Kompetisi Serie A Italia menjadi salah satu liga terbaik dunia. Bagi penggemar kompetisi asal negeri Pizza tersebut, pasti sudah tak asing lagi dengan klub bernama Palermo. Klub asal Sisilia itu merupakan salah satu langganan penghuni papan tengah Serie A. Namun, nama Palermo tidak lagi ada dalam jajaran tim Serie A musim ini.
Lantas dimanakah mereka?
Usut punya usut, Palermo ternyata musim ini bermain di Serie C, kompetisi kasta ketiga sepak bola Italia. Terdamparnya Palermo ke Serie C bukannya tanpa sebab.
Namun, sebelum membahas bagaimana Palermo turun ke divisi bawah, tak ada salahnya jika kita lebih dulu mengulas tentang perjalanan klub Palermo itu sendiri.
Palermo Football Club merupakan kesebelasan yang didirikan pada 1 November 1900. Selama kurang lebih 120 tahun lamanya, Palermo telah malang melintang di belantika sepak bola Italia. Palermo bukanlah klub sekelas Juventus, AC Milan, atau Inter Milan yang punya segudang prestasi luar biasa.
Prestasi yang pernah ditorehkan Palermo hanya sebatas kompetisi level bawah. Tercatat, Palermo pernah menjuarai kompetisi Serie B sebanyak 5 kali, serta masing-masing satu kali juara Serie C dan Serie D.
Sebelum era 2000-an, nama Palermo tidak terlalu diperhitungkan. Karena pada abad 20, Palermo memang lebih sering naik-turun bermain di kompetisi level bawah. Seperti yang dikutip dari Wikipedia, data menyebutkan Palermo telah berpartisipasi dalam 44 musim Serie B, serta baru sebanyak 29 musim berlaga di Serie A.
Nama Palermo baru benar-benar melambung saat memasuki era kepemimpinan pebisnis Maurizio Zamparini di tahun 2002. Zamparini mengeluarkan dana sebesar 15 juta euro untuk membeli Palermo dari tangan Franco Sensi yang juga merupakan pemilik Roma saat itu.
Apa yang dilakukan oleh Zamparini bukanlah tanpa tujuan, ia ingin membawa Palermo kembali ke Serie A. Bahkan, sang pemilik klub punya tekad kuat untuk membawa Palermo ke kompetisi antarklub Eropa.
Setelah gagal pada percobaan pertamanya, Palermo akhirnya promosi ke Serie A pada musim 2003/04. Itu menjadi pencapaian yang istimewa. Sebab, setelah lebih dari 30 tahun lamanya bermain di divisi kedua dan ketiga di Italia, Palermo kembali merasakan panasnya persaingan di level teratas.
Pada musim 2004/05, Palermo yang dipimpin oleh penyerang Luca Toni tampil luar biasa. Hal itu bisa dilihat dari keberhasilan mereka finis di posisi enam besar klasemen sekaligus mengunci satu tempat di Piala UEFA musim 2005/06.
Di musim kedua, tepatnya pada musim 2005/06, Palermo semakin lebih baik. I Rossanero finish di peringkat kelima dan juga mencapai semifinal Coppa Italia. Sementara itu, pada debutnya di Eropa, Palermo mencapai babak kedua fase gugur Piala UEFA sebelum kalah agregat dari Schalke 1-3.
Demi membawa Palermo ke arah yang lebih baik, manajemen tim memutuskan untuk gencar dalam mendatangkan para pemain muda berbakat. Bisa dikatakan, selama masa kepemilikan Palermo ditangan Zamparini, klub ini cukup sukses dalam mengelola pemain muda, yang di kemudian hari menjadi sosok pemain bintang.
Tercatat, Palermo pernah punya sosok bek tengah tangguh bernama Andrea Barzagli. Mantan bek timnas Italia itu bermain di Palermo selama empat tahun dari 2004 hingga 2008. Keberhasilan Barzagli menjaga lini pertahanan Palermo berhasil membawa il Rossanero tampil di kompetisi Eropa lewat Piala UEFA.
Selain Barzagli, pada masa-masa itu, Palermo juga diperkuat pemain timnas Italia lainnya, seperti Fabio Grosso dan Cristian Zaccardo.
Selanjutnya, pada tahun 2006, Palermo mendatangkan Edinson Cavani. Pemain asal Uruguay itu kini dianggap sebagai salah satu striker berbahaya di muka bumi. Pada musim pertama Cavani bermain di Palermo, ia nyaris saja membawa klub lolos ke Liga Champions.
Setelah Cavani, pemain muda berprospek cerah kembali didatangkan. Mereka antara lain Fabrizio Miccoli, Javier Pastore, dan Josip Ilicic. Nama terakhir bahkan disebut sebagai salah satu gelandang muda terbaik di Eropa waktu itu.
Dengan perpaduan pemain seperti Miccoli, Pastore, dan Ilicic, Palermo sukses menjadi runner up Coppa Italia musim 2010/11. Sebuah pencapaian luar biasa bagi tim sekelas Palermo.
Setelah sempat bermain baik dalam beberapa musim. Masalah kemudian muncul. Dalam dua musim berikutnya, pasca menjadi runner-up Coppa Italia, Palermo mengalami delapan pergantian pelatih. Situasi tak mengenakan ini membuat mereka harus rela menemui jalan terjal.
Sempat finis di posisi ke-16 Serie A musim 2011/12, mereka kemudian terdegradasi ke Serie B pada 2013. Untungnya, perjalanan mereka di kasta kedua hanya berlangsung selama semusim. Berkat daya ledak striker anyar bernama Andrea Belotti, Palermo memecahkan rekor Serie B dengan 86 poin dan dengan cepat kembali ke Serie A.
Musim berikutnya, 2014/15, Palermo mengandalkan Paulo Dybala, yang sekarang menjadi andalan Juventus. Ia mencetak banyak gol untuk klub bercorak merah muda tersebut. Torehan 13 gol nya pada musim 2014/15 menjadikan Dybala pemain yang jadi rebutan klub-klub besar Eropa, hingga ia pun dilepas ke Si Nyonya Tua di musim panas 2015.
Musim 2015/16 sendiri, Palermo menyelesaikan kompetisi Serie A dengan finis di peringkat ke-11, tepat di bawah AC Milan. Tapi lagi-lagi masalah internal kembali mengacaukan mereka.
Setelah tampil cukup bagus di musim sebelumnya, Palermo kembali melakukan tujuh pergantian pelatih musim 2015/16. Beruntung mereka tak terdegradasi setelah finish di urutan ke-16.
Kendati demikian, nasib malang kembali menghampiri Palermo. Setelah menjual beberapa pemain kunci di musim panas periode tersebut, I Rosanero mengalami musim yang lebih buruk dan kembali lagi terdegradasi ke Serie B setelah menempati peringkat ke-19 musim 2016/17. Setelah itu, presiden klub, Maurizio Zamparini, yang telah 13 tahun mengabdi memutuskan mundur dari jabatannya.
Mundurnya Zamparini sebagai presiden, ternyata menjadi alarm turunnya Palermo. Tak hanya itu, bak jatuh tertimpa tangga, usai terdegradasi, situasi keuangan Palermo juga makin terpuruk.
Setelah beberapa kali alami pergantian pemilik, akhirnya mereka ‘terbuang’ ke Serie C, bahkan parahnya langsung diturunkan ke Serie D.
Keputusan itu dijatuhkan oleh otoritas tertinggi sepak bola Italia (FIGC) pada bulan Juli 2017. Palermo dinyatakan bangkrut oleh FIGC karena gagal mengirim dokumen keuangan sesuai tenggat waktu yang diberikan oleh federasi.
Bayang-bayang degradasi ke kasta terendah kembali menghantui Palermo pada bulan Juni 2019. Klub yang bermarkas di Stadion Renzo Barbera ini kembali gagal mengirimkan dokumen keuangan mereka untuk musim 2019/20.
Untungnya, keikutsertaan Palermo di Serie D ini hanya berjalan selama satu musim. Karena sebelumnya, mereka telah sukses menjuarai kompetisi kasta keempat Italia tersebut dan berhak promosi ke Serie C.
Sekarang, klub yang pernah diperkuat oleh Salvatore Sirigu, Simon Kjaer, dan Emerson itu tengah berjuang di Serie C, di bawah asuhan pelatih Giacomo Filippi.
Sumber Referensi: Libero, Sportskeeda, Indosports, Football Tribe, Kumparan


