Bermain di Piala Dunia, dan menjuarai turnamen itu sudah jadi impian semua pemain bola. Tapi para pemain ini membuktikan bahwa mereka masih pantas disebut sebagai legenda meskipun tidak pernah tampil di hajatan empat tahunan itu. Inilah daftar 7 pemain legenda yang tak pernah bermain di Piala Dunia.
Daftar Isi
Alfredo Di Stefano
Pemain pertama adalah Alfredo Di Stefano. Legenda Real Madrid ini adalah salah satu pemain yang unik. Sebab, ia sempat berpindah pindah kewarganegaraan dan tercatat pernah bermain untuk tiga tim nasional yang berbeda. Yaitu Argentina, Kolombia, dan Spanyol.
Namun, yang tak kalah menarik adalah meskipun ia bermain untuk lebih dari satu negara, Di Stefano tidak pernah berpartisipasi di Piala Dunia. Bukan karena dirinya pemain yang buruk. Sebaliknya, ia bisa dibilang sebagai pemain terbaik sepanjang masa. Sejajar dengan Pele atau Maradona.
Puncak karirnya adalah ketika Di Stefano ada di Real Madrid. Ia membawa El Real menjuarai Europa Cup sebanyak lima kali berturut-turut dan terpilih sebagai pemain terbaik di Eropa sebanyak dua kali dalam dekade 1950-an. Dia adalah pemain dengan skill komplit. Dari bertahan sampai menyerang. Seolah Di Stefano bisa dimainkan di posisi manapun.
Alfredo Di Stéfano is clear of any player in history. #GOAT𓃵 pic.twitter.com/i3AK4EIPtD
— KB9🐐 (@MadridistaRMCF7) December 4, 2022
Tapi sayang, kesialan dan nasib buruk selalu menghalanginya untuk bermain di turnamen empat tahunan itu. Di tahun 1950, Argentina yang merupakan negara Di Stefano tidak lolos putaran final Piala Dunia. Lalu di edisi 1954, ia ketahuan bermain untuk tim nasional Kolombia di beberapa laga persahabatan ketika ia masih berkarir di liga Kolombia. Alhasil ia dilarang membela Argentina di Piala Dunia 1954.
Di Stefano lalu pindah kewarganegaraan Spanyol setelah beberapa tahun bermain untuk Real Madrid. Tapi di Piala Dunia edisi 1958 Spanyol gagal lolos kualifikasi. Pada kesempatan terakhirnya untuk ikut Piala Dunia di tahun 1962, Di Stefano malah mengalami cedera. Ia pun tidak bisa memperkuat Spanyol di Piala Dunia itu.
George Best
Selanjutnya ada George Best. Mungkin banyak yang setuju kalau George Best adalah salah satu pemain terbaik di Britania Raya. Ia yang membuat nomor 7 menjadi keramat di Manchester United. Dimulai dari dirinya lah, pemilik nomor 7 di MU selalu punya tekanan untuk jadi yang terbaik di tim.
George Best No.7 pic.twitter.com/0tVfuS2vhz@stusfootyflash @irish_pics @1968Tv @robertmdaws @FootballRemind
— SlickerVideo 📼 (@SlickerVideo) July 15, 2022
Pele bahkan sempat menyebutnya sebagai pemain terbaik di dunia. Sampai-sampai ada istilah “Maradona good, Pele Better, George Best”. Jadi, menyebut George Best sebagai pemain legenda bukanlah hal yang berlebihan.
Ia menjadi sosok penting kebangkitan setan merah pasca tragedi Munich di tahun 1958. Dimana sebagian besar skuad MU meninggal setelah kecelakaan pesawat di Munich, Jerman. Best juga berperan besar dalam meraih juara European Cup di tahun 1968. Di tahun yang sama, Best mendapatkan Ballon d’Or.
Tapi sayangnya publik internasional tidak bisa melihat kehebatannya di pentas Piala Dunia. Sebab, Irlandia Utara yang merupakan negara Best, tidak pernah lolos kualifikasi selama dekade 60an sampai 70an. Irlandia Utara sempat lolos kualifikasi di Piala Dunia 1982 tapi Best sudah berusia 36 tahun saat itu.
Best sendiri bisa mengerti mengapa sang pelatih, Billy Bingham tidak membawanya ke Piala Dunia 1982. Saat itu Best sudah melewati puncak karirnya. Ia bahkan bermain di klub Amerika Serikat, San Jose Earthquakes.
Dan Best mengakui tim asal Amerikanya bermain sangat ampas. Best juga tidak pernah berambisi di tim nasional. Ia selalu menganggap bermain di tim nasional adalah sebagai rekreasi dan hiburan saja.
Laszlo Kubala
Di daftar selanjutnya ada Legenda Barcelona, Laszlo Kubala. Ya, sebelum ada Lionel Messi, Ronaldinho, Johan Cruyff, Hadirlah Kubala. Ia membela Blaugrana sejak 1951-1961, telah mencetak 290 gol dari 363 penampilan. Kubala begitu melegenda sampai diabadikan dalam bentuk patung di stadion kebanggaan Barca, Camp Nou. Meskipun begitu, kisahnya tidak selamanya mulus.
Quelques images d’une des premières légendes du Barca, László Kubala.
194 buts en 256 matchs, le quatrième meilleur buteur de l’histoire du Barca pic.twitter.com/JTwF00NR3z
— Clem 🇧🇪 (@Clem__FCB) January 14, 2022
Sama seperti Di Stefano, Kubala juga sempat berpindah-pindah timnas. Ia lahir di Budapest, Hungaria namun pindah ke Cekoslowakia untuk menghindari wajib militer. Ia sempat bermain enam kali untuk timnas Cekoslowakia.
Kemudian Kubala pindah lagi ke negara kelahirannya. Hanya tiga kali bermain untuk timnas Hungaria, ia pindah ke Spanyol untuk menghindari rezim pemerintahan komunis di negaranya itu.
Dan sama seperti Di Stefano, meskipun ia pernah bermain untuk tiga negara berbeda ia sama sekali belum pernah merasakan panggung Piala Dunia. Hungaria dan Cekoslowakia tidak lolos kualifikasi di masa dirinya masih bermain.
Kubala benar-benar punya kesempatan untuk tampil di Piala Dunia adalah ketika dirinya pindah ke Spanyol. Tapi di edisi 1954 dan 1958 itu Spanyol gagal lolos kualifikasi. Spanyol bisa kembali ke Piala Dunia pada tahun 1962 tapi itu sudah terlambat bagi Kubala. Ia sudah pensiun dari dunia sepak bola.
George Weah
Lompat ke benua Afrika, ada George Weah. Ia adalah satu-satunya pemain Afrika yang pernah memenangkan Ballon d’Or. Dan menjadi pemain non-Eropa pertama yang berhasil mendapatkan penghargaan pemain terbaik itu. Weah juga dikenal sebagai legenda AC Milan di era 90-an. Ia mencetak 58 gol dari 157 pertandingan dan dua kali merengkuh scudetto bersama AC Milan.
Haven’t posted this for a bit….Only George Weah’s amazing goal for AC Milan vs Verona whilst the Football Italia music plays over it…..heaven. pic.twitter.com/y8V0z5saNg
— When Football Was Better (@FootballInT80s) August 16, 2019
Tapi sayang, mau seberapa hebat Weah di atas lapangan, ia tidak kuasa membawa Liberia ke pentas Piala Dunia. Secara ironis sebutan timnas Liberia serupa dengan nasib Weah. Julukan timnas Liberia adalah “The Lone Star” atau bintang tunggal. Itu diambil dari bendera mereka yang punya satu bintang. Sebutan itu juga mencerminkan Weah yang bisa dibilang bintang satu-satunya di Liberia.
🇺🇸🇱🇷 | It’s all love in Qatar as the President of Liberia and his wife (George Weah & Clar Weah) came to the stadium to congratulate their son Timothy Weah as he helped USA qualify for the FIFA World Cup round of 16.
Football is Powerful. #A2ZisHere | #FIFAWorldCup pic.twitter.com/S3bVYliyTj
— A2Z Football Hub 🟡⚫ (@a2zfootballhub) November 30, 2022
Setidaknya sang anak, Timothy Weah bisa mewakili mimpi ayahnya untuk tampil di Piala Dunia. Namun Timothy tidak mewakili negara ayahnya, dimana sang ayah menjadi Presiden di Liberia. Melainkan membela tim nasional Amerika Serikat. Ia bahkan mencetak gol di laga melawan Wales di Piala Dunia 2022.
Ian Rush
Sosok legenda lain yang ternyata tidak pernah bermain di Piala Dunia adalah Ian Rush. Ya, legenda Liverpool ini memang tidak pernah mampu membawa Wales ke pentas Piala Dunia. Padahal ia adalah pemain terhebat di masanya.
Rush telah mencetak 346 gol dari total 660 pertandingan bersama The Reds. Ia juga menjadi sosok penting dalam dominasi Liverpool di Inggris pada dekade 80-an. Rush pun menjadi sosok yang dicintai publik Anfield sekaligus ditakuti oleh para lawan di seluruh Eropa.
Ian Rush.#Wales pic.twitter.com/pcWX4xftPy
— Olympia (@olympia_vintage) June 25, 2022
Ian Rush bermain untuk timnas senior sejak tahun 1980-1996. Ia bahkan menjadi pencetak gol terbanyak Wales sebelum dipatahkan oleh Gareth Bale di tahun 2018. Namun selama karirnya di Wales, ia gagal membawa Wales lolos ke turnamen bergengsi.
Ryan Giggs
Masih satu negara dengan Ian Rush, Ryan Giggs juga tidak pernah merasakan megahnya ajang Piala Dunia. Dan sama seperti Rush, Giggs adalah legenda di klubnya. Mungkin penggemar sepak bola, khususnya liga Inggris tidak ada yang tidak tahu siapa Giggs.
Giggs telah merasakan kejayaan Manchester United di dekade 90-an sampai 2000-an bersama pelatih legendaris, Sir Alex Ferguson. 13 Premier League, 4 FA Cup, dan 2 Liga Champions berhasil ia persembahkan untuk setan merah.
Sayangnya kejayaan Giggs di klub tidak seindah ketika dirinya di tim nasional. Wales memang sangat sulit untuk bisa tembus ke Piala Dunia di tengah kompetisi ketat dengan negara Eropa lainnya. Dua pemain hebat yang berbeda generasi pun tidak mampu membawa Wales ke Piala Dunia.
Wales baru bisa melangkah ke turnamen ini di Piala Dunia 2022. Setelah terakhir kali mereka bisa masuk ke putaran final pada tahun 1958. Giggs harusnya bisa tampil di Piala Dunia 2022 sebagai pelatih Wales, namun ia mengundurkan diri setelah terjerat kasus kekerasan.
Eric Cantona
Satu lagi legenda Manchester United yang tidak pernah tampil di Piala Dunia. Ia telah lama menjadi andalan penyerang Sir Alex Ferguson. Mempersembahkan empat gelar liga Inggris untuk MU hanya dalam lima musim saja.
Meskipun begitu, Ia memang dikenal sebagai penyerang yang bengal di atas lapangan. Cantona seolah terlibat kontroversi sesering ia mencetak gol. Ia tidak segan-segan untuk terlibat perkelahian di atas lapangan. Kita tentu tahu tendangan kungfu Cantona ke penonton di tribun itu.
24 years ago today
Cantona Kung Fu Kick T-shirt
available now only at https://t.co/K1jXUwUSsy#cantona #ericcantona #erictheking #manchesterunited #mufc #manunited #kungfu #90sfootball #premierleague #streetwear #football #soccer pic.twitter.com/2vJm9stmAR— Born Offside (@bornoffsideuk) January 25, 2019
Terlepas dari kontroversinya, tak bisa disangkal bahwa Cantona adalah pemain yang hebat. Tapi ia tidak pernah bermain di Piala Dunia untuk Prancis. Di tahun 1988, ia tahu Henri Michel, pelatih Prancis saat itu tidak membawanya untuk laga uji coba. Contona lalu menyebut Michel sebagai “kotoran”. Itu membuatnya dilarang tampil untuk timnas selama satu tahun.
Setelah bisa kembali ke timnas Prancis, Cantona malah gagal membawa Les Bleus lolos kualifikasi di Piala Dunia 1990 dan 1994. 1998 adalah kesempatan emas Cantona untuk bisa tampil di Piala Dunia. Mengingat Prancis adalah tuan rumahnya. Namun, secara mengejutkan Cantona malah pensiun setahun sebelumnya.
Itu jadi kabar yang mengejutkan bagi semua orang. Cantona masih berusia 30 tahun saat itu dan ia berada di puncak kejayaan bersama Manchester United. Tapi Cantona mengaku justru itu adalah rencananya. Ia ingin pensiun di puncak karir. Mungkin Cantona tidak mengenal istilah “di atas langit masih ada langit”. Satu tahun setelah Cantona pensiun, Prancis menjadi juara Piala Dunia di rumah mereka sendiri.
Sumber referensi: B/R, Manutd, History, Barcelona, Milan, Sporting, Wales, Sky


