Rapat Umum Tahunan Bayern Munchen akhir November 2021 berujung kisruh, dan penuh dengan nuansa permusuhan. Para anggota yang jumlahnya sekitar 800 orang mencaci maki para petinggi Bayern Munchen.
CEO Bayern Munchen. Olivier Kahn dan Presiden Klub, Harbert Heiner menjadi korbannya. Para anggota tadi mencaci maki kedua petinggi klub itu dengan kalimat “Kami adalah Bayern. Anda tidak! Kami adalah penggemar yang tidak anda inginkan”.
Situasi pun betul-betul menjadi keos. Karena para anggota terus menyoraki petinggi Bayern Munchen. Tapi sebetulnya apa yang terjadi di sana? Apa petinggi Bayern Munchen itu mau tambah periode sampai-sampai mesti melancarkan protes?
Daftar Isi
Hubungan dengan Qatar
Kemarahan anggota bukanlah kemarahan yang mendadak. Tapi kemarahan itu sudah tersimpan sejak 2011. Tahun 2011 lalu, The Bavarians menjalin hubungan yang mesra dengan Qatar, tapi tidak disenangi banyak orang.
Mengapa hubungan Qatar dan Bayern Munchen banyak yang tak suka? Alasan konkretnya karena Qatar pada waktu itu, selain kaya harta juga kaya masalah. Terpilihnya Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 dianggap penuh patgulipat. Belum lagi masalah kemanusiaan yang menjerat negara teluk tersebut.
Tentu para pendukung geram, sebab tak satu pun petinggi Die Roten yang menyinggung hubungan tak sehat Bayern Munchen dengan Qatar. Walaupun seorang anggota cum pengacara, Michael Ott dalam pertemuan itu mendesak agar Bayern Munchen tak melanjutkan kemitraan dengan Qatar, dan mendesak Presiden Herbert Heiner melepaskan jabatannya.
Para anggota menuding petinggi Bayern Munchen hanya mementingkan uang daripada permasalahan kemanusiaan yang terjadi di Qatar. “Jika saya tahu uang ini berasal dari Qatar dan berkaitan dengan masalah hak asasi manusia yang serius, jelas itu uang berdarah. Keberhasilan apa pun yang dicapai akan ternoda,” kata Michael Ott seperti dikutip Deutsche Welle.
😬 Bayern Munich’s AGM decends into chaos… pic.twitter.com/aijJIs6bS6
— DW Sports (@dw_sports) November 26, 2021
Akar Masalah
Petinggi Bayern Munchen yang hari ini menjabat, mungkin saja tidak akan mendapat sorotan dan caci maki dari para anggota, andai hubungan antara klub dan Qatar hanyalah mitos. Sayangnya kan tidak demikian. Hubungan klub dengan Qatar sudah terjalin sejak 2011. Beberapa bulan usai Qatar terpilih sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022.
Penunjukan Qatar sebagai tuan rumah Piala Dunia 2022 pun banyak menuai kecaman. Bahkan pelatih The Bavarians kala itu, Louis Van Gaal menyebut keputusan FIFA memilih Qatar sebagai tuan rumah adalah “keputusan yang tidak dapat dipercaya” dan “bukan pillihan yang tepat”.
Namun, Bayern Munchen sendiri justru menjalin kerja sama dengan Qatar. Pada tahun yang sama, Munchen menggunakan Akademi Aspire yang ada di Doha sebagai kamp latihan jeda musim dingin mereka. Beberapa pemain Die Roten sampai memuji kualitas lapangan di tempat latihan tersebut.
“Lapangannya sensasional. Saya jarang melihat yang lebih baik,” kata Philipp Lahm. Thomas Muller juga memuji bahwa tempat latihan di Doha tersebut sangat optimal. Bos Bayern Munchen? Tentu saja ikut memuji. Ketua klub kala itu, Karl-Heinz Rummenigge memuji kualitas lapangan di Akademi Aspire pada 2015.
Hal itu pun berlanjut pada 2018. Bayern Munchen tetap betah menggunakan Akademi Aspire sebagai kamp latihan. Karena konon kondisinya sangat bagus di Doha. Mereka bahkan tidak mempermasalahkan cuaca di Qatar.
Namun, itu menjadi sebuah keanehan, karena hanya Bayern Munchen yang memilih kamp latihan di Qatar. Sementara, klub-klub Bundesliga lainnya, termasuk Borussia Dortmund dan RB Leipzig memilih kamp latihan di Jerman dan Spanyol.
Qatar? Spain? Germany?
Where are #Bundesliga clubs spending the winter break? pic.twitter.com/yx6CE8XF9z
— DW Sports (@dw_sports) January 4, 2018
Akademi Aspire bukan sekadar tempat latihan yang setiap tahun dikunjungi Bayern Munchen. Tapi The Bavarian ke Qatar itu juga untuk bisnis.
Hubungan dengan Hamad International Airport
Nah, salah satunya Bayern Munchen menjalin hubungan harmonis dengan Hamad International Airport (HIA). Sebuah bandara di Doha, Qatar. Keduanya menjalin hubungan pada tahun 2016 dengan kesepakatan sponsor platinum atau lapis kedua. Berapa nilai keuntungannya?
HIA Qatar is enhancing its partnership with FC Bayern München
مطار حمد الدولي يعزز شراكته مع فريق بايرن ميونخ الألماني #HIAFCBayern2017 pic.twitter.com/Gf0N0xhom1
— Hamad Int’l Airport (@HIAQatar) August 14, 2017
Sedikit kok, Bayern Munchen hanya mendapatkan sekitar 4-6 juta euro (Rp62 miliar-Rp93 miliar) dari HIA setiap tahunnya. Kesepakatan itu memungkinkan logo HIA muncul di bagian lengan kit latihan klub. Bahkan pada kit utama Bayern Munchen 2017/18 logo HIA muncul di lengan.
Tapi untuk kit utama tersebut tak diketahui nominalnya. Bagaimana mengetahui nominalnya, kesepakatan Bayern Munchen dengan HIA saja tidak diumumkan secara resmi oleh klub? Sampai-sampai koresponden ESPN FC, Stephen Uersfiled harus mendesak Munchen agar segera mengumumkannya.
Announce #HIAFCBayern2017, FC Bayern!
— uersfeld (@uersfeld) August 14, 2017
Berganti Qatar Airways
Belum juga hubungan antara Bayern Munchen dan HIA terungkap jelas, Qatar Airways sudah mengambil alih pada 2018. Maskapai penerbangan asal Qatar itu giliran yang menjalin kerja sama dengan Bayern Munchen. Nilainya malah lebih banyak dari kesepakatan dengan HIA.
Bayern Munich players with an advert for Qatar Airways singing “Ain’t No Sunshine When You’re Gone” to their fans.
Think this is a good time to remind ourselves what many of Bayern Munich’s match-going fan & ultra groups think of the club’s Qatar dealings.
Thread. 1/14 pic.twitter.com/hvSeBy6jAe
— Felix Tamsut (@ftamsut) February 26, 2021
Qatar Airways akan membayar 10 juta euro atau sekitar Rp156,2 miliar per tahun pada klub, yang akan berakhir tahun 2023. Namun Qatar Airways, meski menjadi sponsor platinum, tidak menjadi maskapai resmi penerbangan klub. Untuk maskapai penerbangan, Bayern Munchen justru menjalin kerja sama dengan maskapai Jerman, Lufthansa.
Kesepakatan itu membuat logo “Qatar Airways” terpampang di lengan jersey utama Bayern Munchen, seperti yang kamu lihat sekarang. Namun feedback yang didapat Qatar lebih dari sekadar itu. Kesepakatan dengan Qatar Airways dan HIA akan memperkuat dorongan agar Bayern Munchen selalu mengadakan latihan di Akademi Aspire.
Merusak Reputasi Bayern Munchen
Tepat di titik itulah, kita bisa membaca apa dan bagaimana hubungan antara Bayern Munchen dengan Qatar dikatakan tidak sehat, dan mengapa protes muncul. Kesepakatan dengan beberapa perusahaan Qatar, tentu mendatangkan keuntungan buat Bayern Munchen setiap tahunnya.
Wajar jika pada akhirnya, usai menjalin cukup lama kesepakatan dengan Qatar, pendapatan komersial Bayern Munchen melesat signifikan. Laporan Deloitte Money Report, pendapatan Bayern Munchen tahun 2021 mencapai 611,4 juta euro atau sekira Rp9,5 triliun.
Anggota dan penggemar tentu tak mempersoalkan itu. Mereka, yang pada pertemuan itu diwakili Michael Ott, merasa keberatan terhadap jalinan kerja sama klub dengan Qatar. Dengan menjalin kerja sama, Qatar justru dianggap akan merusak reputasi Bayern Munchen.
Sementara, negara teluk tersebut diuntungkan karena Bayern Munchen adalah merek menjanjikan yang bisa mengenalkan Qatar ke seluruh dunia. Dengan kata lain Munchen menjadi tunggangan elit Qatar. Dan itu tidak disenangi penggemar yang pada 6 November 2022 membentangkan spanduk bernuansa protes.
“For money, we’ll wash anything clean”
FC Bayern München supporters with more criticism of their club’s relationship with #Qatar today, depicting the club as a willing sportswashing machine.
[📷 @Sky_Torben] #fcbayern #fcbscf pic.twitter.com/41LBxRxOrz
— Matt Ford (@matt_4d) November 6, 2021
Isu Pelanggaran HAM
Kita tentu tak pernah lupa permasalahan HAM yang menimpa Qatar. Laporan wartawan investigasi Norwegia, Havard Melnaes yang dipublikasi Independent, menyebut bahwa kebanyakan pekerja di proyek Piala Dunia Qatar adalah imigran.
Menurut Human Rights Watch dalam laporan itu, terdapat 520 pekerja dari Bangladesh, Nepal, dan India yang meninggal pada tahun 2012. 375 dari kematian itu tak jelas alasannya. Sistem kafala yang lebih dekat kepada perbudakan disinyalir menjadi penyebabnya.
Selain itu, pekerja di sekitar Hamad International Airport juga mengalami nasib yang mengenaskan. Para pekerja itu dipaksa bekerja 15 jam sehari dan mereka harus keluar Kota Doha. Dalam laporan Independent tersebut, bus akan menjemput para pekerja jam 3 pagi menuju kamp kerja paksa.
What is the #Kafala labour system? Why is #Qatar abolishing it now? Was this system ‘modern-day slavery’?
Take a look at this report with @palkisu pic.twitter.com/2oedLdIkh5— WION (@WIONews) October 18, 2019
Ironisnya, mereka digaji hanya 650 riyal per bulan atau sekitar Rp2,5 juta. Dengan kata lain gaji mereka per hari adalah 7 dolar atau sekitar Rp100 ribu. Dengan jam kerja yang melebihi jam berpuasa di Indonesia, silakan kamu bayangkan sendiri betapa bedebahnya Qatar.
Itu soal hak asasi. Ada juga tuduhan korupsi serius yang dilakukan Qatar dalam olahraga. Orang menyebutnya “pencucian olahraga”. Maka, para anggota yang memiliki saham 50+1 Bayern Munchen itu, melalui Michael Ott menuntut agar para petinggi Bayern Munchen tidak memperpanjang kontraknya dengan Qatar Airways.
Apalagi maskapai penerbangan tersebut didanai 100 persen oleh emirat atau keamiran Qatar. Penggemar pun mendesak agar klub berhenti memberikan bantuan pada Qatar.
https://youtu.be/ceXji-83w-s
Sumber referensi: TheWeek, BavarianFootballWorks, Focus, TifoFootball


