Gagal Di Belgia, Kok Bisa Roberto Martinez Latih Portugal?

spot_img

Mujur benar nasib pelatih Roberto Martinez. Bak rejeki nomplok di siang bolong, Martinez yang banyak dicap gagal menangani generasi emas Belgia, langsung ditunjuk menjadi pelatih timnas Portugal. Padahal melatih generasi emas Belgia saja dianggap gagal.

Melihat perjalanan karirnya sebagai pelatih, ia hanya sukses ketika melatih klub medioker. Pertanyaan besarnya, kenapa sih dia bisa dipercaya menangani beberapa proyek besar timnas, baik Belgia maupun Portugal sekarang? Apakah nantinya generasi emas Portugal yang baru ini akan sama saja nasibnya seperti Belgia?

Klub Medioker Inggris

Sebelum namanya ujug-ujug mentereng sebagai pelatih level timnas, Roberto Martinez dulunya hanya pelatih klub medioker di dataran Inggris. Dari Swansea, lalu Wigan, hingga berakhir di Everton.

Namanya sebagai pelatih profesional muncul pada 2007 ketika menangani Swansea City di EFL. Lalu setelah membawa Swansea promosi ke Championship dirinya dipinang Wigan Athletic. Nah, dari Wigan lah sebenarnya awal Martinez dikenal dunia.

Di Wigan, ia mampu menjuarai trofi yang menjadi trofi satu-satunya yang ia miliki hingga sekarang, yakni trofi Piala FA musim 2012/13.

Benar saja, setelah Wigan terdegradasi dari Liga Inggris, jasanya langsung dipakai oleh klub medioker lain yang lebih mapan, yakni Everton. Tiga tahun di Everton, ia malah gagal mendapatkan gelar apa pun.

Martinez akhirnya dipecat dari Everton karena dianggap hanya membawa The Toffees di papan tengah klasemen. Nah, dasar mujur, pelatih plontos itu langsung mendapat tawaran menggiurkan tiga bulan setelah dipecat dari Everton.

Kok Bisa Sampai Belgia?

Tak tanggung tanggung, ia ditawari proyek melatih “Golden Generation” timnas Belgia pada 2016. Di mana Belgia sedang dalam perbincangan dunia mengenai skuad muda nan mewahnya ketika itu.

Sebelumnya, muncul keunikan tersendiri ketika Belgia mencari pelatih baru. Usut punya usut, ketika Belgia memecat pelatih sebelumnya, Marc Wilmots karena dianggap gagal di EURO 2016, FA Belgia dalam mencari pelatih menggunakan iklan online layaknya lowongan pekerjaan. Siapa pun boleh mendaftar.

“Profil yang diinginkan adalah untuk mendapatkan potensi terbaik dari pemain seperti Romelu Lukaku dan Eden Hazard. Selain itu, ia juga harus menjadi komunikator yang kuat, serta pengalaman dalam dunia sepakbola.” Begitulah inti bunyi dari iklan lowongan pekerjaan pelatih timnas Belgia.

Namun apa daya, malah sosok Martinez yang muncul ke permukaan. Hal tersebut sontak mengejutkan banyak pihak. Ketika Martinez dinilai kurang memenuhi kriteria lowongan pekerjaan itu.

Namun, Martinez punya jurus lain dalam meyakinkan FA Belgia ketika itu. Martinez yakin gaya permainannya akan cocok dengan Belgia. “Kami akan selalu berusaha menguasai bola dan menjadi tim penyerang. Kami ingin memainkan sepak bola yang atraktif dan menang,” kata Martinez

Golden Generation dan Sikap Martinez

Dipercayakannya Martinez sebagai juru taktik “Golden Generation” Belgia, membuat ekspektasi dunia maupun publik Belgia akan sebuah kesuksesan terlampau amatlah tinggi. Apalagi sebelum Martinez datang, Belgia sudah duduk manis sebagai tim ranking 1 FIFA.

Kompetisi resmi pertama Martinez di Belgia, yakni Piala Dunia 2018. Martinez pun seketika bisa membuktikan kalau ia bisa membawa Red Devils berprestasi lebih. Juara tiga di Piala Dunia 2018 menjadi catatan.

Sejak itulah, publik percaya “Golden Generation” Belgia berada di tangan yang tepat. Namun, kegagalan di Euro 2020 dan Piala Dunia 2022 menjadi akhir dari kepercayaan publik tersebut. Ia banyak dianggap gagal mengelola “Golden Generation” tumbuh menjadi tim yang meraih banyak prestasi.

Namun anehnya, ia menolak dicap gagal. Enam tahun di Belgia, ia menganggap pengunduran dirinya hanyalah soal waktu karena kini kontraknya benar-benar telah usai.

Martinez berkilah ia sudah maksimal di Belgia. Sebagai bukti, menurut Opta pria Spanyol itu telah memenangkan 56 dari 80 pertandingannya bersama Belgia. Persentase kemenangannya sebesar 70% adalah yang tertinggi di antara semua mantan manajer Belgia.

Terlepas dari statistik yang mengesankan tersebut, pria berusia 49 tahun itu juga tetap membanggakan Belgia yang berada di peringkat satu FIFA. “Nyatanya Belgia adalah nomor satu di FIFA selama empat tahun terakhir di bawah saya,” katanya seperti dikutip BBC.

Kenapa Portugal Merekrutnya?

Seperti yang dikatakan di awal, pelatih plontos ini sudah kepalang mujur nasibnya. Tak usah lama menganggur, ia langsung mendapat tawaran dari timnas lain yang tak kalah besar yakni Portugal. Namun jauh sebelum itu, sebenarnya beberapa calon kuat pengganti Fernando Santos usai Piala Dunia 2022 ini sudah banyak muncul.

Awalnya, hanya Jose Mourinho sebagai kandidat utama pelatih Portugal. Namun, setelah itu ada juga pelatih asal Portugal lainnya sebagai pertimbangan. Menurut ESPN, manajer Lille, Paulo Fonseca dan manajer U-21 Portugal Rui Jorge juga bersaing mendapatkan kursi pelatih Portugal.

Gaya sepakbola keduanya juga lebih atraktif dari Fernando Santos. Ada juga Andre Villas Boas. Kepada The Sun, Villas Boas berkata, ia menginginkan pekerjaan internasional Portugal sebelum mempertimbangkan pensiun dini sebagai manajer.

Pelatih lokal Portugal lainnya yang naik daun macam Ruben Amorim di Sporting maupun Sergio Conceicao di Porto juga muncul sebagai kandidat. Bahkan sampai pelatih Paulo Bento yang baru keluar dari Korea pun masuk radar.

Namun apa mau dikata, presiden FA Portugal, Fernando Gomes mengatakan calon kuat mereka Mourinho telah menolaknya. Menurut Sky Italia, Mou mengatakan terlalu dini menerima pinangan timnas. Ia juga khawatir kondisi skuad Portugal yang sedang hancur setelah Piala Dunia.

Setelah Mou menolak, tiba-tiba Gomez menambahkan kriteria tertentu pelatih Portugal lainnya. Menurutnya, pelatih nasional yang baru harus ambisius, berpengetahuan luas tentang sepak bola internasional, dan terbiasa melatih pemain di level tertinggi dengan pengalaman di kejuaraan terbaik. Pun idealnya adalah mantan pelatih tim nasional. Pernyataan itulah yang membuat Martinez jadi masuk dalam radar.

“Kami berbicara dengan banyak pelatih berbeda yang sesuai dengan profil yang kami cari. Tetapi hanya ada satu yang cocok yakni Roberto (Martinez). Hal itu terlihat ketika percakapan pertama dengannya,” kata Fernando Gomez.

Cocok Atau Hanya Akan Seperti Belgia?

Pertanyaan besarnya, apakah Portugal nasibnya hanya akan seperti Belgia? Martinez ditunjuk langsung menangani Selecao hingga Piala Dunia 2026. Berprestasi di Euro 2024, dan Piala Dunia 2026 adalah target utama yang dicanangkan FA Portugal kepada Martinez.

“Kami percaya Portugal harus selalu berada di saat-saat menentukan dalam turnamen. Setidaknya bisa mencapai semifinal seperti Belgia di Piala Dunia 2018. Kami akan melakukan segalanya untuk memastikan waktunya sebagai pelatih Portugal, panjang, dan bahagia,” kata Presiden FA Portugal.

Dengan skuad muda, taktik, dan gaya permainan Martinez, Portugal kini akan mengarungi hari-hari yang baru. Bisa jadi mereka akan lebih intensif menyerang dalam gaya permainan di bawah Martinez. Pemain seperti Leao, Gonzalo Ramos, Jota, maupun Felix adalah opsi senjata Martinez untuk mengaplikasikan sepakbola atraktif. Inilah awal perjalanan Timnas Portugal yang baru bersama Martinez.

Sumber Referensi : sportsbrief, sportinglife, dailymail, skysports, getfootballnewsitaly, thesun

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru