Sekalipun prestasi Timnas Indonesia masih empot-empotan, apalagi turnamen di dalam negerinya yang dipenuhi ketidakjelasan, kita masih punya secercah harapan. Setidaknya sepak bola Indonesia masih bisa berlanjut, karena banyak cara dilakukan untuk pembibitan pemain muda di Indonesia.
Yang teranyar ada Elite Pro Academy. Sebuah kompetisi sepak bola khusus pemain muda yang digelar PSSI ini sudah ada sejak 2018. Dengan mengusung tiga kelompok umur yang berbeda: U-16, U-18, dan U-20. Kompetisi itu mulai ada sewaktu Sekjen PSSI masih Ratu Tisha, dan sekarang orangnya sudah tidak di PSSI.
Sebelum Elite Pro Academy bergulir sebagai kompetisi sepak bola dalam negeri untuk usia muda, Piala Soeratin sudah ada lebih dulu. Sejak 1965, tahun di mana Indonesia sedang bergejolak karena ontran-ontran Gestapu, Piala Soeratin turut menelurkan bibit-bibit pemain muda, sebutlah salah satu yang cukup mentereng, Anwar Ramang, anak dari legenda sepak bola Indonesia, Ramang.
Daftar Isi
Sejarah Piala Soeratin
Sedari pertama kali digelar, Piala Soeratin bertujuan untuk melahirkan banyak pemain muda hebat di Indonesia. Hal itu senada dengan tekad seorang Soeratin Sosrosoegondo, tokoh yang mengilhami Piala Soertin. Soeratin Sosrosoegondo merupakan pendiri Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI). Ia adalah seorang pemuda yang hobi bermain sepak bola.
Bahkan sejak lulus dari Sekolah Teknik Tinggi di Heckelenburg, Jerman pada 1927. Ia melihat kalau Indonesia memiliki potensi pemain muda yang hebat dan tentu saja berbakat. Persis setahun setelah pulang dari Jerman, peristiwa Sumpah Pemuda terjadi pada 1928. Berangkat dari situ Soeratin mulai serius mengadakan pertemuan.
Pendiri PSSI ialah Ir. Soeratin Sosrosoegondo yang merupakan seorang insinyur yang menjadi ketua umum PSSI periode 1930-1940. pic.twitter.com/ny0vqfYXCf
— Tabloid BOLA (@TabloidBOLA) June 23, 2017
Ia terlecut semangatnya usai Tan Malaka, bapak republik itu mengatakan “sepak bola adalah alat perjuangan”. Mulai dari situlah, Soeratin bergerilya, berkeliling dari Yogyakarta, Solo, dan Bandung hanya untuk mengelar pertemuan. Ia ingin perjuangan tidak hanya soal menyucuk perut penjajah menggunakan bambu runcing, tapi juga merusak mental lawan di atas lapangan hijau.
Begitulah saat Soeratin mencibir Indonesische Voetbal Bond (IVB), organisasi sepak bola yang dianggapnya terlalu lembek terhadap pemerintahan Hindia Belanda. Soeratin menginginkan organisasi sepak bola tanpa campur tangan dari Hindia Belanda. Pada 19 April 1930, di Gedung Sosietet Hande Priyo, Yogyakarta, kerja keras Soeratin berbuah manis. Persatuan Sepak bola Seluruh Indonesia (PSSI) pun terbentuk berkat rapat tertutup di gedung tersebut.
Pada 1962, sepak bola Indonesia mengalami mimpi buruk setelah gagal di Asian Games. Soekarno kala itu menitahkan agar Kementerian Olahraga waktu itu melakukan pembinaan pemain muda. Singkat cerita, pada Oktober 1965 PSSI kala itu sudah berencana mengadakan Piala Soeratin. Namun pelaksanaannya harus mundur setahun pada 1966.
Yang dinanti-nantikan pun tiba, Piala Soeratin terselenggara pada 14-20 April 1966. Awalnya Piala Soeratin hanya ada tiga grup. Grup pertama diisi dari Sumbawa, Malang, dan Yogyakarta. Sedangkan di grup kedua diperkuat Makassar, Denpasar, dan Medan. Sementara grup ketiga dipenuhi Pontianak, Jakarta, dan Bogor.
Vanue-nya pun berbeda masing-masing grup. Grup A digelar di Lapangan Jenderal Urip, Jatinegara; Grup B diadakan di Stadion Menteng; dan Grup C dihelat di Stadion Hockey Senayan.
Kisah Piala Soeratin Pertama
Perhelatan Piala Soeratin 1966 itu, Malang berhasil membantai Sumbawa 4-0 dan Yogyakarta 2-0. Kesebelasan Malang pun sukses menjuarai Grup A. Sementara di Grup B, Makassar melenggang mulus ke partai final usai menaklukkan Medan 3-1 dan imbang 2-2 menghadapi Denpasar . Grup C sendiri memunculkan Bogor sebagai juara grup dan berhak melaju ke final setelah membungkus dua kemenangan, 1-0 atas Pontianak dan 5-2 atas Jakarta.
Di final, ketiga tim tersebut dimasukkan ke dalam satu grup dan menggunakan sistem trofeo. Makassar dengan PSM Makassar, Bogor dengan PSB Bogor, dan Malang dengan Persema Malang. Akhirnya Persema Malang berhasil menjadi kampiun usai mengemas dua kali kemenangan.
Mereka menang 5-1 atas PSM Makassar dan 3-0 kala menghadapi PSB Bogor. Sementara PSB Bogor membawa predikat runner up usai mempermalukan PSM Makassar dengan skor 5-2.
Piala Soeratin Hari Ini
Seiring perkembangan waktu, dan dunia sepak bola Indonesia tidak konsisten dan lebih banyak buruknya daripada baiknya, Piala Soeratin ikut menyesuaikan zaman. Soeratin Cup tidak lagi menjadi kompetisi skala nasional saja, tapi sekaligus berjenjang. Mengingat sekarang juga sudah muncul Asosiasi Kota (Askot) dan Asosiasi Provinsi (Asprov) PSSI.
Kelompok umur di Piala Soeratin pun kini lebih dari dua kelompok. Jika sebelumnya hanya untuk pemain U-15 dan U-17, mulai tahun 2020, Piala Soeratin bertambah menjadi lima kelompok umur. Jadi Piala Soeratin mulai 2020 ada untuk kelompok umur U-12, U-13, U-14, U-15, dan U-17. Piala Soeratin pun mulai digelar di tingkat provinsi.
Bajol Ijo Cilik Hat-trick Gelar
.
🏆Persebaya keluar sebagai Juara 1 Piala Soeratin U-17
🥇Dicky Kurniawan terpilih sebagai Pemain Terbaik
⚽ Taufiq Hidayat berhasil menyabet gelar top skor kompetisi
.
Alhamdulillah
Lengkap Jol!!!#PersebayaU17 #PialaSoeratinU17 pic.twitter.com/HvdzQTT0UW— Official Persebaya (@persebayaupdate) February 9, 2019
Klub-klub lokal di masing-masing kota akan memperebutkan Piala Soeratin tingkat Provinsi. Apabila membawa pulang Piala Soeratin, klub tersebut bakal mewakili provinsi untuk memperebutkan Piala Soeratin tingkat nasional. Di level nasional para wakil provinsi dari seluruh Indonesia, tentu yang memilki Asprov PSSI bakal diundi untuk menentukan tim-tim yang masuk ke masing-masing grup.
Perlu dicatat bahwa Piala Soeratin ini digelar dengan lima kelompok usia. Jadi tidak mungkin klub U-17 akan menghadapi klub U-15. Jumlah grupnya pun menyesuaikan. Dan tim yang menjadi juara grup dan runner up grup, berhak lolos ke fase gugur.
Persijap Jepara dan Persebaya Surabaya menjadi tim tersukses di kelompok U-17, keduanya memperoleh tiga gelar Piala Soeratin. Sementara di kelompok usia 15 tahun, PSSA Asahan dan Persib Bandung masing-masing menggondol satu gelar Piala Soeratin.
Piala Soeratin Ladang Pemain Muda Timnas
PSSI boleh dibilang cukup berhasil membuat Piala Soeratin menjadi ladang pemain muda Timnas Indonesia. Banyak bintang muda Timnas Garuda ternyata alumni Soeratin Cup. Robby Darwis, bek legendaris Timnas Indonesia itu tercatat pernah bermain untuk Persib Bandung di kompetisi Piala Soeratin 1984. Bintang Timnas Indonesa di SEA Games 2007, Ahmad Bustomi juga pernah mencicipi Piala Soeratin bersama Persema Malang tahun 2003/2004.
Skuad Timnas Indonesia U-19 asuhan Indra Sjafrie yang pernah dieluh-eluhkan itu, juga tak lepas dari alumni Piala Soeratin. Seperti Hanis Saghara Putra, pemain yang pernah melakoni Piala Soeratin wilayah Jawa Timur. Ia bahkan menjadi top skor di kompetisi tersebut bersama Bojonegoro FC. Tentu kalau kita bicara Timnas U-19, aneh kalau tidak menyebut nama Egy Maulana Vikri.
Wtf is this even a thing RT @Bolanet: https://t.co/WTp2PsBBIX – Ini Hero Favorit Egy Maulana Vikri di Mobile Legends pic.twitter.com/nl2TO0PUOV
— Aloysius H P Yudha (@loysiusss) January 4, 2019
Pemain yang dijuluki Kelok 9 atau Egy “Messi” itu pernah memperkuat Persab Brebes pada Piala Soeratin 2016. Dan Egy adalah top skorer dalam kompetisi tersebut dengan catatan 22 gol. Namanya mulai melambung usai Egy membuat kiper Bandar Sulawesi Tengah heran gawangnya dijebol enam kali oleh satu orang saja, yaitu Egy.
Kita tentu berharap Piala Soeratin kembali digelar. Bukan hanya itu, Piala Soeratin mestinya tidak melenceng dari visi awal. Dan kita selalu berharap Piala Soeratin banyak menghasilkan pemain muda tanah air yang berprestasi. Sebab jika tidak, PSSI harus siap diamuk warganet karena dianggap buang-buang duit doang.
Sumber referensi: skor.id, goal.com, pssi.org, football-tribe.com, narasisejarah.id, striker.id, indosport.com


