La Liga punya “El Classico”, Serie A punya “Derby d’Italia”, Bundesliga punya “Der Klassiker”, Premier League punya “North-West Derby”. Sementara di Ligue 1, mereka punya “Le Classique”. Dibanding derby lainnya, derby terpanas di Prancis itu adalah yang paling brutal di lima liga top Eropa.
Daftar Isi
“Le Classique” Edisi ke-101: Diwarnai 1 Kartu Merah dan Sempat 2 Kali Dihentikan
Seperti yang terjadi baru-baru ini. Le Classique, laga derby yang mempertemukan Olympique de Marseille dan Paris Saint-Germain kembali berlangsung dengan tensi panas. PSG bertandang ke markas Marseille dalam lanjutan pekan ke-11 Liga Prancis yang berlangsung pada Senin, 25 Oktober dini hari WIB.
Laga tersebut memang berakhir sama kuat 0-0, tetapi sebetulnya laga derby terpanas di Prancis itu berlangsung tak sedamai itu. Wasit tercatat mengeluarkan satu kartu merah di menit ke-57. Adalah Achraf Hakimi yang diusir keluar lapangan setelah kedapatan menjatuhkan Cengiz Under tepat di depan kotak penalti.
Laga Marseille vs PSG itu juga sempat 2 kali dihentikan wasit. Di menit ke-27, laga dihentikan sekitar 3 menit setelah terjadi kerusuhan di sebuah sudut Stade Velodrome. Para penonton kedapatan merusak panel pelindung hingga beberapa kali melempar botol ke lapangan. Sementara di menit ke-77, seorang fans menerobos masuk ke dalam lapangan dan mencoba mengejar Lionel Messi.
— 433 (@433) October 24, 2021
Le Classique edisi ke-101 ini memang berjalan dengan tensi panas. Apalagi kedua tim sebetulnya sempat sama-sama mencetak 1 gol. Sayangnya, kedua gol tersebut dianulir VAR. Pemandangan menegangkan juga terlihat kala Neymar hendak mengambil sepakan pojok. Ia sampai harus dijaga polisi bertameng setelah para suporter tak henti-hentinya melempar botol ke dalam lapangan.
❌👮♂️ pic.twitter.com/nM0WaXH3mV
— 433 (@433) October 24, 2021
Hujan Kartu Merah dan Tawuran Antarpemain di Le Classique Musim 2020
Namun, kerusuhan di laga tersebut masih kalah bila dibanding dengan kebrutalan Le Classique musim lalu, tepatnya di pekan kedua Ligue 1 musim 2020/2021. Duel PSG vs Marseille yang berlangsung di Parc des Princes itu berlangsung panas dan sempat diwarnai tawuran antarpemain hingga laga harus diakhiri di menit ke-90+9.
Di babak pertama, wasit sudah sibuk mengeluarkan 5 kartu kuning, 3 untuk pemain Marseille dan 2 untuk pemain PSG. Tensi di babak kedua makin panas setelah PSG tertinggal 1-0. Akibatnya, 1 kartu kuning, 2 kartu kuning kedua, dan 3 kartu merah langsung dikeluarkan wasit di masa injury time babak kedua.
Tindakan tersebut terpaksa dilakukan wasit setelah terjadi keributan antarpemain menjelang berakhirnya laga. Leandro Paredes dan Dario Benedetto mendapat kartu kuning kedua setelah terlibat cekcok. Sementara Neymar juga mendapat kartu merah setelah dalam tayangan VAR kedapatan memukul Alvaro Gonzalez yang kemudian ia tuduh telah lebih dulu mengejeknya dengan ujaran rasis.
Ligue 1 confirmed the sanctions after the PSG-Marseille brawl on Sunday:
Kurzawa: Six games
Amavi: Three games
Neymar: Two games
Paredes: Two games
Benedetto: One game
Di Maria: Under investigation for allegedly spitting at Alvaro Gonzalez— B/R Football (@brfootball) September 16, 2020
Untungnya, pertandingan Le Classique kala itu masih berlangsung tanpa penonton. Bayangkan saja bila laga tersebut dihadiri suporter kedua belah pihak. Bisa-bisa ada nyawa yang melayang. Sebab, jika mundur ke belakang, rivalitas Paris Saint-Germain dan Olympique de Marseille dalam tajuk “Le Classique” sudah banyak menimbulkan korban.
Catatan Kebrutalan Duel PSG vs Marseille
Seperti pada 29 Mei 1993. Marseille menyambut PSG di Stade Velodrome pada lanjutan pekan ke-37 Ligue 1 musim 1992/1993. Kala itu, Marseille yang baru saja menjadi juara Liga Champions berhasil mengalahkan PSG dengan skor 3-1.
Tak terima dengan kekalahan tersebut, pendukung PSG marah. Mereka membakar beberapa jersey Marseille dan menembakkan suar ke arah tribun suporter tuan rumah. Bentrokan pun tak terelakkan setelah pendukung Marseille berlari ke arah tribun tamu. Kericuhan tersebut berlangsung hingga larut malam dan membuat 14 orang terluka.
Dua tahun kemudian, tepatnya 11 April 1995 bentrokan antarsuporter kembali pecah kala PSG dan Marseille berjumpa di semifinal Coupe de France. Bentrokan tersebut membuat 146 orang ditahan pihak berwajib, sementara 9 orang polisi diketahui harus mendapat perawatan di rumah sakit.
Incidents au Parc des Princes lors de #PSG – #OM : le 13 octobre 2000, Geoffrey Dilly, jeune supporter olympien, avait reçu un siège sur la tête au Parc des Princes. Gravement blessé, il a gardé des séquelles. Selon lui, “ça n’a pas servi de leçon…” https://t.co/7gdOUA6vpH pic.twitter.com/A8nW3GpGg7
— La Provence (@laprovence) March 3, 2018
Pada 13 Oktober 2000, “Le Classique” akhirnya menimbulkan korban serius. Geoffrey Dilly, seorang suporter Marseille yang masih berusia 18 tahun mendapat vonis lumpuh seumur hidup setelah kepalanya mendapat cedera serius usai terkena lemparan kursi yang berasal dari tribun pendukung PSG.
Tragedi yang jauh lebih memilukan terjadi pada 28 Februari 2010. 2 jam sebelum kickoff terjadi perkelahian antarsuporter di luar stadion Parc des Princes. Parahnya, tawuran tersebut terjadi antara pendukung PSG sendiri, yakni antara kelompok tribun Boulogne dan tribun Auteuil. Dalam kerusuhan tersebut, Yann Lorence, anggota kelompok Boulogne berusia 37 tahun diketahui meninggal dunia usai diserang kelompok suporter lain.
🗓28 Février 2010 : Soirée noire en marge de PSG-OM et le terrible drame de la mort de Yann Lorence. #PSG pic.twitter.com/RNEuq94cO8
— Histoire du #PSG (@Histoire_du_PSG) February 28, 2017
Buntut dari kebrutalan tersebut membuat 5 kelompok suporter PSG dibubarkan pemerintah Prancis. Sementara 15 orang ditangkap karena melakukan kekerasan terhadap polisi anti huru hara. Sekadar intermezo, kelompok tribun Boulogne hanya beranggotakan etnis kulit putih, sementara kelompok tribun Auteuil berisikan anggota multietnis.
Kejadian tersebut juga membuat kiper PSG saat itu, Grégory Coupet trauma. Ia bahkan sempat mengatakan tidak akan membawa anak-anaknya untuk melihat duel PSG vs Marseille.
“Minggu, ketika meninggalkan stadion, saya melihat semua kerusuhan ini. Ini sangat mengganggu. Saat ini saya tidak akan membawa anak-anak saya ke Parc,” kata Coupet dikutip dari DailyMail.
Itulah beberapa kebrutalan yang terjadi saat “Le Classique” dipertandingkan. Itu hanyalah beberapa contoh kejadian. Sebab, sejatinya duel antara PSG dan Marseille selalu berlangsung dengan tensi panas di tiap tahunnya. Dan nyaris akan selalu ada kericuhan, entah kerusuhan suporter, tawuran, atau cekcok antarpemain di lapangan.
Intinya, pertemuan Olympique de Marseille dan Paris Saint-Germain nyaris tak pernah berakhir damai. Lalu, kenapa laga derby tersebut bisa berlangsung begitu panas?
Sejarah Rivalitas PSG vs Marseille
Perlu diketahui bahwasanya “Le Classique” baru tercipta di era 80an. Hal tersebut tak lepas dari usia kedua klub. Marseille adalah salah satu tim tertua di Prancis. Klub berjuluk “Les Phocéens” itu telah berdiri sejak 30 Agustus 1899. Sementara PSG terhitung sebagai tim muda. “Les Parisiens” baru berdiri pada 12 Agustus 1970.
Api rivalitas di antara kedua tim baru tersulut ketika PSG meraih gelar juara Ligue 1 pertamanya di musim 1986 di bawah asuhan pelatih Gerard Houllier. Di periode yang sama, Bernard Tapie, seorang pebisnis dan politikus sosialis, baru saja terpilih sebagai presiden Marseille. Ia diketahui sebagai haters sejati PSG.
Rivalitas Marseille dan PSG kemudian naik ke tahap yang lebih serius di akhir musim 1988/1989. Kedua tim saling berhadapan di pekan ke-35 untuk memperebutkan gelar juara Ligue 1. Sebelum derby tersebut berlangsung, kedua presiden klub saling tebar psywar. Laga akhirnya dimenangkan Marseille dengan skor tipis 1-0 dan mereka keluar sebagai juara liga. Namun, Francis Borelli, presiden PSG kala itu menuduh Bernard Tapie dan Marseille melakukan pengaturan skor.
Akan tetapi, pertemuan PSG dan Marseille pada 18 Desember 1992 disebut-sebut sebagai hari lahirnya istilah “Le Classique”. Sebelum pertandingan, pelatih PSG Artur Jorge dan David Ginola mengumandangkan perang terhadap musuh bebuyutan mereka itu. Sementara Bernard Tapie memanfaatkan hal tersebut untuk memotivasi pemain Marseille dan memprovokasi PSG lewat surat kabar.
Laga pun berlangsung dengan sangat brutal. Tercatat lebih dari 50 pelanggaran terjadi di laga tersebut. Laga yang digelar di Parc des Princes itu kemudian berakhir dengan kemenangan 1-0 untuk Marseille. Laga itupun dijuluki “Butchery of 1992″. Sejak saat itu, bentrokan antara Marseille dan PSG semakin memanas hingga sekarang.
20 décembre 1992, 19ème journée de D1. Le PSG reçoit l’OM en lui déclarant la guerre à un OM faiblard, puisque l’entraîneur Artur Jorge provoque : « Marseille va avoir la guerre ». L’article est affiché dans les vestiaires olympiens et déclenche une rébellion. L’OM s’impose 0-1. pic.twitter.com/VPJi4gXcgm
— Encycl’OM (@encycl0m) October 27, 2019
Akan tetapi, “Le Classique” bukanlah sekadar derby sepak bola saja. Ia merupakan perwujudan dari pertempuran orang-orang kota Paris dan Marseille. Ada perbedaan budaya dan sosial yang nyata antara dua kota besar di utara dan selatan Prancis itu, yang mencakup masalah kelas, ekonomi, pemerintahan, kejahatan, dan integrasi sosial.
Paris adalah ibukota, Marseille adalah provinsi. Paris banyak diisi oleh kaum borjius nan elit yang menghasilkan sekitar 30% dari PDB Prancis dan 5% dari Uni Eropa. Sedangkan Marseille diisi oleh banyak kaum pekerja dengan jumlah pengangguran dan kejahatan yang cukup tinggi serta diperkirakan seperempat penduduk kota Marseille hidup di bawah garis kemiskinan
Fakta-fakta tersebut membuat duel PSG vs Marseille kerap digambarkan sebagai duel klub aristokrasi melawan klub rakyat. Ironisnya, PSG justru lahir dari kalangan penggemar, sedangkan Marseille justru didirikan oleh kalangan bangsawan.
Keberadaan suporter juga menghadirkan bumbu khusus dalam rivalitas “Le Classique”. Baik suporter PSG maupun Marseille bisa dibilang sebagai hooligan yang sangat fanatik dan akrab dengan kesan urakan. Tindak kerusuhan juga sudah melekat dalam imej mereka. Ini juga yang membuat derby tak pernah luput dari kericuhan. Apalagi semenjak PSG mendadak kaya, pendukung Marseille semakin membenci mereka.
🔥🔵⚪️🔥 pic.twitter.com/hEZsGpXHVx
— 433 (@433) October 24, 2021
Hingga hari ini “Le Classique” sudah digelar sebanyak 101 kali. Dahulu, Marseille boleh lebih unggul, tetapi kini PSG yang lebih mendominasi. Terkejarnya rekor kemenangan tersebut tak lepas dari dominasi PSG di Liga Prancis dalam beberapa musim terakhir. Bahkan, sejak 2012 Marseille selalu gagal menang atas PSG sebelum catatan tersebut pecah pada musim 2020 kemarin.
Les Parisiens mencatat 45 kemenangan berbanding 33 kemenangan milik Les Phocéens. PSG juga lebih produktif dengan telah mencetak 145 gol berbanding 118 gol milik Marseille. Dari segi prestasi, PSG kini juga lebih unggul dengan 44 trofi berbanding 26 trofi milik Marseille. Khusus di ajang Ligue 1, kedua tim sama-sama baru memenangi liga sebanyak 9 kali.
Meski kondisi PSG, baik secara finansial dan prestasi kini jauh mengungguli Marseille, tetapi sang musuh bebuyutan kini tengah mencoba bangkit sejak dimiliki Frank McCourt, seorang pengusaha kaya asal Amerika Serikat. Selain itu, kebencian kedua pendukung juga masih terjaga dan sepertinya tak akan pernah padam.
Inilah yang membuat “Le Classique” akan selalu panas dari zaman ke zaman. Bahkan, rivalitas antara Olympique de Marseille dan Paris Saint-Germain sudah menjadi dendam kesumat yang sulit dihilangkan. Jadi, bersiaplah untuk menyaksikan episode berikutnya dari kebrutalan “Le Classique”.
***
Sumber Referensi: Detik Sport, Kompasiana, France24, foot123, Lequipe, DailyMail, The Culture Trip.


