Perjalanan Timnas Indonesia di Piala Asia 2023: Puas atau Mengecewakan?

spot_img

Timnas Indonesia terpaksa menutup buku petualangannya di Piala Asia 2023, walaupun belum sampai di halaman terakhir. Ya, mau bagaimana lagi. Level Timnas Indonesia memang naik, tapi Australia adalah lawan yang terlalu kuat. Kekalahan adalah sebuah keniscayaan.

Tapi bukan soal menang atau kalah yang menjadi poinnya. Namun, bagaimana para penerus Widodo Cahyono Putro itu berjuang di Piala Asia. Timnas Indonesia telah melawan, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.

Kalau ditilik ke belakang, sebelum lolos ke fase gugur, bahkan sebelum lolos ke Piala Asia 2023, Timnas Indonesia telah berjuang dari lingkup paling kecil. Dari level paling rendah di tangga kualifikasi.

Nyaris Gagal Lolos

Perjalanan Timnas Indonesia ke Piala Asia sama sekali bukan perjalanan mudah. Indonesia memulai kualifikasi Piala Asia dari ronde kedua. Di putaran kedua, Indonesia tergabung Grup G bersama Vietnam, Malaysia, Thailand, dan Uni Emirat Arab.

Laga putaran kedua mulai digelar pada 2019. Dan waktu itu, Indonesia masih belum ditukangi Shin Tae-yong, melainkan Simon McMenemy. Selain untuk kualifikasi Piala Asia, di putaran kedua ini juga dipergunakan untuk kualifikasi Piala Dunia.

Jadi, peringkat teratas masing-masing grup dan runner-up terbaik akan otomatis ke Piala Asia dan berhak mendapatkan tiket ke kualifikasi Piala Dunia zona Asia putaran ketiga. Namun, di putaran kedua ini, Indonesia di tangan Simon McMenemy sangat kesulitan untuk memetik satu saja kemenangan.

Apalagi mantan pelatih Timnas Filipina di Piala AFF 2010 itu mengabaikan filosofi filanesia. Cara bermain Simon juga kerap dibandingkan dengan Luis Milla, pendahulunya. Di tangan pelatih berpaspor Skotlandia itu, Indonesia diubahnya bermain ala Inggris dengan kick and rush-nya.

Cara Simon ini benar-benar hanya membawa Indonesia finis di posisi paling buncit. Indonesia harus menelan tujuh kekalahan di putaran kedua dan hanya memperoleh satu poin ketika imbang atas Thailand. Yang paling memalukan tentu saat Indonesia dihajar Uni Emirat Arab lima gol tanpa balas.

Hanya berada di peringkat lima membuat nasib Indonesia ke putaran ketiga terkatung-katung. Indonesia bahkan tidak masuk dalam tiga tim peringkat lima terbaik. Namun, untungnya masih ada babak play-off sebagai kesempatan untuk melangkah ke putaran ketiga.

Babak Play-Off dan Magis Shin Tae-yong

Setelah dianggap gagal menukangi Timnas Indonesia, Simon McMenemy didepak di penghujung tahun 2019. Isu siapa yang akan menggantikan pun berkeliaran. Ada beberapa nama yang diajukan untuk menggantikan Simon. Rahmad Darmawan, Seto Nurdiantoro, Luis Milla, dan Shin Tae-yong.

Khusus nama yang terakhir, PSSI yang waktu itu masih dipimpin Mohammad Iriawan melakukan operasi senyap. Iwan Bule bersama Ratu Tisha mencoba mendekati eks pelatih Korea Selatan itu. Mengingat waktu itu Tae-yong masih nganggur usai dipecat dari Timnas Korsel.

Singkat cerita, Shin Tae-yong akhirnya mengambil kursi kepelatihan Timnas Indonesia. Itu artinya di babak play-off kualifikasi Piala Asia 2023, ia yang akan melatih. Nah, di babak play-off untuk memperebutkan satu tempat di putaran ketiga, Indonesia harus menghadapi Chinese Taipei.

Pertandingan digelar dalam dua leg di tempat netral. Kala itu berlangsung di Buriram Stadium, Thailand. Indonesia masih belum diperkuat pemain diaspora. Namun, lewat racikan jitu Shin Tae-yong, Indonesia berhasil melumat Chinese Taipei 5-1 dalam dua leg dan memastikan satu tempat di putaran ketiga.

Putaran Ketiga dan Kejutan-kejutannya

Di putaran ketiga, Indonesia berada satu grup dengan dua raksasa Timur Tengah, Yordania dan Kuwait. Satu lawan sisanya, Nepal. Nepal jelas lawan termudah bagi Indonesia. Namun, menghabisi Nepal dengan banyak gol saja tidak akan cukup apabila kalah melawan dua negara lainnya.

Ujian lainnya, Indonesia harus bertandang ke Kuwait. Karena AFC telah menentukan bahwa tuan rumah rumah Grup A, grup yang ada Indonesia di dalamnya, adalah Kuwait. Tidak bermain di rumah sendiri menjadi tekanan bagi Indonesia.

Apalagi harus menghadapi Kuwait di laga pertama. Ditambah Indonesia tidak pernah menang di laga pertama kualifikasi Piala Asia dalam dua edisi terakhir, yakni 2011 dan 2015. Melawan Kuwait, Indonesia juga tidak pernah menang sejak 1980.

Namun, dengan permainan atraktif yang diusung Shin Tae-yong, ditambah kehadiran pemain diaspora seperti Elkan Baggott, Indonesia mampu mengejutkan dengan mengalahkan Kuwait di laga pembuka. Indonesia tertinggal lebih dulu lewat gol Yousef Nasser. Namun cuma butuh empat menit, Indonesia akhirnya menyamakan kedudukan lewat penalti Marc Klok.

Itu sekaligus menjadi gol pertama Klok di Timnas Indonesia senior sejak ia dinaturalisasi. Indonesia kemudian membalikkan keadaan pada menit ke-47 melalui Rachmat Irianto. Kemenangan 2-1 berhasil dikunci. Kemenangan itu modal penting.

Sebab dengan begitu Indonesia yang menggunduli Nepal 7-0 di laga terakhir, bisa mengumpulkan enam poin. Meski kalah dari Yordania. Indonesia pun lolos ke putaran final Piala Asia 2023 sebagai salah satu dari lima runner-up terbaik.

Langsung Satu Grup dengan Mantan Juara

Lolosnya Indonesia ke putaran final Piala Asia 2023 disambut meriah oleh penduduk tanah air. Tak menyangka, setelah kurang lebih 16 tahun menanti, Indonesia akhirnya lolos lagi ke gelaran paling akbar se-Asia. Kelolosan ini bahkan menjadi bayaran yang lebih dari setimpal daripada memenangkan Piala AFF.

Namun, lolos ke Piala Asia, itu artinya Indonesia harus siap dengan konsekuensinya. Karena setelah masuk ke putaran final, musuh yang dihadapi tidak lagi selevel Guam, Chinese Taipei, atau Nepal. Apalagi Indonesia masuk pot empat.

Setelah pengundian di Doha, Qatar, Indonesia berada satu grup dengan dua mantan juara Piala Asia, Irak dan Jepang. Satu tim lainnya adalah Vietnam. Indonesia beruntung dan tidak beruntung dalam waktu yang bersamaan. Beruntung karena satu grup dengan sesama Asia Tenggara.

Tidak beruntung karena sudah harus bertemu Jepang dan Irak. Namun, ini menjadi pengalaman yang berharga untuk Timnas Indonesia. Satu grup dengan sesama wakil Asia Tenggara, paling tidak Indonesia bisa memetik satu kemenangan.

Setelah lolos ke Piala Asia dan tahu siapa lawannya, Indonesia memasang target tinggi tapi realistis. Yakni lolos ke 16 besar. Salah satu untuk mencapainya adalah satu kali menang, satu imbang, dan sekali kalah. Harapannya Indonesia menahan imbang Irak, kalah dari Jepang, dan menang atas Vietnam.

Lolos ke Fase Gugur

Namun, kenyataan memang tak selalu sesuai harapan. Indonesia yang menghadapi Irak harus rela digiling 3-1. Meski kalah, permainan Indonesia di laga itu sangat berbeda ketika dihajar Irak 5-1 di Basra. Indonesia menunjukkan progres yang luar biasa. Anak asuh Shin Tae-yong bahkan berhasil melakukan tekanan ke pertahanan Irak dan melahirkan banyak peluang.

Sayangnya, yang berbuah gol cuma satu. Akan tetapi, gol yang cuma satu itu pun gol yang berkelas. Diawali dengan berhasil memotong laju serangan Irak, Indonesia melakukan transisi cepat, umpan Yakub Sayuri setelah melakukan gocekan maut diselesaikan dengan sangat baik oleh Marselino.

Pengalaman menghadapi Irak dibawa saat melawan Vietnam. Indonesia makin percaya diri menghadapi pasukan Nguyen. Sejak menit awal, anak asuh Shin Tae-yong berhasil mendikte permainan. Sayangnya, deadlock masih tak terpecahkan. Namun, usaha mereka akhirnya terjawab. Gol yang dinanti hadir jelang babak pertama usai.

Indonesia mendapat kado penalti. Asnawi, sang eksekutor, sukses menunaikan tugasnya. Di laga kontra Jepang, Indonesia nyaris dicukur 3-0. Namun, di menit-menit akhir, bola liar hasil lemparan ke dalam Pratama Arhan dimanfaatkan dengan baik oleh Sandy Walsh yang akhirnya mencetak gol ke gawang Zion “Onana” Suzuki.

Hanya memenangkan satu laga di fase grup, Indonesia harus berpangku tangan dengan hasil di grup lain. Sebab, Indonesia bisa saja tidak lolos ke 16 besar sebagai salah satu dari empat tim peringkat tiga terbaik. Saat itulah para pemain, pelatih, dan ofisial sudah pasrah.

Beberapa pemain seperti Justin Hubner dan Adam Alis sudah mulai merapikan bajunya. Namun di tengah rasa pesimistis itu, Tuhan ternyata menjawab doa dan usaha punggawa Timnas Indonesia. Adalah Joel Kojo, pemain Kirgistan yang sukses membuat Indonesia menciptakan sejarah.

Golnya di menit ke-80 menggagalkan kemenangan Oman atas Kirgistan. Para pemain Indonesia pun berpesta usai memastikan diri lolos ke fase gugur Piala Asia untuk pertama kalinya. Sayang, di 16 besar, Indonesia harus keok atas Australia.

Sampai ke fase gugur Piala Asia jelas merupakan prestasi yang mungkin akan sulit diukir lagi di kemudian hari. Terlepas kemenangan Indonesia yang hanya sekali, tapi selama Piala Asia 2023, ada banyak perkembangan yang ditunjukkan Timnas Indonesia. Yang paling kentara adalah mentalitas.

Para pemain mulai berani menekan, juga tak mudah goyah ketika ditekan lawan. Permainan mereka di atas lapangan juga lebih cair. Meski ada beberapa hal yang perlu diperbaiki. Jadi, football lovers, puaskah dengan pencapaian Timnas Indonesia di Piala Asia 2023?

Sumber: IDNTimes, Detik, CNNIndonesia, Sport-Tourism, CNNIndonesia, CNNIndonesia

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru