Neymar dan Karier yang Dirusaknya Sendiri

spot_img

[Include wawancara Neymar pertama kali di Al-Hilal, tidak usah di VO]

Neymar: “Ini adalah pengalaman baru, tantangan baru. Tentu saja saya sangat semangat untuk menulis sejarah.”

Jawaban umum pesepakbola yang baru datang ke suatu klub. Tapi, hei, apa yang terjadi? Bagaimana mungkin Neymar bisa sampai di titik itu? Neymar yang ditakdirkan sebagai penerus Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi, tapi ia malah meninggalkan Eropa hanya semalam.

Ini sebuah keputusan gila. Karena dengan keputusannya pindah ke Saudi Pro League, Neymar menggadaikan kariernya sendiri di dunia si kulit bundar. Padahal kariernya itu dibangunnya dengan susah payah.

Kelahiran Neymar

Neymar da Silva Santos Junior atau orang mengenalnya Neymar Jr lahir di Mogi das Cruzes. Mogi das Cruzes adalah satu dari sekian daerah pinggiran di kota sebesar Sao Paulo. Ya, Neymar lahir di daerah yang benar-benar kacau dan kamu tahu, menyebalkan!

Neymar keluar dari rahim ibunya, 5 Februari 1992. Malangnya, kemiskinan sudah menyapa Neymar sejak lahir. Ayahnya, Neymar da Silva Sr dan ibunya, Nadine bukan pekerja bergaji tinggi.

Bahkan, saat Neymar masih dalam kandungan, orang tuanya sama sekali tidak melakukan USG untuk memeriksa perkembangan si buah hati. Bukan tidak mau atau malas, tapi tak ada ongkos untuk itu.

Namun, syukurlah, ketika lahir, Neymar baik-baik saja. Kondisinya sehat dan tiada kurang satu apa pun. Semburat kebahagiaan pun terpancar dari wajah kedua orang tua Neymar. Sang ayah kemudian mewariskan namanya ke Neymar, sehingga nama keduanya pun sama.

Neymar terlahir sebagai putra sekaligus anak pertama dari orang tuanya. Karena setelah ia menyapa dunia, sekitar empat tahun berselang, Rafaella Santos lahir. Ya, Rafaella adalah saudara perempuan Neymar. Nantinya Rafaella menggeluti dunia model.

Hidup Miskin dan Nyaris Mati

Saat beranjak balita, Neymar harus menelan pil pahit kemiskinan. Bahkan untuk tidur saja, Neymar hanya bisa satu kamar dengan orang tua bahkan saudara perempuannya. Kamu tahu? Ukuran kamar yang ditinggali Neymar hanya pas untuk satu kasur. Jadi Neymar, ayah, ibu, dan saudara perempuannya berbagi tempat tidur.

Yang dimaksud rumah ayahnya Neymar itu pun sejatinya rumah kakeknya. Ayah Neymar tak punya rumah. Walaupun tidak memiliki rumah sendiri dan hidup dalam jerat kemiskinan, tapi sang ayah, begitu pula ibunya, tidak pernah surut memberikan kasih sayang kepada Neymar.

Namun, nasib buruk menghampiri Neymar saat usianya belum genap satu tahun. Anak yang belum tumbuh dengan sempurna itu nyaris meregang nyawa dan sejarah sepak bola tidak akan mencatat namanya.

Saat sedang bepergian dengan orang tuanya, tiba-tiba sebuah kendaraan melaju kencang, menuruni daerah perbukitan. Si pengemudi kehilangan kendali. Kendaraan yang pengemudinya kehilangan kendali itu menghantam mobil yang ditumpangi Neymar dan orang tuanya. Beruntung, Neymar dan keluarganya selamat.

Itu bukan satu-satunya kecelakaan yang dialami Neymar beserta orang tuanya. Beberapa waktu setelah kecelakaan mengerikan itu, Neymar dan keluarganya kembali nyaris bertemu Sang Khalik. Ketika hujan mengguyur, ayah Neymar memacu mobil dalam perjalanan mengunjungi beberapa kerabat.

Ayah Neymar tidak menyadari di depan ada mobil lain yang melaju cepat mengarah ke mobil yang ditumpangi keluarganya. Untunglah, ayah Neymar adalah pengemudi yang berpengalaman. Ia banting setirnya ke kiri sebelum mobil itu menghantam.

Sayangnya, itu sudah terlambat. Kecelakaan tak bisa dihindari. Ayah Neymar mengalami kondisi yang cukup parah. Kaki kirinya cedera, tulang pinggulnya juga terkilir.

Tapi di kondisi semacam itu, naluri orang tua Neymar tak luntur sama sekali. Sang ayah tidak mempedulikan cederanya. Yang ia pedulikan hanyalah kondisi anaknya. Apakah Neymar baik-baik saja? Saat dilarikan ke rumah sakit, ayah Neymar berpikir ia akan segera meninggal dunia.

[Wawancara ayah Neymar, tidak usah di VO]

Ayah Neymar: “Saat dalam keadaan syok, aku berbicara dengan istriku, ‘Nadine, aku mati’. Semuanya terjadi cepat dan ada banyak kebingungan.”

Selamat dari Kecelakaan

Dengan melihat sekeliling, ayah Neymar mencari keberadaan putranya. Ia khawatir tak menemukan anak kesayangannya itu. Bahkan, ayah Neymar sampai meminta Tuhan untuk mencabut saja nyawanya saat itu juga, daripada nyawa anaknya yang hilang.

Namun, Tuhan masih berbelas kasih kepada keluarga Neymar. Satu per satu berhasil diselamatkan. Meski mengalami luka parah, Neymar dan keluarga akhirnya bisa diselamatkan.

Hari demi hari, Neymar dan keluarganya berangsur-angsur sembuh dan menjalani kehidupan seperti sedia kala. Di saat itulah Neymar mulai bertumbuh sebagai talenta sepak bola yang luar biasa.

Bakat yang Mulai Kelihatan

Saat itu, Neymar berada dalam kondisi sulit. Sang ayah mencoba untuk mencari pekerjaan lain demi menghidupi keluarga. Sebentar, apa pekerjaan ayah Neymar sebelumnya? Dulu, ayah Neymar adalah seorang pesepakbola. Hanya saja ia tidak populer karena bermain di level amatir.

Setelah tidak menjadi pemain, sang ayah melakukan pekerjaan apa pun demi keluarganya. Kadang jadi buruh. Pernah menjadi seorang mekanik. Bahkan pernah menjadi seorang sales. Memang, tidak mudah mencari pekerjaan di pinggiran Sao Paulo.

Jarak rumahnya ke pusat Kota Sao Paulo saja lebih dari satu jam. Lingkungannya dekat dengan tempat pembuangan sampah. Tidak hanya itu, Mogi das Cruzes adalah kawasan yang berbahaya karena di sana sarat narkoba, kemiskinan, serta tingkat kejahatan yang tinggi.

Di kondisi semacam itulah bakat Neymar dikenali sang ayah. Neymar adalah anak yang hiperaktif. Tapi ia jauh lebih aktif ketika bola ada di dekatnya. Ayah Neymar yang mengetahui sang anak meminati sepak bola segera membantunya untuk mengejar mimpinya itu.

Tahun 1990-an, bakat-bakat Brasil sedang rekah. Apalagi tahun 1994 mereka juara dunia di Amerika Serikat. Romario, Ronaldo, Bebeto, Rivaldo, Cafu, sampai Dunga menginspirasi orang-orang Brasil. Barangkali karena inilah ayah Neymar tak ragu mendukung bakat anaknya.

Berkembang dari Sepak Bola Jalanan

Namun, jalan menuju ketenaran masih jauh. Neymar masih harus menempa dirinya lagi. Sejak kecil, Neymar memainkan sepak bola di jalanan dan tanah kosong. Dengan riang ia memainkan bola. Dari masih belia, kelihaiannya dalam ber-jogo bonito sudah kelihatan.

Bukan di SSB, justru Neymar mengembangkan skill-nya bermain bola dengan bergabung ke salah satu klub futsal. Neymar beruntung bisa bergabung ke salah satu tim futsal kompetitif di selatan Sao Paulo, Portuguesa Santista. Neymar lolos uji dan masuk barisan tim muda.

Di sanalah ia menggabungkan futsal dan sepak bola. Dengan bermain futsal, Neymar makin bertumbuh. Futsal membantu Neymar untuk terus mengembangkan kemampuannya.

Dibeli Santos, Awal Ketenaran

Lima tahun bersama tim futsal Portuguesa Santista, Neymar menjadi yang paling menonjol di level akademi. Ia tak pernah berhenti mendapatkan pujian karena kepiawaiannya dalam melakukan tipu daya. Neymar naik daun dan di saat itu, salah satu klub besar di Brasil, Santos FC menawarinya kontrak tahun 2003.

Santos FC, klub besar di Brasil. Klub yang pernah diperkuat Pele. Tanpa pikir panjang Neymar menerima tawaran masuk akademi Santos. Kedua orang tuanya juga ikut pindah ke Santos. Kontrak tersebut seketika menaikkan derajat keluarga Neymar.

Dengan uang hasil kontrak itu, keluarga Neymar bisa membeli rumah pertama dekat markasnya Santos FC. Di titik itulah, kasih sayang orang tua Neymar makin deras. Keduanya tidak pernah libur memberkati sang putra pembawa rezeki.

Meskipun bergabung dengan Santos, Neymar sendiri mengakui bahwa ia sejatinya adalah penggemar Palmeiras. Bahkan setahun setelah Neymar mendarat ke Santos, fotonya mengenakan jersey Palmeiras terkuak.

Berkembang di Santos

Sesampainya di akademi Santos, Neymar bertemu dan berteman baik dengan Paulo Henrique Ganso. Di masa depan Paulo Henrique adalah pemain Sevilla. Nah, saat menjalani hari-harinya di akademi Santos, sebuah tawaran menggiurkan datang untuk Neymar.

Tawaran itu datang dari raksasa Spanyol, Real Madrid!

Neymar baru berusia 14 tahun saat Real Madrid membawanya ke Spanyol untuk menjalani uji coba. Namun, waktu itu sang ayah tidak ikut. Karena ayah Neymar memutuskan kalau putranya harus tetap tinggal di Santos. Biarkan ia berkembang dan terus tumbuh bersama tim Brasil, begitu pikir sang ayah.

Keputusan tak mengizinkan anaknya berkarier di Real Madrid terbilang tepat. Tahun 2009, saat usianya 17 tahun, Neymar melakoni debutnya di tim utama Santos. Ia masuk di 30 menit terakhir kala Santos berhadapan dengan Oeste.

Neymar kemudian mencetak gol melawan Mogi Mirim di pekan berikutnya. Satu bulan berikutnya Neymar mencetak gol penentu kemenangan atas Palmeiras di leg pertama semifinal Campeonato Paulista 2009. Sayangnya, Santos harus kalah di partai final melawan Corinthians. Kendati begitu, di musim pertamanya, Neymar sudah mencetak 14 gol dari 48 laga.

Trofi di Santos

Neymar seperti gadis desa. Pesonanya di atas lapangan membuat siapa pun jatuh hati. Apalagi kala ia mengantarkan Santos juara di ajang Campeonato Paulista tahun 2010. Di kompetisi itu, Neymar tidak hanya membawa Santos juara, tapi berhasil menarik perhatian karena menjadi pemain terbaik.

Total 14 gol dari 19 laga di kompetisi tersebut ia cetak. Sejak saat itu publik Santos pun mulai menyamakan Neymar dengan Pele. Mereka yakin Neymar adalah prototipe Pele. Maka, ketika tawaran dari klub-klub besar datang, mereka menolaknya. West Ham menawar 12 juta poundsterling untuk Neymar. Tapi tawaran itu dibuang ke selokan.

Dengan modal 20 juta poundsterling, Chelsea berniat membawa Neymar ke London. Tapi Neymar tegas mengatakan, “Saya hanya fokus pada Santos.” 

Di tahun yang sama, Neymar mengantarkan Santos juara di Piala Brasil. Setahun berselang, yakni 2011, Campeonato Paulista kembali diraih. Di tahun itu pula Neymar menjuarai Copa Libertadores. Ia bahkan mencetak enam gol untuk Santos di laga tersebut. Penghargaan bergengsi Puskas Award juga ia sabet tahun itu.

Neymar yang tak bisa melepaskan diri dari sorotan media lagi-lagi menarik perhatian Real Madrid. Los Galacticos tertarik mengontrak Neymar tapi lewat cara kotor, yakni mengikatnya dengan perjanjian pra-kontrak.

Presiden Santos kala itu, Luis Ribeiro mengecam tindakan tersebut dan melaporkannya ke FIFA. Ia juga membantah bahwa Santos telah sepakat atas perjanjian itu. Neymar sudah diperpanjang kontraknya hingga 2014.

Kesuksesan di Barcelona

Namun, Neymar berpikir tawaran dari West Ham dan Chelsea menggiurkan. Lebih tepatnya, ia tertarik bermain di Eropa. Nah, kebetulan, setahun sebelum kontraknya di Santos habis, Barcelona datang untuk memboyong Neymar.

Keputusan Barcelona untuk memboyong talenta dari Brasil itu tidak hadir begitu saja. Los Cules sudah meminati Neymar ketika bertanding menghadapi Santos di final Piala Dunia Antarklub tahun 2011. Walau Santos akhirnya dihajar 4-0 oleh Barcelona asuhan Pep Guardiola, tapi Neymar dianugerahi Bronze Ball.

Di akhir laga, ia berdiri bersama dua bintang Barcelona: Lionel Messi dan Xavi Hernandez. Sejujurnya, tawaran dari Barcelona menggiurkan bagi Neymar. Apalagi tawaran itu membuka kesempatannya main bareng Lionel Messi. Neymar kebetulan pengagum La Pulga.

Dengan biaya sebesar 54 juta euro atau sekitar Rp681,3 miliar saat itu, Barcelona memboyong Neymar ke Camp Nou. Pada Juni 2013, Neymar akhirnya diperkenalkan di hadapan 56.500 penggemar Barcelona. Ini adalah perjalanan awal Neymar meraih kesuksesan di Tanah Matador.

Trio MSN dan Treble Barcelona

Salah satu kesuksesan yang sulit dilupakan adalah ketika Neymar bergabung dengan Luis Suarez dan Lionel Messi membentuk trisula maut di lini depan Blaugrana. Orang menyebutnya trio MSN. Trisula maut ini terbentuk sejak musim 2014/15.

Dalam formasi 4-3-3 besutan Luis Enrique, trio MSN jadi juru gedor Barcelona. Kerja sama ketiganya bahkan menghasilkan 365 gol selama tiga musim. Nah, salah satu yang paling berkesan bagi trio MSN adalah musim pertamanya.

Pada waktu itu, kelincahan Messi, jogo bonito Neymar, dan finishing mematikan Suarez tak terbendung dalam tiga kompetisi sekaligus. Total 112 gol tercipta selama musim itu. Torehan gol yang banyak menjadi lebih monumental karena di musim itu pula, Barcelona sukses meraih treble.

Karena kesuksesan itu, harum Neymar makin semerbak. Tahun 2015 ia menjadi satu di antara tiga kandidat calon peraih Ballon d’Or. Ya, Neymar merangsek di tengah Cristiano Ronaldo dan Lionel Messi. Tak terbayangkan betapa bahagianya Neymar saat itu.

Sayangnya kebahagiaan terasa kurang karena Neymar hanya menempati posisi ketiga. Kalah dari CR7 di peringkat kedua dan Messi di posisi teratas. Namun, dunia mulai memerhatikan bintang Brasil itu. Ia disebut-sebut sebagai penerus Ronaldo dan Lionel Messi. Tapi, apa yang terjadi berikutnya?

Drama Transfer ke PSG

Menginjak usia 25 tahun, Neymar berpikir untuk pergi dari Barcelona. Meski awalnya merasa senang di sana. Neymar termotivasi untuk keluar dari bayang-bayang Messi. Presiden Josep Maria Bartomeu tidak kuasa menahan Neymar untuk pergi.

Namun, harus ada yang berani menebus klausul rilis Neymar. Tahun 2017, klub kaya Paris Saint-Germain datang menenteng uang 222 juta euro untuk menebus klausul rilis sang pemain.

Tapi transfer Neymar ke PSG ini menjadi polemik. Sebab tidak melalui La Liga. Biasanya untuk penebusan klausul rilis, La Liga menjadi perantara. Namun, dalam kasus Neymar, La Liga sempat menolak transfer tersebut karena adanya dugaan pelanggaran Financial Fair Play yang dilakukan PSG akibat pembiayaan dari Pemerintah Qatar.

Sayangnya, bahkan transfer Neymar tetap jalan. PSG menggunakan “jalur belakang” untuk membajak Neymar. Transfer ini juga sempat membuat hubungan PSG dan Barcelona memanas. Begitu pula hubungan Barcelona dengan Neymar.

Selain itu transfer ini juga mengubah sejarah sepak bola. Transfer inilah yang menjadi awal mula tingginya harga pemain. Namun, sisi baiknya, ini membuat Neymar menjadi pemain yang sering dibicarakan, selain Ronaldo dan Messi.

Trofi dan Polemik Lain di PSG

Hanya butuh waktu sebentar bagi Neymar memberi gelar untuk PSG. Di musim debutnya, treble domestik ia persembahkan. Ironisnya, kisah indah yang harusnya dibangun di Paris berbuah kesan buruk ketika ia terlibat perseteruan dengan pemain PSG lainnya, Edinson Cavani.

Di musim 2017/18, musim pertamanya di PSG, Neymar menciptakan ontran-ontran karena berseteru dengan Cavani. Pada 17 September 2017, ketika PSG menghadapi Lyon, Neymar bersitegang dengan Cavani di atas lapangan. Persoalannya sepele.

Keduanya berebut jadi eksekutor penalti. Sebelum kedatangan Neymar, Cavani memang eksekutor penalti PSG. Sementara Neymar juga merasa berhak menendang penalti. Unai Emery, pelatih PSG saat itu meminta Cavani membiarkan Neymar mengambil penalti. Tapi ditolak. 

Cavani pun geram atas keputusan itu. Ia menyalahkan Emery karena tidak tegas. Cavani gagal mengeksekusi penalti. Hubungan Neymar dan Cavani pun dikabarkan retak. Tapi keduanya berhasil membawa PSG meraih gelar. Justru di akhir musim Emery yang dipecat dan digantikan oleh Thomas Tuchel.

Cedera Metatarsal dan Kegagalan PSG di UCL

Tahun 2018, ketika PSG menghadapi Marseille di Ligue 1, kejadian buruk menghampiri Neymar. Ia tergeletak di lapangan, meringis kesakitan. Neymar mengalami cedera di pergelangan kakinya karena pendaratan yang tidak sempurna. Pemain Brasil itu pun harus ditandu keluar lapangan.

Sambil berderai air mata, Neymar menahan rasa sakit. Malangnya, setelah menjalani pemeriksaan, bukan hanya pergelangan kakinya yang terkilir. Tulang metatarsal Neymar juga pecah. Terpaksa ia harus menepi selama empat bulan. 

Ia melewatkan pertandingan 16 besar Liga Champions menghadapi Real Madrid. Di pertandingan itu PSG menelan kekalahan. Sebelum Piala Dunia 2018 digelar, Neymar sudah sembuh dari cederanya. Ia pun bisa membela Timnas Brasil di ajang empat tahunan itu.

Setelah tidak dipanggil di dua edisi sebelumnya, Neymar bertekad membawa Brasil berjaya. Menyedihkan. Setelah berjuang sekuat tenaga, Selecao tetap tak bisa melangkah jauh. Generasi emas Timnas Belgia menghentikan Neymar dan kolega di perempat final.

Berkali-Kali Kena Banned

Sepulang dari Piala Dunia, Neymar kembali ke PSG. Gelar demi gelar ia raih. Tapi setelah Piala Dunia, Neymar justru lebih sering jadi biang masalah ketimbang pahlawan PSG. Ia mengalami cedera lagi sebelum PSG menghadapi Manchester United di 16 besar Liga Champions musim 2018/19.

PSG lagi-lagi tersingkir dari Liga Champions saat itu. Neymar yang masih menjalani pemulihan cederanya, mengkritik kinerja wasit di pertandingan ketika Les Parisiens kalah 3-1 atas MU di markasnya sendiri. Neymar mengumpat, melontarkan kata-kata kasar melalui media sosialnya.

Akibat tindakannya itu, Neymar harus menerima konsekuensinya. Pemain PSG itu dihukum UEFA. Neymar tidak boleh bermain di tiga pertandingan fase grup Liga Champions musim berikutnya. Hukuman semacam ini diterima lagi oleh Neymar. Namun, kali ini bukan dari UEFA.

Masih di musim yang sama. Neymar membawa PSG juara di Coupe de France 2019 setelah menaklukkan Rennes. Namun, sebelum pengalungan medali, Neymar bikin ulah dengan memukul salah satu suporter lawan. Tindakan tidak terpuji itu langsung diganjar hukuman larangan bermain dalam tiga laga oleh Federasi Sepak Bola Prancis.

Kemuakan Fans dan Tindakan Indisipliner

Walaupun meraih banyak trofi di PSG, tapi fans justru muak dengan Neymar. Apalagi karena Neymar sama sekali tidak membantu PSG meraih Liga Champions. Kebencian fans diperparah karena Neymar sering buat ulah dan cedera. Para penggemar PSG pun tak percaya lagi pada Neymar.

Jelang Copa America 2019, Neymar cedera lagi. Saat laga percobaan melawan Qatar, Neymar alami cedera engkel. Ia pun terpaksa melewatkan turnamen itu. Usai Copa America dan setelah sembuh dari cedera, Neymar justru berkali-kali mangkir dari sesi latihan PSG.

Karena tindakannya itu, PSG mengancam Neymar dengan sanksi indisipliner. Neymar pun ikut latihan PSG lagi. Tapi tak berapa lama, kurang lebih sebulan, Neymar lagi-lagi mengalami cedera. Itu terjadi persis sebelum pandemi Covid-19 melanda dunia.

Nyaris Meraih Gelar UCL

UEFA sempat menghentikan kompetisi selama pandemi. Hingga kompetisi berjalan lagi. Musim 2019/20 pada gilirannya menjadi salah satu musim terbaik Neymar di PSG. Ketika itu, Neymar membawa PSG meraih treble domestik lagi. Tidak hanya itu, kiprah PSG di Liga Champions meyakinkan.

Neymar mengambil peran penting saat PSG lolos ke final Liga Champions musim itu. Salah satunya menyelamatkan PSG dari kekalahan atas Atalanta di perempat final. Saat itu, PSG ketinggalan 1-0 hingga laga hampir selesai.

Namun, memasuki menit 90, Neymar mengirim umpan ke Marquinhos untuk menyamakan kedudukan. Beruntungnya, upaya menyamakan kedudukan itu disempurnakan lewat gol Choupo-Moting di masa injury time. Namun, PSG memang belum ditakdirkan juara Liga Champions. Mereka lolos ke final, tapi Bayern Munchen adalah seburuk-buruknya mimpi bagi Neymar.

Masa-Masa Akhir di PSG

Setelah final itu masa prime-nya Neymar mulai habis. Kedatangan Lionel Messi ke PSG tak membawa dampak besar buatnya. Penampilannya di PSG tetap tidak konsisten. Hal itu menjadi makin mengenaskan karena Neymar juga sering diterpa cedera.

Ketika cedera, pemulihannya juga lama. Dan di masa pemulihannya itu, Neymar seolah tak mempedulikan tubuhnya. Selama masa pemulihan, Neymar justru sering berpesta. Dari sinilah kebiasaan berpestanya makin akut. Minum, nongki di diskotik, dan main cewek adalah kebiasaan Neymar berikutnya.

Sehingga ia pun tak sadar tubuhnya tak lagi proporsional sebagai pesepakbola. Parahnya lagi, Neymar juga terlibat kasus perselingkuhan. Laporan perselingkuhannya terungkap dan tersebar saat kekasihnya, Bruna Biancardi sedang hamil. Neymar pun meminta maaf kepada kekasih dan keluarganya atas tindakannya itu.

Selang beberapa lama, bayi Neymar lahir. Neymar pun menyampaikan kebahagiaannya atas kelahiran sang buah hati. Namun, kamu tahu apa yang terjadi berikutnya? Neymar dan Bruna Biancardi justru berpisah. Dilansir Hola, keduanya berpisah karena masalah internal pada November 2023 lalu.

Sebelumnya, Biancardi tidak melarang Neymar berhubungan dengan wanita lain. Hanya saja Neymar harus bijaksana dengan menggunakan alat kontrasepsi dan tidak mencium bibir wanita lain. Namun, Neymar mengkhianati kesepakatan yang sebetulnya tidak bisa dibenarkan itu.

Akhir Karier

Kabar mengejutkan perpisahan Neymar dan Biancardi beriringan dengan makin tenggelamnya Neymar dari kancah sepak bola. Ia memang dibeli Al-Hilal dengan harga 90 juta euro. Neymar juga mendapat berbagai fasilitas mewah. Sempat jadi berita yang fenomenal.

Namun, karena sering cedera, Neymar tak terpakai di Al-Hilal. Klub plat merah tersebut bahkan mempertimbangkan untuk tidak mendaftarkan Neymar ke dalam skuad. Kini tinggal menghitung hari, Neymar bertemu dengan masa kelamnya lagi.

Tapi kalaupun tak bermain bola, setidaknya nasib Neymar tidak akan semengenaskan dulu. Ia sudah bermandikan uang hari ini. Singkatnya, Neymar telah meraih semuanya dari sepak bola. 

Terlepas sikapnya yang suka berpesta dan main cewek, tapi Neymar bisa membahagiakan orang tuanya bahkan sebelum kedua orang tuanya meninggal. Jika Uwais al-Qarni menunjukan baktinya pada orang tua dengan menggendong sang ibu dari Yaman ke Mekkah, Neymar melakukannya melalui sepak bola.


Sumber: AnythingPalmeiras, LifeBogger, TheGuardian, NeymarJR, TheIndependent, SkySports, DohaNews, BR, Marca, Hola, IndiaTimes, FIFA, Detik, CNN, Bolacom

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru