Tidak keliru rasanya menyebut Marcus Rashford adalah kunci penampilan konsisten Manchester United belakangan ini. Putra daerah itu berhasil keluar dari kotak labirin yang selama ini menjeratnya. Rashford kembali menemukan bentuk permainan terbaiknya di Manchester United.
Dua golnya di penghujung laga kontra Charlton Athletic mengantarkan Manchester United ke semifinal Carabao Cup. “Fokus!” Itulah yang disampaikan Erik ten Hag dan sungguh diresapi oleh Rashford. Maka, jangan begitu kaget jika selepas mencetak gol, Rashford melakukan selebrasi dengan menunjuk bagian di mana otaknya berada.
Daftar Isi
Buruk di Musim 2021/22
Namun, Rashford yang hari ini tidak sama dengan dirinya di musim lalu. Musim lalu, Rashford adalah salah satu pemain paling kacau di Manchester United. Meski berposisi sebagai penyerang, ia jarang sekali mencetak gol.
Musim 2021/22, Rashford bermain di 25 laga Premier League, tapi ia hanya mencetak 4 gol dan 2 asis. Jika ditotal, musim lalu Rashford bermain di 32 laga di segala kompetisi. Namun, malangnya ia hanya bisa mencetak 5 gol dan 2 asis.
Penampilan buruk itu memaksa penggemar untuk mencibirnya. Ketika keluar dari Old Trafford, tak jarang Rashford dihujani cacian ringan dari para penggemar Manchester United. Saking buruknya di Manchester United, Rashford bahkan masuk dalam Starting XI pemain terburuk Liga Primer Inggris musim 2021/22.
Despite a poor 2021/22, can Marcus Rashford be Manchester United’s main man next season?
He’s 7 away from 100 goals for the club… pic.twitter.com/Qs3I1ILsz1
— Pro Form Football (@ProFormFootball) July 4, 2022
Operasi bahu yang terhambat di awal musim tampaknya menjadi sedikit masalah bagi Rashford. Ia tampil mengecewakan di musim itu. Rashford disebut mengalami penurunan drastis. Produktivitasnya kian merosot. Sumbangsihnya pada klub nyaris berada di titik nadir.
Tidak hanya karena jumlah golnya yang merosot. Tapi efektivitas permainan Rashford kian memudar. Musim lalu, Rashford hanya mencatat rata-rata tembakan 0,9 per 90 menit. Jumlahnya merosot tajam dari 2,1 rata-rata tembakannya di musim 2020/21 dan 3,5 di musim 2019/20 saat Rashford sedang dalam penampilan terbaik.
Selain itu, angka dribel Rashford juga menurun di musim lalu, yaitu 0,9 dibandingkan dengan 2,2 di musim 2020/21 dan 2,5 di musim 2019/20. Rashford di musim lalu juga hanya melakukan rata-rata 0,4 umpan kunci per pertandingan.
Bukan Sepenuhnya Salah Rashford
Penampilan Rashford yang menurun musim lalu, tak bisa sepenuhnya kita nisbatkan kepadanya. Ada beberapa faktor yang bikin penampilan Rashford musim lalu jeblok. Cedera adalah salah satunya. Selain itu, Rashford musim lalu kesulitan menemukan bentuk permainan terbaiknya.
Tidak hanya itu, peralihan manajer juga berpengaruh pada penampilan Rashford. Ia sudah beradaptasi dengan permainan Ole Gunnar Solskjaer. Namun, ketika performanya menurun, Ole menunjukkan ketidaksukaannya pada Rashford.
With Ralf Rangnick taking over as interim manager (who favoured Sancho and Elanga on the wings), Rashford would end the season with only 1657 minutes, scoring five goals and registering two assists; his worst return in a United shirt pic.twitter.com/eVtHPZn49i
— PureBall (@PureBallNetwork) January 2, 2023
Belum selesai urusan dengan Ole, Ralf Rangnick datang melatih United. Ia tipikal pelatih yang menginginkan kekuatan dan energi setiap pemainnya. Selain itu, kualitas expected goals juga jadi indikator. Namun, Rashford tidak memenuhi hal itu. Kemampuan tembakannya menurun drastis.
Kehadiran Jadon Sancho juga berakibat pada situasi Rashford yang kian sulit. Sudahlah belum menemukan performa terbaik, ia harus bersaing dengan Sancho, yang mana satu posisi dengannya. Pada akhirnya Sancho menemukan penampilan terbaiknya, dan Rashford makin tersisih.
Kedatangan Erik ten Hag
Musim 2021/22 tuntas. Manchester United lolos dari lubang jarum. Penderitaan demi penderitaan sudah terlewati. Tiada mengapa tak lolos Liga Champions. Namun, tentu pembenahan adalah harga yang tak bisa ditawar-tawar. MU harus lebih baik.
Maka, di tengah desakan agar Glazer menjual Manchester United, manajemen justru menunjuk pelatih baru. Adalah Erik ten Hag, eks pelatih Ajax yang pernah membawa tim itu ke semifinal Liga Champions. Manajemen menunjuk Ten Hag karena proposalnya dinilai yang paling menarik.
Awal masa kepelatihannya meragukan, tapi Ten Hag dalam sekejap membawa United keluar dari gudang yang gelap dan sumpek menuju tanah lapang penuh cahaya, dengan permadani hijau yang menawan. Marcus Rashford menjadi salah satu penerima manfaat dari kehadiran Ten Hag.
Di tangan Ten Hag, perjuangan Rashford tak sia-sia. Ten Hag tahu, pemuda di hadapannya itu adalah salah satu harapan Manchester United. Sangat bodoh jika ia, yang sangat menyukai pemain eksplosif, tidak mengambil manfaat dari Marcus Rashford. Akamsi yang satu ini pun kembali membaik performanya.
Erik Ten Hag has really got Rashford BALLING 👏 #mufc pic.twitter.com/4BAeQh3k01
— UnitedReds (@UnitedRedscom) January 10, 2023
Rashford Menggila, Benar-Benar Gila!
Erik ten Hag telah mengembalikan Rashford yang dulu dicintai publik United. Musim ini saja, Rashford mengemas 15 gol dan 6 asis dari 25 pertandingan. Jumlah itu jelas akan bertambah selama ia masih diandalkan Erik ten Hag.
Agaknya memang tidak mungkin Ten Hag tidak mengandalkannya. Selepas Cristiano Ronaldo ‘diseret’ keluar, Rashford jadi juru gedor di lini depan. Bahkan meneer Belanda yang satu itu membolehkan Rashford mengambil tendangan 12 pas.
Marcus Rashford is the first Manchester United player to score in eight straight home games since Wayne Rooney in 2010 🤯
He’s playing on another level right now 📈 pic.twitter.com/9mENBeqrox
— ESPN FC (@ESPNFC) January 10, 2023
Selain jumlah gol tadi yang pasti akan bertambah, Rashford menciptakan rekor yang gila. Ia baru-baru ini jadi pemain Manchester United yang bisa mencetak gol dalam delapan pertandingan kandang berturut-turut per 12 Januari 2023.
Rashford menyamai rekor Wayne Rooney yang melakukan hal serupa pada Maret 2010. Gol di laga kandang terakhir Rashford ada di laga yang sudah disebutkan di awal tadi.
Cocok dengan Skema Ten Hag
Rashford telah menyesuaikan diri dengan skema Ten Hag. Pelatih berpaspor Belanda itu juga sepertinya sudah yakin dengan kemampuan Rashford. Keduanya tampak telah mengerti satu sama lain. Kembalinya penampilan impresif Rashford ini ditopang dengan perbedaan tanggung jawab yang diberikan padanya.
Rashford diplot sebagai mesin gol. Ia bahkan bisa menggandakan golnya dengan kesempatan menendang penalti. Wajar kalau Rashford sendiri meyakini, musim ini dirinya benar-benar nyaman berada di depan mulut gawang. Oleh Ten Hag, Rashford tidak dibebankan tugas untuk pertahan.
Maka, secara defensif ia kurang. Tapi itu tak masalah. Lini belakang MU toh sedang kokoh seperti baru disemen. Disamping jadi sumber gol, Rashford juga sering bergerak ke tengah, tentu saja untuk menjemput bola bukan pacar gelap.
Tanpa memikirkan pertahanan United, Rashford bisa lebih fokus berkontribusi dalam gol. Hal itu sangat-sangat berbeda ketika di tangan Rangnick. Ten Hag bikin Rashford berbahaya di sepertiga akhir, entah sebagai pencetak gol maupun pengumpan.
Berkat itu, statistik Rashford musim ini kian mengesankan. Rashford menjadi jarang kehilangan bola, dengan rata-rata 8,6 per 90 menit. Itu lebih sedikit dari musim lalu dengan rata-rata hilang bola 10,5 per laga. Musim ini pula Rashford rajin melakukan umpan silang, rata-ratanya 0,29 per 90 menit.
Rashford Stats with Manchester United:
Before Ronaldo:
2020/21:
⚽️ 21 goals
🅰️ 12 assistsWith Ronaldo:
2021/22:
⚽️ 5 goals
🅰️ 2 assistsAfter Ronaldo:
2022/23:
⚽️ 15 goals
🅰️ 5 assistsIt’s clear a certain someone held him back 🥶 pic.twitter.com/Txyi7oVyBl
— Mojeda ➐ (@Mojeda101) January 10, 2023
Pernah Dihukum Ten Hag, tapi Langsung Buktikan Diri
Meski tampil apik dan cocok dengan Ten Hag, Rashford nyatanya pernah kena hukuman. Karena kesiangan dan terlambat rapat, Rashford tidak dimasukkan menjadi starter saat menghadapi Wolverhampton beberapa waktu lalu.
Erik ten Hag: “(Ketika ditanya mengenai jenis kesalahan Marcus sehingga ia dihukum tidak starter?) Ini diantara kami. Masalah internal, saya tidak ingin berkomentar.”
***
Marcus Rashford: “(Ketika ditanya apakah itu berhubungan dengan keterlambatan) Saya telat tidur.”
😂😂😂 pic.twitter.com/4wqfMeYh0R
— Manchester United World (@manutd_world) December 31, 2022
Sementara Ten Hag adalah sosok pelatih yang enggan memaafkan keterlambatan. Namun, meski dihukum oleh Ten Hag, Rashford tidak merajuk. Walaupun seharusnya sebagai pemain bintang ia bisa melakukan itu.
Alih-alih ngambek dan curhat ke wartawan, Rashford justru bisa membuktikan diri. Ia memang bukan starter di laga kontra Wolves. Tapi satu-satunya gol United di laga itu berasal darinya. Sungguh, Rashford pribadi yang pekerja keras. Harap maklum jika Ten Hag tak sudi melepasnya. Itu sedikit banyak membuktikan bahwa Ten Hag, selain menyayangi istrinya, juga menyayangi Marcus Rashford.
https://youtu.be/nTtPrk5sYIk
Sumber: TheAthletic1, TheAthletic2, PlanetFootball, MEN, GQ-Magazine, MancunianMatters, Tribuna, SI, Mirror, GOAL


