Menggila di Hellas Verona, Pembuktian Giovanni Simeone

spot_img

Hidup di bawah bayang-bayang nama besar dan prestasi orang tua itu tidaklah mudah. Prestasi dan pencapaian hidup seolah terus dibanding-bandingkan. Di dunia sepak bola, fenomena semacam itu juga sudah sangat lazim.

Sudah banyak anak para pesepakbola yang mengikuti jejak sang ayah. Salah satu yang kini tengah banyak dibicarakan adalah Giovanni Simeone. Dari nama belakangnya kita sudah tahu bahwa dia adalah anak dari pelatih Atletico Madrid, Diego Simeone.

Beda Nasib Diego Simeone dan Giovanni Simeone

Giovanni merasakan betul bagaimana rasanya hidup di bawah nama besar sang ayah. Orang-orang kerap kali membandingkan dirinya dengan sang ayah. Apalagi, kariernya di sepak bola belum sementereng sang ayah, baik di level klub maupun tim nasional.

Semasa bermain, Diego Simeone banyak malang melintang di klub besar Eropa. Sebagai gelandang top dunia di masanya, Diego pernah jadi pemain andalan di Sevilla, Atletico Madrid, Inter Milan, dan Lazio. Sementara di level internasional, ia adalah salah satu gelandang andalan timnas Argentina di era 1988 hingga 2002.

Total 108 caps dan 11 gol berhasil Diego Simeone catat bersama timnas Argentina. Selama berseragam Albiceleste, ia berhasil memenangkan Copa America 1991 dan 1993, serta meraih medali perak Olimpiade 1996. Diego juga pernah tampil di 3 Piala Dunia bersama Argentina.

Sementara itu, pencapaian sang anak di timnas Argentina masih sangat jauh bila dibandingkan dengan sang ayah. Jangankan jadi andalan, untuk menembus Tim Tango saja Giovanni Simeone masih kesulitan. Sejauh ini, ia baru mengemas 5 caps dan 1 gol bersama timnas Argentina.

Bisa dimaklumi, sebab Giovanni punya jalan kariernya sendiri yang sangat berbeda dengan sang ayah. Sejauh ini, ia masih berkutat di tim-tim medioker dan alih-alih menjadi seorang gelandang jempolan seperti ayahnya, Giovanni lebih memilih menjadi seorang striker.

Giovanni Simeone dan Sindrom Musim Kedua

Giovanni Pablo Simeone Baldini mulai meniti kariernya di sepak bola dengan bergabung ke akademi River Plate pada tahun 2008. Baru pada tahun 2013, ia dipanggil ke tim utama. Namun, dirinya terbilang gagal hingga sempat dipinjamkan ke Banfield di musim 2015 dan 2016.

Meski begitu, di musim 2016/2017, Giovanni Simeone berhasil menembus sepak bola Eropa. Saat itu, ia dijual ke klub Serie A Italia, Genoa dengan harga 3 juta euro. Di musim pertamanya bersama Il Grifone, Giovanni tampil lumayan dengan catatan 13 gol dalam 36 pertandingan. Salah satu penampilan terbaiknya adalah saat mencetak 2 gol ke gawang Juventus di pekan ke-14.

Penampilan tersebut berhasil memikat klub-klub Eropa lainnya. Di tengah ketertarikan beberapa klub top Eropa, termasuk Atletico Madrid yang dilatih sendiri oleh ayahnya, Giovanni lebih memilih berlabuh ke Fiorentina di musim panas 2017 setelah La Viola menebusnya dengan harga 17 juta euro.

Bersama Fiorentina, Giovanni berhasil mencetak hattrick pertamanya saat membantu La Viola menang 3-0 atas Napoli di pekan ke-35. Di musim tersebut, ia berhasil mencetak 14 gol dan 4 asis dalam 38 penampilannya di Serie A. Sayang, di musim keduanya, penampilan Giovanni mengalami penurunan. Ia hanya sanggup mencetak 6 gol dan 3 asis dalam 36 pertandingan Serie A.

Akibat penurunan performa tersebut, Giovanni kemudian dilepas ke Cagliari di musim 2019/2020 dengan status pemain pinjaman. Di musim pertamanya membela Cagliari, ia mampu mencetak 12 gol dan 4 asis dalam 37 pertandingan Serie A.

Penampilan lumayan itu membuat Cagliari mempermanenkan Giovanni Simeone setelah menebusnya dari Fiorentina dengan harga 13 juta euro. Namun, kisah lama terulang kembali. Bak terkena sindrom musim kedua, penampilannya menurun di musim berikutnya. Ia hanya sanggup mencetak 6 gol dan 2 asis dalam 33 laga Serie A musim lalu.

Menggila di Hellas Verona, Giovanni Tak Mau Tiru Ayahnya

Musim ini, Giovanni Simeone dilepas Cagliari ke Hellas Verona sebagai pemain pinjaman. Sepertinya, peruntungan anak Diego Simeone itu ada di kota Verona. Datang ke Hellas Verona saat usianya sudah 26 tahun, Giovanni langsung cocok dengan skema serangan klub barunya yang musim ini ditangani Igor Tudor.

Giovanni mencetak gol pertamanya untuk Hellas Verona di pekan ke-6 Serie A saat melawan klub lamanya, Genoa. Namun, penampilan terbaiknya adalah saat mencetak 4 gol ke gawang Lazio di pekan ke-9 Serie A. Di pertandingan yang berakhir dengan skor 4-1 itu, ia mencetak seluruh gol kemenangan Hellas Verona dan terpilih sebagai Man of The Match.

Tak cukup sampai disitu, Giovanni kembali menggila saat Hellas Verona memberi Juventus kekalahan di pekan ke-11 Serie A. Di laga tersebut, Giovanni lagi-lagi mencetak seluruh gol kemenangan Hellas Verona yang sukses menundukkan Juventus dengan skor 2-1. Sepertinya, Juve adalah lawan favorit Giovanni. Sebab, 2 gol tersebut merupakan brace keduanya ke gawang Juventus sepanjang kariernya.

Kini, hingga paruh pertama Serie A musim ini, Giovanni Simeone telah mencetak 12 gol dan 3 asis dalam 18 pertandingan. Catatan tersebut menempatkannya di posisi tangga ketiga sebagai pencetak gol terbanyak Serie A musim ini.

Penampilan apiknya musim ini seperti menjadi sebuah pembuktian dari seorang Giovanni Simeone yang tentu saja ingin lepas dari bayang-bayang sang ayah. Berkat penampilan itu pula, Giovanni berulang kali dipuji oleh Diego Simeone yang menganggap bahwa penampilan sang anak di Hellas Verona adalah yang terbaik sepanjang kariernya.

“Dia menulis kepada saya bahwa saya memainkan permainan terbaik dalam karier saya. Saya belum pernah melihat Anda seperti ini. Di luar gol, Anda tidak kehilangan bola dan Anda selalu membantu rekan satu tim Anda,” kata Giovanni dikutip dari DailyMail.

Giovanni Simeone memang punya jalan karier yang unik. Meski ia adalah anak dari Diego Simeone, tetapi Giovanni bukanlah jelmaan sang ayah ketika bermain di atas lapangan. Dari segi pemainan, keduanya jauh berbeda dan untuk hal tersebut Giovanni menolak meniru ayahnya.

“Dia berkata: ‘Kamu sangat kuat, tetapi kamu harus lebih nakal.’ Aku tidak seperti itu. Saya bertarung dengan kejujuran dan rasa hormat dan saya dihormati. Tapi saya tidak tertarik menjadi buruk dalam artian itu. Saya bisa bereaksi, tidak pernah memprovokasi,” kata Giovanni dikutip dari DailyMail.

Meski begitu, Giovanni tetap mengidolakan Diego Simeone dan sepertinya ia juga mewarisi determinasi dan etos kerja sang ayah. Giovanni Simeone adalah sosok yang keras dan tak mudah menyerah. Ia selalu rutin berlatih hingga nyaris tak punya waktu libur.

Selain itu, Giovanni juga rutin melakukan meditasi, khususnya ketika ia sedang gugup demi menjaga fokusnya. Ia juga mengidolakan sosok Rocky Balbao yang menjadi salah satu sumber inspirasinya.
“Ada ungkapan dari Rocky yang selalu saya pikirkan: bahwa hidup sering kali membuat Anda berlutut dan tidak peduli berapa banyak Anda dipukul, yang terpenting adalah berapa kali Anda bangun,” kata Giovanni dikutip dari DailyMail.

Menggila di Hellas Verona, Giovanni Simeone Diminati Banyak Klub

Kini, berkat penampilan apiknya di Hellas Verona, nama Giovanni Simeone juga jadi salah satu komoditi panas di bursa transfer mendatang. Bagaimana tidak, dibanding musim lalu, performanya memang meningkat drastis.

Dengan nilai angka harapan gol (xG) hanya 5,1 Giovanni berhasil mencetak 12 gol dalam 18 pertandingan Serie A, di mana 8 golnya berasal dari kaki kanannya, 1 gol dari kaki kirinya, dan 3 gol dari sundulan kepalanya. Selain itu, ia juga cerdik menempatkan posisi dan rajin memberi tekanan kepada bek lawan.

Performa itulah yang membuat beberapa klub dirumorkan tertarik untuk mendatangkan Giovanni Simeone. Namun, peluang Hellas Verona untuk mempermanenkan Giovanni maih jauh lebih besar. Sebab, Verona yang meminjam Giovanni dari Cagliari punya opsi beli seharga 10,2 juta poundsterling.

Akan tetapi, hal tersebut tak membuat dua klub Premier League, yakni West Ham United dan Everton menarik ketertarikannya untuk mendatangkan Giovanni Simeone di bursa transfer mendatang. Mengutip dari transfermarkt, nilai pasar Giovanni ada di angka 11 juta euro. Selain mereka, dua klub Laliga, yakni Sevilla dan Atletico Madrid juga dikabarkan kembali meminati jasa Giovanni Simeone.

Yang pasti, performa gilanya di Hellas Verona sudah membuat Giovanni Simeone semakin dekat dengan impiannya, yakni tampil dan mencetak gol di Liga Champions Eropa. Sejak usianya baru 13 tahun, Giovanni sudah memiliki tato bergambar logo Liga Champions. Meski tindakan tersebut sebenarnya dilarang kedua orang tuanya, tetapi tekad Giovanni sudah bulat.

“Saya berusia 13 tahun ketika saya mendapatkan tato pertama saya. Ayah saya tidak menginginkannya. Dan ibuku berkata: “Mengapa?”. Saya berkata: “Karena pada hari saya bermain dan mendapatkan gol pertama saya di Liga Champions… maka saya akan mencium tato itu,” kata Giovanni kepada Guardian dikutip dari DailyMail.


***
Sumber Referensi: The Flanker, Republika, DailyMail, Transfermarkt, Hammers, Sportscafe.

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru