Masih ingatkah kalian dengan Loris Karius?
Bicara tentang Loris Karius, bisa dipastikan yang terlintas di pikiran orang-orang adalah soal blundernya di Final Liga Champions 2018. Kala itu, Karius yang membela Liverpool melakukan blunder dua kali yang berakibat gol bagi Real Madrid. Kesalahan fatal yang dilakukan Karius membuat dirinya harus menanggung rasa malu. Ia mendapat cemoohan dan hinaan seumur hidupnya.
Bahkan, hukuman sosial yang menimpa Karius masih berlangsung hingga saat ini. Senasib dengan Karius, Moacir Barbosa, kiper Brasil yang tampil di Piala Dunia 1950 juga mengalami hal serupa. Parahnya, Barbosa menanggung hukuman itu hingga ia menutup mata.
Barbosa, tidak banyak warga dunia yang mengenalnya, bahkan orang-orang Indonesia mungkin sangat asing mendengar namanya. Namun, Barbosa sangat populer di negaranya sendiri, Brasil. Ironisnya, kepopulerannya itu karena sang kiper dianggap melakukan kesalahan fatal di ajang sekelas piala dunia.
Mundur jauh ke belakang. Piala Dunia 1950 bertempat di Brasil. Itu merupakan kali pertama negara pengoleksi lima trofi piala dunia itu menggelar ajang sepakbola terbesar di jagat raya. Beda dengan turnamen modern yang menggunakan sistem knock-out setelah fase grup berakhir, saat itu format round-robin tournament digunakan di fase akhir. Empat tim yang lolos dari penyisihan dan tampil di putaran final adalah Brasil, Spanyol, Swedia, dan Uruguay.
Singkat cerita, Brasil tampil superior di ajang tersebut. Menghajar Swedia 7-1 di laga pertama dan menaklukan Spanyol 6-1 di pertarungan kedua. Dua kemenangan itu menempatkan Brasil di peringkat pertama klasemen sementara dengan koleksi 4 poin, saat itu sepakbola masih menggunakan sistem 2 poin untuk setiap kemenangan dan 1 poin untuk hasil imbang.
Pada pertandingan ketiga, Brasil akan menghadapi Uruguay. Laga ini bak pertandingan final. Brasil hanya butuh hasil imbang untuk menasbihkan diri sebagai juara dunia, sementara Uruguay, yang berada di urutan kedua, wajib mengalahkan tim samba jika ingin menggondol trofi piala dunia keduanya.
Pertandingan antara Brasil melawan Uruguay berlangsung di stadion Maracana. Publik Brasil sangat optimis tim kesayangan bakal mengalahkan Uruguay dan menjadi juara dunia. Media-media lokal juga menaruh harapan yang sama. Bahkan, beberapa hari sebelum hari pertandingan, mereka berlomba-lomba menulis berita dengan judul yang menyatakan Brasil pasti jadi juara.
Walikota Rio de Janeiro saat itu, Ângelo Mendes de Morais, juga berbicara di televisi nasional dengan sangat congkak memprediksi jalannya pertandingan melawan kesebelasan berjuluk La Celeste. Dia menyatakan tidak pernah ada tim di dunia ini yang bisa mengalahkan Selecao.
Wajar saja jika semua rakyat, para pejabat dan media-media di Brasil sangat yakin timnya akan menang. Mengingat kegemilangan tim kuning biru di laga-laga sebelumnya plus status mereka sebagai tuan rumah.
Pada hari pertandingan, tepat pada 16 Juli 1950, sebanyak 200.000 orang berdesakan demi melihat 22 pemain bertarung di rumput hijau Maracana. Jutaan sisanya asyik menyimak pertandingan lewat radio.
Dalam laga yang digelar pada sore hari itu, Brasil lebih dulu unggul lewat Friaca di menit 55. Namun keunggulan itu hanya bertahan 9 menit, pasalnya Juan Schiaffino menyamakan kedudukan menjadi satu sama. Dengan skor 1-1, para pendukung Brasil di Maracana, yang jumlahnya 199.854 orang, masih tetap optimis. Mereka terus bernyanyi, menari, melompat-lompat, dan bergembira karena sangat percaya Piala Dunia 1950 akan menjadi milik mereka.
Sayangnya, semesta berkata lain. Brasil yang terlalu percaya diri terpaksa mengubur mimpi mereka.
Hal itu karena tendangan mendatar pemain sayap Uruguay Alcides Ghiggia, berhasil menjebol gawang Moacir Barbosa. Skor 2-1 untuk Uruguay bertahan hingga laga bubar. Uruguay pun juara dan Brasil harus menundukkan kepala. Pendukung tim samba di seantero negeri tak percaya jika tim kesayangannya gagal menjadi juara. Mereka semua sakit hati.
Salah seorang penulis terkenal asal Brasil, Nelson Rodrigues mengatakan bahwa kekalahan di Maracana seperti ledakan bom di Hiroshima Jepang.
“Di mana-mana ada bencana nasional yang tidak bisa diperbaiki. Ini seperti Hiroshima. Ini bencana kami. Ini Hiroshima kami. ini adalah kekalahan dari Uruguay di Piala Dunia 1950,”
Kekalahan dari Uruguay berdampak langsung pada sang kiper, Moacir Barbosa. Dia dikambinghitamkan atas kekalahan tim samba. Barbosa dianggap tak bisa menahan tendangan dari Ghiggia yang berujung gol kemenangan tim tamu. Untuk gol kedua itu, Barbosa sebenarnya bisa berhasil mengantisipasinya. Tapi ia gagal. Hal itu dianggap sebagai blunder fatal. Warga Brasil tak bisa menerimanya. Mereka ramai-ramai menghujat Barbosa.
Hukuman sosial itu sangat kejam dan tidak manusiawi. Barbosa merasakan masa-masa tak mengenakan dalam hidupnya. Karir sepakbolanya nyaris tak pernah kembali menorehkan tinta emas. Ia hidup luntang-lantung sebagai kaum papa.
Diceritakan oleh Barbosa, 20 tahun setelah piala dunia 1950, ia pernah mendapatkan pengalaman pahit saat berkunjung ke sebuah pasar.
Dia terkejut ketika menyaksikan seorang ibu yang menunjuk padanya, sambil berkata pada anaknya, ‘Lihat dia, anakku. Dia adalah orang yang membuat seluruh Brasil menangis,’
Selain itu, Barbosa bak hantu bagi para kiper di Brasil. Bahkan di negara tersebut, ada sebuah anekdot yang berbunyi,
“Berlatih yang keras hingga engkau kelak jadi seperti Gilmar Dos Santos, jika tidak maka nasibmu akan seperti Moacir Barbosa,”.
Itu adalah nasihat yang kerap diberikan kepada kiper-kiper muda. Sekedar informasi, Gilmar Dos Santos merupakan kiper Brasil di piala dunia 1958 dan 1962.
Barbosa tak pernah mendapat ampunan dari publik meskipun Brasil telah berhasil menjuarai Piala Dunia. Pada 1994. Barbosa bahkan mendapat perlakuan yang membuat hatinya sakit. Ia dilarang bertemu para pemain timnas oleh Asisten pelatih, Mario Zagallo, yang khawatir Barbosa akan membawa kesialan.
Setahun sebelumnya, Presiden Asosiasi Sepakbola Brasil (CBF), Ricardo Teixeira, melarang Barbosa menjadi komentator siaran langsung Selecao karena takut dikutuk dan kalah.
Tidak hanya dalam kehidupan nyata. Hukuman sosial kepada Barbosa juga muncul di dunia fiksi. Sebuah novel karya Ian McDonald berjudul “Brasyl”, diluncurkan untuk mengolok-olok Barbosa.
Moacir Barbosa yang berkulit hitam dianggap sebagai penyebab kegagalan Brasil. Meskipun peristiwa kegagalan itu terjadi sudah lewat berpuluh-puluh tahun lalu, tapi cerita tentang Barbosa seolah tak berhenti di kalangan pecinta sepakbola Brasil.
Hingga kemudian muncul takhayul aneh yang bersifat rasial, dimana gawang Brasil harus terus diisi oleh para pemain berkulit putih.
Namun, entah kebetulan atau bukan, semua kiper utama timnas Brasil yang berhasil meraih trofi Piala Dunia tak ada yang berkulit hitam: Gilmar (Piala Dunia 1958 dan 1962), Felix (Piala Dunia 1970), Claudio Taffarel (Piala Dunia 1994), dan Marcos (Piala Dunia 2002),
Butuh waktu hampir setengah abad untuk menghancurkan kepercayaan tersebut. Nelson Dida yang memulainya saat timnas Brasil melawan Ekuador pada tahun 1995. Salah satu tabloid terbesar di Brasil, Globo Esporte, bahkan sampai membuat tajuk utama bertuliskan,
“Dida, O Homem Que o Quebrou Tabu“, yang apabila diterjemahkan ke bahasa Indonesia berarti “Dida, orang yang melanggar tabu”. Dida bahkan sempat meminta kepada publik Brasil untuk mengampuni kesalahan Barbosa, namun permintaan itu tak dikabulkan.
Bahkan sampai akhir hayatnya, Barbosa tak pernah mendapatkan ampunan. Ia masih saja dibenci. Bahkan tidak ada satupun pihak dari asosiasi sepak bola Brasil yang datang ke pemakamannya.
Barbosa menghembuskan nafas terakhirnya di usia 79 tahun pada 7 April 2000 akibat serangan jantung.
Beberapa bulan sebelum malaikat maut datang menjemputnya, Barbosa mengaku sedih karena orang tak pernah lupa dengan kejadian memalukan itu. Kiper yang tak pernah mengenakan sarung tangan itu mengaku, tak mengerti kenapa dia yang paling disalahkan. Padahal, gol Ghiggia ke gawangnya bukan blunder murni kiper tapi memang berasal dari skema permainan dan kecerdasan Ghiggia dalam melakukan gerak tipu. Dan lagi, bukan hanya dia yang tampil melawan 11 pemain Uruguay.
“30 tahun adalah hukuman penjara paling lama di Brasil. Tapi saya seperti dipenjara selama 50 tahun,” begitulah ucapan paling terkenal yang pernah dilontarkan Barbosa semasa hidupnya.
Karier internasional Barbosa (di timnas Brasil) berakhir di final melawan Uruguay itu, namun dia baru benar-benar pensiun (di level klub) pada 1963 di usia 42 tahun.
Sumber referensi : Libero, Indosport, Football Tribe, Sportdetik, Football Tribe


