Meskipun sudah terpecah belah sejak tiga dekade lalu, negara-negara bekas Yugoslavia selalu saja menelurkan banyak pemain top. Dari zaman Nemanja Vidic hingga Josko Gvardiol ataupun Dejan Stankovic hingga Luka Modric, mereka selalu saja punya bakat-bakat terbaik dalam sepak bola.
Yang lebih mencengangkan, hanya dalam kurun waktu yang relatif pendek sejak perang, salah satu negara pecahan tersebut bisa sampai ke final Piala Dunia. Edan bukan? Lantas, apa sebenarnya rahasia negara-negara bekas Yugoslavia bisa jago dalam bermain sepak bola?
Budaya Olahraga yang Mengakar
Satu hal yang sangat membantu kemajuan sepak bola dan olahraga secara keseluruhan di negara-negara bekas Yugoslavia adalah budaya olahraga yang sudah sangat mengakar di sana. Olahraga bukanlah sesuatu yang asing dan mahal di sana. Orang bisa dengan mudah menemukan fasilitas olahraga tanpa harus susah payah menyewa dengan harga mahal.
Ini bisa terjadi karena di masa lalu, saat pemerintahan monarki berhasil digulingkan oleh kekuatan sosialis-komunis, olahraga merupakan barang wajib di Yugoslavia. Warga negara haruslah sehat agar bisa ikut berkontribusi dalam masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah Yugoslavia yang dipimpin oleh karib Soekarno, Josip Broz Tito, melakukan kampanye olahraga besar-besaran.
Mereka memang secara tidak langsung memakai olahraga sebagai cara untuk unjuk gigi di mata dunia. Melalui olahraga, bendera dan lagu kebangsaan mereka bisa dikibarkan dan dinyanyikan di wilayah lain. Oleh karena itu, kompetisi olahraga sering disebut sebagai pengganti dari perang. Ya kira-kira seperti kita orang Indonesia yang bangga ketika ada atlet nasional yang berhasil menang di kompetisi internasional.
Timnas sepak bola Yugoslavia sendiri bisa dibilang membanggakan di kompetisi mayor. Selama 74 tahun berdiri, Yugoslavia pernah dua kali menjadi semifinalis Piala Dunia, dua kali finalis Piala Eropa, sekali juara Olimpiade, tiga kali runner up Olimpiade, dan sekali meraih perunggu di ajang Olimpiade. Sebuah prestasi yang tidak buruk-buruk amat lah ya.
Lalu, apa dampak dari kampanye soal olahraga ini? Ya jelas pembangunan fasilitas olahraga di mana-mana. Dari stadion baru hingga lapangan kecil dibangun sehingga warga bisa mengakses dan terbiasa dengan berolahraga. Termasuk juga pembentukan program pembinaan sepak bola di segala tingkat usia.
Ironisnya, investasi jangka panjang ini justru baru benar-benar membuahkan hasilnya setelah Yugoslavia bubar. Masyarakat yang sudah kadung gila olahraga mulai naik level. Dari yang awalnya berolahraga agar sehat, menjadi berolahraga sebagai profesi. Banyak orang akhirnya tertarik menjadi atlet profesional. Semua berjalan perlahan, tak ada yang instan, bahkan mie instan pun harus dimasak step by step.
Di sepak bola sendiri, semua negara bekas Yugoslavia punya tokohnya sendiri-diri dalam sepak bola. Di Slovenia ada Jan Oblak dan Benjamin Sesko, Kroasia ada Luka Modric dan Josko Gvardiol, Bosnia dan Herzegovina punya Edin Dzeko dan Miralem Pjanic, Serbia punya Nemanja Vidic dan Dusan Vlahovic, Montenegro punya Stefan Jovetic dan Adam Marusic, Makedonia Utara punya Goran Pandev dan Eljif Elmas, bahkan Kosovo saja punya Vedat Muriqi dan Amir Rrahmani.
Yang paling mengesankan dari investasi jangka panjang Yugoslavia tadi adalah ketika Kroasia secara mengejutkan bisa bermain hingga final Piala Dunia 2018. Bayangkan saja negara yang dua dekade sebelumnya masih berperang dan baru relatif stabil sejak 2006, bisa bermain di pertandingan tertinggi dalam kancah sepak bola.
Bahkan Luka Modric saja merasakan seperti apa rasanya hidup dalam perang. Prestasi ini tak mungkin diraih jika mereka tidak jago. Dan satu-satunya cara mereka bisa menjadi jago adalah berlatih dan menambah jam terbangnya. Bagaimana bisa jago main bola kalau main bola saja nggak pernah?
#OnThisDay in 1954: holders Uruguay, Austria, Brazil & Yugoslavia get off to a good start as #WorldCup kicks off pic.twitter.com/pWmXPwX1rM
— FIFA World Cup (@FIFAWorldCup) June 16, 2016
Kompetisi yang Kompetitif
Untuk mewadahi bakat-bakat sepak bola tadi, sejak 1945 telah dibentuk Liga Yugoslavia. Liga ini pada masa jayanya merupakan salah satu yang terbaik di Eropa. Pada tahun 1983 saja, mereka menduduki posisi ke-4 dalam ranking koefisien UEFA. Mereka hanya lebih rendah dari Jerman Barat, Spanyol, dan Inggris. Sayangnya, koefisien mereka makin menurun sejalan dengan kondisi negara yang akhirnya bubar pada tahun 1992.
Namun, dari kompetisi inilah bakat-bakat terbaik lahir. Mereka akhirnya terbiasa bermain pada pertandingan level yang tinggi. Tak hanya pembangunan liga, Yugoslavia sebagai negara juga mendorong terbangunnya klub-klub baru yang dapat menyerap dan menumbuhkan bibit pemain.
Klub-klub seperti Crvena Zvezda, Dinamo Zagreb, hingga Partizan merupakan klub yang lahir dari inisiasi Yugoslavia untuk memajukan sepak bola. Hingga kini, klub-klub tersebut silih berganti tampil di kompetisi Eropa. Tak hanya membangun tim baru, klub-klub lama yang mati suri pun dihidupkan lagi, misalnya Sloboda Tuzla.
Setelah bubar, tiap negara akhirnya punya liganya dan sistem pembinaannya masing-masing. Satu contoh yang cukup mengesankan adalah Serbia. Mereka ini memiliki kompetisi sepak bola yang terbagi ke dalam 8 kasta. Ya, kalian tak salah dengar, negara dengan populasi lebih kecil dari Jakarta ini punya 8 kasta. Sudah kebayangkan seperti apa kompetitifnya mereka?
Banyaknya kompetisi ini sangat berguna untuk pemain muda. Mereka bisa memanfaatkan banyaknya klub yang berlaga untuk mencari jam terbang dan menambah pengalaman. Oleh karena itu jangan heran jika pada tiga edisi Euro U17 terakhir, Serbia bisa tembus hingga semifinal. Padahal lawan-lawannya negara kelas berat semua. Pemain berbakat bukanlah gas melon alias barang langka di Serbia.
FROM 2-0 DOWN TO 3-2 WINNERS!
Portugal U17 beat Serbia in the semi-final thanks to a 95th minute winner and are into the #U17Euro final.
🇵🇹🇵🇹🇵🇹pic.twitter.com/CDgpN2PjCB
— Próxima Jornada (@ProximaJornada1) June 2, 2024
Saking Banyaknya SDM, Akhirnya Jadi Pengekspor
Karena negara-negara tadi gila main bola, akhirnya mereka punya banyak pemain bola. Karena kebanyakan, akhirnya memaksa banyak pemain harus abroad ke luar negeri agar bisa bermain. Baik yang mereka yang jago banget, atau yang sekadar jago aja. Bahkan, Serbia dan Kroasia masuk sebagai 10 besar negara pengekspor pemain bola. Keren!
Berdasarkan Insider Monkey, musim 2023/24 lalu saja, Serbia duduk di posisi ke-10, satu tingkat di atas Belanda. Sementara Kroasia berada di peringkat ke-8. Bahkan di tahun 2019, Serbia bisa bercokol di posisi ke-6. Fakta luar biasa jika mengingat jumlah penduduknya tak lebih dari 7 juta, yang mana jauh lebih kecil dari Jakarta!
Tak hanya dua negara tadi, negera-negara bekas Yugoslavia lain juga melakukan hal serupa. Banyak pemain mereka yang melanglang buana ke negeri yang jauh. Bahkan kalau kalian sadar, di ASEAN ada loh tiga pemain naturalisasi dari negara pecahan Yugoslavia. Singapura punya Fahrudin Mustafic dari Serbia, Malaysia punya Liridon Krasniqi dari Kosovo, dan kita, Indonesia, punya Ilija Spasojevic dari Montenegro.
Tak hanya pemain, dua negara ini juga tergolong produktif mengekspor pelatih. Menurut data Football Observatory, pada 2020, Serbia adalah negara pengekspor pelatih terbanyak ketiga di dunia, di bawah Argentina dan Spanyol. Sementara Kroasia bersama Bosnia dan Herzegovina, duduk sejajar di posisi ke-11.
Pada musim 2024/25, banyak sekali pelatih asal negara pecahan Yugoslavia di liga-liga ASEAN. Di Indonesia ada Milomir Seslija dan Bojan Hodak, Malaysia ada Tomislav Steinbrückner dan Miroslav Kuljanac, Thailand ada Milos Joksic dan Srdan Trailovic, serta ada Aleksandar Rankovic di Singapura.
Gini nih kalo udah kebanyakan pemain sama pelatih, diekspor ke luar semua!
Ilija Spasojevic mengatakan, kondisi Timnas Indonesia sedang sangat bagus setelah pemusatan latihan dan uji coba pada November lalu. “Kami selalu melakukan evaluasi, belajar dari kesalahan dan terus berlatih,” kata Spaso.#PSSI #AWSTC2017 pic.twitter.com/RNjiDGtMiK
— PSSI (@PSSI) December 1, 2017
Sumber: Le Monde, Football Fandom, Football Observatory, Transfermarkt, UEFA, Insider Monkey, dan Tribuna


