NGAWUR! Bisa-Bisanya Pemain Ini Tak Dipanggil Timnas Indonesia di Piala Asia 2023

spot_img

Postingan dengan tema boarding di bandara, jadi cara unik akun Instagram @timnas.indonesia mengumumkan 29 nama yang dipanggil Shin Tae-yong guna TC di Turki. Nantinya, nama-nama tersebut akan diseleksi untuk persiapan Piala Asia 2023 pertengahan Januari 2024 mendatang.

Namun, dari nama yang muncul ada sejumlah pemain yang tak dipanggil. Meskipun pemain tersebut sedang dalam performa terbaik bersama klub. Lantas siapa pemain yang dimaksud? Berikut adalah nama-nama pemain yang sebenarnya layak masuk skuad Piala Asia 2023.

Nadeo Argawinata

Nama pertama yang tidak dipanggil STY adalah Nadeo Argawinata. Tak sedikit yang menyayangkan keputusan ini. Alih-alih memanggil Nadeo, pelatih asal Korea Selatan itu justru memanggil Muhammad Riyandi, Ernando Ari, dan Syahrul Trisna Fadillah. 

Padahal Nadeo Argawinata tengah berada di puncak performa dalam dua musim terakhir. Terlebih, pemain asli Kediri ini membawa Pesut Etam memuncaki klasemen sementara Liga Indonesia musim 2023/24. Bersama Borneo, Nadeo juga sudah mengantongi 75 penyelamatan dan 11 clean sheet. Berbeda dengan Ernando yang baru mengemas 35 penyelamatan dan dua nirbobol. 

Kiper lain yang dipanggil, Muhammad Riyandi bahkan hanya melakukan 48 penyelamatan dan satu clean sheet. Syahrul malah yang paling buruk dengan 35 penyelamatan dan satu clean sheet saja. Tampaknya, STY masih kecewa dengan performa Nadeo di laga kontra Irak kemarin.

Stefano Lilipaly

Masih dari Borneo FC, Stefano Lilipaly juga untuk kesekian kalinya tak dipanggil oleh Shin Tae-yong. Padahal pemain berdarah Belanda itu tampil cemerlang bersama klubnya saat ini. Lilipaly berkontribusidalam 20 gol yang diciptakan Borneo selama 23 laga.

Catatan tersebut sekaligus menjadikan musim ini sebagai musim terbaiknya selama berkarier di Indonesia. Pemain berusia 33 tahun itu masih layak membela Timnas Indonesia. Sayangnya, statistik itu tak dilihat oleh Shin Tae-yong. Dilansir CNN Indonesia, Coach Shin menilai stamina Lilipaly sudah tidak mumpuni untuk menghadapi tim-tim yang kualitasnya di atas Timnas Indonesia.

Jika masalahnya hanya stamina, sebetulnya ada atribut lain yang bisa dimanfaatkan dari Lilipaly. Misalnya, keahliannya dalam menemukan ruang dan naluri mencetak gol di tengah kebuntuan. Dua keahlian itu tak dimiliki oleh Dendy Sulistyawan yang, lagi-lagi dipanggil oleh Shin Tae-yong. Meskipun performanya di Bhayangkara FC tidak menarik.

Fachrudin Aryanto

Fachrudin Aryanto juga tak terlihat dalam daftar pemain yang dipanggil Coach Shin. Tanpa menanyakan apa alasannya, kita sudah bisa menyimpulkan mengapa Fachrudin mulai tersisih. Ya, tentu saja karena keberadaan Jordi Amat di sektor pertahanan Timnas Indonesia.

Menurut sejarahnya, Fachrudin adalah pemain paling berpengalaman di tim nasional saat ini. Bayangkan saja, pemain kelahiran Klaten tersebut sudah jadi andalan Skuad Garuda sejak era almarhum Alfred Riedl. Jadi, soal pengalaman, kepemimpinan dan komitmen di lapangan, Fachrudin sudah tak diragukan lagi. Ia adalah salah satu bek tengah terbaik yang dimiliki Indonesia.

Fachrudin juga masih jadi pilihan utama di Madura United. Tak heran, ia dipandang lebih layak masuk skuad tim nasional Indonesia ketimbang pemain-pemain muda minim pengalaman macam Wahyu Prasetyo. Namun, lagi-lagi ini soal selera sang pelatih. Coach Shin menilai peran Fachrudin bisa diemban oleh Jordi Amat.

Alfreandra Dewangga

Ketimbang Wahyu Prasetyo, Alfreandra Dewangga barangkali lebih layak masuk ke Timnas. Selain masih muda, Dewangga memiliki segudang pengalaman di ajang internasional. Dewangga juga tak perlu lagi adaptasi dengan skema permainan STY. Sang pemain sudah beberapa kali tampil di bawah mantan pelatih Seongnam Ilhwa itu.

Kelebihan dari pemain yang satu ini adalah fleksibilitas dan kemampuan lemparan jarak jauh seperti apa yang dimiliki oleh Pratama Arhan. Dewangga bisa bermain di bek kiri, bek tengah, dan gelandang bertahan dengan sama baiknya. Itu sudah terbukti di Timnas Indonesia U-23. Sedangkan lemparan jarak jauh sudah terasah selama satu tahun terakhir.

Selain itu, Dewangga juga memiliki stamina dan etos kerja yang sangat baik. Dua karakteristik kesukaan STY. Jadi, cukup aneh apabila tidak memasukan namanya ke skuad tim nasional. Mungkin, Coach Shin beranggapan kalau Edo dan Wahyu memiliki kualitas yang lebih baik darinya.

Beckham Putra

Di sektor gelandang, Bumi Pasundan punya satu nama yang layak masuk skuad Timnas Indonesia asuhan Shin Tae-yong. Dia adalah Beckham Putra Nugraha. Seluruh fans sepakbola Indonesia pasti tak asing dengan pemain yang satu ini. Selain namanya yang mirip dengan legenda Timnas Inggris, kemampuan Beckham Putra juga di atas rata-rata pemain seusianya.

Produk asli Persib Bandung ini masih berusia 22 tahun. Tapi dirinya sudah jadi andalan di sektor tengah Maung Bandung dalam tiga musim terakhir. Kreativitas dan akselerasinya di lapangan sangat diandalkan oleh Persib. Selain itu, Beckham juga dianugerahi naluri mencetak gol yang tinggi meski bermain sebagai gelandang serang.

Mungkin ketimbang memasukan nama Adam Alis dan Arkhan Fikri, Beckham Putra lebih layak mengisi sektor tengah tim nasional Indonesia. Terlebih, pemain berusia 22 tahun itu sudah sering bermain bersama Marc Klok. Jadi, Beckham bisa jadi tandem yang sempurna bagi pemain keturunan Belanda itu.

Mohammad Khanafi

Selanjutnya ada Mohammad Khanafi. Jika Shin Tae-yong ingin menambahkan unsur baru di lini serang Timnas Indonesia, pemain yang satu ini bisa jadi pertimbangan. Striker Persik Kediri ini beberapa kali mencuri perhatian melalui aksinya di Liga Indonesia. Meski bukan pilihan utama di Persik Kediri, Khanafi selalu bisa diandalkan apabila diberi kesempatan oleh Marcelo Rospide.

Catatan tujuh kontribusi gol dengan menit seadanya sudah bisa jadi bukti kalau Khanafi menyimpan potensi yang besar bersama Persik. Kecepatan jadi modal terbesarnya dalam menerobos pertahanan lawan. Umpan-umpan jarak jauh dari Jordi Amat, Marc Klok, atau bahkan Ivar Jenner bisa dipercayakan kepada Mohammad Khanafi.

Ricky Fajrin

Terakhir ada wajah yang sudah lama tak terlihat, Ricky Fajrin. Pemain Bali United itu terakhir kali tampil untuk Timnas Indonesia pada tahun 2019. Bisa dibilang, kala itu Ricky adalah salah satu pemain kesayangan Luis Milla. Nah, di tengah menurunnya performa Pratama Arhan, Ricky Fajrin sebetulnya layak dicoba kembali.

Ricky Fajrin punya kapasitas dalam bertahan maupun menyerang. Ketika bertahan, pengambilan keputusannya matang. Tekel-tekel yang dilepaskan cenderung bersih. Sementara performanya saat membantu serangan juga impresif. Ricky memiliki kecepatan berlari dan umpan-umpan panjang yang relatif akurat. 

Jam terbang yang dimiliki Ricky Fajrin, baik di level klub maupun di Timnas Indonesia, tentu menghasilkan pengalaman yang berharga. Hal itu yang membentuk mental bermainnya. Dengan segala kemampuannya itu, Ricky Fajrin masih sangat layak untuk tampil di Timnas Indonesia.

Sumber: Bola, Jpnn, CNN, Transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru