Menjadi tim promosi di Premier League musim lalu, Leeds United adalah salah satu tim yang paling dinanti penampilannya. Bukan tanpa sebab. The Whites adalah tim legendaris yang pernah menjuarai Liga Inggris sebanyak 3 kali.
Lebih daripada itu, Leeds United berhasil promosi kembali ke liga kasta tertinggi sepak bola Inggris setelah absen 16 tahun lamanya. Ditambah lagi, gaya bermain yang mereka tampilkan di bawah asuhan Marcelo Bielsa menjadi daya tarik tersendiri yang membuat banyak orang penasaran.
Benar saja, Leeds United langsung naik jadi salah satu kontestan yang diperhitungkan di Premier League musim lalu. Gaya bermain mereka yang ‘out of the box’ menjadi salah satu pemandangan yang selalu berhasil memikat penonton.
Leeds United tercatat sebagai kontestan Premier League yang paling banyak memberi tekanan kepada lawan. Musim lalu, mereka mampu menghasilkan 6661 pressing, di mana 1435 pressing mereka lakukan di area pertahanan lawan. Alhasil, Patrick Bamford dan kolega berhasil melepas 5,2 shots on target per laga dan menghasilkan 62 gol dalam 38 pertandingan.
Tak hanya itu, Leeds United juga tercatat sebagai tim yang paling banyak menghasilkan tekel. Musim lalu, Liam Cooper dkk tercatat melakukan 825 tekel, di mana 493 di antaranya berhasil mereka menangkan.
Performa tersebut membuat The Whites berhasil mengakhiri Liga Inggris musim lalu di peringkat 9. Anak asuh Marcelo Bielsa berhasil mengumpulkan 59 poin, hasil dari 18 kemenangan, 5 kali imbang, dan 15 kali kalah.
Leeds United’s 2020/21 Premier League season by numbers:
◎ Position: 9th
◎ 18 wins
◎ 5 draws
◎ 15 defeats
◎ 62 goals scored
◎ 54 goals conceded
◎ Most goals: Patrick Bamford (17)
◎ Most assists: Raphinha (9)Looking to build on an impressive 2020/21 season. pic.twitter.com/aDKzUEDsmR
— Squawka Football (@Squawka) August 4, 2021
Tiga Kali Dibantai, Apa yang Salah dengan Leeds United Musim Ini?
Sayangnya, penampilan apik musim lalu gagal ditampilkan Leeds United di musim ini. Hingga pekan ke-18, The Whites sudah menelan 8 kekalahan dan baru meraih 3 kemenangan. Kemenangan itupun hanya mereka raih dari tim-tim sekelas Watford, Norwich City, dan Crystal Palace.
Lebih parah lagi, anak asuh Marcelo Bielsa tercatat sudah 3 kali menelan kekalahan memalukan. Di pekan pertama saja, mereka langsung dibantai Manchester United dengan skor telak 1-5. Yang lebih parah lagi, Leeds United dibantai Manchester City 0-7 di pekan ke-17. Hasil tersebut menjadi kekalahan terbesar Marcelo Bielsa dan Leeds United dalam sejarah klub.
“Tidak ada hal positif yang bisa diambil dari penampilan kami. Saya tidak dapat menemukan apa pun yang dapat dihargai. Ketika tidak ada yang dilakukan dengan baik, bukan individu yang gagal, tetapi organisasi. Tidak ada pembenaran yang dapat saya tawarkan,” kata Marcelo Bielsa dikutip dari SportingNews.
🎙 Post match reaction from Marcelo Bielsa pic.twitter.com/AZaTLWI1jx
— Leeds United (@LUFC) December 14, 2021
Terbaru, Leeds United kembali dibantai di pekan ke-18. Kali ini giliran Arsenal yang mempermalukan The Whites dengan skor telak 1-4. Hasil buruk yang didapat Leeds United hingga paruh musim 2021/2022 ini memunculkan pertanyaan besar. Apa yang salah dengan Leeds United dan Marcelo Bielsa di musim ini?
Ada anggapan bahwa taktik Marcelo Bielsa sudah mulai terbaca oleh lawan. Para pesaing mereka di Premier League mulai terbiasa dan dapat beradaptasi dengan taktik “El Loco”, sehingga hal tersebut membuat Leeds United sulit meraih kemenangan.
Jika berkaca dari raihan tim-tim promosi Liga Inggris yang terdegradasi di musim-musim sebelumnya, maka hal tersebut sebetulnya cukup masuk akal. Leeds United bisa jadi tengah menderita ‘sindrom musim kedua’. Istilah tersebut disematkan kepada klub promosi yang tampil buruk di musim keduanya setelah tampil bagus di musim pertama pasca naik kasta. Musim lalu, ada Sheffield United yang terdegradasi di musim kedua setelah di musim pertamanya pasca promosi berhasil finish di peringkat 9.
Dampak Negatif Gaya Taktik Marcelo Bielsa di Leeds United
Namun, masalah Leeds United yang paling mencolok adalah cedera yang menggerogoti skuad mereka dari pekan ke pekan. Akibat badai cedera yang datang silih berganti, sepanjang musim ini Marcelo Bielsa terhitung jarang memainkan skuad terbaiknya di tiap pekannya.
Masalah tersebut disinyalir sebagai efek negatif dari gaya main yang diterapkan ‘El Loco’. Sudah bukan rahasia lagi bahwa Bielsa selalu menuntut anak asuhnya untuk menerapkan pressing dengan intensitas tinggi sepanjang 90 menit. Hal tersebut tentu dibarengi dengan menu dan porsi latihan yang berat, sehingga muncullah masalah cedera yang kini menggerogoti skuad Leeds United.
Mengutip dari Fotmob, saat ini saja ada sekitar 10 pemain yang sedang berkutat dengan cedera. Mereka adalah Pascal Struijk, Charlie Cresswell, Kalvin Phillips, Rodrigo, Patrick Bamford, Daniel James, Jack Harrison, Liam Cooper, Diego Llorente, dan Jamie Shackleton. Jumlah tersebut belum termasuk mereka yang harus menepi karena tengah menjalani karantina pasca terkonfirmasi positif Covid-19 hingga membuat laga Leeds United vs Liverpool dan Aston Villa di pekan ke-19 dan 20 harus ditunda.
BREAKING: The Boxing Day fixture between Liverpool and Leeds United has been postponed due to a number of positive tests in the Leeds squad ⚠️ pic.twitter.com/kK7LNAXBJd
— 433 (@433) December 23, 2021
Khusus untuk Patrick Bamford, ia sudah banyak absen karena cedera engkel dan kini sedang bertarung dengan masalah hamstring. Kehilangan Bamford di lini depan juga jadi salah satu masalah terbesar Bielsa. Pasalnya, striker 28 tahun itu adalah top skor Leeds United musim lalu.
Bamford mampu menghasilkan 17 gol dan 8 asis di 38 penampilannya di musim lalu. Sementara di musim ini, akibat cedera yang ia derita, Bamford baru tampil sebanyak 6 kali di Premier League. Alhasil, ia baru mengemas 2 gol dan 2 asis.
Sayangnya, selama Bamford absen, Marcelo Bielsa tak punya pengganti sepadan di lini depan. Performa Rodrigo, Tyler Roberts, dan Joe Gelhardt sangat tidak meyakinkan. Bahkan jumlah gol yang dihasilkan masing-masing pemain tersebut tak lebih banyak dari Patrick Bamford.
Sumbangan gol terbanyak justru datang dari seorang Raphinha yang berposisi murni sebagai winger kanan. Pemain Brasil berusia 25 tahun itu tercatat sudah mengemas 8 gol di Premier League. Minimnya kontribusi gol dari lini depan The Whites membuat anak asuh Marcelo Bielsa baru menghasilkan 18 gol dari 18 pertandingan Premier League musim ini.
Lini depan bukan jadi satu-satunya masalah Leeds United musim ini. Lebih daripada itu, lini belakang mereka terbilang sangat rapuh. The Whites baru mencatat 3 kali clean sheet dan tercatat sudah kebobolan 36 gol hanya dalam 18 pertandingan. Bahkan dalam 3 laga terakhirnya, gawang Ilan Meslier sudah kebobolan 14 kali. Catatan tersebut menjadikan Leeds United sebagai tim non-zona degradasi dengan jumlah kebobolan terbanyak.
Lagi-lagi, untuk masalah tersebut, kritik kembali diarahkan kepada Marcelo Bielsa. Taktik Bielsa di Leeds United bisa dibilang sebagai “high risk-high reward”. Gaya main mereka yang sangat menekan dengan intensitas tinggi memang bisa menghasilkan banyak variasi serangan. Namun, di sisi lain, hal tersebut bisa berujung fatal karena membuat lini belakang mereka menjadi sangat terbuka dan akhirnya mudah ditembus lawan.
According to reports, Kalvin Phillips could be out for around 3 months & Patrick Bamford is set another spell on the sidelines after injuring his hamstring.
Two major blows for Leeds 😳#LUFC pic.twitter.com/YbBzRphRrL
— Oddschanger (@Oddschanger) December 8, 2021
Leeds United Butuh Amunisi Baru yang Lebih Meyakinkan!
Di luar masalah teknis tersebut, hal yang membuat performa Leeds United menurun musim ini adalah aktivitas transfer mereka di bursa transfer musim panas kemarin yang bisa dibilang kurang berhasil. The Whites tercatat membeli 4 pemain baru, yakni Daniel James, Junior Firpo, Jack Harrison, dan Kristoffer Klaesson yang menelan biaya hingga nyaris 60 juta euro.
Sayangnya, rekrutan anyar Leeds United gagal tampil sesuai ekspektasi. Jack Harrison yang berposisi sebagai winger baru menyumbang 1 asis dalam 15 penampilan. Setali tiga uang, Daniel James yang punya posisi serupa juga baru menyumbang 1 gol dan 2 asis dalam 16 penampilan. Sementara Junior Firpo yang menggantikan posisi Ezgjan Alioski yang hengkang di awal musim tampil inkonsisten dan tercatat baru mengemas 12 penampilan di Premier League musim ini.
Bagaimanapun, Leeds United sebaiknya segera membeli pemain baru di bursa transfer mendatang untuk menambal skuad mereka yang rawan cedera dan tampil inkonsisten. Jika dilihat dari masalahnya, The Whites butuh striker baru dan bek baru yang mumpuni.
Namun, sejauh ini, belum ada bek yang dikaitkan jadi incaran Leeds United. Sementara di posisi penyerang, bomber milik Reading FC, John Swift santer dikabarkan jadi target utama The Whites. Penyerang 26 tahun itu tercatat sudah mencetak 8 gol dan 9 asis di EFL Championship musim ini. Belakangan, Leeds juga dikaitkan dengan Eddie Nketiah yang santer dikabarkan akan segera meninggalkan Arsenal.
Selain penyerang, Marcelo Bielsa juga dikabarkan mengincar seorang gelandang baru. Hal tersebut tak lepas dari absennya Kalvin Phillips yang diperkirakan baru bisa merumput kembali pada bulan Februari 2022. Selain itu, masa depan Phillips di Elland Road juga diragukan setelah ia menjadi incaran beberapa klub besar Eropa.
Oleh karena itu, Leeds United dikaitkan dengan beberapa figur, seperti Aaron Ramsey, Ross Barkley, hingga Lewis O’Brien dari Huddersfield Town. Meski punya beberapa target incaran dan Victor Orta sebagai direktur olahraga, tetapi keputusan akhir soal transfer tergantung keputusan Marcelo Bielsa yang terkenal cukup keras kepala soal urusan transfer pemain.
🚨 Leeds United will have decided not to continue with Marcelo Bielsa in charge of coaching next season, advances the ‘Football Insider’.
The 66-year-old coach has been at the helm of the Whites since 2018 and was responsible for their promotion to the Premier League in the 19-20 pic.twitter.com/2uWOECLrQd— World of Football (@Infogenuino) December 21, 2021
Namun, terlepas dari hal tersebut, Bielsa memang butuh pemain terbaik dengan kondisi fit untuk menjalankan taktiknya. Ini adalah kali pertama proyek Marcelo Bielsa di Leeds United mulai dipertanyakan, bahkan ada rumor yang menyebut bahwa dirinya terancam dipecat. Sebab, kini posisi Leeds United di papan klasemen terus merosot hingga tertahan di peringkat 16 Premier League musim ini. Bila terus dalam performa yang demikian, bukan tidak mungkin The Whites bisa makin terancam degradasi.
***
Sumber Referensi: The Guardian, SportingNews, Replubika, Leeds Live, FBRef, Givemesport.


