Gareth Bale Pensiun! Kisah Transformasi yang Menyelamatkan Kariernya

spot_img

Laga final MLS Cup menghadapi Philadelphia Union mengakhiri sentuhan Gareth Bale di Los Angeles FC. Ia memilih menutup perjalanan kariernya sebagai seniman lapangan hijau. Persis ketika mantan pemain Southampton itu berusia 33 tahun.

Bale menganggap, ia sudah menggapai semua mimpinya di sepakbola. Ia mengakhiri karir dengan bergelimang trofi. Selama bermain di Eropa, ia sudah memenangkan 20 lebih gelar bergengsi. Bahkan baru enam bulan bergabung dengan Los Angeles FC, ia telah membantu klub menjuarai MLS Cup.

Real Madrid sudah pasti jadi klub penyumbang trofi paling banyak dalam karirnya. Namun, Tottenham lah yang paling berperan terhadap gaya bermainnya. Apabila pemeran iklan Dua Kelinci itu tak mengubah posisinya dari bek kiri menjadi penyerang sayap, mungkin karirnya tak akan pernah segemilang ini.

Datang ke Spurs Sebagai Bek Kiri

Gareth Bale yang baru menginjak 16 tahun sudah menjalani debut di tim utama Southampton yang kala itu masih berlaga di Championship. Pemain asal Wales tersebut menjadi pemain termuda kedua yang pernah diturunkan Southampton di ajang resmi. Ia hanya kalah muda dari Theo Walcott.

Waktu itu, Bale dianggap sebagai salah satu talenta terbaik yang dimiliki The Saints. Di usianya yang masih belia, ia bahkan sudah mencatatkan lima gol dan 11 assist dari 38 penampilan di musim penuh pertamanya. Performa mencoloknya membuat beberapa klub kasta tertinggi Liga Inggris, termasuk Tottenham ingin mengamankan jasanya.

Singkat cerita, di akhir musim 2006/07 Tottenham l memenangkan hati Bale. Ia bergabung dengan Spurs dengan mahar awal 5 juta euro atau setara dengan Rp83 miliar. Selain itu ada beberapa klausul lain yang juga dimasukkan dalam transfer itu. Salah satunya adalah Southampton bakal mendapatkan 15% dari nilai transfer Bale selanjutnya. Poin itulah yang membuat Soton mau melepas Bale.

Awal yang Buruk

Datang sebagai bek kiri, awal karir Gareth Bale di Spurs cukup buruk. Kepindahannya ke London tentu saja membantu perkembangan permainannya. Namun cedera dan inkonsistensi sesekali mengganggu di dua musim pertamanya. Bahkan, ia mencatatkan 24 pertandingan tanpa kemenangan bersama Spurs. Bale pun dianggap sebagai pembawa sial oleh beberapa fans.

Dari Agustus 2007 hingga September 2009, Bale gagal memenangkan satu pun pertandingan Premier League untuk Spurs. Ia bahkan sempat akan dipinjamkan ke Nottingham Forest karena lelucon yang menganggap Bale sebagai pembawa sial semakin memburuk. Namun, ia menolak. Bale yakin kalau tempatnya adalah Tottenham Hotspur.

Sampai pada akhirnya, pelatih Spurs kala itu, yakni Harry Redknapp memberinya waktu sekitar enam menit untuk menjadi pemain pengganti setelah timnya unggul 5-0 melawan Burnley September 2009. Setelah itu, “kutukan” itu pun hilang, dan Bale mulai tumbuh menjadi wajah baru klub London Utara.

Insting Redknapp

Setelah performa Bale mulai stabil, Redknapp menyadari ada sesuatu yang menarik pada cara bermain Bale. Redknapp menyadari potensi penyerangan sang pemain, dan ingin memasang Bale sebagai penyerang sayap. Namun ia ragu, siapa yang akan mengisi bek kiri apabila Bale bermain lebih menyerang?

Menurut Redknapp, meski Bale berkembang di sepakbola Eropa, tipikal bermainnya mengingatkan pada bek-bek Brazil yang doyan nyekill dan membantu lini serang. Jadi Redknapp ingin Bale bisa tampil lebih menyerang karena sang pemain sangat baik dalam melakukan itu.

Redknapp pun memutar otak, bagaimana ramuan paling pas agar ia bisa tampil menyerang dan tetap membantu bertahan apabila diperlukan. Akhirnya, Bale pun dipasang sebagai sayap kiri dalam formasi 4-2-3-1. Posisinya sejajar dengan Luka Modric yang memainkan peran sebagai motor serangan di lini tengah.

Bale mulai nyaman memainkan peran barunya tersebut. Gol dan assist pun mulai mengalir deras dari kakinya. Ia bahkan berhasil mengantarkan Spurs untuk berlaga di Liga Champions musim 2010/11. Tahun itu merupakan kiprah satu-satunya Bale di kompetisi antarklub sebesar Liga Champions bersama Spurs.

Hari Pembuktian Bale

Tergabung dengan FC Twente, Werder Bremen, hingga Inter Milan di Grup A, Spurs tak berharap lebih. Mereka hanya ingin tampil di ajang tersebut dan bertahan dari hadangan ketiga klub lainnya. Bersama Bale, Spurs melangkah hingga babak 8 besar sebelum kalah agregat 5-0 dari Real Madrid.

Meski gagal, penampilan Bale saat itu terbilang sangat mengesankan. Salah satunya ketika Spurs bertandang ke Giuseppe Meazza, markas Inter Milan. Pertandingan itu akan selalu dikenang sebagai pertandingan paling luar biasa bagi Bale. Dengan kecepatan larinya, ia berusaha untuk menghindarkan Spurs dari kekalahan.

Berstatus sebagai pendatang baru di kompetisi besar sekelas Liga Champions nyatanya tak menyurutkan mental tim besutan Harry Redknapp. Meski main dengan 10 pemain setelah Gomes mendapat kartu merah pada menit ke-8, sang juru taktik terapkan strategi gila demi mengejar margin empat gol.

Strategi tersebut terbukti sukses, Gareth Bale menjadi superstar pada malam itu. Berposisi sebagai pemain sayap kiri, pria asal Wales itu menjawab kepercayaan sang pelatih. Bukan hanya satu, Bale justru mencetak tiga gol sekaligus untuk memangkas ketertinggalan. Solo-run Bale membuat pemain sekelas Javier Zanetti dan jatuh bangun mengejarnya.

Meski tak mampu membawa Spurs keluar dari jurang kekalahan, semua media sepakbola terus memberitakannya. Wajah Gareth Bale terpampang jelas pada ulasan pertandingan malam itu. Wajahnya bahkan mengalahkan Samuel Eto’o yang juga tampil brilian.

Matang Bersama Andre Villas-Boas

Setelah malam yang luar biasa itu, Bale memantapkan diri sebagai penyerang sayap. Ia meninggalkan posisinya yang lama. Spurs pun menunjuk Kyle Naughton dan Jan Vertonghen untuk silih berganti mengisi ruang yang ditinggalkan Bale.

Kursi kepelatihan pun berganti ke tangan Andre Villas-Boas semusim berikutnya. Dan di tangan Boas, Gareth Bale kian matang menjadi pemain sayap. Di bawah pelatih asal Portugal itu, Bale mempertajam finishing dan mematangkan pengambilan keputusan. Ia bahkan ditunjuk sebagai pengambil tendangan bebas Spurs kala itu.

Musim 2012/13 jadi yang masa-masa terbaik Bale bersama Spurs. Pada musim tersebut pula, pemain bernomor punggung sebelas itu berhasil tampil memukau. Memanfaatkan kecepatan dan teknik dribel mumpuni, Bale menjadi salah satu talenta Liga Inggris paling menakutkan pada musim tersebut.

Gol-golnya tercipta dari aksi solo yang memukau, tendangan bebas knuckle ball, dan beberapa tendangan jarak jauh yang menghujam gawang lawan. Pada musim tersebut, Bale menjadi pencetak gol dari luar kotak penalti terbanyak di Liga Inggris dengan 9 gol. Secara total, ia berkontribusi dalam 40 gol Spurs dalam 44 pertandingan di semua kompetisi.

Puncaknya, di akhir musim 2012/13 Gareth Bale menyabet dua gelar PFA Player of the Year dan Young Player of the Year sekaligus. Ia menyamai pencapaian Cristiano Ronaldo yang juga pernah meraih kedua gelar tersebut pada 2007. 

Tak berhenti di situ, pada tahun yang sama Bale jadi pemain termahal di dunia setelah ditebus Real Madrid dengan mahar 101 juta euro atau Rp1,6 triliun kurs sekarang. Angka fantastis itu jadi bukti bahwa Bale musim 2012/13 benar-benar berada di level berbeda. Well, kalau Bale tak mengubah posisinya menjadi penyerang sayap, mungkin ceritanya akan lain.

Sumber: These Football Times, BRFootball, The Guardian, Mirror, ESPN

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru