Nafas Terakhir Kroasia di Piala Dunia

spot_img

Warga Kroasia terbangun dari tidurnya, mendapati tim nasional mereka lolos ke Piala Dunia 2022. Namun, bersamaan dengan itu, penduduk salah satu negara Balkan tersebut juga cemas. Sebab Piala Dunia 2022 bisa jadi nafas terakhir Kroasia di ajang empat tahunan itu.

Tidak. Bukan karena setelah Piala Dunia 2022 Timnas Kroasia akan bubar. Pun bukan lantaran negara Kroasia akan segera hancur. Akan tetapi, Piala Dunia 2022 menjadi pertarungan terakhir skuad emas Timnas Kroasia. Skuad yang pada edisi sebelumnya, sanggup mencapai final.

Soal apakah tim berjuluk Vatreni itu akan kembali melenggang ke final atau tidak, itu bisa diurus nanti. Perlu diketahui bahwa Kroasia tergabung ke Grup F, itu yang sulit. Satu grup dengan Belgia, Maroko, dan Kanada bukan perkara gampang bagi Kroasia yang memakai sisa-sisa kekuatan di edisi sebelumnya.

Bukan Tim Sembarangan

Meski pada edisi 2018 Kroasia disebut sebagai tim kuda hitam, tapi sejatinya nggak kuda hitam-kuda hitam banget. Sejak dibentuk tahun 1994, Timnas Kroasia menjadi salah satu kekuatan teratas di level internasional. Sebelum mencapai puncak tertinggi, Si Blazer juga pernah menyabet juara ketiga.

Pada Piala Dunia 1998, Kroasia menduduki posisi ketiga mengalahkan Belanda. Ketika itu bahkan pemain mereka, Davor Suker yang juga pemain Real Madrid menjadi pemain dengan gol terbanyak di ajang tersebut. Piala Dunia 2018 kemudian semakin menebalkan predikat bahwa Kroasia bukan tim sembarangan.

Betul bahwa anak asuh Zlatko Dalic dihabisi Prancis di final. Namun sampainya mereka di final merupakan kebanggaan sendiri. Setidaknya kalau di tahun 1998 Kroasia hanya bisa juara tiga, pada tahun 2018 mereka bisa menjadi juara dua.

Hebatnya, pada Piala Dunia 2018 itu pemain Kroasia yang juga dari Real Madrid, Luka Modric menjadi pemain terbaik turnamen tersebut. Modric pun merasakan trofi Ballon d’Or setelah itu. Sungguh pencapaian yang gemilang.

Masih Mengandalkan Pemain Lama

Namun tadi adalah catatan-catatan yang sudah lewat. Kini sudah empat tahun sejak Kroasia menempati posisi kedua di Piala Dunia 2018, apakah kekuatannya akan tetap sama? Tentu saja. Ingredients Timnas Kroasia besutan Dalic tidak banyak berubah.

Zlatko Dalic sepertinya masih sulit untuk tidak mengandalkan para pemain lawas. Pemain-pemain yang usianya hampir dan sudah menginjak kepala tiga. Rata-rata pemain yang kemungkinan akan berlaga di Qatar nanti usianya 27 tahun.

Kroasia tentu saja masih mengandalkan Luka Modric. Gelandang kreatif Real Madrid itu kini usianya 37 tahun. Boleh jadi Piala Dunia Qatar adalah Piala Dunia terakhir bagi Luka Modric. Ini sekaligus menjadi kesempatan sang pemain untuk minimal, mengulang kesuksesan di tahun 2018.

Tidak hanya Modric, pemain lawas lainnya seperti Domagoj Vida, Marcelo Brozovic, Mateo Kovacic, Livakovic, Mario Pasalic, Ivan Perisic, Andrej Kramaric sampai Dejan Lovren masuk daftar bayangan Timnas Kroasia. Dari daftar pemain yang dirilis Goal, hanya Mario Mandzukic pemain lama yang tidak masuk.

Harapan Pemain Muda

Sama seperti Belgia, generasi terbaik Kroasia lambat laun juga akan meredup dan cepat atau lambat bakal sirna. Piala Dunia 2022 jadi kesempatan terakhir bagi para generasi emas seperti Luka Modric dan kolega. Oleh karena itu, regenerasi memang diperlukan dan Dalic kabarnya akan memanggil daun muda yang bersinar di klub.

Josko Gvardiol termasuk pemain muda yang perlu diperhitungkan di Timnas Kroasia. Ia adalah bek muda RB Leipzig. Usianya baru 20 tahun. Gvardiol berkembang di akademi Dinamo Zagreb. Ia menjalani debut di tim senior Zagreb pada musim 2019/20.

Namun tak berapa lama, Gvardiol bermain di tim senior. Tak lama di tim senior Zagreb, ia merapat ke RB Leipzig. Pemain yang pernah menjadi incaran klub sekelas Manchester City, Bayern Munchen, sampai Dortmund itu berkembang di tangan Domenico Tedesco.

Borna Sosa juga darah baru di Timnas Kroasia. Ia nyaris bergabung ke Timnas Jerman melalui jalur ibunya. Namun, sebelum EURO 2020, pemain Stuttgart itu dianggap tidak memenuhi kelayakan untuk mendapat kewarganegaraan Jerman. Ia pun memilih Kroasia.

Pemain 22 tahun yang memperkuat Bayern Munchen, Josip Stanisic juga menjadi opsi Dalic. Kroasia juga punya playmaker dari Rennes yang dijuluki Modric baru, Lovro Majer yang pernah menjalani debutnya di Timnas Kroasia tahun 2017. Pemain 24 tahun itu bahkan pernah mencetak brace saat Kroasia menaklukkan Malta 7-1 di Kualifikasi Piala Dunia 2022.

Selain itu, Kroasia masih memiliki Marin Pongracic, pemain Wolfsburg yang dipinjamkan ke Lecce. Lalu ada para pemain muda rombongan Dinamo Zagreb, seperti Josip Sutalo dan Luka Ivanušec. Itu belum termasuk Nediljko Labrovic (Rijeka), Martin Erlic (Sassuolo), Filip Uremovic (Hertha BSC), Luka Sucic (Salzburg), hingga Kristijan Jakic (Frankfurt).

Strategi Dalic

Meski banyak pemain muda yang dipanggil, tapi Zlatko Dalic masih akan mengandalkan pemain bintangnya, Luka Modric. Dalic tetap gigih menggunakan formasi 4-3-3. Formasi itu bisa mengakomodir ruang untuk Modric. Ia yang ditaruh di posisi tengah sebelah kanan adalah pemain jangkar.

Bersama dengan Marcelo Brozovic dan juniornya, Mateo Kovacic, Modric menyulam kerja sama di lini tengah. Build-up Kroasia bertumpu pada tiga poros itu. Meski pada EURO kemarin, hasilnya tidak terlalu mengesankan. Kroasia tersingkir di babak 16 besar oleh Timnas Spanyol dengan para pemain mudanya.

Itulah mengapa harus ada pembaharuan di lini tengah Vatreni. Gelandang muda Salzburg, Luka Sucic bisa jadi opsi. Sucic setidaknya sudah mengemas 4 asis dalam 11 pertandingan di Bundesliga Austria. Luka Ivanusec dan Lovro Majer juga bisa jadi pilihan. Tapi apa pemain tadi bisa menyamai kekuatan Kovacic, Brozovic, dan Modric?

Kelemahan Kroasia

Salah satu catatan mengapa Kroasia bisa meledak di Piala Dunia 2018 adalah ketidakpastiannya. Piala Dunia tahun ini pun begitu. Di dalam skuad Kroasia serba tidak pasti. Para pemain yang biasanya jadi andalan, performanya juga tidak terlalu bagus di klubnya masing-masing.

Misalnya, Ivan Perisic yang sejauh ini posisinya pindah ke bek sayap mengurangi kualitasnya dalam menyerang. Belum soal sistem permainan. Kroasia di tangan Dalic tidak banyak perubahan. Skuad Si Blazer relatif sama dengan empat tahun lalu. Sistem yang sama bisa menjadi titik lemah Kroasia.

Lini depan Si Blazer juga tumpul. Selain Perisic yang sudah mulai nyaman di bek sayap, ketiadaan Mario Mandzukic membuat lini serang Kroasia dipertanyakan. Pemain muda Josip Brekalo belum banyak terlibat karena baru mencetak 4 gol dari 33 laga di Timnas Kroasia.

Musuh yang Tidak Mudah

Mengandalkan pemain uzur dan yang performanya menurun, Kroasia di Grup F bertemu lawan yang tidak mudah. Timnas Kanada bisa saja mengejutkan dengan kekuatan para pemain mudanya, seperti Jonathan David. Itu baru Kanada.

Kroasia juga perlu memperhitungkan kekuatan terakhir Timnas Belgia. Skuad Belgia masih ada Kevin de Bruyne yang on fire. Belum Timnas Maroko dengan kekuatan terbaiknya, seperti Achraf Hakimi, Mazroui, Youssef En-Nesyri, sampai Munir El Haddadi.

Meski begitu, Kroasia punya modal kuat. Vatreni memuncaki Grup H Kualifikasi Piala Dunia zona Eropa yang dihuni Slovakia, Slovenia, Siprus, Malta, dan Rusia. Tidak hanya itu, langkah meyakinkan Kroasia ditutup dengan masuk ke final four UEFA Nations League.

Di Nations League, Kroasia berada di Liga A dan masuk dalam grup yang sulit bersama Prancis, Denmark, dan Austria. Namun Si Blazer berhasil jadi yang teratas. Well, dengan sisa kekuatannya, apakah Kroasia akan kembali berbicara banyak di Piala Dunia?

https://youtu.be/jJyO3qxXoxg

Sumber: StatsInsider, TheDubrovnikTimes, SportsNet, SBS, VAVEL, GOAL, 442

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru