Mengumpulkan 23 poin dari sepuluh pertandingan, Madura United kian kokoh di puncak klasemen sementara Liga Indonesia. Mereka membuka liga dengan kemenangan dahsyat delapan gol tanpa balas kala menjamu Barito Putra, mengalahkan Persib Bandung di Gelora Bandung lautan Api dengan skor 1-3, dan baru sekali kalah dari tim promosi tahun lalu, Persis Solo dengan skor tipis 1-0.
Padahal Madura United tak begitu banyak berubah dari musim lalu. Dari staf kepelatihan hingga muka-muka lama macam Beto Goncalves, Fachrudin Aryanto hingga Slamet Nurcahyo masih menghiasi daftar skuad Madura. Lantas apa yang membuat klub jelmaan dari Pelita Jaya ini tampil dominan di awal musim Liga Indonesia?
Daftar Isi
Tampil Buruk di Turnamen Pramusim
Jika melihat persiapan Laskar Sape Kerrab sebelum mengarungi Liga Indonesia, terbilang biasa-biasa saja. Bahkan cenderung buruk apabila dilihat dari performa mereka di Piala Presiden.
Tergabung di Grup B bersama Persija, Rans Nusantara, Borneo FC dan Barito Putera, Madura United hanya mampu finis di urutan keempat klasemen penyisihan grup. Madura hanya meraih satu kemenangan dari empat pertandingan. Itu pun diraih kala berjumpa Persija yang hanya mengirimkan skuad muda mereka.
Di Piala Presiden, Madura United mengalami kendala soal mencetak gol. Hal ini diakui oleh sang pelatih, Fabio Lefundes. Juru taktik asal Brazil itu kecewa timnya tersingkir lebih dini. Ia merasa timnya tak dinaungi Dewi Fortuna di sepanjang turnamen, lantaran setiap peluang yang mereka ciptakan selalu mentah di depan gawang.
Contohnya saja saat laga melawan Barito Putera di pertandingan ketiga penyisihan Grup B. Secara statistik, Madura berhasil melayangkan 19 tembakan dengan 9 di antaranya mengarah tepat ke gawang. Sayangnya, hanya satu gol yang berhasil mereka dapatkan dari aksi Selwan Al-Jaberi.
Kepercayaan Manajemen
Namun, paceklik di Piala Presiden bak angin lalu apabila melihat performa Madura United awal musim ini. Hingga pekan ke 10, Laskar Sape Kerrab jadi sorotan karena mampu tampil konsisten sehingga menguasai puncak klasemen liga dengan torehan 23 poin.
Salah satu kunci sukses Madura United di awal musim Liga Indonesia adalah kepercayaan manajemen kepada para staf kepelatihan. Manajemen Madura membuat keputusan tepat saat meneruskan kerjasama dengan pelatih Fabio Lefundes. Tetapi keputusan penting lain yang mereka buat adalah memberikan kesempatan bagi pria asal Brazil itu membangun sendiri skuad yang ia inginkan.
Madura United memang jadi salah satu tim yang tak banyak melakukan perubahan dengan skuadnya. Bahkan pelatih dan jajarannya dari musim 2021 juga masih dipertahankan. Hal ini membuat stabilitas tim terjaga dan para pemain sudah tidak perlu melakukan adaptasi lagi.
Manajemen tak keberatan saat Fabio menyingkirkan pemain-pemain yang dirasa sudah tak dibutuhkan. Manajemen bahkan mempersilakan Fabio untuk terjun langsung dalam bursa transfer.
Tetapi kebebasan itu sempat dipertanyakan oleh para suporter. Apalagi jika mengingat performa tim kesayangannya tersebut tak mampu melenggang dari fase grup Piala Presiden 2022. Namun Fabio berhasil menjawab keraguan para fans. Pembelian pemain di bursa transfer awal musim lalu terbilang tepat dengan apa yang dibutuhkan skuad Madura saat ini.
Pemain Kunci
Contohnya saja dalam pemilihan pemain asing. Fabio mendatangkan pemain-pemain Brazil berpengalaman seperti Pedro Henrique yang pernah bermain di Korea, lalu ada bek tangguh Cleberson dari klub kasta kedua Liga Brazil, Ituano. Hugo Gomes mantan pemain Flamengo, dan yang terakhir ada Lulinha, sayap kiri jebolan Corinthians.
Fabio Lefundes hanya mengambil mantan pemain asing Bhayangkara FC, yakni Lee Yu-jun untuk mengisi kuota pemain asing regional Asia. Meski sebagian besar pemain asing yang dipilih Fabio baru mencicipi sepakbola Indonesia, mereka bisa beradaptasi.
View this post on Instagram
Sebut saja Lulinha dan Pedro Henrique. Keduanya membangun koneksi yang apik dengan pemain Indonesia yang juga memiliki darah Brazil, Beto Goncalves. Mereka membentuk trio yang solid dan menjadi tulang punggung Madura dalam urusan mencetak gol. Jika digabungkan, trio Samba ini telah mengemas 10 gol dan 4 assist dalam 10 pertandingan. Dengan Lulinha masih menjadi pencetak gol terbanyak klub dengan torehan 6 gol.
Brazil Connection
Selain di lini depan, Brazil Connection juga tercipta di staf kepelatihan. Manajemen tak hanya memberikan kepercayaan bagi Lefundes dalam memilih sendiri pemainnya. Ia juga mendapatkan kebebasan untuk memutuskan deretan asisten pelatih yang mendampinginya.
Claudio Luzardi sebagai interpreter dan Osvaldo Lessa diplot sebagai pelatih fisik Madura United sudah berada di tim kepelatihan sejak musim lalu. Fabio lantas memanggil Marcelo Araujo sebagai fisioterapis dan Italo Resende sebagai tim analis pertandingan, untuk melengkapi staf kepelatihan. Hanya pelatih kiper, Valdir Bardi yang didatangkan bukan dari Brazil.
Match Galery 📸
Player in action againts Persija Jakarta#maduraunited #madurabisa #madurabersatu pic.twitter.com/bqdI3MYBkB
— Madura United FC (@MaduraUnitedFC) September 18, 2022
Apa yang diminta Fabio Lefundes untuk menempatkan orang-orang Brazil di staf kepelatihan bukan tanpa resiko. Namun hingga pekan kesepuluh, keputusan Fabio terbilang tepat. Madura United terbukti terus berkembang menjadi salah satu tim terbaik melalui sentuhan Brazil Connection.
Fokus Penyerangan Madura United
Kemudian, hal lain yang menyebabkan Laskar Sape Kerrab melaju kencang di awal musim adalah pola permainan yang diusung oleh Fabio Lefundes. Mantan asisten pelatih Botafogo itu mengandalkan formasi 4-3-3. Fabio menyuguhkan permainan sepakbola atraktif. Mengandalkan umpan-umpan pendek dan memaksimalkan skema bola mati jadi ciri khas Madura saat berlaga.
Tak sedikit serangan Madura United mengandalkan sisi kanan. Dua pemain mereka, Malik Risaldi dan Pedro jadi motor serangan. Sementara lini serang sebelah kiri, seperti Lulinha bertugas menusuk ke dalam kotak penalti lawan untuk menyambut umpan. Hasilnya, lebih dari 50 persen gol Madura hadir dari sana.
Pergerakan trio lini serang Madura juga sangat fleksibel. Hal itu dibuktikan dalam laga melawan Persib, di mana Lulinha sesekali bertukar posisi dengan Malik Risaldi guna memecah konsentrasi bek Persib. Alhasil mereka mampu membalikan keadaan dan menang dengan skor 1-3.
Selain itu, lini tengah yang produktif sukses menopang lini serang Madura United. Terbiasa bermain di posisi sayap ketika masih di Persib, Esteban Vizcarra justru nyaman memainkan peran sebagai gelandang serang bersama Madura. Berduet dengan Hugo Gomes, mereka sudah menghasilkan 4 gol dan 3 assist dalam 10 pertandingan.
Adaptasi Taktik
Jika menghadapi tim kuat seperti Persija, Fabio mampu melakukan adaptasi dengan tampil bertahan dan mengandalkan serangan balik cepat dengan memanfaatkan kecepatan dan skill individu pemain mereka.
Duplikat formasi yang dilakukan Madura ketika menghadapi Persija berjalan efektif untuk meredam agresivitas lini depan Macan Kemayoran. Dalam pertandingan tersebut, Madura menurunkan 3 bek tengah yang dibantu dua bek sayap untuk meredam pergerakan pemain asing bintang lima milik Persija.
Fenomena Madura United tampil impresif di pekan-pekan awal Liga 1 bukanlah hal yang pertama kali terjadi. Beberapa kali mereka memang tampil apik di paruh pertama, tapi ketika memasuki paruh kedua, laju sapi bak kehabisan tenaga. Namun, jika mereka mampu tampil konsisten hingga akhir musim, bukan sebuah kemustahilan Liga Indonesia bakal melahirkan juara baru.
https://youtu.be/KI16zCU778g
Sumber Referensi: Panditfootball, Fandom, RRI, Bola, Indosport


