Skandal atau kontroversi sudah jadi hal lumrah di kompetisi Piala Dunia. Dari pesta telanjang di kolam renang oleh para pemain Belanda, sampai persengkongkolan Jerman dan Austria untuk menyingkirkan Algeria dari kompetisi.
Bahkan masih banyak skandal lain dalam sejarah turnamen ini yang mungkin tidak kalian ketahui. Berikut daftar 8 skandal dalam sejarah Piala Dunia yang mungkin tidak kamu ketahui.
Daftar Isi
1970-Misteri Gelang Hilang Bobby Moore
Hanya di Piala Dunia, pencurian sebuah gelang bisa menjadi skandal yang tak kunjung usai. Saat itu menjelang Piala Dunia 1970 di Meksiko, tim nasional Inggris sedang menjalani tur sekaligus laga uji coba di Amerika Selatan. Suatu malam, Bobby Charlton dan kawan-kawan sedang berada di sebuah hotel di kota Bogota, Kolombia. Ia dan rekan sekaligus kaptennya di timnas, Bobby Moore mengunjungi toko perhiasan di depan hotel.
Niatnya adalah Bobby Moore ingin menemani Charlton membeli oleh-oleh untuk istrinya. Tapi tidak lama setelah itu, keributan terjadi di toko perhiasan tersebut. Seorang karyawan toko menuduh Moore telah mencuri perhiasan senilai 600 poundsterling. Bobby Moore kebingungan, karena ia memang tidak merasa telah mengambil perhiasan itu. Moore dan Charlton sampai-sampai sempat diinterogasi oleh pihak berwenang.
4. Bobby Moore. Accused of stealing a bracelet from a jewellers in Bogota, Colombia en route to the 1970 World Cup in Mexico. But did he do it? https://t.co/U3UpzM8Ycs pic.twitter.com/LsGJwcSyw2
— Football Bobbles (@footballbobbles) August 21, 2020
Banyak yang menduga kalau ini adalah konspirasi dari tim-tim Amerika Latin untuk melemahkan skuad Inggris, yang merupakan juara bertahan Piala Dunia 1966. Skandal ini terus berlanjut sampai dilangsungkannya Piala Dunia 1970. Dan sampai berakhirnya turnamen itu, Bobby Moore masih saja menjadi bahan penyelidikan pihak kepolisian Kolombia.
Bobby Moore akhirnya dibebaskan dari tuduhan karena tidak ada bukti yang kuat dirinya telah mencuri perhiasan itu. Sampai sekarang pun tidak ada yang tahu pasti siapa yang mencuri dan apakah ini adalah sebuah konspirasi. Sebelum Bobby Moore meninggal pada tahun 1993, ia mengatakan “mungkin ini ulah jahil para pemain muda di tim. Mereka bertindak bodoh tanpa mengetahui konsekuensinya”
1974-Pesta Kolam Renang Belanda
Konspirasi untuk mengganggu sebuah tim di Piala Dunia tidak hanya terjadi pada Inggris dan Bobby Moore di tahun 1970. Di Piala Dunia edisi setelahnya terjadi lagi hal yang serupa namun jauh lebih panas. Kali ini korbannya adalah Johan Cruyff dan timnas Belanda.
Di era 70-an, tim Oranje adalah tim yang ditakuti oleh semua negara lain berkat total football yang dimainkan Johan Cruyff dan kolega. Belanda saat itu berada di atas awan setelah mengalahkan semua lawannya dengan skor telak sebelum menginjakkan kaki di partai final. Di final itu mereka bertemu Jerman Barat yang merupakan tim tuan rumah Piala Dunia 1974.
Melihat Belanda yang tak terbendung itu tentu membuat warga Jerman Barat panik. Apalagi banyak yang memprediksi Belanda akan menang dengan mudah di final nanti. Surat kabar kenamaan Jerman, Bild menampilkan headline para pemain Belanda sedang berpesta telanjang di kolam renang hotel bersama dengan perempuan-perempuan bayaran sebelum final berlangsung.
A reconstruction of the ‘Swimming pool scandal’. A story about a naked swimming party of #Netherlands published by German magazine Bild close before the #WorldCup74 final.
.
#Holland #Oranje #WorldCup #FIFA #WorldCup #football #EURO2020 #soccer [BBC] #mundial #CopaAmerica2021 pic.twitter.com/WJ67B4mfHb— Holland74 🇳🇱 (@Netherlands1974) July 11, 2021
Cerita itu sontak membuat geger publik. Meskipun Johan Cruyff dan rekan-rekannya tentu menampik tuduhan itu, rumor sudah kadung tersebar. Johan Cruyff dan banyak rekan setim lainnya bahkan mendapatkan telpon dari para istri yang marah-marah, padahal saat itu ia dan rekan-rekannya sangat membutuhkan waktu istirahat.
Alhasil Belanda kalah di partai final melawan Jerman Barat dengan skor 2-1. Johan Cruyff bahkan tidak lagi bermain untuk timnas. Terlepas dari kontroversi yang dimunculkan majalah Bild, strategi mereka telah terbukti berhasil.
1978-Pengaturan Skor Argentina
Perjalanan Argentina sebagai tuan rumah Piala Dunia 1978 juga tidak lepas dari kontroversi. Ini terjadi sebelum Argentina melaju ke fase gugur. Albiceleste dihadapkan dengan Peru dan diharuskan menang dengan selisih gol 4 atau lebih untuk bisa lolos ke fase gugur.
Sebuah misi yang sulit untuk Argentina saat itu. Kemenangan terbesar Argentina adalah 2-0 melawan Polandia. Albiceleste memang lebih diunggulkan daripada peru. Namun, Peru bukanlah tim yang patut diremehkan. Peru hanya kebobolan enam kali dari lima pertandingan sebelumnya. Tapi di pertandingan melawan Argentina ini, mereka kebobolan enam gol tanpa balas.
On this day 1978, Argentina needed to beat Peru by 4 goals to progress in the World Cup. They won 6-0 pic.twitter.com/Oyqu3v5utv
— The Football Pools (@footballpools) June 21, 2017
Bertahun-tahun setelahnya salah satu pemain Peru, Jose Velasquez mengaku bahwa timnya mendapatkan tekanan untuk kalah. Mereka diancam oleh pemerintah mereka sendiri untuk membiarkan Argentina lolos ke fase gugur. Teori konspirasi lainnya adalah kiper Peru saat itu, Ramon Quiroga adalah seorang kelahiran Argentina.
1994-Maradona dan Narkoba
Maradona adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki Argentina. Namun, kedekatannya dengan prestasi di lapangan sebanding dengan keakrabannya dalam tersandung kasus narkoba. Dan itu masih saja lekat dengan Maradona sampai di penghujung karirnya. Pada Piala Dunia 1994 di Amerika Serikat, Maradona kembali kedapatan mengkonsumsi obat-obatan terlarang.
Itu sudah jadi kecurigaan banyak orang ketika Maradona mencetak gol ke gawang Yunani di babak penyisihan grup. Maradona merayakan golnya itu sedikit berlebihan. Seperti kesetanan, atau lebih tepatnya seperti seseorang yang menggunakan narkoba.
Ødegaard’s goal yesterday was very similar to the goal Maradona scored in WC 1994 against Greece. pic.twitter.com/GLoYcBrAw2
— RL 🇦🇷🇧🇷🇨🇭 (@RL_Comps) October 31, 2022
Benar saja. Setelah kembali meraih kemenangan di pertandingan selanjutnya kontra Nigeria, Maradona gagal lolos tes doping. Ia ketahuan mengkonsumsi Efedrin, salah satu obat stimulan yang dilarang. Maradona akhirnya diusir dari Amerika Serikat, dilarang mengikuti Piala Dunia 1994, dan kehilangan visanya.
Argentina yang bermain tanpa Maradona tidak bisa berbuat apa-apa di sisa pertandingan mereka. Albiceleste akhirnya gugur di babak 16 besar setelah kalah melawan Rumania. Sebelumnya mereka juga kalah melawan Bulgaria di pertandingan terakhir babak penyisihan grup.
1982-Persekongkolan Jerman dan Austria
Piala Dunia 1982 memiliki dosa yang melekat pada Jerman dan Austria. Pertandingan itu nantinya dikenal sebagai Aib di Gijon. Gijon sendiri adalah kota dimana stadion tempat pertandingan tersebut berlangsung. Kenapa disebut aib? Sebab di pertandingan ini Austria dan Jerman Barat bersengkongkol untuk bisa sama-sama lolos ke fase selanjutnya.
Jerman Barat dan Austria tergabung dalam grup yang berisikan Algeria dan Chile. Di laga pamungkas penyisihan grup itu, Jerman berada di posisi ketiga karena di pertandingan lain, Algeria nyaman berada di posisi kedua setelah mengalahkan Chile dan Jerman Barat di pertandingan sebelumnya.
Jerman Barat dan Austria sama-sama paham kalau kemenangan Jerman Barat atas Austria dengan skor 1-0 atau 2-0 bisa membuat kedua negara itu lolos. Sementara kemenangan lebih dari itu dari Der Panzer akan membuat Austria tersingkir. Dan jika Jerman Barat kalah, maka jelas mereka yang tersingkir.
It’s 40 years to the day since the infamous West Germany and Austria meeting at the 1982 World Cup.
Commentator Alan Parry didn’t hold back after seeing a lifeless game following Horst Hrubesch’s early goal, as both teams went through at Algeria’s expense.#WorldCup82revisited pic.twitter.com/qZ69HhdICS
— 1980s TV Football Heaven (@1980sHeaven) June 25, 2022
Entah karena kebetulan atau tidak, pertandingan Austria dan Jerman Barat berakhir dengan skor 1-0 untuk kemenangan Die Mannschaft. Setelah Horst Hrubesch mencetak gol pembuka, permainan seakan terhenti. Kedua tim hanya saling mengoper bola tanpa ada niat menyerang.
Melihat jalannya pertandingan yang sangat membosankan itu, para penonton terutama pendukung Algeria mencemooh pemain di lapangan sambil mengibas-ibaskan uang kertas. Mengisyaratkan pertandingan sudah dibeli oleh pihak Jerman Barat.
1982’s infamous ‘Disgrace of Gijon’ looms over #GER vs #ALG
The infamous incident revisited: http://t.co/XMwIrL9OAc pic.twitter.com/4cacsVUwFf— Sportskeeda (@Sportskeeda) June 30, 2014
Komentator dari Jerman Barat, Ebenhard Stanjek menolak untuk mengomentari jalannya pertandingan lebih lama lagi. Sementara komentator dari Austria, Robert Seeger meminta para pendengar dan pemirsa dirumah untuk mematikan tontonan mereka.
1982-Insiden Schumacher
Skandal di Gijon pada pertandingan melawan Austria membawa Jerman Barat melangkah sampai ke semifinal Piala Dunia 1982 untuk melawan Prancis. Tapi Jerman Barat masih saja tersandung kontroversi. Kali ini aktor utamanya adalah penjaga gawang andalan Jerman, Harald Schumacher.
Pada pertandingan itu, Michel Platini berhasil membuat umpan tepat ke barisan pertahanan Jerman Barat yang kosong. Di depan, Patrick Battiston sudah siap untuk menyambut umpan tersebut. Namun, BAM! tabrakan brutal antara Battiston dan Schumacher terjadi.
It’s the 40th anniversary of the infamous Schumacher/Battiston incident during the epic 1982 World Cup semi-final between West Germany and France.
Here’s how Barry Davies and Bobby Charlton reacted to it when commentating for BBC highlights.#WorldCup82revisited #OnThisDay pic.twitter.com/zO2DuZNfkO
— 1980s TV Football Heaven (@1980sHeaven) July 8, 2022
Tabrakan itu sangat keras sampai sampai Battiston tergeletak tak sadarkan diri. Bahkan dilaporkan denyut nadinya sempat berhenti. Battiston pun dibawa keluar lapangan. Yang mengganggu dari situasi tersebut adalah, Schumacher seolah tidak peduli dengan Battiston yang terkapar karena ulahnya itu.
Schumacher hanya menaruh bola di kotak penaltinya, menunggu wasit membolehkannya untuk melakukan tendangan gawang sambil kedua tangan berada di pinggang. Seolah mengesankan dirinya tidak peduli dengan Battiston setelahnya.
Anehnya lagi insiden itu tidak dihitung sebagai pelanggaran dan Schumacher sama sekali tidak mendapatkan kartu. Wasit mengaku tidak melihat keseluruhan insiden dan percaya Schumacher tidak melakukannya dengan sengaja.
Pertandingan berjalan sampai ke babak adu penalti. Schumacher yang jadi penjahat berubah menjadi pahlawan setelah menyelamatkan dua tendangan penalti. Namun hanya tim Jerman Barat yang menginginkan kemenangan itu. Semua orang menganggap kemenangan Jerman dilakukan dengan cara yang kotor. Mereka pun kalah di partai final dengan skor 3-1 kontra Italia.
1998-Apa yang Terjadi Pada Ronaldo?
Apa yang terjadi jika harapan suatu negara dibebankan ke pundak satu pemain? Seorang pemain itu bisa saja kejang-kejang. Itu yang terjadi pada Ronaldo di final Piala Dunia 1998 melawan Prancis. Pada laga itu Ronaldo dilaporkan mengalami kejang tepat sebelum pertandingan final dimulai. Bahkan namanya dicoret dari daftar skuad dalam laga tersebut.
Namun, anehnya ia kemudian bermain memperkuat Brasil di laga itu. Entah apa yang terjadi di ruang ganti sebelum pertandingan, tapi Ronaldo tidak bermain seperti biasanya. Di laga itu, ia bermain sangat biasa-biasa saja dan malah terlihat linglung. Tidak mencerminkan pesepakbola dengan julukan “El Fenomeno”
Tidak ada yang tahu pasti apa yang terjadi saat itu. Mengapa Ronaldo tetap dimainkan? Kenapa ia sempat hilang? Dan mengapa ia sempat kejang-kejang? Tidak ada yang tahu jawabannya. Banyak teori konspirasi pun beredar. Dari Ronaldo diracun sampai Brasil disuap untuk mengalah di final tersebut.
#Onthisday 1998 France won the World Cup Final
The game was overshadowed by the controversial selection of superstar striker Ronaldo. pic.twitter.com/WXRz2LdTe3
— Classic Football Shirts (@classicshirts) July 12, 2019
Yang pasti, Ronaldo memang mengaku merasa tertekan sebelum final dimulai. Dalam film biografinya yang berjudul “The Phenomenon: The Rise, Fall, & Redemption of Ronaldo” ia mengatakan “El Fenomeno tidak boleh gagal, tidak bisa merasakan sakit, dan tidak berhenti mencetak gol” Itulah yang dirasakan Ronaldo pada saat itu. Brasil pun akhirnya kalah di laga tersebut dengan skor 3-0.
2010-Pemberontakan Skuad Prancis
Untuk skandal yang terakhir, mari kita loncat beberapa dekade ke tahun 2010. Piala Dunia ini memang bisa dibilang edisi yang paling ikonik. Tapi bukan berarti piala dunia ini bukan tanpa kontroversi dan skandal. Skandal yang mungkin jarang kalian tahu dari Piala Dunia ini adalah Prancis. Ya, Prancis di Piala Dunia 2010 itu sendiri lekat dengan skandal dan kontroversi.
Dimulai dari Anelka yang melayangkan kritik keras disertai umpatan kotor ke sang pelatih setelah Prancis kalah melawan Meksiko. Domenech yang merasa terhina tidak terima dengan perilaku Anelka. Ia pun memutuskan untuk memulangkan sang pemain di tengah kompetisi yang sedang berlangsung.
6. 🇫🇷 France’s Meltdown (South Africa 2010)
Basically Anelka called the national team manager a “son of a whore”, who then sent him home. The rest of the squad sided with Anelka and refused to train. France were eliminated in the group stage with zero wins pic.twitter.com/lNINzeLuAZ— HD (@HDrxper) November 18, 2022
Skuad prancis lainnya, terutama Evra sebagai kapten Les Bleus tidak terima dengan keputusan Domenech. Ia menganggap keputusan itu adalah sepihak dan semena-mena. Sebagai bentuk protes. Seluruh skuad Prancis memutuskan untuk mogok latihan.
Itu jadi peristiwa yang memalukan untuk Prancis. Apalagi mereka tidak berhasil lolos fase grup setelah gagal menang sekalipun di fase grup. Direktur pelaksana FFF saat itu Jean-Louis Valentin sampai berkomentar “Saya jijik, Saya akan berhenti dari jabatan saya”


