Mekar di usia senja. Mungkin itulah ungkapan yang pas untuk menggambarkan pesepakbola “late bloomer”. Berbeda dengan wonderkid yang sudah bersinar sejak usia muda, “late bloomer” adalah pemain yang justru baru bersinar di usia tua.
Bila jumlah wonderkid sangat banyak, populasi pemain yang masuk kategori “late bloomer” hanya sedikit. Hanya segelintir pemain yang bisa dikategorikan sebagai “late bloomer”.
Apalagi striker. Tak banyak striker yang mampu menjaga performanya hingga tua. Sedikit pula striker yang justru baru menorehkan prestasi di akhir kariernya.
Lalu, siapa saja pemain “late bloomer” yang justru bersinar di usia tua? Berikut daftarnya.
Daftar Isi
1. Miroslav Klose
Mantan striker timnas Jerman yang pensiun pada 2016 lalu itu adalah pemegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa di Piala Dunia dengan 16 gol. Di timnas Jerman, Klose juga memegang rekor pencetak gol terbanyak sepanjang masa Der Panzer dengan torehan 71 gol.
Voetballer uit verleden (70):
Miroslav Klose viert z’n doelpunt voor Duitsland tegen Ierland op het WK van 2002 ⚽🇩🇪#MiroslavKlose #Klose #Kaiserslautern #WerderBremen #FCBayern #LazioRoma #WorldCup2002 #Deutschland #voetballeruitverleden pic.twitter.com/u4FjufQ8Zx— Kenny Romer (@kfwromer) April 10, 2021
Yang membuat rekor tersebut mengejutkan, Klose baru mencatat debut untuk timnas Jerman di usianya yang ke-24 tahun. Sementara itu, di level klub, loncatan karier Klose terjadi saat ia dibeli raksasa Bavaria, Bayern Munchen. Saat itu usianya sudah 29 tahun.
Klose menghabiskan empat musim di Munchen dan memenangi 6 trofi. Namun, dua musim terakhirnya di Allianz Arena tak berjalan baik. Ia hanya mencetak 12 gol di 65 laga terakhirnya. Klose lalu dilepas ke Lazio di tahun 2011 saat usianya sudah 33 tahun.
Tak disangka, bersama Lazio di Serie A, Klose menemukan kembali ketajamannya. Ia juga sukses mempersembahkan 1 trofi Coppa Italia di musim 2012/2013.
Lima musim membela Biancocelesti, Klose sukses mencetak 63 gol dari 170 penampilannya. Jumlah gol yang membuatnya masuk daftar 10 besar pencetak gol terbanyak Lazio sepanjang masa.
2. Antonio Di Natale
Nama pemain yang akrab disapa Toto Di Natale ini memang tak setenar bintang Serie A lainnya semacam Del Piero, Batistuta, maupun Roberto Baggio. Namun, jumlah gol Di Natale di Serie A jauh melebihi mereka.
Happy 41st birthday to the legendary Antonio Di Natale.
🇮🇹 445 Serie A game
⚽️ 209 Serie A goals6th on the all-time top-scorers list. 🙌 pic.twitter.com/qw8ILS0H8v
— Squawka Football (@Squawka) October 13, 2018
Di Natale yang sepanjang kariernya membela 2 klub Serie A, yakni Empoli dan Udinese dari 1996 hingga pensiun pada 2016 lalu adalah salah satu pencetak gol terbanyak Serie A sepanjang masa. Ia berada di urutan keenam berkat torehan 209 golnya dari 452 penampilan.
Di Natale baru menjelma jadi striker berbahaya saat memasuki usia 30an. Tercatat, ia 2 kali meraih gelar top skor Serie A di musim 2009/2010 dan 2010/2011. Saat itu, usia Di Natale nyaris 34 tahun. Semusim sebelum pensiun, Di Natale masih mampu mencetak 18 gol untuk Udinese meski usianya sudah 38 tahun.
3. Aritz Aduriz
Pemain asli Basque ini merintis karier profesionalnya bersama Athletic Bilbao di musim 2002/2003. Gagal bersaing, Aduriz dijual ke Valladolid di tahun 2004. Dua musim bersama Valladolid di divisi dua, Aduriz tampil lumayan dengan mencetak 22 gol dari 52 penampilan.
Bilbao lalu merekrutnya kembali. Sayangnya, 3 musim di sana, Aduriz justru tampil di luar ekspektasi. Aduriz kembali dijual ke Mallorca dan Valencia sebelum akhirnya kembali membela Athletic Bilbao lagi di musim 2012/2013 saat usianya sudah 31 tahun.
After more than 150 goals for the club, Athletic Bilbao legend Aritz Aduriz has announced his retirement 👋
His career should have ended with the Basque derby in the Copa del Rey final at the end of this season 😢 pic.twitter.com/8fx61yaIXA
— Goal (@goal) May 20, 2020
Tak disangka, Aduriz justru menemukan ketajamannya di usia tua. Aduriz 2 kali meraih Zarra Trophy, penghargaan kepada pemain Spanyol dengan gol terbanyak di La Liga. Ia meraihnya di musim 2014/2015 dan 2015/2016. Kala itu, Aduriz mencetak 18 dan 20 gol saat usia sudah 35 tahun.
Di kancah eropa, Aduriz dua kali mendapat gelar top skor Liga Europa di musim 2015/2016 dan 2017/2018. Hebatnya, Aduriz jadi top skor Liga Europa 2018 berkat torehan 11 gol. Padahal, kala itu usianya sudah 37 tahun.
Aduriz sudah memutuskan pensiun pada 2020 lalu setelah menderita cedera punggung cukup lama. Sepanjang kariernya, pemilik 13 caps bersama timnas Spanyol itu sudah mencetak 285 gol dan lebih dari setengahnya ia hasilkan saat berusia lebih dari 30 tahun.
4. Jamie Vardy
Kesuksesan Leicester City menjuarai Premier League pada 2016 lalu tak bisa dilepaskan dari jasa Jamie Vardy. Kala itu, Vardy mencetak 24 gol dan terpilih sebagai pemain terbaik Premier League.
100 – Jamie Vardy (81 goals, 19 assists) is only the sixth player in Premier League history to register 100 goal involvements after turning 30, after Teddy Sheringham (127), Frank Lampard (118), Ian Wright (110), Alan Shearer (102) and Gianfranco Zola (101). Bloom. pic.twitter.com/CzyZSK9dQo
— OptaJoe (@OptaJoe) March 14, 2021
Vardy adalah contoh terbaik dari “late bloomer”. Pemain 34 tahun kelahiran Sheffield itu masih berkompetisi di divisi 8 bersama Halifax Town saat usianya sudah 24 tahun. Vardy baru merasakan mentas di Premier League, kasta tertinggi sepak bola Inggris di usia 27 tahun setelah menghabiskan 2 musim awalnya bersama Leicester di divisi 2.
Sejak juara bersama Leicester di tahun 2016, penampilan Vardy terus konsisten dan selalu bersaing dalam daftar top skor Liga Inggris. Musim lalu, dengan koleksi 23 golnya, Vardy memenangi Sepatu Emas Premier League untuk pertama kalinya. Di usianya yang sudah 33 tahun saat itu, Vardy jadi pemain tertua yang memenangkan penghargaan tersebut.
5. Fabio Quagliarella
Quagliarella mencuri perhatian pecinta sepak bola kala dirinya terpilih sebagai top skor Serie A musim 2018/2019. Kala itu, striker Sampdoria mencetak 26 gol dan mengungguli Cristiano Ronaldo. Yang lebih mengejutkan, Ia mendapat gelar tersebut di usia 36 tahun.
ON THIS DAY: In 2019, Fabio Quagliarella won the 2018-19 Serie A Capocannoniere.
He became the first Sampdoria player to be crowned the league’s top scorer since Gianluca Vialli in 1990-91. pic.twitter.com/6JxShYPwNC
— Squawka Football (@Squawka) May 26, 2020
Raihan tersebut jadi titik balik karier Quagliarella. Pasalnya, dulu ia merupakan striker muda yang cukup diperebutkan di Italia. Sayangnya, penampilan Quagliarella meredup saat ia membela Napoli, Juventus, dan Torino di tahun 2010-2016. Selama itu pula, ia kehilangan tempat di timnas Italia.
Kini, Quagliarella masih jadi andalan Sampdoria di usianya yang ke-38 tahun. Di 2 musim terakhirnya, ia juga selalu sukses mencetak minimal 10 gol. Performa apiknya itu membuat Quagliarella kembali mendapat panggilan Roberto Mancini di timnas Italia.
6. Iago Aspas
Bisa dibilang bahwa Aspas adalah titisan Aritz Aduriz. Jalan karier kedua striker asal Spanyol itu cukup mirip. Digadang-gadang di usia muda, keduanya justru baru bersinar di usia tua.
Aspas dibeli Liverpool pada 2013 silam pasca tampil cukup menjanjikan bersama Celta Vigo. Sayangnya, Aspas gagal memenuhi ekspektasi. Ia hanya mampu mencetak 1 gol dari 15 penampilan.
Hanya bertahan semusim di Anfiled, ia kembali ke Spanyol membela Sevilla. Setelah mencetak 10 gol dari 26 penampilan selama semusim membela Sevilla, Aspas lalu kembali ke Celta Vigo di musim berikutnya.
Iago Aspas in La Liga this season:
◎ 26 appearances
◉ 12 goals
◉ 10 assistsAt the double tonight. ⚽️⚽️ pic.twitter.com/JKrR2mswgy
— Squawka Football (@Squawka) April 12, 2021
Bersama klub yang membesarkan namanya itu, Aspas menjelma jadi striker berbahaya. Ia langsung mencetak 14 gol di La Liga musim 2015/2016. Penampilan apiknya itu membuatnya mendapat panggilan pertama membela timnas Spanyol saat usianya sudah 29 tahun.
Secara berturut-turut, Aspas memenangi Zarra Trophy dari tahun 2017 hingga 2019. Kini, dia jadi salah satu pilihan utama di timnas Spanyol meski usianya sudah menyentuh angka tiga.
7. Luca Toni
Luca Toni menghabiskan masa awal kariernya di berbagai klub level bawah Italia. Ia baru menemukan ketajamannya saat berseragm Palermo pada 2003-2005. Mencetak 51 gol dari 83 penampilan, Toni lalu pindah ke Fiorentina.
Toni direkrut Fiorentina di musim 2005/2006 saat usianya sudah 28 tahun. Tak disangka, ia makin tajam di depan gawang dan langsung jadi topskor Serie A berkat torehan 31 golnya. Pasca membawa Italia juara dunia, Toni lalu menyebrang ke Bayern Munchen.
Dua musim awal di Munchen berjalan cukup apik. Namun, di musim terakhirnya, Toni mulai meredup. Cedera tendon yang ia derita di musim 2008/2009 jadi salah satu penyebabnya. Setelah itu, striker bertinggi badan 193 cm itu hengkang dari Allianz Arena.
Toni lalu berpindah-pindah klub, dari Genoa, Juventus, Al Nasr di Uni Emirat Arab, dan kembali ke Fiorentina sebelum dibeli klub promosi, Hellas Verona pada 2013. Di klub inilah Toni kembali menemukan penampilan terbaiknya.
Luca Toni has just scored his 22nd goal of the season. At 38-years old he’s the top scorer in Serie A this season. pic.twitter.com/YTyS4jltnp
— Football Factly (@FootballFactly) May 30, 2015
Di musim pertamanya, Toni langsung mencetak 20 gol untuk Verona. Torehan itu menjadikannya pencetak gol terbanyak kedua di Serie A musim 2013/2014. Semusim kemudian, Toni akhirnya jadi top skor Serie A setelah mencetak 22 gol.
Toni menjadi top skor Serie A musim 2014/2015 saat berusia 38 tahun yang menjadikannya top skor tertua Serie A sepanjang masa. Luca Toni akhirnya pensiun pada 2016 silam setelah kembali bergelud dengan cedera lawasnya.
Itulah ketujuh striker “late boomer” yang justru baru bersinar dan mencatat prestasi di usia tuanya. Tentu tak mudah untuk tetap berada di level tertinggi saat badan mulai menua. Menurutmu, siapa lagi yang layak masuk daftar ini?
***
Sumber Referensi: Sportskeeda, Bolalob, Hitc, 90min


