Timnas Indonesia Punya Kesempatan Bikin Graham Arnold Dipecat

spot_img

Misi balas dendam Shin Tae-yong atas kekalahan telaknya dari Graham Arnold pada Piala Asia lalu, bisa memiliki dampak yang besar pada masa depan Graham Arnold. Sebab, apabila STY bisa menaklukkan Australia, pemecatan Graham Arnold sebagai nahkoda Socceroos besar kemungkinan akan menjadi kenyataan.

Kekalahan atas Bahrain pada laga pembuka Grup C lalu membuat publik sepak bola Australia kembali geram. Mereka bahkan menganggap ini adalah waktu yang pas untuk mendepak Graham Arnold. Sebab, sejak dahulu, suara sumbang mengenai pemecatan pria berusia 61 tahun ini sudah ada, namun tak kunjung terwujud. Lantas, apa sih yang sebenarnya terjadi?

 

Sepak Terjang Graham Arnold Bersama Socceroos

Karir kepelatihan Graham Arnold sebenarnya sudah dimulai bahkan sebelum ia memutuskan untuk gantung sepatu dari sepak bola pada awal tahun 2002. Sejak tahun 2000, mantan pemain Roda JC dan NAC Breda ini sudah berada di pinggir lapangan sebagai asisten pelatih Socceroos.

Awalnya, ia ditarik oleh rekannya saat bermain di Eropa, Frank Farina, untuk membantu pekerjaannya sebagai nahkoda utama. Namun, setelah Farina didepak pada 2005, Graham Arnold malah tetap bertahan di sana dan otomatis menjadi asisten dari pelatih asal tempatnya bermain dahulu, Guus Hiddink.

Ketika Guus Hiddink pergi setelah Piala Dunia 2006, Graham Arnold masih tetap di pinggir lapangan Socceroos. Bahkan sempat menjabat sebagai pelatih interim Australia selama setahun hingga mendiang Pim Verbeek datang pada akhir tahun 2007. Artinya, saat Piala Asia 2007, manusia ini sudah duduk menjabat sebagai pelatih kepala Timnas Australia. Bukan main.

Oleh karena itu, wajar rasanya jika pengaruh Graham Arnold sudah sangat mengakar di Timnas Australia. Setelah Piala Dunia 2010 berakhir, Australia bersih-bersih. Gerbong Pim Verbeek berakhir, termasuk Graham Arnold yang sudah 10 tahun berkarir. Setelah kepergian Arnold ini, Australia akhirnya lepas dari pengaruhnya. Hasilnya lumayan. Socceroos berhasil menyabet gelar juara di Piala Asia 2015.

Periode Socceroos tanpa Graham Arnold ini berjalan sekitar 8 tahun. Tapi karena ketidakstabilan dalam wujud seringnya berganti pelatih dan kegagalan Socceroos di Piala Dunia 2018, Australia akhirnya memanggil kembali Graham Arnold ke pinggir lapangan dan kini tak lagi berstatus asisten pelatih, melainkan sebagai pelatih kepala. Sepertinya mereka merindukan kestabilan yang dibawa Graham Arnold dengan berbagai pengaruhnya di masa lalu.

Singkat cerita, Graham Arnold kembali dan Australia sebagai juara bertahan Piala Asia 2019 malah gagal menembus semifinal. Australia yang lebih diunggulkan dan tampil dominan malah kalah 1-0 dari Uni Emirat Arab. Kecewa? Jelas. Tapi publik Australia masih bisa sedikit menoleransi kegagalan ini meski keraguan mereka mulai tumbuh.

Keraguan mereka terjawab kala performa Australia anjlok di babak-bakak akhir Kualifikasi Piala Dunia 2022. Mereka hampir tak lolos ke Piala Dunia 2022 karena meraih 6 laga tanpa kemenangan sehingga mereka harus menempuh jalur kualifikasi lanjutan hingga akhirnya lolos setelah menaklukkan Peru. Namun, di Piala Dunia penuh anomali tersebut, performa Socceroos juga mengalami anomali. Mereka dengan ajaib bisa lolos ke babak 16 besar dan kalah dari juara kompetisi, Argentina.

Keberhasilan ini cukup untuk membuat Graham Arnold bertahan hingga Piala Asia 2023. Pada gelaran Piala Asia ketiganya ini, Graham Arnold kembali gagal meraih trofi. Mereka gagal di perempat final dari Korea Selatan. Kegagalan ini membuat fans Australia akhirnya bersuara lagi bahwa rezim Arnold harus pergi. Ditambah, hasil akhir lawan Bahrain pada 5 September lalu semakin membuat narasi ini makin menjadi.

 

Mulai Tuai Banyak Kritik

Sejatinya, kritik tajam terhadap Graham Arnold sudah mulai terasa sejak 6 laga tanpa kemenangan Socceroos di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Setelah kekalahan dari Arab Saudi pada akhir Maret 2022 yang mengirim mereka ke kualifikasi lanjutan, Graham Arnold sudah dikabarkan akan ditendang.

Tapi dengan ajaib, federasi sepak bola Australia malah membela dan mempertahankan pegawainya tersebut. Alasannya? Kestabilan. Ya, mereka menganggap jika langsung memecat Arnold saat itu juga, kestabilan tim bisa goyang. Karena tak mau mengambil resiko, PSSI-nya Australia tersebut akhirnya memutuskan bahwa Arnold bisa bertahan setidaknya hingga Piala Dunia 2022 berakhir.

Namun sialnya, seperti yang sudah disebutkan sebelumnya, Graham Arnold malah bisa membawa Socceroos lolos hingga babak 16 besar. Menyamai prestasi Guus Hiddink di tahun 2006. Meskipun para fans tetap menganggap permainan tim nasionalnya mengecewakan, Australia yang melihat lolosnya Socceroos tersebut sebagai prestasi, membuat Arnold bisa bertahan lebih lama lagi.

Tapi tetap saja, kegagalannya membawa Australia ke laga puncak Piala Asia 2023 sudah membuat publik sepak bola muak. Meski sama-sama bermain menyerang seperti Ange Postecoglou, Graham Arnold dianggap terlalu dogmatik sehingga tak memiliki solusi apabila lini depan mereka buntu. Alih-alih bermuhasabah, Arnold malah suka berkilah dengan menyalahkan pemainnya sendiri.

“Kami unggul 1-0, kami punya kesempatan untuk 2-0, 3-0, dan jika kamu tak mengambil kesempatan itu bersiaplah untuk dihajar balik. Ini semua kembali lagi soal bagaimana individu pemain memanfaatkan peluang,” kilah Arnold yang menyalahkan pemainnya pada laga melawan Korea Selatan di Piala Asia 2023, via The Straits Times.

Hal yang serupa juga kembali terjadi ketika Socceroos kalah dari Bahrain. Ia memang mengakui bahwa para penyerangnya frustrasi karena tak bisa menjebol gawang lawan. Tapi tetap saja, bukannya bermuhasabah, ia malah mencari alasan soal persiapan. 

“Anda harus memberikan kredit tersendiri kepada Bahrain. Mereka datang ke sini lebih awal. Mereka mempersiapkan diri selama sepuluh hari. Mereka tiba di sini sepuluh hari sebelum pertandingan, dan mempersiapkan diri dengan baik,” ujar Arnold dikutip dari Goal.

Alhasil, kemarahan yang sudah lama dipendam pecinta sepak bola Australia menemukan titik ledaknya. Para fans meluapkan emosinya di sosial media dan menganggap ini merupakan waktu yang tepat untuk mendepak Arnold pergi. 

 

Keuntungan Indonesia dan Kesempatan STY

Kenyataan ini jelas merupakan kabar baik bagi Timnas Indonesia. Sebab, selain bakal didukung oleh puluhan ribu suporter di GBK, kondisi ruang ganti Australia yang sedang goyang akan menjadi keuntungan bagi anak asuh Shin Tae-yong. Lebih-lebih kondisi moral Tim Garuda sedang tinggi-tingginya setelah berhasil mencuri poin dari Jeddah.

Tidak kondusifnya ruang ganti Australia bisa terlihat dari gestur Graham Arnold kala ia bersama rombongan Timnas Australia mendarat di Indonesia pada Jumat, 6 September lalu. Dilansir oleh Tribunnews, raut muka Graham Arnold tampak tegang dan kesal. Ia pun menolak saat hendak diwawancarai oleh awak media.

Dan yang terpenting laga ini juga merupakan kesempatan emas Shin Tae-yong untuk membalaskan kekalahan 4-0 di Piala Asia 2023 lalu. Terlebih, STY juga pernah punya catatan apik membantai Graham Arnold 5-0 saat masih menukangi Seongnam Ilhwa. Siapa tahu, bisa terulang lagi kan? Kalaupun tidak, hasil imbang pun sudah cukup untuk membuat posisi Graham Arnold sebagai pelatih kepala Australia di ujung tanduk.

https://youtu.be/mOCgePoxpnE

Sumber: AFC, Sporting News, SMH, The Straits Times, Goal, Daily Mail, dan Tribunnews 

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru