda yang terstruktur sejak usia 9 tahun. Perpaduan dua sosok hebat ini membuka peluang bagi lahirnya generasi emas yang kelak mampu mengharumkan nama Indonesia di kancah internasional.

___

Sumber: CNN Indonesia, Jawapos, Bola.net, FIFA Training Centre

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru