STY Lahirkan Lagi Harapan yang Tertunda Setelah PSSI Memecat Luis Milla

spot_img

Bertahun-tahun lamanya, masyarakat Indonesia mendamba tim nasional yang bagus. Punya karakter dan setidaknya kalau tidak bisa dibanggakan soal trofi, bisa memberi tontonan menghibur dengan permainan indah.

Nah, Shin Tae-yong, pelatih yang galak tapi murah senyum itu mengubah Timnas Indonesia menjadi tim yang sebelumnya nol karakter, permainannya bikin mules kalau ditonton, menjadi jauh lebih baik.

Pelatih yang diimpor dari Negeri Gingseng itu melahirkan kembali harapan yang tertunda. Sebelum Shin Tae-yong melatih Timnas Indonesia, harapan itu sebenarnya sudah muncul kala Timnas Indonesia dilatih Luis Milla. Namun, PSSI yang sialan betul malah memecat Luis Milla. 

Berikut ini adalah kisah bagaimana harapan itu terlahir lagi. Namun, sebelum masuk ke pembahasan, buat yang belum subscribe silakan pencet tombol subscribe-nya dan jangan lupa mengaktifkan loncengnya agar tak ketinggalan video terbaru dari Starting Eleven Story.

Sepak Bola Indonesia dan Kedatangan Luis Milla

Sejak 1998-2019, banyak pelatih menukangi Timnas Indonesia. Dari darah lokal, Eropa, hingga Amerika Latin. Namun, hampir selama itu pula, permainan Timnas Indonesia tidak banyak mengalami perubahan dan perkembangan. Orientasi para pelatih hanyalah meraih hasil maksimal.

Setiap pelatih ditarget tinggi oleh PSSI. Paling tidak wajib mendapat gelar. Sehingga para pelatih fokus untuk meraih gelar, daripada membentuk sistem permainan. Alih-alih mengikuti perkembangan zaman, revolusi taktik, dan pemahaman intelektual pemain, para pelatih acap kali menerapkan sepak bola pragmatis saja.

Tidak ada visi. Melupakan teknik. Yang penting lari, masuk ke kotak penalti, dan mencetak gol. Siapa pun pasti ingat, para pemain Indonesia sering cuma bermain umpan jauh. Ya no problemo. Tapi umpan-umpan jauh yang dilepas kerap ngasal. Tengok saja, dari mulai dilatih Benny Dollo, Alfred Riedl, Nil Maizar, Rahmad Darmawan, sampai Jacksen Ferreira Tiago, Indonesia mainnya long ball tanpa visi.

Sampai datanglah sosok Luis Milla Aspas tahun 2017. PSSI yang waktu itu dipimpin baginda Edy Rahmayadi optimistis dengan keberadaan Luis Milla, Timnas Indonesia bisa menjadi lebih baik. Milla yang mantan pemain Real Madrid itu pernah sukses membawa Timnas Spanyol U-21 juara EURO.

Awal Melatih Timnas Indonesia

Kedatangan Luis Milla disambut oleh masyarakat Indonesia. Apalagi portofolionya menyilaukan mata. Milla adalah mantan pemain Real Madrid dan Barcelona. Identitas sepak bola Spanyol begitu kental dalam dirinya. Sehingga harapan untuk melihat Timnas Indonesia bermain seperti Barcelona mengemuka.

Milla paham sekali akan hal itu. Kebetulan mantan asisten Michael Laudrup itu penganut paham ball possesion. Jadi, ia pun mencoba mengimplementasikan mazhab yang identik dengan Spanyol itu ke Timnas Indonesia. Tidak mudah melakukannya.

Para pemain Indonesia awalnya gagap dengan gaya main yang diusung Milla. Tak sedikit pemain yang masih suka salah-salah umpan dan minim agresivitas. Selain itu, Milla melihat bahwa para pemain Timnas Indonesia masih suka panik kalau ditekan lawan. Ia tak menampik fakta itu dan mencoba untuk memperbaikinya.

Tidak Sering Mengeluh

Namun demikian, Milla tak banyak mengeluh. Ia tidak terobos sana-sini demi ambisinya membawa Garuda terbang tinggi. Milla menerima apa pun keadaan skuad Timnas Indonesia. Daripada mengeluh, Milla memutuskan lebih intens berkomunikasi dengan PSSI saja.

Milla juga mengambil program pelatnas yang menyesuaikan kondisi riil sepak bola Indonesia. Ia menerapkan program pelatnas on-off jangka pendek. Jadi, para pemain Timnas Indonesia baru akan berkumpul 3-5 hari jelang pertandingan internasional.

Pola semacam ini dipakai oleh negara-negara elit di dunia. Sebab konsep pelatnas jangka panjang sudah tidak relevan. Apalagi di dalam negeri juga ada kompetisi yang padat. Metode yang dipakainya ini membuatnya tidak sering berbenturan dengan klub. Malahan, Luis Milla kerap memberi masukan ke klub-klub di Liga Indonesia.

Perubahan Itu Terjadi

Dalam melatih Timnas Indonesia, baik senior maupun U-23, Milla memakai metode yang jauh lebih detail dan terperinci. Itu dilakukan karena ia ingin menilai setiap pemain seobjektif mungkin. Timnas Indonesia pun terus digenjot untuk bisa memainkan sepak bola yang diinginkannya.

Milla yang pernah dilatih Johan Cruyff hingga Claudio Ranieri mengombinasikan sepak bola ofensif nan indah ala Barcelona dengan sistem pertahanan apik ala Real Madrid dan Valencia. Alhasil, di tangannya, timnas bermain tiki-taka khas Barcelona. Permainan Tim Garuda menjadi lebih cantik dari janda usia 25.

Dari segi pertahanan juga lebih baik. Seperti misalnya di Asian Games 2018. Ketika itu Hansamu Yama dan kolega hanya kemasukan lima gol dari lima laga. Dua di antaranya berasal dari penalti. Selain permainan yang kian tertata, revolusi taktik juga dilakukan Milla.

Tak Ada Trofi, Konflik dengan PSSI

Permainan Timnas Indonesia, baik senior maupun U-23, di tangan Milla lebih cair, atraktif, dan tentu saja memenuhi unsur hiburan. Penguasaan bola Timnas Indonesia selalu baik, bahkan bisa mengungguli lawan. Timnas Indonesia pun berkali-kali memetik kemenangan.

Total, Milla memimpin 29 laga, baik senior maupun U-23. Dari sana 13 kemenangan diraih dan hanya kalah sembilan kali. Rekor Milla melawan tim ASEAN juga bagus. Selama ditukangi Milla, Indonesia cuma kalah tiga kali melawan negara Asia Tenggara

Namun, tim yang bermain bagus berbeda dengan tim yang meraih gelar juara. Tak ada trofi yang diraih Luis Milla. Pencapaian terbaiknya cuma medali perunggu SEA Games 2017 dan melaju ke 16 besar Asian Games 2018.

 

Selain itu, hubungan Milla dan PSSI justru merenggang. Perkaranya dimulai ketika kontraknya akan habis. Edy menginginkan Milla bertahan karena kemajuan Timnas Indonesia. Namun, mengutip Republika, saat diskusi kontrak sedang berjalan, salah satu EXCO PSSI, Gusti Randa membocorkan bahwa PSSI menunggak gaji Milla selama tiga bulan.

Gusti menyebut bayaran Milla di angka Rp2,3 miliar per bulan. Tuduhan bahwa Milla adalah pelatih yang jual mahal pun mencuat. Selain itu, Milla juga aktif mengkritik PSSI. Saat proses negosiasi kontrak, kebetulan Milla sedang tidak berada di Indonesia. Ia pergi ke Spanyol untuk berlibur dan menjalani kursus kepelatihan lagi. Kursi pelatih sementara dipegang oleh Bima Sakti.

Bima Sakti yang menerapkan kerangka permainan Milla, cukup sukses menggantikannya sementara. Spekulasi bahwa Milla menolak perpanjangan kontrak pun muncul seiring lahirnya kepercayaan pada Bima. Namun, dokter timnas, Syarif Alwi mengabarkan kalau Milla akan kembali ke Indonesia.

Tetapi, PSSI tak kunjung membelikan tiket pesawat untuk Milla. Alwi juga membantah tuduhan-tuduhan tadi. Karena kabar itu, warganet berharap Milla beneran kembali. #KembalikanMilla pun mencuat, merespons drama-drama yang disajikan PSSI.

Tapi Luis Milla tidak kembali. Selain kontraknya tak diperpanjang, rumornya Milla sudah dipecat oleh PSSI. Ya, rumor karena saat itu tidak ada informasi apa pun selain yang keluar dari pihak PSSI.

Kehancuran Timnas Indonesia Pasca Milla

Pasca Milla, Timnas Indonesia kembali merana. Bima Sakti memang memainkan kerangka permainan yang sama, tapi jelas dia bukan Luis Milla. Permainan timnas pulang ke sedia kala. Tidak lagi bermain penguasaan bola. Yang lebih parahnya, Indonesia malah gagal total di Piala AFF 2018.

Tim Garuda hancur dan tersingkir dari babak grup. Tahun 2018, PSSI menunjuk pelatih anyar, Simon McMenemy yang dianggap punya pengalaman di sepak bola tanah air. Ia baru saja membawa Bhayangkara FC juara kala itu. Namun, tentu melatih tim lokal dan tim nasional berbeda.

Di tangan pelatih kelahiran Aberdeen itu, Timnas Indonesia malah makin blangsak. Tim Merah-Putih gagal total di Kualifikasi Piala Dunia 2022. Selama tujuh laga dilatih McMenemy, Indonesia cuma bisa menang dua kali saja, yakni melawan Myanmar dan Vanuatu di laga persahabatan.

Pergantian Ketum PSSI dan Datangnya Shin Tae-yong

November 2019, PSSI dipimpin oleh orang baru. Adalah Mochamad Iriawan alias Iwan Bule Ketum PSSI selanjutnya. Ia juga purnawirawan seperti Edy Rahmayadi. EXCO PSSI di bawah kepemimpinan Iwan Bule pun memecat Simon McMenemy, dan mendatangkan Shin Tae-yong.

Ratu Tisha Destria yang menjabat sekjen sejak 2017 adalah orang yang terlibat dalam mendatangkan STY. Ia jeli melihat kesempatan ketika STY tak melanjutkan pekerjaannya di Timnas Korsel. Pada Desember 2019, Shin Tae-yong akhirnya diumumkan sebagai pelatih Timnas Indonesia yang baru.

Sosok Shin Tae-yong sangat berbeda dengan pelatih-pelatih timnas sebelumnya. Soal ketegasan mungkin sama. Tapi perkara mazhab sepak bola, Tae-yong bahkan berbeda dengan Luis Milla. Eks pelatih Taeguk Warriors itu lebih pragmatis dan simpel. Tidak terlalu mengedepankan penguasaan bola sebagaimana Luis Milla.

STY Lahirkan Lagi Harapan

Bukan berarti STY abai soal umpan. Malahan, persoalan inilah yang lebih dulu diperbaiki olehnya. Shin Tae-yong benar-benar membangun Timnas Indonesia bukan hanya dari 0 tapi minus. Ketika datang, Tae-yong disambut oleh kualitas para pemain Indonesia yang berada jauh di bawah standarnya.

Mau tidak mau, ia pun harus memperbaiki itu dulu. Sebelum bicara soal taktik dan pola permainan. Selain membenahi kualitas umpan dan visi bermain, mental dan stamina menjadi fokusnya. Maka dari itu, STY punya metode latihan yang tidak hanya intens, tapi keras.

Pelan-pelan STY akhirnya mengubah Timnas Indonesia. Indonesia menjadi lebih baik dari segala sisi. Mulai dari umpan, mentalitas, hingga stamina. Kita mungkin akan tetap melihat para pemain melakukan umpan-umpan jauh, tapi mereka mulai tidak asal mengirim umpan jauh.

Di tangan STY, kita menyaksikan para pemain timnas tak lagi takut ketika ditekan. Mereka juga mulai lebih tenang dalam mengontrol bola. Hal itu persis setelah STY memotong satu generasi yang menurutnya, sama sekali tidak bisa ditolong.

Banyak pemain-pemain yang dulunya kurang mendapat perhatian, di tangan STY justru membanggakan. Sebutlah misalnya Rizki Ridho dan Marselino Ferdinan. Meski belum memperoleh trofi, paling tidak, banyak pencapaian timnas yang diraih pelatih yang satu ini.

Satu yang paling kentara adalah mendongkrak ranking Timnas Indonesia secara drastis. Ya, STY belum mempersembahkan trofi untuk Timnas Indonesia, sekalipun itu Piala AFF. Namun, hari ini, harapan masyarakat Indonesia akan Timnas Indonesia yang sempat tertunda, lahir kembali. Matur Nuwun, Coach!

Sumber: Liputan6, Bolasport, PSSI, Republika, Suara, Kumparan, SindoNews

Gabung sekarang juga, Member Kami Batasi!

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru