Los Blancos musim ini telah dianggap beruntung dan sering dianggap sebagai juara La Liga yang tidak pantas, raja yang tidak pantas mendapatkan mahkota. Madrid telah gagal mereplikasi kesuksesan kontinental mereka di kancah domestik, dengan hanya tiga gelar dalam dekade terakhir. Namun, benarkah demikian?
Daftar Isi
Persiapan Yang Tenang
Sebagian besar musim panas Madrid dihabiskan untuk membujuk Mbappe agar meninggalkan PSG. Kerja itu ternyata tidak berhasil, Le Parisiens ternyata enggan secepat itu melepas bintangnya. El Real juga mengalami kepergian besar seorang Sergio Ramos dan Raphael Varane yang meninggalkan klub.
Hanya dua pemain yang didatangkan Florentino Perez, adalah David Alaba secara gratis dari Bayern Munchen, dan Eduardo Camavinga, pemuda 18 tahun didatangkan dari klub Prancis, Stade Rennais.
Le mercato du Real Madrid 2021/2022
✅Camavinga
✅AlabaProlongations
Courtois (2026)
Modric (2022)
Nacho (2023)
Lucas V (2024)
Casemiro (2025)
Carvajal (2025)
Benzema (2023)
Valverde (2027)❌Odegaard
❌Ramos
❌VaraneBrahim prêt
Kubo prêt
Odri prêt
Reinier prêt
Chust prêt pic.twitter.com/Zd0b08nyn0— Real Madrid Univers (🏆 35) (@Real_Univers) August 31, 2021
Kembalinya Carlo Ancelotti ke Bernabeu sebenarnya adalah kunci. Don Carlo yang telah menghabiskan beberapa musim terakhir melalang buana ke Napoli dan Everton.
#LaLiga | ANCELOTTI BACK IN MADRID
Real Madrid have announced the appointment of Carlo Ancelotti as the new manager ahead of the 2021 – 22 season.
The Italian has signed a deal until 2024. #RayonMedia pic.twitter.com/aFrqztBSSB
— Soccer Monitor ⚽️ (@SoccerMonitor) June 1, 2021
Konsisten Ala Ancelotti
Gerak cepat di awal El Real di bawah Ancelotti tidak terlepas dari permainan yang konsisten dari laga ke laga. Dengan kekonsistenan pola yang sama dan pemain yang hampir sebagian besar itu-itu saja, sangat memudahkan Ancelotti dalam meracik timnya kecuali ada yang cedera atau absen, barulah Ancelotti memutar otak.
Mengawali La Liga dengan 7 laga tak terkalahkan sampai dengan kekalahan pertama Madrid atas Espanyol di awal Oktober 2021, membuktikan Madrid mampu beradaptasi dengan pelatih dan pemain baru. Semenjak kalah dari Espanyol, Madrid kembali bangkit di laga El Clasico di Camp Nou.
Kemenangan 2-1 atas sang rival membuat mental anak asuh Ancelotti makin tumbuh untuk semakin percaya diri meraih gelar musim ini. Sejak kemenangan atas Barca itu, kembali El Real mampu tampil konsisten menjalani setiap laganya dengan hasil positif.
FT: Barcelona 1-2 Real Madrid
Madrid have beaten Barcelona FOUR straight times 😱 pic.twitter.com/qfIypMKYzu
— ESPN FC (@ESPNFC) October 24, 2021
10 pertandingan kembali mereka tak terkalahkan sampai akhir tahun 2021. Madrid tercatat mampu meraih 8 kemenangan termasuk mengalahkan rival lainnya, Atletico Madrid dan hanya 2 kali seri. Kekalahan atas Getafe di awal tahun 2022 pun dianggap angin lalu. Pasukan El Real kembali menatap pertandingan kedepannya dengan mental konsisten ala Ancelotti.
Hasilnya, 9 kali lagi mereka tak terkalahkan. Namun, setelah itu rekor 9 kali tak terkalahkan dipecahkan secara memalukan di kandang sendiri lewat partai El Clasico. El Real secara tak terduga dicukur habis Barcelona racikan Xavi 4-0 di Bernabeu. Ini adalah titik balik maupun efek kejut yang membuat pasukan Ancelotti diingatkan akan kekonsistenan performanya musim ini.
Real madrid akhirnya belajar dari kekalahan memalukan itu, Ancelotti rela mengakui kekalahan taktiknya dari Xavi, tapi tidak berhenti di situ saja. Ancelotti dan para pemain Madrid move on dari laga itu dan yang penting menatap laga berikutnya untuk mengamankan posisi puncaknya.
Yap, benar saja, Madrid berhasil dan membuat mereka konsisten lagi meraih kemenangan 5 kali beruntun, sampai partai melawan Espanyol pada 30 April 2022 yang sekaligus mengunci gelar La Liga ke 35 mereka di Bernabeu dengan kemenangan meyakinkan 4-0.
🙌 ¡#CAMPEON35 DE @LALIGA! 🙌
🏁 FP: @realmadrid 4-0 @RCDEspanyol
⚽ @RodrygoGoes 33′, 43′, @marcoasensio10 55′, @Benzema 81′#Emirates | #RealMadridEspanyol pic.twitter.com/ScU8qSYkTe— Real Madrid C.F. (@realmadrid) April 30, 2022
Kombinasi Veteran Junior Efektif
Perjalanan panjang kesuksesan El Real mengarungi musim ini yang pasti selain dipengaruhi oleh konsistensi ala Ancelotti dengan pakemnya yang selalu jarang diubah, juga kombinasi skuadnya yang berbuah manis.
Ancelotti di Madrid musim ini masih bertemu dengan pemain seperti Modric, Kroos, Casemiro, Bale maupun Benzema. Jadi tidak akan mengalami kesusahan dalam adaptasi permainan. Sebab para veteran itu sudah paham pondasi permainan yang dimau Ancelotti.
Para veteran itu perlahan menemukan sisa-sisa kekuatan terakhirnya di karir sepakbolanya, seiring dengan sentuhan magis psikologis pelatih yang veteran pula. Cocoklah sudah, pemain seperti trio gelandang mereka terutama super Benzema di depan yang moncer mampu menjadi tulang punggung Madrid meraih poin.
2️⃣ 🐐’s
🇧🇷🤝🇫🇷 @Benzema (25) overtakes @Ronaldo’s best goalscoring record for @realmadriden in a #LaLigaSantander campaign (24 during 2003/04) ‼️#LaLigaHistory pic.twitter.com/iRyAk3HBgt
— LaLiga English (@LaLigaEN) April 18, 2022
Tentu masalah Madrid musim ini adalah lini pertahanan, tidak performnya dua bek sayapnya yang makin menua, Carvajal dan Marcelo, serta hengkangnya dua pilar penting mentor pertahanan Madrid, Ramos dan Varane menjadi PR Ancelotti musim ini.
Terlihat benar, ketika Eder Militao, Nacho, maupun Mendy, terlihat kurang begitu menjanjikan mengawal pertahanan El Real. Meskipun Ancelotti menemukan resep bertahan ala Italia yang membuat para pemain bertahan yang serba baru komposisinya ini makin percaya diri.
Hasilnya tidak buruk-buruk amat, Madrid sampai sekarang ini hanya kebobolan 30 gol musim ini. Paling sedikit di La Liga di bawah Sevilla yang hanya kebobolan 29 gol.
Meskipun tidak sepenuhnya bergantung pada para pemain veteran, Madrid musim ini mulai percaya menggunakan para pemain mudanya dengan memberikan menit bermain lebih. Hasilnya, pemain seperti Vinicius maupun Rodrygo sering menjadi pembeda dan makin matang secara mental. Terbukti di partai-partai krusial mereka mampu meledak dan menyelamatkan El Real. Valverde dan Camavinga juga sering tampil sempurna mengisi pos tengah sebagai ancang-ancang regenerasi trio gelandang Madrid.
🤍 #APorLa14 🤍 pic.twitter.com/xzTQZrKMOK
— Real Madrid C.F. (@realmadrid) May 4, 2022
Faktor Performa Statistik
Namun, dengan berbagai faktor tadi, terdapat sisi lain dalam hal statistik yang banyak orang menganggapnya statistik itu tak penting. Dan angka pun membuktikannya.
Meskipun menjadi tim teratas dalam hal gol, tembakan tepat sasaran, dan akurasi tembakan, mereka telah menjadi salah satu tim dengan performa terburuk di satu departemen statistik yakni Persentase Gangguan atau BDP (Buildup Disruption Percentage) atau lebih tepatnya statistik untuk mengukur dampak tekanan tim terhadap operan pihak lawan. Jadi, misalnya, jika sebuah tim memainkan sistem tekanan tinggi yang intens, itu akan menyebabkan tim lawan mencatat lebih sedikit operan karena tekanan tinggi tersebut.
Dan Real Madrid bernasib buruk dalam metrik ini. Peringkat BDP mereka terburuk ketiga di La Liga di angka minus 3, di atas Cadiz dan Espanyol. Statistik yang mengejutkan karena tim teratas di banyak liga-liga top Eropa biasanya adalah salah satu tim dengan peringkat tekanan tertinggi. Artinya sebagian besar konsep pola permainan Madrid musim ini sering menggunakan pola menunggu lawan dan sesekali melakukan counter efektif yang mematikan lawan.
Piccola parentesi sul Real Madrid. Ho fatto questo grafico combinando PPDA e BDP% per capire quali sono le squadre di Liga che pressano di più e meglio. Come potete notare, il Real Madrid è tra quelle che pressa meno e peggio. Con questi dati, l’approccio col PSG non sorprende. pic.twitter.com/E8Wqbp2NG7
— Marco Lai (@MarcoLai_23) February 17, 2022
Faktor Performa Pesaing
Selain fakta statistik tadi, terpuruknya Barcelona dan juara bertahan Atletico Madrid berpengaruh pada lajunya Madrid sendirian dalam perburuan La Liga musim ini. Barcelona yang compang-camping di internal di awal musim baru bangkit setelah Xavi datang. Sedangkan Atletico di bawah Simeone terlalu bereksperimen musim ini, serta terbebani predikat juara bertahan yang menjadikannya kurang konsisten.
Madrid meskipun juga dilanda masalah dengan kepergian beberapa pilarnya di awal musim, terbukti cerdik memanfaatkan momen para musuh-musuhnya yang sedang terseok. Dengan tampil asal konsisten saja dengan menang-menang tipis, cukup bagi Ancelotti dan Madrid melaju mulus meraih gelar La Liga. Kurangnya tekanan mental dari sang rival dalam perburuan gelar menjadi pengaruh. Mental juang Madrid sama sekali tidak terganggu musim ini.
Dari perjalanan panjang Madrid menjalani musim 2021/22 ini di La Liga, gelar ke 35-nya patut diapresiasi dengan kerja keras kolaborasi semua pihak baik manajemen maupun tim. Gelar yang tak terelakan, meski banyak tuduhan gelar ini hanyalah beruntung didapat Madrid. Ketika dengan permainan yang kurang menjanjikan secara statistik maupun seiring terseoknya para rivalnya, Madrid mampu memanfaatkan itu. Dan itu adalah langkah smart sebuah klub yang sah
🏆 #CAMPEON35 🏆 pic.twitter.com/FwE6ucqsgg
— Real Madrid C.F. (@realmadrid) April 30, 2022
https://youtu.be/Kr2WSIb79vA
Sumber Referensi : foottheball, managingmadrid, sportingnews


