Ketika Ballon d’Or 2020 Dirampok dari Robert Lewandowski

spot_img

“Jika mereka tidak membatalkannya, maka Benzema mungkin akan memenangkan Ballon d’Or tahun ini.”

Itu adalah pernyataan Robert Lewandowski sebelum pemenang Ballon d’Or 2022 diumumkan. Pernyataan tersebut lebih dari sekadar prediksi, tetapi merupakan sindiran dari Lewandowski kepada panitia Ballon d’Or.

Tidak ada asap kalau tidak ada api. Jika pada gelaran Ballon d’Or 2020 Lewandowski mendapat haknya, mungkin ia tak akan berkomentar demikian. Seperti halnya dengan banyak penggemar sepak bola yang menilai kalau trofi Ballon d’Or 2020 telah dirampok dari tangan Lewandowski.

Benarkah demikian? Simak kisah selengkapnya hanya di Football Jack!

Sejarah Ballon d’Or

Untuk mengawali cerita kali ini, ada baiknya kita mengulik kembali sejarah Ballon d’Or dan mengapa trofi berbentuk bola berlapis emas itu bisa dianggap sebagai penghargaan individu tertinggi di dunia sepak bola.

Ballon d’Or merupakan penghargaan sepak bola tahunan yang diciptakan pada tahun 1956 oleh France Football, majalah sepak bola kenamaan dunia yang berbasis di kota Paris. Penghargaan ini lahir dari gagasan dua jurnalis France Football, yakni Gabriel Hanot dan Jacques Ferran.

Beliau berdua ini bukanlah sembarang jurnalis. Setahun sebelumnya, keduanya termasuk dalam jajaran pencetus sekaligus figur penting yang berhasil meyakinkan UEFA untuk membuat turnamen European Champion Clubs’ Cup atau yang kini kita kenal sebagai Liga Champions.

Pada awalnya, Ballon d’Or hanya diberikan kepada pemain sepak bola terbaik yang berasal dari benua Eropa saja. Itulah mengapa Ballon d’Or dulu dikenal sebagai penghargaan Pesepakbola Terbaik Eropa. Inilah yang membuat Pele dan Diego Maradona tak pernah memenangkan Ballon d’Or sekalipun bermain untuk tim Eropa.

Peraturan tersebut bertahan sangat lama hingga kemudian diubah pada tahun 1995. Pemain-non Eropa yang bermain di Eropa mulai masuk nominasi dan George Weah jadi orang non-Eropa pertama yang meraih Ballon d’Or.
Peraturan ini kembali diubah pada tahun 2007. Semua pemain sepak bola di seluruh dunia berhak masuk nominasi, menjadikan Ballon d’Or sebagai penghargaan berskala global.

Sejak 1956 hingga 2006, pemenang Ballon d’Or ditentukan lewat mekanisme voting yang dilakukan oleh para jurnalis sepak bola internasional. Peraturan ini direvisi pada tahun 2007 di mana pelatih dan kapten tim nasional mulai dilibatkan.

Pada tahun 2022 kemarin, aturan Ballon d’Or kembali diupdate. Jika sebelumnya para pemain dinilai berdasarkan performa selama satu tahun kalender, maka mulai tahun 2022 para pemain dinilai berdasarkan performa selama satu musim kompetisi. Mulai tahun kemarin juga diputuskan bahwa perwakilan negara berperingkat 100 besar FIFA saja yang boleh memberi suara.

Pada periode 2010 hingga 2015, Ballon d’or pernah digabung dengan penghargaan milik FIFA, yakni FIFA World Player of The Year, yang baru terbentuk pada 1991. Saat itu, presiden FIFA setuju untuk membayar £13 juta kepada France Football.

Ini jadi bukti kalau pamor Ballon d’Or jauh lebih menjual. Karena usianya yang sudah sangat tua dan bahkan jauh lebih tua dari penghargaan pemain terbaik dunia versi FIFA, Ballon d’Or sudah memiliki reputasi panjang dan sudah sejak lama dianggap sebagai penghargaan individu paling bergengsi di dunia sepak bola.

Namun, karena mayoritas suaranya ditentukan secara eksklusif oleh para jurnalis lewat sistem voting, ada elemen subjektivitas yang cukup terasa dalam setiap pemilihan pemenang Ballon d’Or.

Oleh karena itu, dalam sejarahnya ada beberapa pemenang Ballon d’Or yang cukup kontroversial. Dan Robert Lewandowski bukanlah pemain pertama yang trofi Ballon d’Or-nya dirampok.

Bagaimana Ballon d’Or 2020 Dirampok dari Lewandowski?

Sebelumnya, mantan rekan setim Robert Lewandowski di Bayern Munchen, Franck Ribery juga pernah merasa dizolimi. Ini terjadi di edisi Ballon d’Or 2013.

Pada saat itu, terjadi beberapa kejanggalan, seperti batas pemungutan suara dan pengumuman pemenang yang diundur, hingga adanya dugaan kecurangan bahwa ada beberapa hasil voting yang diubah demi kepentingan tertentu.

Hasilnya, Franck Ribery yang memenangi segalanya di tahun tersebut kalah dari Cristiano Ronaldo yang tak memenangkan apapun. Ribery yang merasa dizolomi juga makin terpukul ketika dirinya cuma menduduki peringkat 3 di bawah Lionel Messi yang duduk di peringkat kedua.

Bagai dejavu, 7 tahun setelah itu, nasib serupa menimpa mantan rekannya di Bayern Munchen, Robert Lewandowski. Di tahun 2020, Lewandowski juga memenangkan segalanya. Namun, seperti halnya Ribery, Lewandowski yang sangat difavortikan gagal meraih Ballon d’Or.

Trofi Ballon d’Or yang seharusnya diraih Lewandowski di tahun 2020 dirampok dengan cara yang lebih tragis. Lewandowski tidak kalah voting seperti Ribery. Bagaimana mau kalah voting, penghargaan Ballon d’Or 2020 saja tidak digelar dengan alasan pandemi.

Jika tetap diadakan, seharusnya tidak ada penghalang yang bisa mencegah Robert Lewandowski dari memenangkan Ballon d’Or 2020. Di tahun tersebut, Lewandowski jadi aktor penting yang menginspirasi Bayern Munchen meraih sextuple. Tak hanya meraih trofi Bundesliga, DFB-Pokal, dan DFL-Supercup, tetapi juga UEFA Champions League, UEFA Super Cup, dan FIFA Club World Cup.

Di tahun tersebut, Robert Lewandowski juga berhasil melampaui pencapaian legenda Belanda, Johan Cruyff bersama Ajax di musim 1971/1972. Sama seperti Johan Cruyff, Robert Lewandowski juga tak hanya meraih treble, tetapi juga menjadi top skor di 3 kompetisi berbeda. Bedanya, Cruyff masih harus berbagai dengan pemain lain, sedangkan Lewandowski jadi top skor tunggal.

Artinya, Lewandowski adalah pemain pertama dalam sejarah yang meraih treble sekaligus menjadi pencetak gol terbanyak dalam tiga kompetisi berbeda. Striker Polandia itu berhasil mencetak 34 gol di Bundesliga, 6 gol di DFB-Pokal, dan 15 gol di Liga Champions.

Tidak ada pemain yang lebih berprestasi secara individu maupun tim di tahun 2020 ketimbang Robert Lewandowski. Maka dari itu, tidak ada pula individu lain yang lebih pantas mengangkat Bola Emas edisi 2020 daripada Robert Lewandowski. Sayangnya, France Football selaku penyelenggara memakai pandemi Covid-19 sebagai alasan untuk meniadakan penghargaan Ballon d’Or 2020.

Wajarkah Pandemi Menghalangi Penghargaan Ballon d’Or?

Seperti yang kita tahu, pandemi mengubah segalanya. Sepak bola juga ikut terganggu. Kompetisi tidak bisa berjalan normal, bahkan sampai ada yang dibatalkan karena terlalu lama ditunda. Sementara yang memutuskan untuk lanjut harus mengubah formatnya dan berjalan tanpa penonton.

France Football beralasan kalau mereka ingin melindungi kredibilitas dan legitimasi penghargaan Ballon d’Or. Mereka juga berkata, “Ballon d’Or tidak akan diberikan kepada pemenang di tahun 2020 karena minimnya kondisi yang adil.”

Memang di tahun tersebut pandemi sedang ganas-ganasnya dan tidak ada yang lebih berharga ketimbang kesehatan. Namun, apakah wajar memakai pandemi Covid-19 sebagai alasan untuk meniadakan penghargaan Ballon d’Or?

Ini yang menarik. Di situasi pandemi, The Best FIFA Football Awards 2020, penghargaan pesepak bola terbaik versi FIFA tetap digelar, meski dengan kondisi khusus.

Proses pemungutan suara dimulai pada 25 November dan berakhir pada 9 Desember. Kriteria pemilihan pemain terbaik juga dihitung selama periode 20 Juli 2019 hingga 7 Oktober 2020, sedikit lebih panjang dari musim sebelumnya, menyesuaikan dengan situasi kompetisi di tahun tersebut yang berakhir lebih lama.

Hasilnya, upacara penghargaan The Best FIFA Football Awards 2020 diadakan secara virtual pada 17 Desember 2020. Dan yang keluar sebagai pemenang The Best FIFA Men’s Player 2020 tak lain dan bukan adalah Robert Lewandowski.

Performa dan prestasi Lewandowski di tahun tersebut juga tetap diganjar dengan penghargaan World’s Best Man Player dan World’s Best Top Goal Scorer, penghargaan pesepakbola terbaik dunia versi IFFHS, sebuah organisasi pencatat sejarah-sejarah sepak bola yang diakui oleh FIFA.

Tak berhenti sampai disitu saja. Di tahun 2020, majalah World Soccer juga menobatkan Robert Lewandowski sebagai pemain terbaik dunia. Tak ketinggalan pula surat kabar The Guardian, FourFourTwo, Tuttosport yang juga kompak memberi penghargaan pesepakbola terbaik dunia kepada Robert Lewandowski. Performa apik dan prestasi gemilang Lewandowski di tahun 2020 juga diganjar penghargaan Globe Soccer Best Player of The Year.

Faktanya, hanya majalah sepak bola yang berasal dari Prancis yang tidak menggelar penghargaan pesepak bola terbaik dunia. Mereka adalah Onze Mundial dengan Onze d’Or dan tentu saja France Football dengan Ballon d’Or.

Dari fakta-fakta ini, seharusnya pandemi tidak menjadi alasan bagi France Football untuk meniadakan penghargaan Ballon d’Or di tahun 2020.

Ballon d’Or 2021: Lewandowski Kembali Dirampok?

Kemalangan Robert Lewandowski ternyata berlanjut di tahun 2021. Perfoma apik dan prestasinya di tahun 2021 kembali tak cukup untuk membuatnya terpilih sebagai pemain terbaik dunia di gelaran Ballon d’Or 2021 yang kembali diselenggarakan setelah setahun absen.

Kali ini, Lewandowski merasakan apa yang dirasakan oleh Franck Ribery. Prestasi dan catatan performanya tak cukup untuk membuatnya memiliki trofi Ballon d’Or.

Lewandowski boleh merasa sedikit lebih beruntung dari Ribery. Sebab, di tahun tersebut Lewandowski diganjar dengan penghargaan Gerd Müller Trophy, penghargaan yang diberikan kepada pesepak bola dengan jumlah gol terbanyak di musim sebelumnya.

Namun, inilah keanehannya. Gerd Müller Trophy adalah penghargaan yang tiba-tiba ada dan diadakan sejak Ballon d’Or 2021. Ini menimbulkan kesan negatif kalau penghargaan tersebut adalah hadiah hiburan yang telah disiapkan untuk Lewandowski.

Artinya, kekalahan Lewandowski sudah diprediksi oleh Franck Football, selaku panitia Ballon d’Or. Dan meski mendapat trofi Gerd Müller, kekalahan Robert Lewandowski di Ballon d’Or 2021 membuat banyak pihak mengkritisi kredibilitas Ballon d’Or.

Di tahun 2021, Lewandowski berhasil meraih trofi Bundesliga dan DFL-Supercup bersama Bayern Munchen. Di musim 2021, Lewandowski berhasil memecahkan rekor Gerd Müller yang sudah bertahan selama 49 saat mampu mencetak 41 gol di Bundesliga. Sebuah rekor yang juga membuatnya meraih Sepatu Emas Eropa.

Di tahun 2021, prestasi dan performa Lewandowski juga kembali diganjar penghargaan pemain terbaik dunia dari FIFA, IFFHS, World Soccer, FourFourTwo, The Guardian, dan Tuttosport. Sayangnya, pengakuan-pengakuan itu tak cukup untuk membuatnya meraih Ballon d’Or 2021 yang jatuh kepada Lionel Messi.

Atas hasil tersebut, banyak pihak yang kembali mengecap kalau Ballon d’Or 2021 kembali dirampok dari Robert Lewandowski. Pertanyaannya, apalagi yang bisa dilakukan Robert Lewandowski untuk memiliki Ballon d’Or? Apa iya, Lewandowski harus pindah negara dan meraih trofi internasional dulu? Atau pindah ke klub lain yang memiliki pamor yang lebih menjual? Atau jangan-jangan ada agenda khusus yang menggagalkan para penggawa Bayern Munchen untuk meraih Ballon d’Or?

Mungkin itu jadi salah satu pertimbangan Robert Lewandowski hengkang menuju Barcelona. Namun, terlepas dari itu, hasil Ballon d’Or 2020 dan 2021 menunjukkan kalau ajang penghargaan yang diselenggarakan France Football itu tak sepenuhnya objektif dan lebih kental akan subjektivitas pemilihnya.

Tidak ada standar penilaian yang jelas di Ballon d’Or. Terkadang, mereka yang punya prestasi mentereng bersama klub maupun timnas bisa kalah dengan pemain yang hanya punya modal jumlah gol yang banyak. Begitu pula sebaliknya. Sebab, sumber suara terbanyak yang menuntukan kemenangan berasal dari para jurnalis, bukan dari para expert yang keahliannya lebih bisa dipertanggung jawabkan.

Dan sungguh ironis bagi Robert Lewandowski. Sebab, ia tak hanya sekali mendapat hasil yang tidak adil di Ballon d’Or, namun dua kali secara beruntun.


Referensi: Sport, L’Equipe, Goal, Bundesliga, FC Bayern.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru