Rahasia di Balik Sistem Perekrutan Pemain Hebat Ala Bayer Leverkusen

spot_img

Perkasanya Bayer Leverkusen di Bundesliga musim ini menjadi salah satu fenomena yang mengejutkan. Performa konsisten anak asuh Xabi Alonso menjadi sorotan, karena dengan materi yang tak semewah Bayern Munchen, tapi bisa tampil solid dan memukau.

Di balik solidnya komposisi skuad Bayer Leverkusen musim ini, ternyata ada beberapa elemen yang berpengaruh di dalamnya. Dan jangan lupa, ternyata Leverkusen punya sistem tersendiri dalam hal perekrutan dan pengembangan pemain muda. Seperti apa cara mereka?

Perekrutan dan Pengembangan Pemain

Dari mengasuh Kai Havertz sejak usia muda, hingga merekrut pemuda yang baru berusia 16 tahun, Florian Wirtz, menjadi bukti bahwa Die Werkself percaya dan lihai dalam urusan perekrutan dan pengembangan pemain muda.

Leverkusen telah menjadi pusat pengembangan talenta muda dalam beberapa tahun terakhir. Menggunakan jaringan kepanduan pemain yang luas dan fasilitas pelatihan kelas dunia membuat mereka banyak dipuji.

Tiap musimnya Leverkusen mengkombinasikan perekrutan pemain yang efektif dan pengembangan pemain muda yang berkelanjutan. Karena tentu tiap musimnya tidak mudah untuk merekrut pemain yang selalu tepat sesuai keinginan. Maka dari itu, Leverkusen tetap mengandalkan produk dari akademi yang dianggap unggul.

Sosok Simon Rolfes

Beruntung Die Werkself punya direktur olahraga yang kompeten dalam diri Simon Rolfes. Pria kelahiran Ibbenburen ini sebenarnya sudah bekerja di balik layar Leverkusen sejak menjadi manajer akademi pada Juli 2018. Namun selang beberapa bulan tepatnya Desember 2018, ia sudah naik pangkat dan bertanggung jawab sebagai direktur olahraga.

Baru lima bulan bekerja sebagai direktur olahraga, ia sudah ditunjuk untuk menjadi direktur pengelola olahraga menggantikan Rudi Voller tepatnya pada Juli 2022. Dibanding pendahulunya, Rolfes punya pendekatan yang berbeda.

Penggunaan Data AWS

Di bawah kendali Rolfes, Leverkusen menggunakan pendekatan kuantitatif melalui data. Rolfes memanfaatkan Amazon Web Service (AWS). Platform digital yang juga dipakai Bundesliga untuk membuat Bundesliga Match Facts. Dengan penggunaan data inilah, Leverkusen bisa dengan cepat melacak dan menemukan target baru yang potensial.

Melalui metode AWS ini, Bayer Leverkusen menjadi lebih stabil dan tak takut kehilangan pemain bintangnya di setiap musim. Tidak ada yang namanya sikap menahan pemain di Leverkusen. Seperti yang terjadi pada Havertz, atau Moussa Diaby yang dilepas musim ini. Meski Havertz dan Diaby akhirnya lebih sukses ketika pindah klub, Rolfes malah senang. Artinya bukti pengembangan pemain di klubnya berhasil.

Selain itu, dengan metode AWS pula, Rolfes dan Leverkusen akhirnya berani merekrut Xabi Alonso sebagai pelatih pada pertengahan musim lalu menggantikan Gerardo Seoane. Sepak terjang Alonso dalam menangani Real Sociedad B maupun Real Madrid junior telah dilihat dari data AWS oleh Rolfes. Menurut Rolfes, racikan dan pengaruh gaya main Xabi Alonso akan cocok bila diterapkan di Leverkusen dengan materi skuad yang ada.

Pemain Hasil dari Data AWS

Beberapa transfer cerdas pemain yang dihasilkan dari metode data AWS ini juga terbukti berhasil. Seperti misal di musim ini ada Alex Grimaldo, Granit Xhaka, Nathan Tella, maupun Victor Boniface. Siapa yang mengenal Nathan Tella?

Pemain yang hanya bermain untuk klub medioker macam Burnley maupun Southampton itu justru dilirik oleh Rolfes lewat data dari AWS. Dan akhirnya terbukti. Nathan Tella menjadi salah satu pemain penting Leverkusen.

Hincapie dan Frimpong yang didatangkan pada musim-musim sebelumnya juga hasil data AWS. Hincapie berani dibeli di usia yang masih 19 tahun dari klub antah berantah, CA Talleres. Namun dengan kepercayaan Rolfes dari data yang ditunjukan AWS, Hincapie benar-benar berkembang menjadi salah satu bek potensial di Leverkusen.

Frimpong juga mirip. Pemain akademi Manchester City ini dibeli dari Celtic. Rolfes ketika itu yakin bahwa Frimpong mampu berkembang di Leverkusen setelah melihat langsung sayap Belanda tersebut dari video analisis data AWS.

Cetak Biru Bayer Leverkusen

Selain menggunakan alat bantu data AWS, di bawah kendali Simon Rolfes, Leverkusen juga punya tiga poin penting dalam cetak biru klub. Yakni atmosfer, pengembangan, serta kinerja.

Yang dimaksud atmosfer adalah menciptakan sebagus mungkin suasana internal tim. “Jika suasana di klub keruh, anda tidak akan mendapatkan performa terbaik dari pemain rekrutan anda,” kata Rolfes. Rolfes mengungkapkan jika dirinya terus mencoba membangun skuad terbaik dari sisi kepribadian terlebih dahulu.

Yang kedua adalah pengembangan. Baik itu pendatang baru, pemain akademi, atau pemain berpengalaman, begitu masuk ke dalam klub, proses pengembangan adalah yang paling diutamakan Leverkusen. Dan di sini yang paling berperan adalah sang pelatih.

Seperti yang dikatakan oleh kepala tim utama Leverkusen sekarang, Thomas Eichin. “Anda boleh memiliki strategi terbaik maupun filosofi terbaik. Akan tetapi jika anda tidak memiliki pelatih terbaik, anda tidak dapat mencapai tujuan anda. Karena buat Leverkusen, sangat penting pelatih yang tepat untuk membawa si pemain berkembang,” katanya.

Di sini penunjukan pelatih seperti Xabi Alonso menjadi tepat. Xabi Alonso mampu memanfaatkan kapasitas pemainnya dengan tepat. Baik itu pemain muda maupun pemain rekrutan baru. Bagaimanapun Xabi Alonso menjadi pilar penting penopang cetak biru Die Werkself dari segi pengembangan.

Yang terakhir adalah kinerja. Pilar ketiga ini bertujuan untuk membantu para pemain konsisten selama proses pengembangan. Segi kinerja inilah yang akan menilai pemain ini lolos uji atau tidak dari proses pengembangan.

Kalau sistem pengembangannya berjalan dengan baik, bisa diprediksi kinerja pemain tersebut akan berpengaruh bagi klub. Entah nantinya akan terus dipertahankan klub sebagai pemain inti, atau bisa saja kalau ada peluang untuk dijual dengan harga mahal, mereka pun akan dijual.

Ambisi Meraih Prestasi

Dengan beberapa metode yang kini sudah tak menjadi rahasia lagi, Leverkusen tampaknya sedang dalam track yang tepat dalam segi pengelolaan klub. Bayangkan dengan metode AWS dan cetak biru klub yang diterapkan, mereka musim ini hanya keluar kocek 80 juta euro saja.

Ya, efektivitas perekrutan pemain yang dilakukan Die Werkself musim ini oleh Rolfes berhasil. Setidaknya hingga spieltag ke-16 Bundesliga mereka masih memuncaki klasemen dengan koleksi 42 poin. Yang spesialnya lagi, mereka belum pernah kalah di Bundesliga.

Oh ya, selain itu mereka juga lolos ke babak 16 besar Europa League, juga dengan rekor sempurna tak pernah kalah di fase grup. Tak berlebihan jika menyebut pasukan Xabi Alonso di akhir musim nanti diprediksi akan meraih beberapa gelar. Entah itu gelar Bundesliga, Europa League, ataupun DFB Pokal.

Sayang kan, sudah kadung sempurna secara hasil, Leverkusen harusnya pede untuk berprestasi lebih. Maka dari itu, hilangkan mulai sekarang stigma “Neverkusen” atau “Mr Runner Up” yang dulu pernah mereka sandang. Bersiaplah, gelar di akhir musim akan mampir ke Leverkusen.

Sumber Referensi : bundesliga.com, transfermarkt, forbes, awsamazon

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru