Selamat datang Piala Asia. Kepak sayap Garuda kini siap terbang tinggi lagi setelah 16 tahun lamanya terdiam. Pasukan Garuda akan menginjakan kaki di tanah bekas para pemain top Piala Dunia, Qatar.
Kini skuad besutan Shin Tae-yong telah dijodohkan dengan para lawannya dalam drawing Piala Asia yang digelar di Doha, Qatar. Kalau bisa memilih lawan, inginnya sih bertemu tim yang secara kekuatan tak begitu kuat. Namun apa boleh buat, pasukan Merah Putih tak bisa menghindar dari kenyataan.
Kita harus sadar diri karena berada di undian Pot 4. Lawan kuat pun tak bisa dihindari. Alhasil serdadu Merah Putih tergabung di Grup D bersama Jepang, Irak, dan Vietnam. Well, seberat apa sih calon lawan timnas itu?
Timnas Indonesia berhasil menghindari Korea Selatan di Piala Asia 2023, tapi mereka akan berhadapan dengan Jepang, Irak dan Vietnam 🥵
— GOAL Indonesia (@GOAL_ID) May 11, 2023
Bagaimana peluang lolos Indonesia?#Indonesia #PialaAsia2023 #AsianCup2023 pic.twitter.com/U9mOD8ExL9
Vietnam
Yang pertama ada Vietnam. Nah loh, “Vietnam lagi Vietnam lagi”. Seperti tak ada bosannya timnas Garuda berjodoh dengan tim “Nguyen” ini. Inilah sebenarnya lawan yang bisa dikatakan sepadan dengan timnas di grup ini. Namun, itu jika dilihat dari segi kesamaan negara Asia Tenggara.
Akan tetapi jika dilihat dari segi prestasi, pengalaman, dan performa, timnas Garuda harusnya minder. Pasalnya, Vietnam ini mengalami pertumbuhan sepakbola yang amat sangat pesat dalam satu dekade ke belakang.
Bayangkan, di level Asia Tenggara saja, mereka sudah mampu merengkuh gelar Piala AFF dua kali yakni pada 2008 dan 2018. Sedangkan timnas Indonesia sudah berapa kali juara Piala AFF? Hal ini menandakan bahwa perkembangan sepakbola di sana akhir-akhir ini membuahkan hasil.
Vietnam tampil sebagai juara Piala AFF 2018 setelah berhasil mengandaskan Malaysia dgn skor 1-0 di leg ke-2 sehingga agregat menjadi 3-2.
— Podcast Bung (@PodcastBung) December 15, 2018
Ini merupakan gelar Piala AFF ke-2 bagi Vietnam setelah 2008 silam.
Selamat!!
📷 @FSAsiaLive pic.twitter.com/EM0F7JkThF
Itu baru Piala AFF yang levelnya jauh beda dari Piala Asia. Lantas bagaimana kiprah Vietnam di Piala Asia? Vietnam ternyata lebih berpengalaman dan berprestasi di gelaran akbar se-Asia ini.
Buktinya, mereka sudah empat kali berpartisipasi di Piala Asia, yakni di 1956 dan 1960 sebagai Vietnam selatan, serta tahun 2007 dan 2019 sebagai Vietnam. Yang lebih ngerinya lagi, mereka di dua ajang terakhir yakni 2007 dan 2019, sempat memukau seluruh Asia dengan lolos hingga babak perempat final.
Vietnam lolos perempat-final Piala Asia 2019! #AsianCup2019 pic.twitter.com/3pqVfWvGCm
— PanditFootball.com (@panditfootball) January 20, 2019
Maka dari itu, mereka sempat diunggulkan berada di Pot 2 pada undian Piala Asia 2023 kali ini. Namun karena adanya perubahan aturan dari AFC, mereka harus rela turun ke Pot 3 undian. Hal itulah yang kini disesali Federasi Sepakbola Vietnam.
Terlepas dari itu semua, bagaimana peluang timnas Garuda menghadapi mereka? Secara head to head, kedua tim sudah bertemu 14 kali sejak 1993 silam. Timnas Garuda menang tiga kali, Vietnam menang empat kali, dan tujuh laga sisanya berakhir seri.
Kemenangan timnas terakhir kali diraih pada 2016 silam di Piala AFF. Artinya, sudah tujuh tahun Vietnam susah untuk dikalahkan. Termasuk beberapa tahun terakhir kala kita sering frustrasi menghadapi Vietnam asuhan pelatih Park Hang-seo.
Apalagi nanti Vietnam kabarnya akan dilatih oleh pelatih U-23 mereka asal Prancis, Philippe Troussier. Menariknya, ia adalah mantan manajer Olympique Marseille tahun 2004. Fabien Barthez, Bixente Lizarazu, sampai Samir Nasri adalah beberapa mantan anak asuh Troussier ketika di Marseille.
THE NEW ERA
— MedioClubID (@medioclubID) February 26, 2023
Ex-pelatih kepala Pantai Gading, Qatar, Jepang, Maroko & Olympique Marseille asal Prancis, Philippe Troussier hari ini tiba di Hanoi.
Ia ditunjuk sbg pelatih kepala timnas Vietnam. #MC pic.twitter.com/sOrwPeJg5B
Irak
Tadi baru Vietnam, Indonesia juga akan menghadapi Irak. Negara yang dulu identiknya hanya dengan perang, bom, teroris, maupun kemiskinan. Melihat kondisi geopolitik yang tak menentu di Irak, sebenarnya janggal kalau melihat perkembangan sepakbola mereka bisa maju.
Namun asumsi itu ternyata salah. Orang-orang Irak yang hidup di sepakbola, seperti ingin menunjukan bahwa di negara berkonflik pun mereka tetap bisa berprestasi. Singa Mesopotamia telah menunjukan taringnya ketika berlaga di Indonesia pada gelaran Piala Asia 2007.
Di bawah saksi Stadion Utama Gelora Bung Karno, timnas Irak keluar menjadi juara. Gelar itu membuka mata dunia akan kebangkitan sepakbola Irak. Sejak itulah pembinaan pemain usia muda serius dilakukan oleh federasi sepakbola Irak. Mereka sadar lewat sepakbola negaranya dapat dibanggakan dunia.
Perjalanan yang tidak mudah bagi Irak dalam memenangkan piala Asia 2007. Jadi juara grup » ngalahin Korea Selatan di Semifinal » menang di Final lawan Arah Saudi 🙌🏻
— Box2Box Football Podcast (@Box2BoxBola) July 29, 2022
Ini bukan hanya dongen tapi nyata 🔥
Ada yang nonton perjuangan mereka gak waktu itu? pic.twitter.com/YJGym0PUa2
Terbukti, setelah merasakan gelar juara di Jakarta itu, mereka tak pernah absen di gelaran Piala Asia. Bahkan sang singa selalu lolos dari fase grup. Lalu bagaimana head to head-nya dengan timnas Garuda? Irak telah berjumpa enam kali. Di mana negara teluk tersebut mampu menang lima kali dan satu laga sisanya seri.
Artinya, Irak adalah lawan yang berat bagi timnas. Dilatih oleh pelatih asal Spanyol, Jesus Casas, Irak kian berkembang. Tim itu bahkan sudah menjuarai Arabian Gulf Cup di awal tahun 2023. Yang membuat Irak kelihatan sangat ngeri adalah ternyata Casas adalah mantan match analyst Barcelona dari tahun 2014 hingga 2017.
Jesus Casas with Barcelona:
— Iraq Xtra (@IraqXtra) October 31, 2022
✅ Analyst in 2014/15
🎖Champions League
(last achieved in 2011)
🎖The treble (second in Barcelona History)
🎖Domestic double
(Barcelona only achieved once post 14/15 ❌)
Mr. Casas key figure of Barcelonas last golden era.📝 pic.twitter.com/ApCBB6VBH3
Ketika bekerja bersama Luis Enrique di Barcelona, ia turut meraih segudang trofi, seperti Liga Champions Eropa, Copa del Rey, La Liga, hingga Piala Dunia Antarklub. Ia juga pernah menjadi asisten sang entrenador di Timnas Spanyol pada 2018 silam dan membawa Spanyol ke semifinal EURO 2020.
I wrote an article on Iraq’s appointment of Spaniard Jesús Casas, the former right-hand man of La Roja’s national coach Luis Enrique 🇮🇶🇪🇸
— Hassanin Mubarak (@hassaninmubarak) November 15, 2022
Iraq’s inevitable path to Spain’s @jcasas4444 https://t.co/AxqRPOpNxh @AVarela_J pic.twitter.com/hcSwlSk6dt
Jepang
Dan kontestan terakhir di grup ini tak usah diragukan lagi kekuatannya di Asia, mereka adalah tim Samurai Biru, Jepang. Lama sudah timnas Garuda tak bersua tim negeri sakura tersebut. Karena terakhir kali timnas berjumpa adalah pada tahun 1989 silam ketika kualifikasi Piala Dunia. Dan saat itu timnas dicukur 5-0.
#BolaNostalgia, Japan 5 – Indonesia 0, WCQ 1989. I remember watching the game on TVRI with my grandpa 🙂 https://t.co/n3jsZVvI10.
— Rio FanggidaE (@RioBollo) June 18, 2013
Kalau masalah head to head, Jepang unggul segalanya atas timnas Garuda. Delapan kali bertemu, Jepang menang enam kali, Indonesia hanya pernah menang sekali, dan satu kali hasilnya seri. Lho kapan Indonesia menang? Wajar banyak orang yang nggak tahu, karena kemenangan itu lahir di jaman Orde Baru, yakni tahun 1972 dengan skor 1-0.
Namun bukan hanya sekedar head to head saja, lihat juga perkembangan kekuatan sepakbola Jepang. Mereka tak hanya moncer di Asia namun juga dunia. Tak usah jauh-jauh melihat keperkasaan timnas Matahari Terbit.
Di ajang Piala Dunia 2022 lalu saja, mereka sukses mencapai babak 16 besar. Bahkan mereka pun di fase grup menjadi juara mengangkangi tim sekelas Spanyol dan Jerman. Euforia Piala Dunia itu bagi Jepang menjadi salah satu faktor yang bikin semangat mereka tambah membara di kompetisi ini.
Timnas Jepang di #FIFAWorldCup tahun ini🇯🇵:
— FaktaBola (@FaktaSepakbola) December 5, 2022
• Menang melawan juara Piala Dunia 2010 (Spanyol).
• Menang melawan juara Piala Dunia 2014 (Jerman)
• Memaksa Runner-up Piala Dunia 2018 (Krosia) hingga ke babak adu penalti.
What a Journey, Apresiasi Tweet untuk Timnas Jepang!🇯🇵🥹 pic.twitter.com/y7Zc5XBzDS
Lalu kiprah Jepang di Piala Asia bagaimana? Mereka telah juara empat kali, yakni pada 1992, 2000, 2004 dan yang terakhir 2011. Kekalahan menyakitkan di final edisi terakhir 2019 lalu atas Qatar, membuat mereka penasaran dan menggebu-nggebu untuk meraih mahkota di edisi Piala Asia 2023 ini.
Meski dilatih pelatih lokal Hajime Moriyasu, Jepang tetaplah Jepang dengan segala kumpulan pemain terbaik yang solid secara tim. Mereka sedari dulu selalu mencetak bibit muda terbaik yang malang melintang di liga top dunia. Seperti misalnya, Kaoru Mitoma, Takehiro Tomiyasu, Takefusa Kubo, sampai Takumi Minamino dan Ritsu Doan.
Bagaimanapun Jepang adalah unggulan juara di Piala Asia kali ini. Dan hati-hati saja bagi kontestan di grup ini. Jepang siap menerkam semua lawannya demi meraih mahkota yang sudah 12 tahun hilang dari pangkuan.
#FYI Jepang adalah juara Piala Asia 2011. Di Final mereka mengalahkan anak baru Asia, Australia 1-0. pic.twitter.com/69QKg8sm1r
— SuporterFC (@SuporterFC) January 4, 2015
Sumber Referensi : sportdetik, transfermarkt, bola.com, sportdetik


