Mohammed Kudus: Anak Penjual Makanan yang Jadi Andalan West Ham

spot_img

Merayakan gol dengan duduk tenang di atas papan iklan. Itulah gaya selebrasi khas Mohammed Kudus, sang predator baru andalan West Ham musim ini asal Ghana. Gol demi gol sudah ia persembahkan bagi The Hammers di musim debutnya ini. Namun siapa sangka, perjalanannya menjadi gacor seperti sekarang ini tak digapai dengan mudah. Sejak dari Ghana, ia sudah menjalani kehidupan yang penuh perjuangan.

Dukungan Ibu

Lahir tahun 2000 di Kota Accra, Kudus dibesarkan oleh ibu dan neneknya. Ibunya, Mariama Suleman adalah seorang penjual makanan di pasar Nima, yang terletak di kota Accra. Ibu Kudus tak mengharuskan Kudus membantunya di pasar. Ia lebih menyuruh Kudus belajar dan melakoni hobinya, yakni sepakbola.

Tak lupa Kudus juga diwejangi ajaran-ajaran Islam oleh ibunya sejak kecil. Seperti disiplin waktu untuk ibadah. Maklum keluarganya berasal dari etnis Hausa, sebuah etnis di Ghana yang mayoritas beragama Islam. Dukungan secara moral maupun spiritual dari ibunya tersebut, membuat Kudus makin terbentuk mentalnya sejak usia dini.

Di usia 12 tahun, Kudus sudah bergabung di akademi Right To Dream Ghana. Akademi sepakbola terkenal di Ghana yang letaknya tak jauh dari Kota Accra. Dilansir ESPN, Kudus sejak menimba ilmu di akademi Right To Dream selalu lulus dari beberapa ujian. Tak heran ia cepat berkembang dan akhirnya di usia 16 tahun ia sudah dipanggil Timnas Ghana U-17.

Dari Denmark ke Belanda

Dengan pertumbuhan pesatnya di level akademi, ia kemudian memberanikan diri untuk melancong ke Eropa. Tepatnya tahun 2018 ketika usianya sudah menginjak 18 tahun. Ia bergabung ke klub Liga Denmark, FC Nordsjaelland.

Di Liga Denmark ia tak sendiri. Kudus bertemu dengan asisten pelatih FC Nordsjaelland dari Ghana yakni Mas-Ud Didi Dramani. Dilansir ESPN, Dramani lah yang mengintegrasikan pemain muda seperti Kudus untuk dapat tampil di skuad inti FC Nordsjaelland.

Sejak digembleng di klub Denmark tersebut, Kudus total sudah torehkan 14 gol dan 3 assist selama dua musim, yakni 2018/19 hingga 2019/20. Itulah alasan yang membuatnya diangkut oleh Ajax pada musim 2020/21. Kudus dibandrol 9 juta euro ketika itu dari FC Nordsjaelland.

Didi Dramani selaku orang Ghana yang dekat dengan Kudus, tak lupa berpesan kepada Kudus agar tetap percaya pada kemampuannya. Dramani takut jika Kudus menjadi pribadi yang berbeda ketika tak lagi bersamanya.

Ajax Klub Yang Tepat

Kudus ketika awal berseragam Ajax sempat mengatakan bahwa Ajax adalah klub yang tepat bagi para pemain muda seperti dirinya yang ingin naik level. Meurut Kudus, sepakbola ala Ajax tepat untuk mengembangkan bakat menjadi lebih baik.

Apalagi Kudus berada di tangan pelatih yang suka daun muda seperti Erik Ten Hag. Dua musim Kudus digembleng Ten Hag di Ajax sebelum sang meneer akhirnya pindah ke MU.

Namun kegacoran Kudus di Ajax justru terlihat setelah Ten Hag pergi. Tepatnya di musim lalu, ketika Ajax dilatih Alfred Schreuder kemudian dilanjutkan oleh John Heitinga. Kudus menjadi salah satu tumpuan di lini serang Ajax karena ditinggal Antony. Maklum selama di Ajax, Kudus sering kalah pamor dengan Antony karena posisinya mirip yakni sayap kanan.

Ditambah musim lalu Kudus mulai dicoba posisi baru yakni sebagai false nine sebanyak 16 kali. Hal itu juga berkorelasi dengan jumlah kontribusinya yang meningkat bagi Ajax yakni 18 gol dan 7 assist.

Memilih West Ham

Gacornya Kudus di musim lalu bersama Ajax, membuat dirinya laris manis digoda klub besar. Termasuk MU yang dilatih Ten Hag, ingin bereuni dengan Kudus. Atau Chelsea yang sempat mem-PHP Kudus .

Agen Kudus, Jen Mendelewitsch mengungkap kepada RMC Sports, bahwa seharusnya kliennya tersebut berseragam The Blues. Kontrak sudah disiapkan, namun karena ketidakseriusan pihak Chelsea dengan mengubah nominal penawaran, jadi ya apa boleh buat, ditolak oleh pihak Kudus.

Di saat klub besar yang hanya omong doang, akhirnya Kudus memilih penawaran klub medioker, West Ham. Maklum The Hammers masih banyak uang dari penjualan Declan Rice. Sekitar 38 juta pounds tak segan dikeluarkan The Hammers untuk Kudus.

Dilansir Football London, Kudus ketika menerima pinangan West Ham juga beralasan bahwa klub asal Kota London tersebut punya proyek yang sesuai dengan ambisinya. Sebagai pemain muda 23 tahun yang ingin terus berkembang dan dapat menit bermain lebih, West Ham dinilai pilihan yang realistis baginya. Toh, ia tak akan selalu dapat beban berat ketimbang di klub besar macam MU ataupun Chelsea.

Persaingan Posisi Di West Ham

Keberadaan Kudus di West Ham juga tepat karena sistem permainan David Moyes adalah mengandalkan produktivitas dari lini kedua dengan sistem 4-2-3-1. Kita tahu Moyes di West Ham punya banyak pilihan gelandang produktif macam Benrahma, Jarrod bowen, Lucas Paqueta, Pablo Fornals, hingga kini James Ward Prowse dan Kudus.

Sebagai gelandang serang eksplosif yang bisa bergerak dinamis di segala lini, Kudus sangat berpotensi gacor di sistem Moyes tersebut. Lalu Kudus ditempatkan di posisi mana oleh Moyes?

Posisi ideal Kudus sebenarnya adalah sayap kanan. Namun di West Ham, sudah ada penghuni tetapnya yakni Jarrod Bowen, top skor sementara mereka musim ini. Tak semudah itu mengorbankan seorang Bowen demi untuk mengakomodasi Kudus. Terbukti di awal musim, Kudus jarang menjadi starter.

Berkah Cedera Antonio

Lantas pada suatu ketika, cedera parah striker andalan mereka, Michael Antonio pada November 2023 membawa berkah bagi Kudus. Bukannya menjadikan Kudus sebagai striker, melainkan menggeser Bowen sebagai striker false nine. Lalu kemudian, Moyes mengakomodasi Kudus sebagai sayap kanan.

Cara Moyes itu terbukti tepat sejak dilakukan di laga melawan Crystal Palace pada awal Desember 2023. Sejak berubahnya komposisi baru West Ham tersebut, Kudus semakin bersinar.

Kepercayaan Moyes yang diberikan kepadanya tak disia-siakan. Satu gol ke gawang Crystal Palace, dua gol ke gawang Wolves, serta satu gol ke gawang MU, telah jadi bukti. Oh iya, tak lupa juga salah satu golnya ke gawang Freiburg di Europa League turut membuat The Hammers jadi juara grup.

Kalau ditelisik lebih lanjut soal statistik, selain cakap membobol gawang lawan, ia juga punya atribut bertahan yang baik. Catatan Fbref menunjukan nilai Kudus yang tinggi dalam hal tekel yakni 97%, blok 83%, serta kemenangan duel areanya 80%.

Tak heran jika Moyes sangat suka tipe sayap pekerja keras seperti dirinya. Bahkan beberapa kali Moyes sempat memuji performa Kudus. Seperti di laga melawan Crystal Palace, Moyes menyebut beruntung punya pemain serba bisa seperti Kudus.

Well, dari segala perjuangan keras yang telah dilalui Kudus, yang jelas pemilihan klub yang tepat baginya untuk berkembang patut diapresiasi. Bukan tidak mungkin, jika ia terus konsisten berkembang bersama West Ham, Kudus harusnya akan berlabuh ke salah satu klub besar pada suatu saat nanti, kita nantikan saja.

Sumber Referensi : espn, theathletic, medium, footballlondon, theathletic, fbref, transfermarkt

spot_img

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

ORIGINAL MERCHANDISE STARTING ELEVEN

Obral!
Obral!

Glory Glory Manchester United

Rp109,000Rp125,000
Obral!
Obral!

Cristiano Ronaldo Siuuuu...

Rp109,000Rp120,000

Artikel Terbaru