Menyoal internal Manchester United, posisi CEO (Chief Executive Officer) adalah salah satu bagian vital dalam menjalankan sebuah klub. Posisi inilah yang dipercaya langsung oleh pemilik untuk mengelola keuangan klub. Termasuk untuk berinvestasi di bursa transfer.
Dari masa ke masa baik itu sebelum diambil Glazer, CEO MU silih berganti. Apakah benar, selain peran pemilik, peran CEO ini adalah yang berpengaruh pada kesuksesan maupun kegagalan MU?
Daftar Isi
Martin Edwards dan Peter Kenyon
MU sangat beruntung dulu punya CEO sekelas Martin Edwards di era 80-90-an. Edwards lah yang membawa Sir Alex Ferguson dari Aberdeen ke MU pada tahun 1986. Ia juga yang mendukung Fergie untuk membangun MU dengan suntikan beberapa pemainnya macam Jaap Stam, Roy Keane, maupun Andy Cole. Hingga Treble Winner 1998/99 pun berhasil diraih.
Sir Alex Ferguson quit as Manchester United manager, reveals former Red Devils chief Martin Edwards https://t.co/33rB9AE7ro pic.twitter.com/bDykPFkuCY
— MailOnline Sport (@MailSport) September 2, 2017
Namun, setelah beberapa masalah tentang pengelolaan bisnisnya di United, seperti isu penjualan klub dan lain-lain, ia memutuskan mundur. Dan perannya tersebut dilanjutkan oleh wakilnya yakni Peter Kenyon. Kenyon ini dulunya adalah pekerja di bagian finance di perusahaan apparel ternama Inggris, Umbro.
Kenyon adalah CEO yang memimpin ekonomi MU kembali stabil. Selain itu, ia juga mampu meneruskan peran Edwards dengan baik dalam hal mengincar pemain. Salah satu prestasi Kenyon yakni dengan mendatangkan Ferdinand dan Ruud Van Nistelrooy. Dan yang paling penting perannya adalah membujuk Fergie untuk tetap tinggal di Old Trafford. Karena waktu itu, Fergie sempat ingin pensiun di tahun 2002.
Akan tetapi, Kenyon juga tak luput dari cela. Tanggung jawab besarnya terletak pada gambling para pemain muda yang flop macam Kleberson, Djemba-Djemba, maupun David Bellion. Masa puncak kegagalan transfer MU di bawah Kenyon yakni gagal merekrut Ronaldinho. Karena ternyata tawaran yang dilayangkan MU terlalu minim.
Yang jadi masalah lagi, ia malah lari dari tanggung jawab membenahi klub yang dicintainya itu. Ia lebih memilih hengkang ke klub rival, Chelsea pada 2003 karena ajakan Abramovich. Kenyon pun lantas dicap sebagai pengkhianat oleh fans MU.
8th Sept 2003:
Man Utd chief executive Peter Kenyon moved to Chelsea on this day 18 years ago.#ChelseaFC #CFC Football Fan Retro Birthday or Christmas Gift Idea #CHEAVL pic.twitter.com/IHD3gYtLSg— Historic Gifts (@CoinGifts) September 8, 2021
David Gill
Setelah Kenyon pergi tahun 2003, posisinya diisi oleh David Gill. Gill ini adalah orang dalam MU yang sudah ada sejak tahun 1997. Dari hanya anggota, kemudian di bidang keuangan, serta merangkap wakil CEO, Gill akhirnya dipromosikan sebagai CEO.
Peran Gill ini banyak sekali berpengaruh dalam kesuksesan MU bersama Fergie. Ia dipandang banyak fans selalu berperan dalam mendukung kemauan Fergie mendapatkan pemain yang diinginkan. Tak heran, Gill bersama Fergie banyak menuai sukses selama satu dekade yakni 2003-2013.
🚨🔴Sir Alex Ferguson is back on board at Manchester United
🤝🏼Alex Ferguson, David Gill and Bryan Robson will advise Richard Arnold on a wide range of issues which include the redevelopment of Old Trafford and Carrington, and Manchester United’s relationship with its fans⚡️ pic.twitter.com/iQfaFpLqZQ
— FIVE (@FIVEUK) July 29, 2022
Lima gelar Premier League, 1 Piala FA, 1 Liga Champions, 1 Piala Dunia Antarklub, 3 Piala Liga, dan 3 Community Shield sudah diraih. Tidak hanya trofi, Gill menjadi otak dari beberapa perekrutan sukses United seperti Wayne Rooney, Cristiano Ronaldo, Edwin Van Der Sar, Michael Carrick, dan David De Gea.
Perlu diketahui juga ia adalah loyalis keluarga Glazer sejak MU diambil alih taipan AS tersebut pada 2005. Ia didukung penuh kucuran uang oleh Glazer selama menjabat. Glazer yang sejak kedatangannya ditentang banyak orang, nyatanya selama masa Fergie dan Gill mampu membuahkan prestasi dan mendatangkan pemain yang tepat.
Namun, Gill pun tak luput dari cela. Gill pada akhirnya mengingkari kebijakannya sendiri. Kebijakan terbaiknya yakni dengan menolak pemain di atas 27 tahun untuk dibeli MU, diingkarinya sendiri dengan datangnya Van Der Sar, Owen, maupun Van Persie.
Di masa akhir pemerintahannya, ia pun gagal dalam segi transfer. Dari pemain macam Manucho, Bebe, sampai Gabriel Obertan semuanya gagal. Termasuk yang paling vital yakni tak bisa membendung Pogba muda pergi dari Old Trafford.
Gill pun akhirnya pergi meninggalkan Old Trafford di tahun 2013. Di tahun itu pula, United kehilangan Fergie yang akhirnya benar-benar pensiun. Sebuah kehilangan besar bagi kejayaan Red Devils.
Ed Woodward
Setelah Gill dan Fergie pergi, era baru pun dimulai. Posisi CEO akhirnya dijabat kembali oleh orang dalam United, yakni Ed Woodward. Woodward ini dulunya adalah penasihat Glazers Family dalam pengambilalihan MU di tahun 2005. Kemudian ia mengurusi bagian bisnis dan media MU di 2007, sampai diangkat menjadi wakil CEO di 2012 dan akhirnya menjadi CEO di 2013.
Ed Woodward: Manchester United executive vice-chairman to stand down at end of 2021 – https://t.co/e172mK8ONd
Ed Woodward has been in the role since 2013
Manchester United executive vice-chairman Ed Woodward will step down from his role at the end of 2021.It comes… pic.twitter.com/ZVzEhVlyKZ
— Eric Thompson (@isearch247) April 20, 2021
Woodward seperti kebingungan di awal karena awam dalam hal teknis sepakbola. Ia dicurigai tak mengerti soal seluk beluk teknis sepakbola. Woodward hanya mengerti teknis bisnisnya saja. Ia pun tak menunjuk orang untuk mengepalai teknis pemilihan pemain maupun pengembangan skuad MU. Tetapi langsung menanganinya sendiri.
Sejak kehilangan Fergie, ia pun juga kebingungan menemukan siapa pengganti yang tepat. Woodward seperti tak tau arah. Dari Moyes, Giggs, Van Gaal, Mourinho, Ole, sampai Rangnick sudah dicoba.
Woodward juga melakukan banyak perekrutan pemain. Ia ditaksir telah menghabiskan uang hingga 1 miliar pounds lebih selama kepemimpinannya. Namun apa hasilnya? Dengan sokongan dana semewah itu, United hanya mampu menghasilkan 4 gelar dalam 9 tahun. Yaitu juara Piala FA, Piala Liga, Liga Europa, dan Community Shield.
Dalam kebijakan pembelian pemain pun, ia tak segan membawa bangkotan-bangkotan ke Old Trafford macam Schweinsteiger, Ibrahimovic, Mkhitaryan, Alexis, Cavani, hingga Cristiano Ronaldo. Memang sih, ada juga yang berpengaruh, tetapi itu dianggap tak cocok dengan prospek jangka panjang MU.
Kecaman fans atas kinerjanya yang buruk dari segi teknis maupun prestasi, Woodward akhirnya legowo dan mengundurkan diri pada 2021. Pengunduran dirinya pun diiringi dengan protes terhadap klub yang dicurigai masuk dalam proyek Liga Super. Semua fans MU pun tampak lega. Keterpurukan bersama rezim Woodward pun resmi disudahi.
Richard Arnold
Gonjang-ganjing siapa yang tepat menggantikan posisinya pun menjadi ramai. Dari mulai mantan pemain, sampai beberapa kandidat orang dalam United pun kembali masuk bursa. Dan akhirnya jabatan CEO kembali dipegang oleh orang dalam United, yakni Richard Arnold.
Arnold ini dulunya adalah orangnya Woodward. Ia dipercaya menjadi direktur pelaksana klub di masa pemerintahan Woodward. Apakah dia adalah tangan kanannya Woodward? Bisa jadi.
🚨 | BREAKING: Current Manchester United CEO Ed Woodward will step down from his post at the end of January!
Manchester United have appointed Richard Arnold as their new CEO, effective from 1st February 2022! 😳#ManchesterUnited #RedDevils pic.twitter.com/j9kGPGDZnk
— Sportskeeda Football (@skworldfootball) January 6, 2022
Kalau melihat hubungannya dengan Woodward yang dekat, apakah tongkat estafet CEO yang jatuh ke tangan Arnold adalah sia-sia? Tapi nyatanya kini ia bergerak tidak seperti mantan majikannya itu. Ia sadar tak banyak tahu soal seluk beluk teknis sepakbola. Maka dari itu, ia menunjuk peran baru di struktur kepengurusan MU yakni direktur teknik dan direktur olahraga yang dijabat Murtough dan Fletcher.
Dari segi transfer pun dapat dikatakan sejauh ini MU sangat berbeda dengan era sebelumnya. Dari cara penawaran sampai pendekatan pemain. Manajemen MU di bawah Arnold sejauh ini dapat dikatakan baik-baik saja, meskipun muncul desakan akhir-akhir ini karena hasilnya minor dalam performa. Martinez, Eriksen, sampai Malacia adalah beberapa hasil operasi transfer di bawah CEO Arnold sejauh ini selain penunjukan Ten Hag di awal musim.
https://youtu.be/J7p6Z_ZKdJY
Sumber Referensi : sportskeeda, mirror, fourfourtwo


