“I’m forever blowing bubble”. Begitulah sepenggal lirik dari chant West Ham United yang selalu berkumandang di London Stadium. Gelembung-gelembung balon air yang menghiasi setiap The Hammers berlaga, membuat mereka tampil spartan di setiap laganya. Tuah suasana ikonik tersebut semakin merasuki pasukan The Hammers, terutama setelah Lord Moyes mengambil kendali.
Busting your bubble West Ham yea💙💛 pic.twitter.com/l4yXkfIl8h
— Marcelo⚽️🏆🦅💚🚶🏻♂️🏌🏻♂️🍺🚴♂️🇬🇧 (@MrFDollarhyde) January 17, 2022
Daftar Isi
Transisi West Ham Di Bawah Moyes
Pelatih yang gagal total di MU itu datang sebagai pelatih tetap pada musim penuhnya yakni 2020/21. Ia ditargetkan mengobati West Ham yang sedang sakit secara performa. The Hammers tak pernah finish di 10 besar sejak musim 2016/17. Di musim 2019/20 saja, mereka hampir terdegradasi dengan finish di peringkat 16.
Pelatih sekaliber Manuel Pellegrini pun tak mampu membawa The Hammers naik level. Apalagi di musim-musim jauh ke belakang. Sejak satu dekade lalu, West Ham dikenal hanyalah tim medioker semata.
Maka dari itu kedatangan Moyes dimaknai sebagai harapan hadirnya “juru selamat” bagi tim asal London Timur tersebut. Apa yang dilakukan Moyes pada musim penuh pertamanya?
📉 West Ham have picked up the fewest points per game in the Premier League in 2020 (0.6)
— WhoScored.com (@WhoScored) February 29, 2020
🗓️ David Moyes’ first game in charge was January 1st pic.twitter.com/25iXn2977F
Musim Pertama yang Mengesankan
Sempat ada pembagian kepemilikan di tubuh West Ham yang dilakukan oleh taipan Ceko Daniel Kretinsky. Hal itu dimanfaatkan Moyes untuk membangun skuad. Moyes dengan gaya khasnya 4-2-3-1 mencoba membangun kerangka tim dengan mendatangkan beberapa pemain lewat duit taipan Ceko tersebut.
Pembeliannya tak begitu mentereng, seperti Tomas Soucek, Said Benrahma, Vladimir Coufal, maupun Craig Dawson. Ditambah reuninya dengan anak asuhnya ketika di MU yakni Lord Jesse Lingard.
⚒️ Jesse Lingard scored 31% of his total Premier League goals in the space of six months on loan at West Ham pic.twitter.com/UdYiLEn4Ur
— WhoScored.com (@WhoScored) July 20, 2022
Dengan racikannya itu, penampilan West Ham mengejutkan di musim 2020/21. Terbukti dengan konsistennya mereka di Liga Inggris yang akhirnya mengantarkan mereka finish di peringkat 6 klasemen.
Di tangan Moyes, West Ham kembali naik level dan tak dipandang hanya tim medioker biasa yang lalu lalang di papan tengah tiap musimnya. Di sinilah sebenarnya dimulai sebuah tonggak era baru bagi kejayaan kembali klub favorit mendiang Ratu Elizabeth ini.
West Ham are unbeaten this season in all competitions.
— Total Football Center (@totalfc_) September 18, 2021
David Moyes helped them to qualify for Europa League for the first time last season.
West Ham was ranked number 6 in Premier League 2020/21 season.
Put some respect on his name🤝#DavidMoyes #WestHam #PremierLeague #WHU pic.twitter.com/3cgmmuPURx
West Ham Tampil Lagi Di Eropa
Dengan bangkitnya lagi di liga domestik, mereka akhirnya kembali berlaga di pentas Eropa yakni di Europa League. Terakhir kali West Ham mencicipi pentas Eropa yakni ketika mereka juara di Piala Intertoto tahun 1999.
We defeated Metz 3-1 to win the UEFA Intertoto Cup #OnThisDay in 1999!
— West Ham United (@WestHam) August 24, 2018
Who remembers this one? pic.twitter.com/ZlFH8O1CSe
West Ham selalu apes. Padahal sempat beberapa kali hampir tampil di babak grup Europa League atau Piala UEFA. Namun mereka lagi dan lagi, harus rela kandas terlebih dahulu di babak kualifikasi.
Seperti apa yang terjadi pada musim 1999/00, ketika mereka pertama kali dalam sejarah lolos ke Piala UEFA. Mereka harus kandas di babak kualifikasi oleh wakil Rumania, Steaua București.
Kemudian ketika kalah di musim 2006/07 oleh Palermo di babak kualifikasi Piala UEFA. Lalu juga yang terjadi di musim 2015/16 dan 2016/17. Ketika dua kali mereka dipecundangi musuh yang sama di babak kualifikasi Europa League, yakni wakil Rumania Astra Giurgiu.
West Ham have crashed out of the Europa League (qualifying round) to Astra Giurgiu. pic.twitter.com/S5j0UcAkdG
— B/R Football (@brfootball) August 25, 2016
Semifinal Europa League
Tuah Moyes yang berhasil di musim pertamanya, kemudian berlanjut di musim keduanya. Moyes pun semakin berbenah. Kedalaman skuad untuk tampil stabil di beberapa kompetisi sangat dibutuhkan.
Namun di musim 2021/22, Moyes hanya menambal beberapa pos saja. Contohnya seperti menebus Kurt Zouma maupun Nikola Vlasic. Pasalnya, Moyes sendiri mengatakan sudah cukup kuat dengan kekompakan skuadnya yang sudah ia bangun.
West Ham’s business is done for the summer. Whilst we had to wait an eternity for them to come, I have to say, we have signed some top players.
— West Ham Fan Zone (@WHUFCFZ) August 31, 2021
A huge welcome to Alphonse Areola, Kurt Zouma, Alex Kral and Nikola Vlasic!⚒️♥️ pic.twitter.com/GwFHkDwFge
Terbukti meski minim pengeluaran, The Hammers masih konsisten secara permainan di dua kompetisi sekaligus. Di Liga Inggris, mereka mampu finish kembali di posisi 10 besar, yakni di peringkat 7.
Sementara itu di Europa League, mereka hampir menciptakan sejarah masuk ke babak final. Namun mereka di semifinal harus mengakui keunggulan wakil Jerman yang juga tak kalah spartan, Eintracht Frankfurt.
Eintracht Frankfurt fans joined the players on the pitch after beating West Ham to reach the Europa League final 🥳 pic.twitter.com/H16uosbLoD
— GOAL (@goal) May 5, 2022
Musim Ini Loyo di Liga Domestik, Namun Tetap Gacor Di Eropa
Beranjak di musim 2022/23, mereka penasaran untuk meningkat lagi secara prestasi. Skuad West Ham pun disiapkan secara paripurna sedari awal musim. Tak main-main, The Hammers belanja jor-joran di bursa transfer.
Mereka termasuk dalam kategori klub di Liga Inggris yang terbanyak menghambur-hamburkan uang untuk transfer. Hanya kalah di bawah klub pesakitan Chelsea. Nilainya hampir mencapai 200 juta pounds.
West Ham have spent BIG this summer 💰 pic.twitter.com/2En5nNUQOC
— Sky Sports Premier League (@SkySportsPL) August 29, 2022
Kurang lebih delapan pemain matang siap pakai didatangkan ke London Stadium. Mereka diantaranya seperti Lucas Paqueta, Maxwell Cornet, Thilo Kehrer, Gianluca Scamacca, Nayef Aguerd, Emerson Palmieri, sampai kiper Alphonse Areola.
Quite the transfer window this from West Ham 😍 ⚒️
— Wᴇsᴛ Hᴀᴍ Sᴏᴄɪᴀʟ (@WestHamSocial) August 29, 2022
🇧🇷 Lucas Paqueta – €60M
🇮🇹 Gianluca Scamacca – €36M
🇲🇦 Nayef Aguerd – €35M
🇨🇮 Maxwel Cornet – £17.5M
🇮🇹 Emerson Palmieri – €15.4M
🇩🇪 Thilo Kehrer – €12M
🇫🇷 Alphonse Areola – €9.3M
🏴 Flynn Downes – £12M pic.twitter.com/g1OybDdssq
Hasilnya bagaimana? Malah tak sesuai ekspektasi. Di liga domestik alih-alih mampu bersaing lagi di papan atas, mereka malah merosot tajam di papan tengah klasemen. Bahkan jelang pekan-pekan terakhir Liga Inggris musim ini, mereka masih terancam bahaya degradasi.
Lalu apa yang salah di West Ham? Meski racikan Moyes tetap sama dengan 4-2-3-1, namun berkat hadirnya banyak pemain baru yang kurang bisa beradaptasi secara cepat, membuat segalanya menjadi kacau. Moyes seperti kebingungan sendiri mengelola rotasi terbaik dari skuadnya.
Dengan persaingan yang ketat di dalam skuad, para pemain yang gacor di musim-musim sebelumnya seperti Antonio, Bowen, Benrahma, Fornals, maupun Soucek, silih berganti tampil loyo musim ini.
Namun disamping keterpurukan yang dialami West Ham di liga domestik, mereka malah masih menjaga asa di kompetisi Eropa. The Hammers back to back mencapai babak semifinal di kompetisi Eropa. Namun kali ini di UEFA Conference League.
Ketika fokus mereka di liga domestik buyar, Conference League bisa jadi obat penawar sekaligus jalan ninja bagi The Hammers musim ini. Karena bagaimanapun kalau bisa meraih juara, tiket otomatis kembali tampil di Liga Eropa langsung didapat.
⚒️ West Ham = unbeaten in the competition this season 🔥
— UEFA Europa Conference League (@europacnfleague) May 2, 2023
🔟 games
9️⃣ wins
1️⃣ draw#UECL pic.twitter.com/53XV3f7sMj
Potensi Melangkah ke Final
Nah lalu bagaimana peluang mereka meraih trofi di Conference League? Di semifinal lawan yang akan mereka hadapi adalah wakil Belanda AZ Alkmaar. Fokus penuh pada kompetisi ini harusnya bisa menjadi kunci West Ham melangkah ke final.
The Europa Conference League semifinals:
— B/R Football (@brfootball) April 20, 2023
West Ham vs. AZ Alkmaar
Fiorentina vs. Basel
⚔️ pic.twitter.com/FvlUNjo4FC
Kondisi AZ Alkmaar di Eredivisie musim ini sementara juga tak terlalu superior. Bersama pelatih Pascall Jansen, mereka masih berada di peringkat keempat Eredivisie. Lolosnya mereka ke semifinal pun diraih dengan susah payah kala melawan Anderlecht.
Berlaga di London Stadium terlebih dahulu di leg pertama, harusnya pasukan Moyes bisa membawa modal penting dengan kemenangan meyakinkan. Sehingga di leg kedua yang berlangsung di AFAS Alkmaar Stadium mereka tak terlalu kewalahan.
Harapan Liga Inggris
Menantikan klub berlambang palu itu berjaya meraih trofi di Eropa, tentu adalah harapan semua warga Inggris musim ini. Bagaimana tidak? Para wakil Inggris di kompetisi Eropa kini tinggal menyisakan Manchester City dan West Ham.
Bagaimana ceritanya jika liga terbaik di dunia yang selalu bisa mendominasi Eropa tiap musimnya, malah tertinggal atas laju para wakil Serie A musim ini? Ayolah The Hammers, selain Manchester City, andalah yang diharapkan mampu meraih gelar Eropa. Jangan malu-maluin Liga Inggris!
Sumber Referensi : sportingnews, theathletic, breakingthelines, onefootball, theathletic, transfermarkt


