Sejak 1997, firma keuangan dan konsultan global Deloitte menerbitkan laporan bertajuk Deloitte Football Money League. Lewat hasil audit yang dipublikasikan setiap tahunnya itu, salah satu dari “The Big Four” ini membuat daftar klub dengan pendapatan tertinggi di dunia.
Tahun ini, Deloitte Football Money League edisi ke-26 telah terbit pada awal Februari kemarin. Dengan judul “Get Up, Stand Up”, Football Money League 2023 adalah kabar baik bagi industri sepak bola.
Total pendapatan untuk 20 klub dengan revenue tertinggi di dunia pada musim 2021/2022 mencapai €9,2 miliar, meningkat 13% dibandingkan dengan €8,2 miliar yang dilaporkan pada musim 2020/2021.
Klub-klub Premier League adalah penyumbang tertingginya. Mereka masih begitu dominan dan sulit ditandingi. Bayangkan saja, dari 30 tim yang masuk dalam daftar Deloitte Football Money League 2023, 16 tim di antaranya adalah klub Premier League. Hanya ada 5 klub La Liga, 3 klub Serie A dan Bundesliga, serta 1 klub dari Ligue 1, Liga Portugal, dan Eredivisie.
Secara garis besar, pendapatan tim-tim Eropa yang masuk dalam Deloitte Football Money League tahun ini mengalami pertumbuhan. Hanya ada 4 tim dalam daftar 20 teratas yang mengalami penurunan pendapatan. Empat tim itu adalah Juventus, Inter Milan, Leicester City, dan Everton.
Lalu, siapa saja yang berada di daftar tim terkaya di dunia versi Deloitte? Berikut ulasan lengkapnya.
10 Besar Deloitte Football Money League
- Manchester City
Di urutan pertama ada Manchester City. The Citizens berhasil mempertahankan posisi puncak dan untuk kedua kalinya secara beruntun kembali meraih pendapatan tertinggi di dunia.
Di musim 2021/2022, Man. City sukses meraih pendapatan sebesar €731 juta, naik 13% dari pendapatan musim sebelumnya. Pendapatan komersial jadi penyumbang tertinggi. €373 juta didapat Man. City dari sektor ini, naik sebesar €65 juta dibanding tahun lalu. Ini merupakan rekor baru di Premier League.
Akan tetapi, dengan berita miring yang kini tengah beredar soal ratusan pelanggaran keuangan yang dilakukan Manchester City, banyak pihak yang kembali sangsi kalau sebagian besar sumber pendapatan The Citizens disumbang sendiri oleh sang pemilik, Skeikh Mansour bin Zayed Al Nahyan.
- Real Madrid
Lupakan sejenak soal kasus Manchester City. Di urutan kedua Deloitte Football Money League 2023 ada raksasa Spanyol, Real Madrid. Bisa dibilang kalau juara bertahan La Liga ini belum pulih sepenuhnya dari pandemi.
Madrid memang mencatat kenaikan pendapatan sebesar 11% menjadi €713,8 juta di tahun 2022. Namun, jika dibanding dengan pendapatan sebelum pandemi, tepatnya pada musim 2018/2019, ada penurunan sebesar €43 juta.
Selain itu, sektor komersial Madrid yang biasanya superior justru mengalami penurunan pendapatan sebesar €4 juta. Meski begitu, Real Madrid tetap konsisten jadi salah satu tim yang terus sukses mencatat laba bersih di semua musim yang terkena dampak pandemi. Ini tak lepas dari raihan trofi La Liga dan Liga Champions musim lalu yang sukses mengatrol pendapatan mereka.
- Liverpool
Yang tak kalah menarik adalah Liverpool. Untuk pertama kalinya sepanjang sejarah, The Reds berhasil menduduki peringkat ketiga dalam daftar Deloitte Football Money League, naik 4 peringkat dibanding tahun lalu. Ini adalah peringkat tertinggi Liverpool sepanjang sejarah dan untuk pertama kalinya pula, Liverpool sukses melewati Manchester United.
Pada musim 2021/2022, Liverpool sukses menghasilkan pendapatan sebesar €701,7 juta, naik sebesar 27% dibanding musim sebelumnya. Prestasi musim lalu berupa trofi Piala FA, EFL Cup, runner-up Liga Inggris dan Liga Champions, serta perluasan Anfield yang masih terus berlangsung hingga bergulirnya musim 2023/2024 membuat seluruh sektor pendapatan Liverpool mengalami kenaikan yang signifikan.
- Manchester United
Kinerja positif juga ditunjukkan Manchester United yang duduk di tangga keempat. Meski tersusul oleh Liverpool, MU mencatat pendapatan sebesar €688,6 juta di tahun 2022, naik sebesar 23% dibanding tahun sebelumnya.
Posisi MU tahun ini juga lebih baik jika dibanding musim sebelumnya yang duduk di tangga kelima. Kenaikan pendapatan komersial sebesar €47 juta jadi salah satu pemicunya. Namun, pendapatan siaran MU turun €34 juta setelah hanya finish di peringkat 6 dan terhenti di babak 16 besar Liga Champions.
- Paris Saint-Germain
Berikutnya di nomor 5 ada juara bertahan Liga Prancis, Paris Saint-Germain. Peringkat klub yang dimiliki Nasser Al-Khelaifi tersebut naik 1 tingkat setelah mencatat pendapatan sebesar €654 juta, tumbuh 18% dibanding tahun sebelumnya. Ini jadi pendapatan tertinggi PSG sepanjang sejarah.
Seluruh sektor pendapatan PSG mengalami kenaikan, hanya pendapatan siaran yang mengalami penurunan. PSG kehilangan €63 juta di sektor ini setelah terhenti di babak 16 besar Liga Champions dan hanya meraih trofi Ligue 1 saja.
Sementara itu, pendapatan PSG dari sektor komersial jadi yang tertinggi di antara klub kaya lainnya. PSG meraih €383 juta di sektor ini, naik sebesar €46 juta dibanding musim sebelumnya. Angka tersebut melewati pendapatan komersial Bayern Munich, Manchester City, hingga Real Madrid. Ini jadi bukti makin seksinya brand PSG di mata global.
- Bayern Munich
Tepat di bawah PSG, ada Bayern Munich yang secara mengejutkan turun 3 tangga dan berada di peringkat 6. Meski secara posisi menurun, tetapi finansial Bayern Munich tetap berada di jalur positif.
Die Roten sukses mencatat pendapatan sebesar €653,6 juta di musim 2021/2022, naik sebesar 7% dibanding musim sebelumnya.
Dengan pertumbuhan pendapatan sebesar €33 juta, sektor komersial jadi penyumbang pendapatan tertinggi Bayern Munich. Hanya sektor siaran yang mengalami penurunan. Ini tak lepas dari hasil Die Roten musim lalu. Walaupun menjuarai Bundesliga dan DFL-Supercup, pasukan Julian Nagelsmann kalah di ronde kedua DFB-Pokal dan terhenti di perempat final Liga Champions.
- Barcelona
Berikutnya di peringkat 7 ada FC Barcelona. Sama seperti rival mereka di El Clasico, Barca yang biasanya duduk di papan atas Deloitte Football Money League belum sanggup memulihkan pendapatan mereka di level sebelum pandemi.
Ironisnya, Barcelona juga jadi klub dengan penurunan peringkat paling tajam. Meskipun pendapatan mereka naik sebesar 10% menjadi €638,5 juta, posisi Barca turun 3 tangga dibanding tahun lalu.
Hal itu disebabkan oleh turunnya pendapatan siaran sebesar 13%. Tanpa satupun trofi domestik dan terlempar ke Liga Europa, bahkan hanya sanggup melaju hingga 8 besar saja, adalah penyebabnya.
Sektor komersial Barca juga hanya mencatat pertumbuhan sebesar €7 juta, sangat kontras bila dibanding dengan Man. City, Liverpool, MU, PSG, dan Bayern Munich yang sukses melangkahi mereka di daftar klub terkaya versi Deloitte.
Kabar baiknya, Barcelona berhasil mengurangi beban tagihan gaji. Musim lalu, rasio gaji per pendapatan mereka hanya sebesar 73%, lebih baik dari musim sebelumnya yang mencapai 84%. Selain itu, langkah penarikan “tuas ekonomi” yang dilakukan Barcelona mungkin saja akan memberi dampak positif pada Deloitte Football Money League edisi berikutnya.
- Chelsea
Kontras dengan Barcelona, kinerja finansial Chelsea menunjukkan hal sebaliknya. Chelsea berhasil mempertahankan peringkat mereka dalam daftar Deloitte Football Money League. The Blues yang duduk di peringkat 8 mencatat pendapatan sebesar €568,3 juta, naik 15% dibanding tahun lalu.
Sama seperti Manchester City, Liverpool, dan PSG, pendapatan Chelsea di musim 2021/2022 sukses melampaui pendapatan mereka sebelum pandemi Covid-19. Semua sektor mengalami pertumbuhan yang positif, hanya pendapatan siaran yang mengalami penurunan sebesar €32 juta. Kekalahan The Blues di babak perempat final UCL jadi salah satu penyebabnya.
- Tottenham Hotspur
Membuntuti Chelsea di peringkat 9 ada Tottenham Hotspur yang mencatat pertumbuhan sebesar 29%. Posisi Spurs naik satu tangga dibanding musim lalu usai meraih pendapatan sebesar €523 juta.
Kehadiran Tottenham Hotspur Stadium yang kapasitasnya lebih besar dari White Hart Lane membuat pendapatan matchday mengalami kenaikan. Setelah diresmikan pada musim panas 2019, baru pada musim lalu stadion tersebut terisi penuh. Alhasil pendapatan di hari pertandingan mengalami kenaikan sebesar €32 juta.
Sektor komersial masih jadi penyumbang pendapatan tertinggi dan mengalami kenaikan sebesar €44 juta. Sayangnya, pendapatan siaran mengalami penurunan sebesar €51 juta setelah kegagalan Spurs lolos dari babak grup Liga Konferensi Eropa.
- Arsenal
Di peringkat 10, rival abadi Tottenham Hotspur, Arsenal juga menuai hasil positif. Sama seperti Spurs, The Gunners juga naik satu tangga setelah meraih pendapatan sebesar €433 juta di tahun 2022, naik sebesar 18% dibanding tahun sebelumnya.
Pendapatan di hari pertandingan dan pendapatan dari sektor komersial tercatat mengalami kenaikan yang positif. Sayangnya, Arsenal kehilangan pendapatan sebesar €36 juta di sektor hak siar TV akibat absen dari kompetisi Eropa musim lalu. Namun menariknya, pendapatan dari sektor tersebut tetap jadi penyumbang pendapatan tertinggi The Gunners.
Peringkat 11-30 Deloitte Football Money League 2023
Itulah 10 besar tim dengan pendapatan tertinggi di dunia versi Deloitte Football Money League. Untuk peringkat 11 hingga 20, secara berurutan dihuni oleh Juventus (€401 juta), Atletico Madrid (€394 juta), Borussia Dortmund (€357 juta), Internazionale Milano (€308 juta), West Ham United (€301 juta), AC Milan (€265 juta), Leicester City (€252 juta), Leeds United (€223 juta), Everton (€214 juta), dan Newcastle United (€212 juta).
Sementara untuk peringkat 21 sampai 30 dihuni oleh Aston Villa (€210.9 juta), Eintracht Frankfurt (€208.3 juta), Brighton & Hove Albion (€198.4 juta), Benfica (€196,7 juta), Wolverhampton Wanderers (€195,4 juta), Crystal Palace (€188,9 juta), Ajax (€187,2 juta), Sevilla (€186,1 juta), Villarreal CF (€178,7 juta), dan Southampton (€177,7 juta).
Itulah daftar 30 tim terkaya di dunia versi Deloitte Football Money League 2023. Jadi, apakah ada klub kesayangan kamu football lovers?
Referensi: Deloitte, Goal, Sportskeeda.


