Babak final Piala AFF 2020 akan mempertemukan Thailand Vs Indonesia di Stadion Nasional Singapura, Rabu (29/12) dan Sabtu (1/1/ 2022). Indonesia lolos ke final setelah mengalahkan Singapura dengan agregat 5-3. Sementara Thailand memastikan lolos setelah mengalahkan Vietnam dengan skor 2-0.
Selama melakoni pentas antar timnas se-Asia Tenggara, baik Thailand maupun Indonesia sama-sama berstatus tim produktif. Tim Gajah Perang menyapu bersih seluruh pertandingan di Grup A dengan melibas Timor Lester (2-0), Myanmar (4-0), Filipina (2-1), dan Singapura (2-0). Sedangkan Timnas Garuda meraih 10 poin setelah mengandaskan Kamboja (4-2), Laos (5-1), dan Malaysia (4-1), serta imbang atas Vietnam (0-0).
Soal statistik, Thailand lebih diunggulkan setelah meraih empat kali kemenangan di fase grup. Sementara Indonesia hanya meraih tiga kemenangan dan satu hasil imbang.
Namun berbicara produktivitas gol, Timnas Garuda unggul karena telah mencetak 13 gol berbanding 10 yang dibukukan Thailand di fase grup. Jika ditambah hasil semifinal, anak asuhan Shin Tae Yong telah mengemas 18 gol, dan lawannya baru 12 gol.
Keunggulan produktivitas tergambar dalam conversion rate Indonesia di angka 22,50% dan Thailand hanya 16.70%. Angka itu menggambarkan dari 37 kali percobaan, Indonesia mampu mencetak gol lebih banyak ketimbang 39 peluang yang dimiliki Thailand.
Adu kekuatan menyerang dan bertahan kedua tim yang tersaji dalam statistik sangat mentereng. Indonesia unggul dalam produktivitas gol sedangkan Thailand baru kebobolan 1 gol saat menghadapi Filipina
Kekuatan bertahan Tim Gajah Perang unggul dari Tim Garuda. Jumlah clean sheet Thailand sebanyak 5 kali dan didukung kemampuan pemain bertahan yang berhasil memenangi tekel sebanyak 51 kali dan memenangi duel di area pertahanan sebanyak 319 kali.
Jantung pertahanan Thailand dijaga oleh Manuel Bihr dan Kritsada Kaman. Sementara pertahanan Fachrudin dan Rizki Ridho hanya unggul keberhasilan tekel sebanyak 71 kali dan memenangkan duel 299 kali.
Dari situ, yang perlu dilakukan anak asuh Shin Tae-yong dalam mendobrak pertahanan Thailand adalah dengan mengganggu bangunan serangan awal. Konfigurasinya, 5 pemain depan melakukan block press dengan mengikuti arah bola. Sehingga build up akan menggunakan long pass maupun bypass ke depan.
Penerapan block press kepada pertahanan Thailand juga perlu diperhatikan agar tidak berujung senjata makan tuan. Kemampuan pemain belakang dan tengah Thailand seperti Theerathon Bunmathan, Kritsada Kaman dan Sarach Yooyen dalam mengeliminasi block press dengan sirkulasi dan pergerakan tanpa bola tak bisa dianggap sebelah mata.
Kuncinya, block press yang diterapkan Asnawi dan kolega harus dibarengi dengan layer kedua untuk merebut bola saat dieliminasi lawan, atau disebut trap press.
Thailand Unggul Penguasaan Bola
Pada lagi final nanti Thailand merupakan tim yang mampu mengalirkan bola dengan ciamik dan tembakan akurat. Hanya butuh enam pertandingan untuk mengemas 2.915 umpan. Sarach Yooyen, Theerathon Bunmathan, Phitiwat Sukjitthammakul, Thanawat Suengchitthawon, Teerasil Dangda menjadi aktornya.
Pasalnya, penguasaan bola melalui umpan kaki ke kaki menjadi cara untuk merusak bentuk pertahanan lawan. Kemampuan olah bola dibarengi dengan insting pergerakan bola. Contohnya, aliran passing dari dan ke Chanatip Songkrasin untuk mengelabui gelandang tengah dan bek Vietnam sebelum mencetak gol.
“Kami ingin menguasai permain dengan mengalirkan bola ke setiap pemain. Bertahan dengan dua bek dan menggunakan wing back untuk melakukan umpan silang atau cut back,” ujar Alexander Polking dalam wawancara via kanal Youtube Chuangsek.
Pelatih berkebangsaan Brazil-Jerman ini sadar betul bahwa pemain-pemain yang ia bawa ke gelaran Piala AFF memiliki kemampuan itu.
Misalnya, dalam kemampuan akurasi tendangan Tim Gajah Perang unggul atas Tim Garuda. Dilansir lapanganbola.com, Terasil Dangda dan kolega telah mengemas 39 shot on goal dalam enam pertandingan, unggul lima atas Asnawi dkk yang mengemas 34 shot on goal.
Thailand juga memiliki rata-rata penguasaan bola mencapai 65 persen di Piala AFF 2020. Itu pun lebih baik dari Timnas Indonesia yang memiliki 54,17 persen dalam urusan penguasaan bola.
Meminimalisir 3 Kelemahan Indonesia
Salah satu kunci memenangkan laga final, Indonesia harus mampu meminimalisir tiga kelemahan. Yang pertama adalah soal situasi bola mati. Set piece menjadi kelemahan anak asuh Shin Tae Yong.
Selama ini, taktik Shin Tae Yong saat menghadapi set piece adalah menggunakan zonal marking. Cara ini dipakai untuk mempertahankan zona masing-masing terhadap pemain lawan yang akan melakukan ekspos. Keunggulan bertahan zonal marking saat set piece unggul jumlah pemain di area pertahanan
Namun pemain yang menerapkan strategi ini tidak hanya ball watching-an sich. Melakukan komunikasi dan cek bahu (scanning) agar pemain lawan yang akan melakukan ekspos di kotak penalti sudah dikunci.
Contoh teranyar saat Singapura menyamakan kedudukan 1-1 di akhir babak pertama semifinal leg ke 2. Set piece yang dilakukan oleh pemain Singapura hanya direspon dengan taktik zonal marking dan ball watching tanpa melakukan scanning terhadap pemain yang berada di kotak penalti. Akibatnya, bola liar mampu disambar oleh Song Ui-young. Skema gol lainnya terjadi saat Indonesia ditahan imbang oleh Thailand 2-2 pada kualifikasi Piala Dunia 2022
Kelemahan Indonesia juga terletak saat mendapat bola ingin segera dialirkan ke depan. Idealnya, pemain juga perlu mengetahui pemosisian bertahan (defensive shape) tim lawan. Jika bek lawan berjumlah banyak, baiknya bola disirkulasi terlebih dahulu agar tidak terburu-buru memasukkan bola ke kotak penalti.
Hal ini sering jadi penyebab banyak melakukan lari akibat transisi atau merebut kembali karena kehilangan bola.
Contohnya, menit ke-15 Malaysia berhasil mencetak gol lewat Kogileswaran yang melepaskan tendangan keras dari luar kotak penalti timnas Indonesia.
Kogileswaran sukses mendapatkan umpan salah bola dari pemain timnas Indonesia, Irfan Jaya. Pemain kelahiran Bantaeng itu langsung melepaskan tendangan keras dan tidak bisa diantisipasi kiper timnas Indonesia, Nadeo Argawinata.
Pada proses gol, Irfan Jaya menginginkan bola segera dialirkan ke depan. Terlihat pada klip video, posisi winger PSS Sleman itu tidak mendapatkan tekanan dari tiga pemain yang berada di sekitarnya. Pada saat bersamaan, terdapat tujuh pemain timnas di kotak penalti untuk alternatif sirkulasi bola terlebih dahulu.
🔄 Just put it on repeat!
😱 Kogileswaran Raj with a sensational strike to open the scoring!#AFFSuzukiCup2020 | #RivalriesNeverDie | #MASvIDN pic.twitter.com/I2mggCIIrK
— AFF Suzuki Cup (@affsuzukicup) December 19, 2021
Kelemahan ketiga, rest defence berupa Bentuk pertahanan saat tim melakukan serangan. Taktik ini dipakai menjaga pertahanan saat tim menyerang agar tidak terkena serangan balik. Idealnya rest defence 1v1 alias pemain lawan untuk melakukan cover dan tidak boleh menang jumlah saat melakukan counter attack.
Excellent movement by Ikhsan, and a superb finish 👌#AFFSuzukiCup2020 | #RivalriesNeverDie | #SGPvIDN pic.twitter.com/VJvweKlmAm
— AFF Suzuki Cup (@affsuzukicup) December 22, 2021
Rest defence yang buruk menyebabkan Indonesia kebobolan dalam pertandingan melawan Singapura pada semifinal leg 1 Piala AFF. Dewangga sebagai pemain terakhir tidak mendapatkan opsi untuk melakukan umpan dekat. Usahanya untuk melakukan bypass ke Asnawi diantisipasi lawan. Bentuk pertahanan 3v2 menjadikan rest defence tidak ideal. Keleluasan Faris Ramli melakukan umpan datar melewati Fachrudin dapat dikonversi Ikhsan Fandi menjadi gol.
Well, partai final malam nanti bisa jadi sajian menarik bagi penikmat bola di Asia Tenggara.
Referensi : Ruang Taktik, AFF Suzuki Stat, Lapanganbola.com, Transfermarkt, Random Tactic


