Selandia Baru benar-benar tampil menakjubkan di Kualifikasi Piala Dunia 2026. Mereka memastikan diri lolos ke turnamen sepak bola terbesar di dunia dengan penuh percaya diri tanpa ada rintangan yang berarti. Bisa dibilang, mereka itu kayak sudah pasti lolos, seperti jaminan yang udah ketok palu. Wong pesaingnya di Oseania hanya sekadar tim ecek-ecek.
Di sisi lain, ada Australia yang dulunya dianggap sebagai salah satu favorit di Oceania. Tapi sekarang, mereka malah harus berjuang habis-habisan di Zona Asia untuk mendapatkan tiket ke Piala Dunia. Bagaimana nasib dua negara Oseania ini justru berbalik gara-gara perubahan format Piala Dunia 2026?
Sebelum kita bahas, jangan lupa subscribe dan nyalakan lonceng notifikasi terlebih dahulu agar tak ketinggalan konten terbaru dari Starting Eleven Story.
Daftar Isi
Selandia Baru Lolos Piala Dunia
Selandia Baru benar-benar menunjukkan dominasinya di Kualifikasi Piala Dunia 2026 Zona Oseania. Di bawah pelatih Darren Bazeley, mereka bermain sangat solid dan tidak terhentikan. Tim ini seperti mesin yang nggak kenal lelah, dengan mudah mengalahkan tim-tim seperti Fiji, Tahiti, hingga Kaledonia Baru. Sepertinya nggak ada lawan yang benar-benar bisa mengancam mereka di zona ini.
Pertandingan yang memastikan Selandia Baru lolos ke Piala Dunia adalah ketika mereka berhasil mengalahkan Kaledonia Baru di pertandingan kualifikasi Piala Dunia 2026. Kemenangan itu nggak cuma menambah percaya diri mereka, tapi juga membawa mereka lebih dekat ke mimpinya, yakni tampil lagi di Piala Dunia, yang terakhir kali dilakukan pada edisi 2010 silam.
Rekam Jejak Selandia Baru di Piala Dunia
Selandia Baru menjadi tim kedua yang lolos ke Piala Dunia 2026 setelah Jepang. Sebenarnya, nggak terlalu mengejutkan sih kalau mereka bisa lolos kali ini. Soalnya lawan-lawan mereka di kawasan Oseania bisa dibilang masih sekelas teri aja.
Namun, perjalanan Selandia Baru ke Piala Dunia punya cerita yang menarik. Mereka sudah dua kali tampil di Piala Dunia sebelumnya, yang pertama di tahun 1982, dan yang terakhir di Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan. Di edisi 2010 inilah Selandia Baru menorehkan prestasi yang lumayan.
Walau tak memetik satu pun kemenangan, tapi hebatnya mereka juga tak menelan kekalahan. Bahkan di Mbombela Stadium, Selandia Baru sanggup menahan imbang sang juara dunia, Italia. Setelah di laga sebelumnya menahan imbang Slovakia yang diperkuat Marek Hamsik.
Mendapat Untung dari Keluarnya Australia dari OFC
Dulu, sebelum bisa lolos dengan lancar seperti sekarang, perjalanan Selandia Baru ke Piala Dunia nggak semudah itu. Bayangin aja, mereka harus melewati rintangan yakni bertanding melawan tim sekuat Australia yang waktu itu masih berada di zona Oseania. Socceroos selalu bisa memonopoli zona Oseania.
Ketika itu, Oceania Football Confederation atau OFC hanya mendapat jatah setengah. Tim yang memenangkan babak kualifikasi zona Oseania tidak otomatis ke Piala Dunia, melainkan harus melalui play-off antar konfederasi terlebih dahulu. Nah, Australia sering keok di sini. Akhirnya mereka memutuskan untuk pindah ke AFC. Saat itu AFC memiliki jatah dua tim otomatis lolos ke Piala Dunia dan satu tim lolos jika memenangkan play-off antar konfederasi.
Nasib Australia pun berubah setelah pindah ke AFC. Mereka jadi lebih sering lolos ke Piala Dunia. Dari tahun 2006, Australia bahkan tidak pernah absen di Piala Dunia. Di edisi 2026, negara yang turut menghasilkan pesepakbola seperti Jackson Irvine ini juga diambang lolos langsung. Hengkangnya Australia dari Oseania mestinya membuat pesaing Selandia Baru berkurang.
Memang berkurang, tapi justru Selandia Baru yang menggantikan posisi Australia yang selalu gagal di babak play-off antar konfederasi setelah memenangkan Kualifikasi Piala Dunia zona Oseania.
Putusan FIFA Menambah Jumlah Peserta Piala Dunia
Namun, angin segar justru berhembus ke Selandia Baru. Induk organisasi sepak bola dunia alias FIFA punya rencana gila untuk menambah peserta Piala Dunia di edisi 2026, dari yang semula 32 tim menjadi 48 tim. Saat usulan ini muncul dari mulut Gianni Infantino, penolakan dari berbagai pihak ikut lahir.
Dari presiden La Liga hingga bekas pelatih Timnas Jerman, Joachim Low mempertanyakan keputusan FIFA untuk menambah jumlah peserta. Pelatih yang turut mengantarkan Der Panzer juara di Piala Dunia 2014 itu khawatir jadwal pertandingan akan semakin padat dengan bertambahnya jumlah peserta di Piala Dunia 2026. Namun, Infantino tidak peduli soal itu.
Didasarkan alasan yang politis dan dalih agar makin banyak negara berpartisipasi di Piala Dunia, penambahan jumlah peserta Piala Dunia 2026 pun disepakati lewat rapat Dewan FIFA di Zurich, Swiss. Dengan penambahan jumlah peserta otomatis jatah setiap konfederasi juga ditambah. Salah satunya dari konfederasi Oseania atau OFC.
Semula OFC hanya mendapat jatah setengah di Piala Dunia, tapi dengan tambahan peserta, zona Oseania akan mendapat satu tempat langsung di Piala Dunia. Ini memang tidak sebanyak yang dimiliki Asia, tapi jelas ini menguntungkan Selandia Baru. Apalagi musuh-musuh yang dihadapi Chris Wood dan kolega lebih mudah daripada misalnya, yang dihadapi oleh Australia.
Terbukti, di kualifikasi Zona Oseania, Selandia Baru tampil dengan luar biasa. Anak asuh Darren Bazeley menyapu bersih tiga laga di babak Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Oseania dengan kemenangan. Di partai final, Selandia Baru juga menekuk perlawanan Kaledonia Baru dengan skor telak 3-0.
Kemenangan itu akhirnya membawa tim yang berjuluk All Whites ke Piala Dunia 2026, setelah dalam tiga edisi absen. Sementara itu di tempat lain, Australia yang telah keluar dari OFC dan bergabung ke AFC masih harus berkutat di babak kualifikasi. Pasukan Tony Popovic memang perkasa, tapi mereka belum memastikan tiket ke Piala Dunia 2026. Martin Boyle dan kolega masih harus berjuang di putaran ketiga.
Mereka apes karena di edisi pertama Piala Dunia dengan 48 tim harus berada di Grup C di putaran ketiga Kualifikasi Piala Dunia 2026 zona Asia. Grup yang disebut-sebut sebagai “Grup Neraka” karena di sana ada Arab Saudi, Jepang, dan Indonesia.
Setelah melakoni delapan pertandingan, Socceroos mengoleksi 13 poin. Jumlah poin itu masih bisa disalip Arab Saudi maupun Indonesia yang ada di belakangnya, sehingga Australia masih berpeluang gagal lolos langsung.
Ya begitulah. Nasib memang tidak ada yang tahu. Tidak ada yang menyangka kalau FIFA bakal mengubah kebijakan di Piala Dunia 2026. Keputusan Australia untuk mengkhianati OFC dan pindah ke AFC mungkin sebelumnya adalah keputusan yang tepat.
Tapi mengingat FIFA akan menerapkan format baru dan bukan tidak mungkin akan ada penambahan jumlah peserta di edisi-edisi berikutnya, keputusan Socceroos pindah ke AFC menjadi tidak tepat-tepat amat. Yang semula bisa lebih cepat lolos ke Piala Dunia, kini dengan pindah ke AFC, Australia mesti berjuang habis-habisan.
Saat Australia harus menghadapi negara-negara yang semakin kuat sepak bolanya, Selandia Baru masih akan berpesta menghadapi negara-negara Oseania yang masih lemah dalam sepak bola. Dan bukan mustahil kalau di kemudian hari Selandia Baru yang akan lebih sering mentas di Piala Dunia.