Son Heung Min, Pemain Terbaik Asia 2018

spot_img

Siapa pun pemuda yang terlahir sebagai warga negara Korea Selatan harus berbakti pada negaranya. Tiap pemuda di Korsel diharuskan mengikuti wajib militer selama dua tahun, yang paling lambat harus dilaksanakan sebelum sang pemudia berusia 28 tahun.

Bagi pesepak bola profesional seperti Son Heung Min, kewajiban tersebut bisa berarti merusak kariernya. Ia sudah pindah ke Eropa sejak berusia 16 tahun, dan hingga kini sudah menahbiskan diri sebagai salah satu penyerang paling berbahaya di Inggris.

Pada akhirnya, ia memastikan lolos dari kewajiban wajib militer pada 2018. Apa yang dilakukannya dan mengapa ia bisa disebut sebagai pemain terbaik Asia 2018?

Jauh sebelum berkostum Tottenham, Son terlebih dahulu mendaki karier di Bundesliga. Ia mula-mula memperkuat Hamburg SV. Merekah di tim cadangan, ia lalu dipromosikan ke tim utama saat baru berusia 18 tahun. Tak berselang lama, pada 30 Oktober 2010, ia mencetak gol saat melawan Koln guna memecahkan rekor pencetak gol termuda klub sepanjang sejarah.

Bayer Leverkusen kemudian menjadi batu loncatan berikutnya. Selama dua musim, ia mencatat 62 penampilan dan mengoleksi 21 gol. Dalam usia 23 tahun, ia sudah siap mengarungi liga yang lebih besar. Pilihan jatuh ke Tottenham Hotspur.

Kilau Son semakin menyilaukan di klub London. Bersama Mauricio Pochettino yang mengubah Spurs sebagai penantang juara, Son selalu kebagian tempat di tim utama. Ia merupakan pemain dengan skill, kecepatan, dan imajinasi yang mampu mengkonversi kreativitas Cristian Eriksen menjadi gol, atau menjadi pelayan bagi Harry Kane.

Ketajamannya juga sudah diakui seantero Inggris. Ia mencatat rekor sebagai pencetak gol dalam lima laga beruntun, menyamai rekor Jermain Defoe. Dalam dua musim terakhir, koleksi golnya selalu lebih dari dua digit.

Akan tetapi, di balik kemegahan prestasi yang ia torehkan di Eropa, ia masih punya utang tak terbayarkan untuk negaranya. Sebagai warga negara Korea Selatan, ia harus melaksanakan wajib militer.

Sebenarnya, ada satu cara bagi pesepak bola profesional seperti Son untuk menghindari kewajiban tersebut. Satu-satunya cara tersebut adalah membawa Korea Selatan meraih trofi di ajang besar sepak bola. Son tak pernah mendapat kesempatan tersebut.

Pada Olimpiade 2012, timnas Korsel sebenarnya meraih medali perunggu. Seluruh anggota skuad dibebaskan dari wajib militer. Hanya, Son waktu itu masih terlalu muda dan ingin berfokus menjalani pramusim bersama Hamburg.

Pada Asian Games 2014, timnas Korsel bahkan meraih medali emas. Federasi sepak bola Korsel (KFA) awalnya sudah memanggil Son dan sudah berkirim surat ke Bayer Leverkusen, klub Son waktu itu. Namun, karena Asian Games bukan agenda resmi FIFA, Leverkusen memutuskan tak memperbolehkan Son memperkuat timnasnya.

Sementara itu, baik di Piala Asia 2015, Piala Dunia 2014, atau Piala Dunia 2018, Korsel selalu gagal meraih trofi. Hingga 2018, Son masih punya tanggungan yang amat mungkin mencegahnya melanjutkan karier di Tottenham.

Lalu tibalah 2018, tahun pembuktian Son.

Diawali penampilan tajam di Piala Dunia. Son mencetak gol saat melawan Spanyol, serta saat melawan juara bertahan Jerman. Di laga terakhir fase grup tersebut, Son menggiring bola menuju gawang kosong yang sudah ditinggal Manuel Neuer. Skor menjadi 2-0, dan Korsel tidak jadi mengakhiri grup dengan nirpoin.

Tugas Son belum berakhir. Ia akan menjadi salah satu dari tiga pemain overaged di timnas Korea U-23 di Asian Games 2018. Keinginan Son untuk meraih medali emas dan membebaskan diri dari wajib militer adalah satu-satunya alasan Tottenham melepaskan sang pemain.

Bertahun-tahun menahan beban, seluruh tekanan bagi ditanggung oleh Son, yang dijadikan kapten. Mengingat di Olimpiade 2020 atau Asian Games 2022, usianya sudah melewati batas wajib militer. Seluruh dunia menyaksikan Son, akankah ia meraih medali emas di kesempatan terakhir?

Dan mereka berhasil. Son berhasil. Korsel melaju hingga final, lalu memukul Jepang. Di sepanjang turnamen, Son berkali-kali meneror pertahanan lawan. Ia dan seluruh skuad terbebas dari wajib militer.

Tahun 2018 praktis menjadi tahun yang istimewa bagi Son. Ia telah dicintai seluruh penggemar Tottenham, telah dihormati seluruh lawan di Inggris, serta telah menunaikan kewajibannya kepada negara.

Tinggal menunggu waktu baginya untuk mengangkat trofi lagi.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru