Tim Raksasa yang Masih Saja BONCOS di Paruh Musim 2023/24

spot_img

Setelah terjebak di dasar klasemen, Ajax bangkit dan merangsek kembali ke papan atas. Apa yang dialami Ajax juga dialami oleh Manchester United. Usai empot-empotan di awal musim, United yang gagal di kompetisi Eropa merangkak naik ke papan atas Liga Inggris.

Walaupun belum di empat besar, setidaknya dua tim raksasa itu pelan-pelan mengembalikan marwahnya di liga domestik. Lain halnya dengan tim-tim raksasa berikut ini. Alih-alih merangsek ke papan atas, tim-tim berikut malah tersungkur di papan bawah. Juga masih saja ada yang terjebak di papan tengah.

Siapa saja tim-tim raksasa yang masih saja boncos di paruh musim 2023/24? Kira-kira dalam daftar ini ada tim kamu, nggak ya?

Sevilla

Bertahun-tahun Sevilla membangun reputasi sebagai tim jago di La Liga. Tidak hanya itu, Los Palanganas juga dijuluki sebagai “Rajanya Liga Eropa”. Namun, Sevilla kini sedang menemui pintu kehancuran.

Alih-alih tetap konsisten di tengah terpaan badai, Sevilla justru terjun bebas ke jurang kenestapaan. Musim ini tim yang meraih tujuh gelar Liga Eropa itu tak kunjung bangkit dari papan bawah Liga Spanyol.

Hingga jornada 24, Sevilla hanya terpaku di posisi ke-15. Mereka bahkan baru mengumpulkan lima kemenangan saja. Ketimbang kemenangan, Los Palanganas lebih sering menelan kekalahan. Total sudah 11 kali kalah dari 24 pertandingan La Liga.

Di tabel klasemen, Sevilla bahkan tertinggal jauh dari klub semenjana Las Palmas dan Getafe. Miris kali, kan? Bagi tim yang antara tahun 2019 dan 2022 pernah finis tiga kali beruntun di empat besar untuk pertama kalinya selama 65 tahun, pencapaian musim ini jelas sangatlah buruk.

Sevilla sudah kehilangan tongkatnya sejak direktur olahraga Monchi hijrah ke Aston Villa. Monchi lepas tangan begitu saja meninggalkan para pemain tua, berkinerja buruk tapi gajinya mahal, dan ketakutan terhadap degradasi. Sevilla kehilangan ruh permainannya.

Mereka bahkan gagal ke Liga Eropa usai finis di posisi paling buncit di fase grup Liga Champions. Sevilla kehilangan arah. Apalagi musim belum selesai saja sudah ada tiga pelatih yang menangani: Jose Luis Mendilibar, Diego Alonso, dan Quique Sanchez Flores. Ketiganya tak kunjung memperbaiki Sevilla.

Sevilla yang cuma mengumpulkan 16 poin dari 20 laga menemui ancaman degradasi. Sebab, sejak musim 2012/13 sudah ada lima tim yang terdegradasi setelah hanya mengumpulkan 16 poin dari 20 laga.

Tim itu antara lain Deportivo La Coruna (2012/13), Real Valladolid (2013/14), Almeria (2014/15), Rayo Vallecano (2015/16), dan Deportivo La Coruna lagi (2017/18). Jadi, mungkinkah Sevilla terdegradasi di akhir musim nanti?

Napoli

Perkasanya Napoli musim lalu tak terbantahkan. Setelah sekian dekade, bekas timnya Maradona itu kembali menghentak Serie A. Luciano Spalletti membawa Napoli meraih scudetto setelah 33 tahun tak melakukannya. Terlepas dari gelar yang diraih musim lalu, il Partenopei sejatinya memang tim raksasa.

Tim dari Kota Naples itu selama beberapa tahun bersaing di papan atas. Bahkan sejak sembilan tahun yang lalu, Napoli hanya pernah tiga kali gagal finis di empat besar. Hal itu membuktikan bahwa Napoli memang langganan zona Liga Champions.

Namun, musim ini Napoli sepertinya tak punya gerak-gerik untuk mempertahankan gelar. Jangankan itu, bersaing di papan atas saja terasa sulit. Betapa tidak? Hingga giornata 24, Partenopei cuma duduk di peringkat sembilan. Poin mereka 35, terpaut tujuh angka dari Atalanta di posisi keempat.

Seluruh kekacauan ini dimulai ketika Spalletti memutuskan tak lanjut dan memilih rehat. Tapi sayangnya, Spalletti mengkhianati keputusannya sendiri dengan menerima tawaran dari FIGC untuk melatih Timnas Italia. Setelah ditinggal si gundul, Napoli dilatih Luis Garcia.

Di bawah Garcia, terjadi banyak konfrontasi. Para pemain pilar, seperti Osimhen, Kvaratskhelia, dan Matteo Politano tidak kerasan dengan sang pelatih. Banyaknya perbedaan pendapat dan gagalnya Garcia menangani ruang ganti membuatnya didepak.

Aurelio de Laurentiis mengaku salah menunjuk Garcia. Tapi persoalan tak hanya pada pelatih. Kehilangan direktur teknik Cristiano Guintoli juga berpengaruh, terutama perihal kebijakan transfer.

Alhasil, beberapa pemain anyar seperti Jesper Lindstrom tak berpengaruh signifikan. Walter Mazzarri yang ditunjuk pun kesulitan memperbaiki Napoli. Di tangan Mazzarri para pemain Napoli justru lebih sering bermain kasar.

Olympique Marseille

Selama beberapa tahun, Olympique Marseille menjadi pesaing PSG di papan atas Liga Prancis. Bahkan Marseille pernah sembilan kali juara Ligue 1. Tentu kamu bisa menambahkan gelar Liga Champions untuk membuktikan kalau Marseille adalah tim raksasa.

Namun, cobalah lihat musim ini! Les Phoceens terlunta-lunta di Ligue 1. Sampai pekan ke-21, Marseille masih tertahan di peringkat delapan dengan 30 poin. Bahkan dalam lima laga terakhir, mereka tak memetik satu pun kemenangan. Gennaro Gattuso mengakui kalau timnya memang “sampah”.

Ini sebuah ironis. Padahal dia sendiri pelatihnya. Sejak ditunjuk September 2023, Gattuso malah membuat Marseille kian pudar. Padahal Marseille banyak mendatangkan pemain baru. Salah satunya Pierre-Emerick Aubameyang. Akan tetapi, letak persoalannya bukan cuma ketidakbecusan Gattuso dalam melatih.

Dari awal musim sudah terjadi kemelut di tubuh Marseille. Muncul konfrontasi di mana penggemar Marseille menuntut agar Pablo Longoria meletakkan jabatannya sebagai presiden. Ia pun pernah berpikir untuk mengundurkan diri. Tapi saat naskah video ini dibuat, ia belum mundur.

Penggemar Marseille memang berkali-kali ikut campur dalam keputusan manajemen. Termasuk dalam proses pengunduran diri Marcelino, manajer sebelumnya. Terlalu banyak konfrontasi dari penggemar ini membuat Marseille seolah terkoyak dari dalam. Hal itulah yang bisa jadi membuat fokus mereka terbelah.

Olympique Lyon

Nasib yang kurang lebih sama juga dialami raksasa Ligue 1 lain. Olympique Lyon yang dulu menjadi penantang gelar, kini malah seakan segera menemui ajalnya. Mari kita mengingat lagi sejenak. Lyon merupakan tim yang juga sering mendominasi kompetisi domestik.

Tujuh gelar liga dan 13 gelar piala mereka rengkuh. Tidak hanya itu, dari rahim Lyon juga muncul pemain-pemain hebat. Karim Benzema contohnya. Namun, musim ini Lyon terjerumus ke dalam lembah kehampaan. Les Gones bahkan pernah cukup lama mendekam di zona degradasi musim ini.

Untunglah mereka bisa mentas dari sana. Namun, bukan berarti Lyon lepas dari teror degradasi. Sebab hingga pekan 21, Les Gones toh masih berada di peringkat 13. Mereka bahkan hanya berjarak tiga poin dari Lorient yang berada di lubang playoff degradasi. Fabio Grosso, mantan pelatih Frosinone yang ditunjuk malah membawa Lyon terpuruk.

Namun, setelah ganti pelatih ke Pierre Sage pun, Lyon tak kunjung bangkit. Pemain-pemain yang didatangkan tak banyak membantu. Said Benrahma, Nemanja Matic, Orel Mangala, hingga Gift Orban yang baru-baru ini didatangkan belum memberi pengaruh besar.

Para pemain Lyon tidak berada di level terbaik. Barangkali satu-satunya pemain yang bisa diandalkan adalah Alexandre Lacazette. Sang pemain sudah mencetak 12 gol dari 21 laga di Ligue 1 musim ini.

Tapi apa yang diharapkan dari Lacazette yang performanya saja kadang tak menentu? Les Gones tak menemukan solusi untuk keluar dari situasi ini.

Chelsea

Mauricio Pochettino datang untuk memperbaiki kehinaan yang sudah mendarah daging di tubuh Chelsea. Namun, Pochettino bukan Tuhan. Ia manusia biasa yang tak luput dari kegagalan. The Blues sungguh amburadul di musim ini.

Menang ataupun tidak, mereka masih tak beranjak dari papan tengah. Chelsea memang mengalahkan Crystal Palace di pekan ke-24. Tapi mereka masih saja mendekam di posisi 10. Ada banyak alasan Chelsea begini.

Salah satunya cedera. Harus diakui, Chelsea memulai musim dengan badai cedera. Reece James, Wesley Fofana, dan Marc Cucurella pernah atau sedang absen. Ben Chilwell juga belum lama pulih dari cedera hamstring, pun Malo Gusto. Christopher Nkunku juga bersahabat dengan cedera.

Alasan cedera biasanya dipakai penggemar yang cinta mampus sama The Blues. Namun, masalahnya tak cuma cedera. Chelsea juga tak pernah bisa mengontrol permainan. Lucunya, Chelsea bisa menang, tapi juga gampang kalah. Dari 24 laga, mereka menang 10 kali dan kalah 10 kali. 

Chelsea pun bagus dalam menyerang tapi juga buruk dalam bertahan. Mereka mencetak 41 gol, tapi kebobolan 40 gol. Pochettino juga belum menemukan Starting XI terbaiknya. Menurut Opta, Chelsea sudah melakukan 53 kali perubahan Starting XI. Itu jumlah yang banyak untuk tim yang bahkan absen di kompetisi Eropa.

Nah, itu tadi tim-tim raksasa yang masih boncos di paruh musim 2023/24. Menurut football lovers, tim-tim tadi bisa bangkit dari keterpurukan tidak, ya?

Sumber: TheAnalyst, LaLigaExpert, TheAthletic, LePoint, Olympique-et-Lyonnais, SkySports

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru