Pelatih-Pelatih Aneh yang Pernah Menukangi Barcelona

spot_img

Barcelona oh Barcelona, kenapa engkau menjadi klub yang aneh sih? Baru ada klub besar yang rela menjual souvenir rumput, abu jenazah, hingga jaring gawang demi menutupi krisis keuangannya.

Namun, keanehan klub asal Catalan itu tak hanya sampai di situ. Ada hal aneh lain yang pernah terjadi di klub ini, yakni soal penunjukan pelatih. Sebagai klub besar, Barcelona pernah dilatih oleh pelatih-pelatih aneh yang justru tak mempunyai reputasi apik sebelumnya. Siapa saja mereka?

Serra Ferrer

Barcelona selama tahun 1997 hingga 2000 dikenal sebagai klub “Belandanisasi” bersama pelatih Louis Van Gaal. Pemain Belanda seperti Kluivert, Zenden, Cocu, hingga De Boer bersaudara diboyong ke Camp Nou oleh Van Gaal.

Namun sayang, Van Gaal berhenti menjadi pelatih Barcelona di tahun 2000 karena beberapa faktor termasuk tak ada trofi di musim terakhirnya, dan pertengkarannya dengan para pemain termasuk Rivaldo.

Era baru Barcelona pun dimulai ketika bertepatan dengan terpilihnya presiden baru, Joan Gaspart. Di era Gaspart Barca menunjuk pelatih medioker, yakni Lorenzo Serra Ferrer.

Profil pelatih kelahiran Mallorca ini sebelumnya tak terlalu meyakinkan. Terlebih sebelumnya Ferrer hanyalah pelatih klub medioker macam Mallorca dan Real Betis. Prestasinya pun tak terlalu menonjol di beberapa klub tersebut.

Setelah dari Betis, nasib Ferrer mujur ketika ditunjuk jadi pelatih akademi Barcelona sejak 1997. Pengalamannya di akademi itulah yang membuat Ferrer dipercaya Gaspart. Selain itu, Gaspart juga yakin Ferrer bisa membangkitkan para pemain muda Spanyol yang di masa Van Gaal sering terlupakan.

Namun selama pengabdiannya, pelatih botak berkumis itu malah identik dengan konflik. Salah satu konflik yang terkenal pada masa itu adalah dengan pemain prancis Emmanuel Petit. Petit merasa kesal dengan Ferrer ketika menanyakan posisi Petit di lapangan. Menurut petit, pelatih itu tak menghargainya.

Hanya semusim umur Ferrer melatih Barca. Hasil minor di liga domestik maupun Eropa membuat ia dievaluasi dan didesak untuk mundur. Gaspart juga didesak untuk mendepaknya. Gaspart pun akhirnya mencari jalan tengah. Ia tidak mendepak Ferrer, melainkan memindahtugaskannya jadi direktur olahraga Azulgrana sejak 2001.

Radomir Antic

Rivalitas Real Madrid dan Barcelona mendarah daging di sepakbola Spanyol. Kedua
klub tak jarang bertengkar demi sebuah gengsi. Misal seperti pemain dari kedua tim yang saling pindah. Masih ingat ketika Luis Figo dicap pengkhianat karena pindah ke Real Madrid dan dilempar kepala babi? Ya, semengerikan itu rivalitas kedua tim.

Namun, ada fenomena aneh pada Januari 2003. Barcelona di bawah Presiden Gaspart menunjuk pelatih yang merupakan bekas pelatih Real Madrid, yakni Radomir Antic. Pelatih Serbia itu padahal belum lama menukangi El Real pada tahun 2001.

Musim 2002/03 memang musim serba susah bagi Barcelona. Mereka terpuruk pada saat Van Gaal kembali untuk kedua kalinya. Gaspart berpikir untuk menyelamatkan tim ini sebelum musim berakhir. Antic juga dinilai pengalaman di sepakbola Spanyol. Jadi, tak perlu lama untuk adaptasi.

Namun, Gaspart lupa bahwa Antic di Real Madrid tak berhasil. Alih-alih dapat apresiasi, Gaspart malah dapatkan sentimen negatif setelah penunjukan eks pelatih El Real itu.
Sebagian besar Cules menganggapnya tak becus menahkodai klub.

Sejak itu pula angin desakan untuk Gaspart mundur dari kursi presiden pun mengemuka. Benar saja, selang sebulan, pada Februari 2003 Gaspart mundur sebagai presiden Barca. Masa pengabdian Antic pun akhirnya hanya enam bulan di Camp Nou.

Gerardo Martino

Selama empat musim melatih Barcelona, Pep Guardiola banyak meninggalkan kisah indah bagi publik Catalan. Publik Catalan seakan tak mau lepas dari Barcelona rasa Pep Guardiola. Bahkan setelah Pep pergi, yang ditunjuk pelatih adalah orang dekatnya yakni Tito Vilanova.

Tito diharapkan mampu meneruskan apa yang telah dicapai oleh Pep. Namun sayang pelatih asal Spanyol itu hanya semusim di Camp Nou akibat gangguan kesehatan yang akhirnya mengantarkannya ke liang lahat tahun 2014.

Pasta Tito, publik Camp Nou dikejutkan dengan penunjukan pelatih baru, yakni Gerardo Martino. Pelatih asal Argentina ini sebelumnya hanya menangani klub Argentina, Newell’s Old Boys. Di klub itu Martino juga tak terlalu mentereng dan bahkan nihil gelar.

Usut punya usut, penunjukan pelatih kelahiran Rosario itu ternyata atas rekomendasi dari Lionel Messi. Setelah ditunjuk jadi pelatih Barca, Martino sendiri yang membeberkan hal itu.

Namun pada kenyataannya, Martino hanyalah pelatih yang hebat di Argentina saja, bukan di tempat lain. Pelatih yang sering dipanggil Tata ini hanya membuat nyaman Messi saja, tak lebih dari itu. Hanya gelar Supercopa Espana yang ia persembahkan. Pelatih Argentina keempat dalam sejarah Barcelona ini pun akhirnya didepak pada tahun 2014.

Ernesto Valverde

Perjalanan panjang Luis Enrique setelah meraih treble winner musim 2014/15 dengan trio Messi-Suarez-Neymar (MSN), tak dapat dilupakan begitu saja. Pelatih kelahiran Gijon itu menjadi harapan baru Cules sebagai pelatih yang bisa meneruskan era kejayaan Barca di bawah Pep.

Namun ceritanya berbeda. Enrique hanya bertahan tiga musim di Camp Nou dengan segala kenangan yang ada. Ia didepak pada tahun 2017 karena ada pertikaian dengan Presiden Bartomeu soal transfer pemain.

Lalu yang ditunjuk Barcelona adalah pelatih medioker yang pernah menangani Espanyol maupun Bilbao, Ernesto Valverde. Menurut Bartomeu, Valverde dianggap berhasil selama empat musim menangani Bilbao. Valverde juga dianggap punya DNA Barca karena ia adalah mantan pemain Barca era akhir 80-an.

Tak hanya itu, Bartomeu bahkan percaya Valverde punya filosofi permainan Barca yang mirip Pep. Namun, sejak penunjukan Valverde sebagian fans Barca sudah pesimis. Mereka menganggap Valverde hanyalah pelatih medioker.

Benar anggapan fans. Ketika melatih, gaya permainannya tak ada mirip-miripnya dengan Pep. Valverde lebih memainkan sepakbola pragmatis. Pelatih kelahiran 1964 ini lebih dikenal fans Barca dengan pelatih spesialis “kena comeback” di Liga Champions.

Barcelona kena comeback atas AS Roma di perempat final Liga Champions 2018 dan semifinal melawan Liverpool di 2019, terjadi pada masa pelatih penjaskes itu. Valverde hanya bertahan dua setengah musim di Camp Nou sebelum akhirnya dipecat pada tahun 2020.

Quique Setien

Ketika Barcelona muak dengan pelatih medioker sekelas Valverde, Bartomeu kembali berulah dengan menunjuk pelatih serupa, yakni Quique Setien. Pelatih kelas medioker yang sebelumnya hanya melatih klub seperti Real Betis. Belum ada satu pun gelar yang diraihnya selama melatih sebuah klub.

Ditunjuknya Setien menurut Bartomeu adalah pilihan kedua setelah pendekatan kepada pelatih Al-Sadd saat itu, Xavi Hernandez gagal. Pelatih berambut putih itu pun awalnya terkejut ketika ditunjuk. Saking berterimakasihnya pada Bartomeu, Setien sampai berjanji akan membawa Barca kembali pada khitahnya, yakni permainan menghibur dan menyerang ala Johan Cruyff.

Maklum, di bawah Valverde gaya permainan Barca telah melenceng jauh dari ide-ide sepakbola Cruyff. Namun apalah artinya janji, Barcelona tak berubah dibawah Setien. Bahkan hasilnya lebih parah.

Masih ingat dengan pembantaian 2-8 di Liga Champions oleh Bayern Munchen? Ya, itu terjadi di masa Setien menjabat. Pelatih berambut putih itu terbukti gagal total menukangi Barca. Umurnya melatih Barca pun hanya delapan bulan, sebelum ia digantikan oleh Ronald Koeman.

https://youtu.be/3sGerBD2kNc

Sumber Referensi : fcbarcelona, espn, barcauniversal, theguardian, eurosport, sport, standart

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru