Saat Inter Milan Empat Musim Beruntun Menguasai Serie A

spot_img

Jika berbicara soal masa kejayaan Inter Milan, musim 2009/10 menjadi yang sangat istimewa. Karena ketika itu, Inter yang ditukangi Jose Mourinho berhasil meraih treble bersejarah. Orang-orang, terutama para fans cenderung akan mengingat itu sebagai momen terbaik Inter.

Namun, sebelum Mourinho datang, La Beneamata sebetulnya memang menjadi salah satu tim tersukses di Liga Italia. Inter bahkan pernah merasakan empat kali beruntun meraih scudetto. Empat musim sebelum Mourinho datang, Inter benar-benar menjadi klub yang mendominasi kompetisi di Negeri Mussolini. Dan kamu tahu siapa aktornya?

Berawal Dari Kasus Besar Calciopoli

Berawal dari musim 2005/06, ketika itu kasus Calciopoli mulai terendus. Skandal memalukan sepakbola Italia itu terkuak dan melibatkan banyak pihak termasuk klub. Tak dipungkiri ketika di periode tersebut, Juventus yang sedang menjadi raja di Serie A.

Perlu diingat, di periode awal tahun 2000-an hingga mencuatnya kasus Calciopoli, juara Serie A berkutat antara Milan maupun Juventus. Sesekali ada klub kejutan seperti Roma maupun Lazio yang pernah menjadi juara. Sedangkan Inter Milan sendiri sudah lama tertidur. Terakhir kali mereka mendapat scudetto yakni pada tahun 1989.

Barulah Inter benar-benar bangun setelah adanya skandal Calciopoli. Skandal yang ternyata melibatkan dua klub langganan juara Serie A, Juventus dan Milan. Sebuah keuntungan besar bagi La Beneamata untuk setidaknya kembali bersaing merebutkan mahkota juara Serie A. Mengingat dua rivalnya masih pesakitan.

Gelar Juara Juventus Dicuri

Benar saja, tak butuh waktu lama bagi Inter untuk menyabet trofi Serie A. Di musim 2005/06, Inter yang kala itu hanya finish di posisi ke 3 dengan 76 poin, seketika dinobatkan sebagai juara.

Pasalnya, Juventus yang memuncaki klasemen dihukum oleh FIGC terkait skandal Calciopoli. Si Nyonya Tua mendapat hukuman paling berat. Selain kehilangan gelar scudetto, mereka harus turun ke Serie B karena poinnya tidak dihitung.

Sedangkan tim lainnya yang dihukum FIGC adalah AC Milan yang finish sebagai runner up dengan 88 poin. Milan akhirnya dihukum pengurangan poin sebanyak 30 poin. Mereka akhirnya harus puas memperoleh 58 poin, dan akhirnya duduk di posisi ketiga.

Para Rival Seperti Juventus dan Milan Melempem

Musim 2005/06 telah berlalu. Gelar jatuh dari langit Inter mau tidak mau harus diakui. Namun, perjalanan sesungguhnya menanti La Beneamata. Apakah ia benar-benar layak jadi raja di Serie A.

Inter pun sadar diri dan membenahi skuad untuk menjalani musim 2006/07. Namun, tak begitu yang dialami para rivalnya, baik Milan, Lazio, maupun Fiorentina. Ketiganya harus menanggung hukuman lagi.

Mereka memulai musim dengan pengurangan poin. Milan sebagai rival utama Inter di musim itu, seakan sudah pasrah menjalani musim di liga domestik setelah Calciopoli. Maka dari itu, mereka tak terlalu fokus ke Serie A. tapi lebih fokus ke Eropa. Terbukti mereka bisa menjuarai Liga Champions musim 2006/07.

Begitupun Juventus ketika kembali ke Serie A pada musim 2007/08. Mereka yang masih diperkuat sisa-sisa kejayaannya seperti Trezeguet, Del Piero, Camoranesi, maupun Nedved juga belum sepenuhnya bangkit.

Di bawah kendali Ranieri, kebijakan transfer Juventus yang baru saja promosi tersebut pun cenderung minim. Hal tersebut wajar, ketika sebuah tim mulai membangun kembali timnya dari fase keterpurukan.

Faktor Kecerdikan Perekrutan Pemain

Dan yang paling diuntungkan di sini sebenarnya Inter. Dari situasi para rival yang masih banyak masalah, Inter cerdik memanfaatkan situasi. Salah satunya dengan menjaga konsistensi dan kebijakan bursa transfer.

Presiden Inter, Massimo Moratti tak tanggung-tanggung membangun timnya dengan dana segar untuk merekrut beberapa pemain bintang setelah skandal Calciopoli. Tak dipungkiri ketika itu keuangan Inter yang paling stabil.

Tak hanya membeli pemain dari luar Italia, ia juga sekalian menggembosi beberapa kekuatan pilar para rivalnya di Serie A. Inter membajak dua pilar kejayaan Juventus, Patrick Vieira dan Zlatan Ibrahimovic.

Selain itu, para pemain lain yang didatangkan Inter ialah bek juara dunia Italia Fabio Grosso, Hernan Crespo, maupun dua bek sayap Maxwell dan Maicon. Total hampir 50 juta euro mereka habiskan. Sebuah nilai yang cukup besar di Serie A pada tahun itu.

Faktor Tangan Dingin Pelatih Roberto Mancini

Kedatangan pemain baru pun sebenarnya tak berarti apa-apa tanpa adanya racikan dari sang pelatihnya. Dengan skuad mahal ini, Inter kalau tak bisa dikelola dengan tepat, tentu akan bermasalah juga.

Namun sebuah keuntungan bagi Nerazzurri ketika ia memiliki seorang Roberto Mancini. Pelatih muda Italia yang jenius dalam meracik komposisi para pemain. Dengan skuad yang mayoritas masih perform seperti Materazzi, Zanetti, Cambiasso, Stankovic, maupun Adriano, serta ditambah amunisi baru memudahkan Mancini dalam menjalankan sistem permainan yang diinginkannya.

Didatangkan di musim 2004/05 menggantikan Alberto Zaccheroni, Mancini mulai membangun Inter Milan dengan caranya sendiri. Pelatih yang bernaluri menyerang tersebut mampu membangun pondasi bagi kebangkitan Inter.

Sebagai awal pijakan, Mancini memenangkan gelar Coppa Italia selama dua musim beruntun bagi Nerazzuri di musim debutnya, adalah suatu bukti sahih Mancini bisa membangun Inter.

Rekor Kemenangan Beruntun Inter di 2006/07

Kebangkitan Inter di tangan Mancini kian terasa di musim 2006/07. Kala itu, Roberto Mancini berhasil membawa Inter juara Serie A dan kali ini bukanlah sebuah hadiah yang jatuh dari langit. Mancini membuktikan bahwa dirinya maestro taktik sungguhan dari Italia. Sebab tidak sekadar juara, Inter di musim itu juga selalu menang dalam 17 laga beruntun.

Rekor itu bahkan sampai hari ini belum ada yang menandingi. Hanya Juventus yang hampir menyamai rekor tersebut, yaitu dengan 15 kali kemenangan beruntun di musim 2015/16.

Dramatis di 2007/08

Setelah juara di musim 2006/07, Mancini kembali memperlihatkan tajinya di musim berikutnya. Inter dibawanya kembali bersaing mempertahankan mahkota Serie A. Mempertahankan para pemain pilarnya serta penambahan beberapa pemain seperti David Suazo, Luis Jimenez, maupun Cristian Chivu membuat Inter tetap konsisten di papan atas.

Namun, musim itu bukan musim yang mudah bagi Mancini. Serigala Roma asuhan Luciano Spalletti menjelma kekuatan baru penantang gelar. Bahkan mereka berhasil memaksa Inter untuk bertarung mati-matian hingga pekan terakhir untuk penentuan juara.

Roma dan Inter menjelang laga pamungkasnya di pekan 38 Serie A, hanya berselisih 1 poin. Inter mengumpulkan poin 82, sedangkan Roma 81 poin. Roma bertandang ke Catania, dan Inter bertandang ke Parma.

Momen dramatis pun terjadi. Il Giallorossi justru ditahan imbang Catania di menit akhir pertandingan. Sementara Inter justru unggul atas Parma lewat brace Ibrahimovic. Stadion Ennio Tardini akhirnya menjadi saksi kemenangan dramatis Inter untuk mempertahankan gelar juara mereka.

Sayangnya, usai mengantarkan Inter juara Serie A empat kali, Roberto Mancini pun tak terpakai lagi. Manajemen Inter lantas menunjuk Jose Mourinho. Kelak di tangan Mourinho inilah, Inter meraih treble bersejarah.

Sumber Referensi : bleacherreport, planetsport, dailymail, planetsport

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru