Esteghlal vs Persepolis : Derby Terpanas di Asia

spot_img

Pertandingan derby satu kota identik dengan sebuah rivalitas. Di Eropa, kita mengenal beberapa laga derby yang sudah masyhur di kalangan pecinta si kulit bundar. Seperti derby Milan yang mempertemukan Inter vs Milan, lalu ada derby Manchester antara City melawan United, derby Glasgow yang mempertandingkan Rangers menghadapi Celtic atau derby Madrid antara El Real kontra Atlético.

Ternyata, tak hanya di benua Eropa saja, laga derby dengan tensi tinggi pun ada di benua Asia. Tepatnya, di negara Iran, salah satu negara Timur Tengah yang terletak di Asia Barat Daya.

Pertandingan derby tersebut mempertemukan dua klub sepakbola terkuat di sana, yakni Esteghlal FC dan Persepolis FC. Dua klub ini masuk dalam tiga besar liga Iran.

Esteghlal, klub dengan corak warna biru itu telah memenangkan 8 trofi Liga Iran serta 2 gelar Liga Champions Asia. Sedangkan, Persepolis yang identik dengan warna merah telah menjuarai Liga Iran sebanyak 13 kali. Pertemuan keduanya dianggap sebagai yang paling panas di benua kuning.

Kedua tim itu sendiri merupakan kesebelasan yang berasal dari Teheran, ibukota Iran. Tak cuma itu, keduanya juga bermarkas di stadion yang sama, yakni Azadi Stadium. Stadion dengan kapasitas 100 ribu penonton yang diresmikan pada 1973.

Berasal dari kota dan bermarkas di tempat yang sama tak menjadikan keduanya akur.

Rivalitas kedua tim bahkan sudah mengakar sejak puluhan tahun lalu. Tepatnya pada era 60-an, sebelum Liga Iran dibentuk. Kedua tim pertama kali bertanding pada 5 April 1968, dalam sebuah laga persahabatan yang berakhir dengan skor imbang.

Persaingan semakin panas semenjak Liga Iran mulai dibentuk pada 1970. Baik Esteghlal maupun Persepolis selalu menyajikan suasana dengan tensi tinggi tiap kali bertanding di atas lapangan.

Terlebih lagi, basis pendukung kedua tim tersebut adalah yang terbesar di Iran. Saking kuatnya basis suporter dari kedua klub tersebut, derby ini ibarat membelah kota Teheran menjadi dua warna berbeda, yakni Biru dan Merah.

Namun, sebelum lebih jauh membahas panasnya derby ini, ada baiknya untuk mengupas sejarah berdirinya dua klub tersebut.

Pada awalnya, Esteghlal bukanlah klub sepakbola, melainkan klub olahraga Sepeda. Saat didirikan pada 1945, tim ini bernama Docharkhe Savaran. Empat tahun kemudian, klub ini mulai fokus pada olahraga sepakbola dan berubah nama menjadi Tej Teheran.

Pergantian nama menjadi Esteghlal FC sendiri baru terjadi pada 1979, tepatnya setelah revolusi Iran. Pergantian nama ini karena sebelum revolusi Iran klub ini dikaitkan dengan monarki dan rezim yang berkuasa pada waktu itu.

Pada dekade 1970-1980an, Esteghlal memang identik sebagai klub kalangan atas. Selain mendapat dukungan dari pemerintah, klub ini juga didukung oleh para pebisnis, bangsawan, dan kalangan konglomerat.

Sementara itu, Persepolis, yang didirikan oleh mantan petinju Iran, Ali Abdo pada tahun 1963 didukung oleh kalangan kelas pekerja. Sehingga tak mengherankan jika klub ini memiliki basis suporter yang sangat kuat dan luar biasa.

Pada saat awal-awal terbentuk, Persepolis lebih banyak berkutat di divisi bawah liga Iran. Mereka baru mulai bangkit di tahun 1968, mereka menggunakan eks pemain Shahin FC, sebuah klub yang dibubarkan oleh pemerintah pada tahun 1967 karena alasan politik.

Parviz Dehdari, juru taktik Persepolis saat itu, adalah orang yang membawa beberapa eks pemain Shahin untuk bergabung ke timnya. Dan sejak saat itu, Persepolis menjadi salah satu kekuatan besar di sepakbola Iran.

Awal mula permusuhan antara Esteghlal dan Persepolis dilatarbelakangi oleh pengaruh dan dukungan dari rezim yang berkuasa pada saat itu.

Menurut seorang penulis asal Iran, Sina Saemian, keduanya mulai bermusuhan sejak Shahin FC dibubarkan oleh pemerintah karena alasan politik.

Seperti disinggung di awal bahwa kebanyakan mantan pemain Shahin FC direkrut ke Persepolis. Selain itu, mereka juga membawa kultur Shahin FC. Sehingga, Esteghlal yang dulunya bermusuhan dengan Shahin FC, berganti jadi membenci Persepolis.

Seiring berjalannya waktu, persaingan diantara kedua kesebelasan semakin sengit. Tak hanya di dalam stadion, kadang kala juga di luar stadion. Suporter dari kedua tim yang dikenal sangat luar biasa sering kali tidak bisa dikendalikan. Lebih parahnya lagi, fanatisme dan kebencian antar fans kedua klub tak jarang membuat pertandingan berakhir dengan baku hantam.

Sampai sejauh ini, kedua tim telah bertanding sebanyak 93 kali di semua kompetisi, dengan 26 kali dimenangkan oleh Esteghlal, 24 kali dimenangkan oleh Persepolis dan sisanya berakhir imbang. Meskipun kemenangan yang dicapai Esteghlal lebih banyak, namun mereka kalah jumlah gol dari Persepolis. Tercatat,  Persepolis berhasil mencetak 93 gol, sedangkan Esteghlal hanya mencatatkan 89 gol.

Selain itu, para pemain yang pernah memperkuat baik Esteghlal atau Persepolis di masa lampau, seperti Ali Daei, Mehdi Mahdivika, Ali Jabbari, Gholam Hossein Mazloumi juga pernah merasakan atmosfer yang luar biasa di setiap pertandingan derby ini. 

Salah satu pertandingan paling panas dan berujung pada bentrokan terjadi pada 11 Januari tahun 1995.

Penyebabnya adalah keputusan wasit yang dianggap berat sebelah. Ketika itu Persepolis sudah unggul 2 gol sampai menit 80, tapi tiba-tiba Esteghlal mampu menyamakan 2 gol, yang salah satunya lewat titik putih. Keputusan wasit yang memberikan hadiah penalti membuat marah suporter Persepolis. Mereka menyerbu lapangan dan menyebabkan keributan antara pemain dan suporter.

Sejak saat itu, federasi sepakbola Iran memutuskan menggunakan wasit dari luar negeri untuk memimpin derby. Hal tersebut dilakukan demi menjaga netralitas pertandingan. Akan tetapi, walaupun sudah menggunakan wasit asing, bentrokan tetap terjadi di derby ini.

Seperti bentrokan yang pernah terjadi pada tahun 2000 ketika kiper Esteghlal,Parviz Boroumand memukul wajah pemain Persepolis, Payan Rafat. Tak ayal, keributan antar kedua pemain dari kedua klub pun tak bisa dihindari dan lebih parahnya lagi diikuti dengan bentrokan antar suporter baik di dalam maupun di luar stadion.

Akibat kerusuhan tersebut, 250 kendaraan mengalami kerusakan. Selain itu, Polisi juga menangkap 3 pemain dari masing-masing klub dan 60 suporter yang dianggap sebagai provokator.

Teheran Derby menjadi salah satu event olahraga terbesar di tanah arya. Rata-rata terdapat 100 ribu penonton memenuhi stadion dan ditonton lebih dari 30 juta orang di televisi.

Atas dasar tersebut, tekanan yang begitu besar pun datang kepada pemain dan pelatih untuk memenangkan pertandingan. Saking bergairahnya derby ini, kedua kesebelasan beranggapan bahwa memenangkan laga ini lebih penting daripada menjuarai liga karena sarat gengsi dan harga diri.

Tidak hanya itu, begitu pentingnya Derby ini, semua aktivitas masyarakat dan roda perekonomian kota Teheran terganggu karena orang-orang pergi untuk menonton derby ini baik di Stadion Azadi maupun di layar kaca.

Tak heran, jika laga yang mempertemukan Esteghlal dan Persepolis disebut-sebut sebagai derby terpanas di Asia.

Sayangnya, waktu itu kaum perempuan di Iran tidak bisa menikmati derby ini di stadion pasca revolusi Iran. Pemerintah memang melarang wanita Iran untuk menyaksikan laga secara langsung sebelum pada 2019 peraturan itu dicabut.

Sumber Referensi : Instagram, Panditfootball, adventure, Kompasiana

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!

Glory Glory Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Magnificent 7 Manchester United v.2

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp125,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000
Obral!

Cristiano Ronaldo Back Home Manchester United

Rentang harga: Rp109,000 hingga Rp120,000

Artikel Terbaru