Sisi Gelap Dibalik Karir Gemerlap Mauro Icardi

spot_img

Bersama Inter Milan, Icardi menjelma menjadi sosok pemimpin sejati. Insting tajam dan jiwa kepemimpinan yang tinggi membuat La Beneamata berani menyematkan ban kapten kepada pemain asal Argnetina itu.

Mantan penyerang Inter, Diego Milito memberi pujian kepada Mauro Icardi. Menurut Milito, Icardi mampu melakukan hal-hal luar biasa pada usia yang masih terbilang muda.

“Icardi adalah penyerang yang hebat. Dia telah melakukan hal-hal luar biasa bersama tim sebesar Inter Milan,”

“Saya harap dia bisa melanjutkan performanya, karena dia merupakan penyerang yang hebat. Dia memiliki banyak ruang untuk berkembang, karena dia masih muda dan bermain baik,”

Mauro Icardi bergabung dengan Inter Milan setelah dibeli dari Sampdoria seharga 13 juta euro atau sekitar Rp 183 miliar pada bursa transfer musim panas 2013. Meski belum mempersembahkan gelar untuk I Nerazzurri, Icardi sudah menyumbangkan banyak sekali gol-gol penting untuk tim asal kota Milan tersebut.

Musim demi musim, penampilan Mauro Icardi terus berkembang pesat bersama Inter Milan. Penyerang asal Argentina itu menjadi predator di lini depan. Sejak dipercaya menjadi kapten Inter Milan, Icardi semakin matang. Dia menjadi pemimpin di lapangan bagi tim besutan Luciano Spalletti. Pemain berusia 25 tahun ini berkontribusi besar dalam penampilan mengesankan Nerazzurri. Kepala dan kaki Icardi memiliki ketajaman yang sangat luar biasa.

Bek Juventus, Giorgio Chiellini juga ikut berkomentar akan kehebatan Mauro Icardi,

“Ketika menyaksikan Inter, saya benar-benar terkesan oleh usaha Icardi dalam memenangi bola.”

Namun dibalik kegermerlapan karirnya, Mauro Icardi juga memiliki berbagai cerita kontroversi yang sempat membuat banyak pihak kecewa hingga memendam rasa kebencian padanya.

Dalam perjalanannya menjadi pencetak gol terbanyak Serie A, Icardi sempat dihadapkan pada satu permasalahan yang membuat geger jagat sepakbola Italia. Ia menikahi Wanda Nara yang merupakan mantan istri dari rekannya saat ia masih membela Sampdoria, yaitu Maxi Lopez.

Secara terang-terangan, Icardi menyatakan cintanya pada Wanda ketika Wanda masih berstatus sebagai istri Lopez. Kisah romansa Wanda dan Icardi pun semakin membanjiri media-media Italia karena keduanya tak segan untuk menunjukkan kemesraan di depan publik. Icardi sendiri tak terlalu mempedulikan apa yang diperbincangkan media dan publik Italia. Ia pun tidak peduli jika ia akan dicap sebagai bad boy dan terus mendapatkan pandangan negatif.

“Biarkanlah anak muda itu salah, maka dengan salah dia akan belajar” ucap seorang filsuf tentang tindakan Mauro Icardi

Tapi apa yang dilakukan oleh Mauro Icardi itu sudah kelewat salah, pagar makan tanaman, itulah peribahasa yang pantas disematkan pada dirinya. Bagaimana tidak, Icardi yang ketika itu masih berusia 21 tahun dengan tega merebut istri orang yang tak lain adalah rekan satu timnya sendiri.

Selain romansa kontroversialnya itu, Icardi juga pernah terlibat cekcok dengan para pendukung La Beneamata atau yang biasa disebut dengan Curva Nord 1969.

Perselisihan Curva Nord 1969 dengan Icardi dimulai ketika ia meluncurkan otobiografi-nya yang berjudul Sempre Avanti, la Mia Storia Segreta. Dalam buku tersebut, ia menganggap dirinya tampak sebagai pahlawan di ruang ganti karena merasa pendukung Inter tidak menghargai tim saat mereka kalah.

Alasan tersebut dikemukakan oleh Icardi saat ia berani datang ke tribun Curva Nord 1969 ketika Inter dikalahkan oleh Sassuolo, pada Februari tahun 2015 silam. Bersama Fredy Guarin, Icardi mengajak berbicara beberapa pentolan Curva Nord 1969 dan memberikan kausnya kepada seorang anak kecil. Namun, kaus yang diberikan oleh Icardi ke anak kecil tersebut diambil oleh seorang Curva Nord 1969 dan melempar kembali ke Icardi.

Icardi pun menjelaskan ke lelaki tersebut, “Sialan! Mengapa Anda masih bersikap arogan di depan anak-anak? Anda pikir, Anda lebih baik daripada saya?

Dalam otobiografi tersebut, Icardi pun menjelaskan bahwa dirinya siap menghadapi Curva Nord satu lawan satu. “Berapa jumlah mereka? 50?100? 200? Baik. Saya tidak takut. Saya akan bawa 100 penjahat dari Argentina yang akan membunuh mereka dimana pun mereka bersembunyi. Camkan ini!”

Kalimat itu semakin memperkeruh keadaan. Curva Nord yang mengetahui hal itu tak tinggal diam begitu saja, dalam sebuah pertandingan, para pendukung Inter Milan itu memasang spanduk yang bertuliskan,

“Menggunakan anak untuk membenarkan diri anda sendiri bukanlah hal yang benar, kita akan melemparkan lumpur di wajah anda.. Anda bukanlah seorang pria. Bukan juga seorang kapten. Anda hanyalah sampah pengecut!”

Meskipun begitu, harapan Interisti agar Icardi tetap menjadi penggawa Inter pun masih terbuka. Pasalnya, pemilik nomor punggung sembilan Inter ini pernah mengatakan bahwa dirinya ingin menjadi pemain legenda Inter. Dirinya mulai belajar untuk menghargai para pendukungnya sendiri.

Kegemilangan Icardi saat berlaga di lapangan hijau menjadi bukti bahwa Pria Argentina itu bersungguh-sungguh untuk bisa menjadi pemain hebat, dan yang pasti, menjadi legenda Inter Milan.

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru