Joao Felix Sequeira, berhasil menyumbangkan satu gol Atletico Madrid ketika bermain seri 1-1 menjamu MU di babak 16 besar Champions League. Gol ini seakan menandakan kembalinya performa sang wonderkid asal Portugal itu yang sempat turun.
Pasalnya, performa Joao Felix sejak kedatangannya di Atletico Madrid, tak cukup mentereng. Meskipun Joao Felix sebetulnya digadang-gadang sebagai calon mega bintang masa depan dengan nilai transfer yang fantastis.
Daftar Isi
Profil Singkat Joao Felix
Mengawali karier di akademi muda Porto saat usia 8 tahun, Felix justru mengalami masa-masa sulit di sana. Ia orangnya cenderung mudah homesick dan sering ingin pulang ke rumah bertemu ibunya.
Sampai pada tahun 2014 di Porto, akhirnya petaka mulai datang. Ia tidak diperpanjang Porto karena dianggap tidak berkembang dan secara postur dianggap terlalu ringkih dan pendek.
Young João Félix during his time at FC Porto.
He was released by Porto in 2014 because of his slight frame. pic.twitter.com/gbIEAtWTH5
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) January 18, 2021
Joao Felix pun dipinjamkan ke Padroense. Ia bersama klub itu selama satu tahun sebelum akhirnya bergabung ke Benfica pada tahun 2015. Ia memulai debutnya bersama klub Benfica B di tahun 2016.
Dalam waktu singkat, Felix mulai menemukan kepercayaan diri dan berhasil mendapatkan perhatian. Akhirnya, Felix menjalani debut seniornya di Benfica pada tahun 2018, tepat saat usianya masih 18 tahun. Dia muncul sebagai salah satu pencetak gol terbanyak klub dengan 15 gol di Liga Portugal.
João Félix:
✅youngest player to debut for Benfica B
✅youngest player to score for Benfica B
✅youngest ever player to score a hat-trick in the UEFA Europa League
✅youngest player to score in the Lisbon derby
Pure talent. pic.twitter.com/rbKeeBAVBE
— Football Talent Scout – Jacek Kulig (@FTalentScout) August 7, 2020
Datang Ke Atletico Madrid
Dengan performa apik pemuda 18 tahun itu di Benfica membuat banyak klub langsung berminat kepadanya di bursa transfer musim panas 2019/20. Akan tetapi, Atletico Madrid yang dilatih Diego Simeone menjadi yang terdepan menginginkan wonderkid Portugal itu. Bahkan Atletico berani menawarnya dengan harga 127 juta pounds atau Rp 2 triliun untuk seorang wonderkid.
🤔 ¿Cómo calificas el fichaje de Joao Félix por el Atlético?
💰 127’2 millones de euros pic.twitter.com/hCPioKZBWZ— Diario AS (@diarioas) July 4, 2019
Alhasil kesepakatan pun terjadi antara kedua pihak. Atletico Madrid sepakat membayar 127 juta pounds pun untuk Joao Felix. Hal itu membuatnya sebagai pemain termahal. Nilai transfer itu bahkan melebihi Cristiano Ronaldo.
Dengan harga yang mahal, ekspektasi publik terhadap Felix pun tinggi. Ia harus mampu jadi juru dobrak Atletico.
Benar saja, Felix menghidupkan harapan para suporter Atletico di hari-hari pertamanya termasuk pra musim. Meskipun di debut awal liga melawan Numancia, ia sempat mengalami gangguan cedera pada kakinya.
Joao Felix’s Atletico Madrid debut lasted just 28 minutes after he was forced to limp off with a hip injury 🤕 pic.twitter.com/eXKzbAvxVV
— GOAL (@goal) July 20, 2019
Setelah menggebrak di awal kedatangannya, Joao Felix justru kerap diterpa cedera. Mulai dari cedera pergelangan kaki sampai otot lutut.
Sering Cedera
Cedera yang menimpa Felix membuatnya absen di beberapa laga Atletico Madrid. Di musim pertamanya, Felix tercatat dua kali mengalami cedera. Cedera pertama dengan durasi kurang lebih satu bulan, dan cedera kedua dengan durasi dua minggu. Hal tersebut semakin menyulitkan proses adaptasi Felix di Atletico.
Riwayat cederanya juga berlanjut di musim keduanya. Ketika Atletico Madrid mencapai musim terbaiknya menjadi juara La Liga, Felix malah mengalami cedera pada April 2021 ketika melawan Real Betis.
Joao Felix suffers injury blow as Atletico Madrid draw with Real Betis https://t.co/nlkvVWliJJ
— Football España (@footballespana_) April 11, 2021
Felix kembali menjalani pemeriksaan dan harus absen dua pekan lamanya. Sebelumnya, Felix juga sempat mengalami sedikit masalah sekembalinya dari menjalani tugas internasional bersama Portugal sehingga ia tidak bisa fit tepat waktu.
Menjelang musim 2021/22 bergulir, Joao Felix malah harus menjalani operasi untuk mengurangi rasa sakit. Ia pun melewatkan pertandingan pra-musim Atletico, hingga pekan-pekan awal La Liga.
Kurang Cocok Dengan Tipe Sepakbola Simeone
Selain berurusan dengan masalah cedera, karier Joao Felix di Atletico dipengaruhi oleh keadaan klub saat itu. Dari faktor permainan, Simeone masih terlihat karakter kuat bertahannya dengan mengoptimalkan seluruh pemain secara fisik untuk siap bertahan ketika dikurung lawan.
Diego Simeone is the king of defending 🤴
And his team currently have the best defensive record in the club’s history.
They’ve conceded just 9 goals in 23 games 👏 https://t.co/S5HYnYPLNe pic.twitter.com/hyaRWVWtJV
— MARCA in English (@MARCAinENGLISH) February 11, 2018
Hal ini mau tidak mau harus diterima seorang wonderkid lincah yang bertipe menyerang seperti Joao Felix. Ia berubah perannya tidak seperti kala bersinar di Benfica. Felix cenderung bertahan, bekerja bersama tim, yang membuat keunggulan skill individunya jarang terlihat.
Ketidakcocokan Simeone dan Felix makin kentara karena kontribusi Felix di lini depan juga tidak maksimal. Format 4-4-2 ala Simeone menerapkan strategi compact defense yang tak jarang menuntut untuk melakukan strategi parkir bus ketika bertemu klub besar.
9 defensive players…In their own stadium.Diego Pablo Simeone… pic.twitter.com/TP4IiWs8I4
— Martin (@cerutimartin) February 23, 2022
Hal itu membuat musim pertama Felix di bawah Simeone bisa dikatakan masih meraba-raba, apa yang dimaui pelatih dan potensi apa yang bisa dimanfaatkan dari seorang Felix.
Simeone yang dicap dengan stigma pelatih bertipe bertahan, sepertinya menjadi salah satu faktor yang menghambat kecepatan adaptasi Felix di Atletico. Selain di bawah bayang-bayang pemain depan Atletico lainnya, potensi Felix di Atletico kurang bisa dimanfaatkan oleh sang pelatih. Hal ini berdampak pada karier Felix kedepannya.
Pencapaian Felix Di Atletico Madrid
Penampilan Joao Felix di Atletico Madrid pun cenderung timbul tenggelam. Pada musim 2019/20, Felix hanya mampu mencetak 9 gol dan 3 assist di semua kompetisi yang ia mainkan sebanyak 36 kali. Musim yang boleh dikatakan lumayan, tapi untuk ukuran pemain wonderkid mahal, itu adalah suatu pertanyaan.
Musim keduanya di Atletico, ia mampu tampil lebih mengesankan ketika beberapa pola diubah sang pelatih yang lebih membebaskan ia bergerak “free role” di lapangan. Pada musim itu, ia 10 gol dan 6 assist di semua kompetisi yang ia mainkan sebanyak 40 kali. Felix pun mampu menjadi bagian dari skuad Atletico yang meraih gelar La Liga musim 2020/21.
Memasuki musim 2021/2022, Felix absen di awal liga karena cedera dan baru bermain ketika melawan Barcelona di La Liga pada Oktober 2021. Sampai Februari 2022, Felix masih mencatatkan 5 gol dan 5 assist di semua kompetisi dari total 25 partai yang sudah ia jalani, termasuk terakhir gol Felix di La Liga ketika menang 3-0 atas Osasuna, dan 1 gol melawan MU di Leg pertama 16 besar Champions League.
¡¡¡¡¡VAAAAMOSSSSSS!!!!! JOAAAAAAAAAAAAAAAOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOOO🤩🤩🤩🤩🤩🤩🤩 pic.twitter.com/IB8XrGqA0x
— Atlético de Madrid (@Atleti) February 23, 2022
Secara umum, pencapaian karier Joao Felix terbilang tidak konsisten sebagai wonderkid mahal. Hal itu belum mampu dijawab oleh Joao Felix itu sendiri. Maka, ia seharusnya bisa segera bangkit untuk membuktikan bahwa Atletico tak salah membayarnya dengan harga mahal di usia muda.
https://youtu.be/TnD7w_QqXX4
Sumber Referensi : transfermarket, theanalyst, geeksportsguide, bleacherreport, sportsshow


