Gol tunggal Jens Raven yang berawal dari skema bola mati berhasil mematikan Thailand pada laga final AFF U19 yang diadakan di Stadion Gelora Bung Tomo, Surabaya. Gol keempat dari Jens Raven pada turnamen tersebut juga menjadi penanda bahwa trofi AFF U19 edisi kali ini berada di tangan Indonesia. Setelah 11 tahun, Garuda Muda akhirnya kembali membawanya pulang ke pangkuan ibu pertiwi.
Kemenangan tersebut juga menjadi trofi kedua bagi sang juru taktik, Indra Sjafri. Seperti yang kita ketahui, Indra Sjafri merupakan sosok yang mendalangi generasi Evan Dimas dan Dimas Drajad meraih trofi AFF U19 pada tahun 2013. Kegemilangan ini kembali diulangi oleh pria berusia 61 tahun tersebut dengan calon-calon bintang baru. Uniknya, kedua trofi AFF U19 tersebut sama-sama diraih di Jawa Timur!
Lantas seperti apa perjuangan Garuda Muda meraih gelar keduanya?
Selamat! Indonesia Juara Piala AFF U19 2024 🇮🇩👏🏆
Hasil itu didapat setelah anak asuh Indra Sjafri mengalahkan Thailand dengan skor tipis 1-0 berkat gol tunggal Jens Raven 🙌#AFFU19 #TimnasDay pic.twitter.com/RZD4mQReE7
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) July 29, 2024
Menuju Final
Garuda Muda maju ke babak final dengan percaya diri tinggi. Bagaimana tidak? Setelah berhasil menaklukkan Malaysia dengan skor tipis 1-0, Garuda Muda menorehkan statistik yang mengagumkan. Mereka hanya kebobolan 2 kali dan telah membobol gawang lawan 15 kali. Ini menunjukkan bahwa lini depan maupun belakang yang dimiliki Garuda Muda bermain dengan sangat baik.
Pertandingan melawan Harimau Malaya Muda di babak semifinal sebenarnya adalah ujian sesungguhnya bagi Garuda Muda. Sebab, selain karena kualitas mereka di atas lawan-lawan yang sebelumnya telah dihadapi, Harimau Malaya Muda juga memiliki produktivitas gol yang tinggi. Dikutip dari Tirto, mereka sudah memasukkan bola sebanyak 17 kali, 2 gol lebih banyak dari anak asuh Indra Sjafri.
Namun, anak asuh Indra Sjafri tak kalah berkualitas dari Harimau Malaya Muda. Kadek Arel dan kawan-kawan berhasil menjinakkan serangan-serangan dari Negeri Jiran. Tak hanya menunjukkan kepiawaiannya menjaga lini belakang, Muhammad Alfharezzi Buffon akhirnya memecah kebuntuan di 15 menit terakhir pertandingan. Gol semata wayang pemuda kelahiran 2006 tersebut akhirnya membawa Garuda Muda masuk ke final menantang Thailand.
Kemenangan Indonesia atas Malaysia ternyata memancing kemarahan. Bukan dari publik Malaysia, tetapi kebisingan tersebut datang jauh-jauh dari Vietnam. Dikutip dari Detik, salah satu media Vietnam menilai Garuda Muda harus menang susah payah atas Harimau Malaya Muda. Kemampuan mencetak gol Garuda Muda mereka pertanyakan. Garuda Muda dianggap hanya memanfaatkan kenyataan bermain di publiknya sendiri alias jago kandang.
Kritik yang berasal dari negeri seberang ditanggapi dengan santai oleh Coach Indra. Dilansir dari Detik, pelatih kelahiran Sumatera Barat tersebut mengingatkan para pengkritik Garuda Muda agar bermuhasabah diri terlebih dahulu. Sebab, tim kebanggaannya jauh lebih menyedihkan dari performa anak asuhnya.
“Ya biar wartawan Vietnam saja yang menertawakan saya, ya kan. Saya bilang kemarin jangan suka tertawakan orang lain, tertawakan diri sendiri dulu. Vietnam masuk (semifinal) gak? Nggak kan?” timpal Coach Indra, dikutip dari Detik.
Selain itu, Timnas U19 juga mengalami masalah terkait mepetnya jadwal pertandingan antara semifinal dan final. Hal ini membuat Coach Indra memutuskan untuk meniadakan sesi latihan dan lebih memilih memfokuskan persiapan pada sisi stamina dan mental. Sehari sebelum pertandingan, Garuda Muda diketahui melakukan sesi recovery di kolam renang.
“Dengan mepetnya waktu, kami membuat sesi di kelas, ada sesi psikolog. Bagaimana mereka kesiapan secara mental mereka untuk pertandingan besok,” ujar Indra Sjafri, via TV One News.
Menaklukkan Gajah Perang
Di sisi lain, Thailand lolos ke final setelah mengalahkan Australia. Gajah Perang Muda menang tipis berkat gol bunuh diri pemain Australia, Dylan Paul Leonard. Di final, mereka sudah ditunggu oleh anak asuh Indra Sjafri.
Sebelum bertanding, pelatih Gajah Putih, Emerson Pereira berujar bahwa Garuda Muda lebih diuntungkan pada laga final sebab mereka akan bermain di depan publiknya sendiri.
“Kami harus menganalisis secara detail lawan seperti Indonesia yang merupakan tim kuat dan akan diuntungkan dari segi dukungan sebagai tuan rumah,” ujar pelatih berkewarganegaraan Brazil tersebut, dikutip dari Warta Kota Live.
Selain itu, pelatih kelahiran Sao Paulo tersebut juga mengeluhkan minimnya waktu istirahat antara semifinal dan final. Mereka mengeluh karena hanya memiliki satu hari untuk melakukan recovery dan persiapan melawan Garuda Muda. Sesuatu yang sebenarnya juga dialami oleh Garuda Muda.
Dilansir dari Tempo, laga final AFF U19 kali ini akan berjalan dengan ketat. Garuda Muda diprediksi akan tampil lebih ngotot demi bisa mengangkat trofi tersebut di hadapan publiknya sendiri. Terlebih, sudah 11 tahun Garuda Muda tidak lagi mengangkat trofi AFF U19.
Benar saja, laga tersebut berjalan alot. Di awal laga, keduanya masih saling mencari pola permainan untuk bisa menaklukkan lawannya. Thailand Muda hampir membuka keunggulan apabila peluang Thanawut Phocai tidak membentur tiang gawang. Kesempatan yang hampir menjebol gawang Ikram Algiffari tersebut melecut semangat Garuda Muda untuk balik menyerang.
Benar saja, skema bola mati akhirnya berhasil menjebol gawang Kittipong Bunmak. Adalah Jens Raven, pemain yang berhasil memanfaatkan bola tandukan Kadek Arel untuk membawa Indonesia unggul atas Thailand. Laga kembali berlanjut dengan alot dan dihiasi jual beli serangan dari keduanya.
Ternyata, gol tunggal Jens Raven tersebut bertahan hingga peluit akhir dibunyikan. Garuda Muda akhirnya kembali memenangi Piala AFF U19 untuk kedua kalinya. Kedua-duanya diraih bersama Indra Sjafri dan diraih di Jawa Timur. Pada 2013 di Sidoarjo, kini di Surabaya. Torehan ini membuat Garuda Muda setara dengan Harimau Malaya Muda yang sama-sama meraih 2 trofi, mengungguli Vietnam yang baru meraih 1 trofi pada ajang ini.
Waktunya Promosi ke Tim Senior?
Performa apik beberapa pemain Garuda Muda pada ajang AFF U19 2024 seakan menjadi ajang unjuk gigi sekaligus pesan terselubung untuk untuk Shin Tae-yong. Beberapa pemain seperti Jens Raven, Welber Jardim, Kadek Arel, dan Dony Tri Pamungkas layak untuk dipanggil dan diberi kesempatan bertanding bersama Timnas Senior.
Jens Raven, striker muda milik FC Dordrecht tersebut boleh dicoba untuk mengatasi krisis striker di Timnas senior. Meski awalnya bermain sebagai pemain pengganti, pemain kelahiran 2005 tersebut berhasil mencetak 4 gol di sepanjang turnamen. Pemain yang mengakhiri laga final dengan tangis haru tersebut patut diperhitungkan oleh Shin Tae-yong.
Welber Jardim, bek kanan yang disulap menjadi gelandang tersebut juga boleh diperhitungkan oleh STY. Pemuda yang kini bermain untuk Sao Paulo junior tersebut bisa menjadi pilihan alternatif Coach Shin apabila para pemain utamanya berhalangan untuk tampil.
Selain itu, pemain yang bermain di liga lokal seperti Kadek Arel dan Dony Tri Pamungkas juga tidak boleh disepelekan oleh Coach Shin. Kadek Arel berhasil membuktikan kualitasnya sehingga Garuda Muda hanya terbobol tidak lebih dari 2 gol saja sepanjang turnamen. Sementara, Dony Tri Pamungkas sebenarnya sudah pernah dipanggil ke tim senior. Namun, dirinya belum diberi kesempatan untuk merumput dengan para seniornya.
Layak ditunggu seperti apa perkembangan anak asuh Indra Sjafri kali ini. Apakah mereka bisa meningkatkan kualitasnya dan makin bersinar? Atau malah meredup secara perlahan seperti generasi 2013?
Kuncinya itu yang dibilang 🇮🇩Jens Raven (18/FW) sendiri, berproses selangkah demi selangkah.
Kayaknya kita belum bisa dalam waktu dekat liat Jens Raven dapat panggilan Timnas Indonesia mengingat agendanya akan bermain di level Kualifikasi R3 Piala Dunia, beda cerita kalo agenda… https://t.co/l6poRJkM1j
— . (@Indostransfer) July 29, 2024
https://youtu.be/NoiBtmKluL0
Sumber: Tirto, Detik, TV One News, Warta Kota Live, dan Antara News.


